Laclau-Mouffe Tentang Gerakan Sosial

* Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Basis No.01-02, Tahun LV, Januari-Februari 2006.

I am a Gramscian, not a Baudrillardian

(Ernesto Laclau)

Nama Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe kurang begitu dikenal dalam khasanah kajian-kajian teori politik dan ilmu politik di Indonesia. Nama Laclau labih akrab dikenal para akademisi maupun intitusi akademis di wilayah Amerika Selatan dan Eropa, di mana ia banyak memberikan pengaruh terhadap perdebatan intelektual di sana. Terutama setelah buku pertamanya Politics and Ideology in Marxist Theory,[1] yang melakukan kritik terhadap pemikiran para teoritisi teori-teori ketergantungan seperti André Gunder Frank, Paul Baran, dll. Tapi karyanya yang paling monumental adalah Hegemony and Socialist Strategy: Towards A Radical and Democratic Politics yang ia tulis bersama Chantal Mouffe, pertama kali terbit tahun 1985.[2]

Dalam karyanya ini Laclau dan Mouffe meneguhkan diri mereka sebagai pemikir Post-Marxist, yang membangun sebagai pijakan baru untuk menelaah relevansi pemikiran Marx dalam konteks waktu dan situasi yang partikular (kekinian/lokalitas).  Tulisan ini akan mencoba menguraikan pemikiran-pemikiran dan teori-teori mengenai gerakan sosial, dan secara khusus mengekplorasi pemikiran Laclau dan Mouffe mengenai gerakan sosial.

Beberapa Konsepsi Tentang Gerakan Sosial

Studi-studi dan teori-teori mengenai gerakan sosial (social movement) banyak dituliskan dalam beberapa tahun terakhir ini. Studi ini menjadi menarik karena banyaknya fenomena yang berkembang semenjak awal abad ke dua puluh, terutama lahirnya sejumlah gerakan perlawanan khususnya gerakan mahasiswa tahun 60an di banyak negara di semua belahan penjuru dunia. Sekalipun demikian terminologi “gerakan sosial” ini seringkali implisit didefinisikan secara heterogen terhadap sejumlah fenomena-fenomena sosial dan politik seperti revolusi, sekte-sekte keagamaan, organisasi-organisasi politik, atau satu isu yang mengkampanyekan banyak hal, pada sebuah kesempatan didefinisikan sebagai “gerakan sosial”.

Banyak perhatian yang membahas gerakan sosial langsung kepada hal-hal yang dianggap paling substantif, di antaranya faktor-faktor yang dihitung bagi proses mobilisasi, atau perbedaan antara gerakan sosial lama (old social movements) dengan gerakan sosial baru (new social movements). Atau juga dengan mengadopsi sejumlah konsep seperti “aksi kolektif” (collective action), “perubahan sosial” (social change), “konflik sosial” (social conflict), dan lain-lainya.

Diskusi mengenai konsep gerakan sosial banyak muncul dari berbagai pendekatan paradigmatik (school of thought). Secara umum banyak yang mengkonotasikan bahwa gerakan sosial sebagai sebuah dinamika sosial yang berjalan secara khusus. Ada pandangan yang melihat bahwa gerakan sosial ada dalam sebuah proses di mana sejumlah aktor-aktor yang berbeda, baik secara individual, kelompok-kelompok informal dan/atau organisasi-organisasi, melakukan elaborasi melalui aktivitas aksi bersama atau komunikasi, mendefinisikan secara bersama bahwa mereka adalah satu bagian dari sebuah posisi tertentu dalam sebuah konflik sosial. Dengan begitu mereka memberikan pemaknaan terhadap event-event protes maupun praktek-praktek antagonis simbolis lainnya yang belum berkaitan.[3]

Dinamika ini terefleksi dalam definisi yang melihat gerakan sosial sebagai bagian dari jaringan kerja atau interaksi informal di antara pluralitas individu-individu, kelompok-kelompok dan/atau organisasi-organisasi yang terlibat dalam sebuah konflik politik atau kultural dengan berbasiskan pengelompokan berdasarkan identitas kolektif.

Untuk keperluan melihat perdebatan konseptual mengenai gerakan sosial, beberapa kerangka pemikiran dan teoritik akan dirujuk dalam melihat perdebatan mengenai gerakan sosial. Secara umum ada empat perspektif penting dalam mengisi perdebatan mengenai gerakan sosial. Yang pertama dan paling banyak dirujuk adalah perspektif “perilaku kolektif” (collective behaviour); kedua “teori mobilisasi sumber” (resource mobilisation theory); ketiga perspektif “proses politik” (political process); dan terakhir pendekatan “gerakan-gerakan sosial baru” (new social movements).

Pemikiran Ralph Turner dan Lewis Killian akan dirujuk dalam melihat perspektif “perilaku kolektif”. Menurut keduanya, gerakan sosial merupakan sebuah bentuk khusus dari perilaku kolektif yang dibedakan terhadap perilaku “organisasional”  dan “institusional”, yang mereka definisikan sebagai,

a collectivity acting with some continuity to promote or resist a change in the society or organisation of which it is part. As a collectivity a movement is a group with indefinite and shifting membership and with leadership whose position is determined more by informal response of adherents than by formal procedures for legitimising authority[4]

Jadi menurut Ralph Turner gerakan sosial tidaklah perlu ataupun memiliki tipikal dengan gerakan yang berbasiskan sejumlah organisasi, meskipun gerakan ini membawa juga kerja-kerja gerakan dan secara teratur mencoba untuk melakukan kontrol dan berbicara atas nama gerakan.[5]

Berbeda dari Turner dan Killian, John McCarthy dan Mayer Zald menggunakan pendekatan perilaku kolektif dengan memberikan perhatian yang jauh lebih besar kepada pentingnya faktor peran organisasi dalam gerakan sosial, yang disebut resource mobilisation theory. Lebih jauh, keduanya mendefinisikan gerakan sosial sebagai,

a set of opinions and beliefs which represents preferences for changing some elements of the social structure and/or reward distribution of society. A countermovement is a set of opinions and beliefs in a population opposed to a social movement.[6]

Perhatian terbesar mereka adalah pada kondisi-kondisi di mana keyakinan-keyakinan ditransformasikan ke pada tindakan-tindakan konkret. Dari perspektif ini sangatlah dibutuhkan, yakni pemimpin, yang memiliki sejumlah pengalaman politik sebelumnya, dan organisasi yang kuat dan, kalau perlu, profesional.[7] Penekanan mereka juga diberikan pada kondisi-kondisi yang memfasilitasi pembentukan organisasi-organsiasi gerakan sosial (social movement organisations), sebagaimana juga terciptanya dinamika-dinamika dari berjalannya kerjasama/kompetisi (co-operation/competition) di antara mereka.[8] Jadi eksistensi dari interaksi-interaksi yang terjadi dalam gerakan sosial terefleksikan dalam gagasan yang mereka sebut “social movement sectors”. Jadi dalam pandangan tersebut organisasi-organisasi gerakan sosial bukanlah aktor-aktor yang terisolasi, bahkan, mereka cenderung untuk berinteraksi dengan organisasi-organisasi lainnya, meskipun mereka mungkin tidak dapat membangun suatu bentuk koordinasi jangka pendek yang regular. Selain itu juga, konstituensi gerakan sosial kadangkala secara signifikan menjadi overlap. Dalam formulasi yang lebih kemudian dari perspektif ini menyatakan bahwa sektor gerakan sosial adalah,

social movement activity largely oriented toward change that is achieved in the differentiated political arena… the configuration of social movements, the structure of antagonistic, competing and/or cooperating movements which in turn is part of a larger structure of action.[9]

Dalam argumentasi Charles Tilly[10], selain memfokuskan pada organisasi sebagai sumber gerakan sosial, ia menghubungkan antara munculnya gerakan-gerakan sosial menuju “proses politik” yang lebih luas, mengeksklusi  kepentingan-kepentingan dengan mencoba untuk mendapatkan akses untuk membangun pemerintahan yang lebih mapan (established polity). Analisis Tilly didasarkan pada perspektif historis, memperiodisasi tahapan-tahapan dari perdebatan dan pertarungan yang berlangsung secara intens dalam lingkup sejarah kontemporer dan memetakan perubahan-perubahan dalam “panggung pertunjukan” dari aksi kolektif. Berbeda dari John McCarthy dan Mayer Zeld, Tilly menekankan pada dinamika keseluruhan yang menentukan keresahan (bahkan kerusuhan) sosial (social unrest) dan karakteristik-karakteristik yang ada padanya, ketimbang pada gerakan sosial di mana terdapat aktor-aktor yang terorganisir secara spesifik. Perspektif teoritis Tilly ini bisa dilihat dalam definisinya mengenai gerakan sosial sebagai sebuah,

[…] sustained series of interactions between power holders and persons successfully claiming to speak on behalf of a constituency lacking formal representation, in the course of which those persons make publicly visible demands for changes in the distribution or exercise of power, and back those demands with public demonstrations of support.[11]

Secara umum Charles Tilly berargumentasi bahwa gerakan sosial adalah sesuatu yang terorganisir (organised), berkelanjutan (sustained), menolak self-conscious (self conscious challenge) dan di dalamnya terdapat kesamaan identitas (shared identity) di antara mereka-mereka yang terlibat di dalamnya.[12]

Berbeda dari perspektif-perspektif sebelumnya pendekatan “gerakan sosial baru” berusaha melihat hubungan antara gerakan-gerakan sosial dengan perubahan struktural dan kultural dalam skala besar. Alain Touraine mengindentifikasi keterkaitan gerakan sosial dengan adanya konflik dominan yang sudah ada dalam masyarakat. Menurut Touraine, gerakan sosial merupakan “perilaku/tindakan kolektif yang terorganisir dari aktor berbasiskan kelas yang berjuang melawan kelas yang menjadi lawan (musuh) dalam untuk mengambil kontrol sosial secara historis dalam sebuah komunitas yang konkret”. Historisitas yang dimaksud Touraine adalah keseluruhan sistem pemaknaan (system of meaning) yang menciptakan aturan-aturan dominan dalam sebuah masyarakat yang sudah terbentuk.[13] Dalam argumentasi Touraine, gerakan sosial merupakan,

the action, both culturally oriented and socially conflictual, of a social class defined by its position of domination or dependency in the mode of appropriation of historicity, of the cultural models of investment, knowledge and morality, toward which the social movement itself is oriented.[14]

Touraine melihat gerakan sosial dalam konteks “gerakan sosial baru” (new social movement). Gagasan Touraine mengenai gerakan sosial sebagai kombinasi dari prinsip identitas, prinsip oposisi dan prinsip totalitas, di mana aktor-aktor sosial mengidentifikasikan diri mereka, lawan mereka secara sosial dan tingkatan-tingkatan dalam sebuah konflik. Gerakan sosial baru muncul dalam konteks adanya core konflik baru dalam masyarakat post-industrial kontemporer. Bagi Touraine kombinasi tersebut atau pun juga proses “formasi identitas” dapat dideteksi pada setiap aspek dari perilaku sosial, tetapi gerakan sosial  harus dibedakan sejauh isunya mencapai tingkat tertentu yang dapat dirujuk secara historis – sebagaimana ia nyatakan sebelumnya – lebih dari sekedar “keputusan-keputusan institusional atau norma-norma organisasional” yang ada dalam masyarakat.[15]

Agak berbeda dengan Touraine, Alberto Melucci dalam beberapa hal setuju bahwa konflik yang sekarang ini ada harus dilihat dalam konteks ruang kultural dan simbolik. Ia menyatakan bahwa gerakan sosial merupakan,

[…] specific class of collective phenomena which contain three dimensions … [it] is a form of collective action which involve solidarity… [it] is engaged in conflict, and thus in opposition to an adversary who lays claims on the same goods and values… [it] breaks the limits of compatibility of the system that it can tolerate without altering its structure.[16]

Bagi Melucci, gerakan-gerakan sosial tidak dapat disamakan begitu saja dengan konflik-konflik politik yang “kasat mata”, karena dalam faktanya aksi publik hanyalah salah satu bagian dari pengalaman gerakan-gerakan sosial. Sekalipun tidak terlibat dalam kampanye-kampanye dan mobilisasi, gerakan sosial mungkin akan tetap aktif dalam melakukan produksi di wilayah kebudayaan. Sejumlah gerakan yang berorientasi kultural, mungkin bisa melakukan mobilisasi pada hal-hal tertentu dalam arena politik. Aktivitasnya secara luas dibangun dalam “wilayah gerakan”, yakni “jaringan kerja kelompok-kelompok dan individu-individu yang memiliki kesamaan dalam konfliktual secara kultural dan identitas kolektif.[17]

Jadi secara umum bisa ditarik kesimpulan bahwa dari keempat pendekatan tersebut setidaknya ada empat aspek yang bisa dirangkum dalam melihat dinamika dari gerakan sosial: pertama, adanya jaringan kerja dan interaksi informal; kedua, adanya kesamaan keyakinan (shared beliefs) dan solidaritas; ketiga, aksi kolektif atas issu-issu konfliktual; keempat, aksi yang menunjukkan ruang yang luas di luar institusionalitas dan prosedur-prosedur rutin dari kehidupan sosial.

Gerakan Sosial Dalam Pandangan Laclau dan Mouffe

Laclau dan Mouffe melihat gerakan sosial dalam konteks hubungan antagonistik dalam masyarakat. Dalam argumentasi Chantal Mouffe, setidaknya ada empat posisi teoritik dalam melihat hubungan agen dan gerakan sosial. Menurut Chantal Mouffe “gerakan sosial baru” (new social movement) – sebenarnya Mouffe lebih suka menyebutnya sebagai “perjuangan demokratik baru” (new democratic struggle) – haruslah dipahami sebagai bentuk perlawanan-perlawanan terhadap bentuk-bentuk penindasan baru yang muncul dalam masyarakat kapitalisme tahap lanjut (advanced).[18] Dalam melihat ini Mouffe mengajukan empat posisi teoritis[19]:

Pertama, dalam setiap masyarakat, setiap agen sosial adalah lokus bagi multiplisitas dari relasi-relasi sosial – bukan hanya relasi sosial produksi, tetapi juga relasi-relasi sosial seperti sex, ras, nasionalitas dan lingkungan (mis. neighborhood). Semua hubungan-hubungan sosial ini yang determinan dalam mengkonstruksii personalistas atau posisi subyek. Oleh karena itu setiap agen sosial merupakan locus dari sejumlah posisi subyek, dan tidak dapat direduksi hanya kepada satu posisi. Contohnya, seorang buruh yang ada dalam hubungan produksi, adalah juga laki-laki atau perempuan, berwarna kulit putih atau kulit hitam, beragama Katolik atau Protestan, berkebangsaan Perancis atau Jerman, dan seterusnya. Subyektivitas seseorang bukanlah konstruksi yang hanya berdasarkan pada hubungan produksi. Terlebih daripada itu, setiap posisi sosial, setiap posisi subyek, masing-masing di dalamnya merupakan lokus dari kemungkinan berbagai konstruksi, sesuai dengan perbedaan discourse yang dapat  mengkonstruksi posisi tersebut.

Kedua, menolak pandangan ekonomi mengenai evolusi sosial yang diatur oleh satu logika ekonomi, pandangan yang memahami bahwa keastuan dari formasi sosial sebagai suatu hasil dari “necessary effects” yang diproduksi dalam supertsruktur politik dan ideologi oleh infrastruktur ekonomi. Pandangan ini mengasumsikan bahwa ekonomi dapat berjalan atas logikanya sendiri, dan mengikuti logika tersebut. Logika yang secara absolut independen dari hubungan-hubungan yang akan dilihat determinan. Lain dari itu, Mouffe mengajukan konsepsi bahwa masyarakat sebagai suatu perangkat yang kompleks terdiri dari hubungan-hubungan sosial yang heterogen dan memiliki dinamikanya sendiri. Kesatuan suatu formasi sosial merupakan produk dari artikulasi-artikulasi politik, yang mana, pada gilirannya kemudian, merupakan hasil dari praktek-praktek sosial yang memproduksi sebuah formasi hegemonik.

Ketiga, “formasi hegemonik” adalah seperangkat format-format sosial yang stabil. Formasi hegemonik merupakan materialisasi dari suatu artikulasi sosial, di mana hubungan-hubungan sosial yang berbeda bereaksi secara timbal-balik. Baik masing-masing saling menyediakan kondisi-kondisi eksistensi secara mutual, atau juga setidaknya menetralisir potensi dari efek-efek destruktif dari suatu hubungan-hubungan sosial dalam reproduksi dari hubungan-hubungan lain yang sejenis. Suatu formasi hegemonik selalu berpusat di antara hubungan-hubungan sosial tertentu. Dalam kapitalisme, misalnya, adanya hubungan produksi – yang tidak mesti dijelaskan sebagai akibat dari struktur – di mana sentralitas dari hubungan-hubungan produksi sudah di berikan kepada kebijakan hegemonik. Meskipun demikian, hegemoni tidak akan pernah mapan. Terlebih, perkembangan kapitalisme merupakan subyek dari perjuangan politik yang terus-menerus, yang secara periodik memodifikasi format-format sosial tersebut, melalui hubungan-hubungan sosial produksi yang memberikan garansi bagi sentralitas perjuangan tersebut.

Keempat, semua hubungan-hubungan sosial dapat menjadi lokus antagonisme, sejauh hubungan-hubungan tersebut dikonstruksi sebagai hubungan-hubungan subordinasi. Banyak format-format subordinasi yang berbeda dapat menjadi asal-mula konflik dan juga perjuangan. Hal ini dapat ditemukan dalam masyarakat sebagai potensi multiplisitas antagonisme, dan anatagonisme kelas hanyalah satu dari sekian banyak. Tidaklah mungkin untuk mereduksi semua format subordinasi dan perjuangan tersebut pada satu ekspresi logika tunggal yang ditempatkan pada ekonomi. Reduksifikasi ini tidak dapat juga di diabaikan dengan memposisikan sebuah mediasi kompleks antara antagonisme-antagonisme sosial dengan ekonomi. Ada banyak bentuk-bentuk kekuasaan dalam masyarakat yang tidak dapat direduksi atau dideduksi dari satu asal-muasal atau satu sumber saja.

Dalam pandangan ini, agen-agen baru dalam konsepsi gerakan sosial bukanlah sebagai pengganti dari buruh sebagai agen dalam konsepsi gerakan sosial lama, melainkan buruh sebagai agen gerakan sosial bukanlah satu-satunya, melainkan salah satu dari yang lainnya. Empat posisi teoritis ini yang dijadikan dasar untuk melihat pemikiran Laclau dan Mouffe mengenai gerakan sosial.

Hegemoni dan Antagonisme

I am a Gramscian…”, demikian Laclau menggambarkan dirinya. Pernyataan ini merujuk pada basis analisa politiknya yang didasarkan pada pemikiran Antonio Gramsci. Kemudian Laclau melanjutkan bahwa, “that ‘hegemony’ is for me the central category of political analysis”.[20] Laclau dan Mouffe mendasarkan analisis politik mereka pada teori hegemoni Gramsci. Namun, mereka menambahkan dimensi-dimensi lain dari pemikiran Gramsci tersebut. Berbeda dengan Gramsci, Laclau dan Mouffe tidak lagi memfokuskan kelas buruh sebagai agen dari praktek hegemoni. Mereka mengajukan tesis mengenai agen sosial baru, yang bisa mengisi ruang kosong dalam gerakan sosial, ketika gerakan buruh melemah, dan menjadi kekuatan yang tidak strategis dalam gerakan sosial di penghujung abad ke duapuluh.

Meskipun menganut teori hegemoni Gramsci, Laclau dan Mouffe melakukan beberapa kritik terhadap teori hegemoni Gramsci. Kalau Gramsci mendasarkan paradigma teoritiknya pada analisa kelas, Laclau dan Mouffe memijakkan paradigma teoritiknya pada analisa wacana (discourse analysis).

Discourse dalam ranah pemikiran teoritik Laclau dan Mouffe dijelaskan sebagai, “the structured totality resulting from the articulatory practice”,[21] yang mereka contohkan dengan:

If I kick a spherical object in the street or if I kick a ball in a football match, the physical fact is the same, but its meaning is different. The object is a football only to extent that it establishes a system of relations with other objects, and these relations are not given by the mere referential materiality of the objects but are, socially constructed.[22]

Jadi dalam pandangan Laclau dan Mouffe hegemoni secara umum memiliki validitas dalam menganalisa proses disartikulasi dan reartikulasi yang bertujuan untuk menciptakan dan menjaga politik sebagaimana juga kepemimpinan moral-intelektual. Karena itu bagi Laclau dan Mouffe, hegemoni merupakan praktik artikulasi yang membangun nodal points (titik temu dari sebuah rangkaian) yang secara parsial memperbaiki makna dari sosial dalam sebuah sistem difference yang terorganisasi.[23]

Dalam studi-studinya, Laclau dan Mouffe memfokuskan pada kondisi-kondisi sosial yang membentuk karakter dari “revolutionary situations”, salah satu contoh yang mereka ajukan adalah dengan membaca analisa Roxa Luxemburg terhadap situasi ini, Laclau dan Mouffe menyatakan,

in a revolutionary situation, it is impossible to fix the literal sense of each isolated struggle, because each struggle overflows its own literality and comes to represent, in the consciousness of the masses, a simple moment of a more global struggle against the system. And so it is that while in a period of stability the class consciousness of the worker … is ‘latent’ and ‘theoretical’, in a revolutionary situation the meaning of every mobilization appears, so to speak, as split: aside from its specific literal demands, each mobilization represents the revolutionary process as a whole; and these totalizing effects are visible in the over determination of some struggles by others. This is, however, nothing other than the defining characteristic of the symbol: the overflowing of the signifier by the signified. The unity of the class is therefore a symbolic unity.[24]

Lalu bagaimana hegemoni dalam konteks politik? Laclau dan Mouffe melihat bahwa hegemoni akan muncul dalam situasi antagonisme yang memungkinkan terbentuknya political frontier. Political frontier akan menciptakan pertarungan hegemonik, dalam situasi ini akan terbangun apa yang disebut chain of equivalence di antara kelompok sosial yang melakukan resistensi terhadap rejim opresif.

Menurut Laclau jika perjuangan hegemonik ingin berhasil, yang harus diperhatikan adalah tidak menempatkan logika yang diartikulasikan oleh semua bentuk eksternal ke dalam ruang partikular. Itu harus menjadi sebuah artikulasi yang bekerja di luar logika internal dari partikularitas itu sendiri. Sebaliknya munculnya partikularitas bukanlah hasil dari sebuah otonomi atau gerakan yang dilakukan sendirian, tetapi harus dipahami sebagai sebuah kemungkinan internal yang dibuka oleh logika yang diartikulasikan. Dengan kata lain universalisme dan partikularisme bukanlah gagasan yang berlawanan, tapi harus dipahami sebagai dua gerak yang berbeda (menguniversalkan dan mempartikularkan) yang menentukan sebuah totalitas artikulasi dan hegemoni. Jadi jangan memahami totalitas sebagai sebuah kerangka yang ada dalam praktek hegemoni: tetapi kerangka itu sendiri yang harus diciptakan melalui praktek hegemoni.[25]

Laclau mengambil contoh dengan melihat  terbentuknya keinginan kolektif (collective will), yang diinspirasikan oleh Rosa Luxemburg.[26] Dalam situasi dari penindasan yang ekstrim – yaitu rejim Tsar, kaum buruh memulai pemogokan menuntut kenaikan upah. Tuntutan ini bersifat partikular, tapi dalam konteks dari rejim yang represif, itu dilihat sebagai aktivitas yang menolak sistem rejim opresif (anti-system). Maka makna dari tuntutan tersebut terbagi menjadi dua, dari yang paling awal, antara partikularitasnya sendiri, dan sebuah dimensi yang lebih universal (anti-system).

Potensialitas dari dimensi yang lebih universal ini dapat menginspirasikan  perjuangan untuk tuntutan yang berbeda dari sektor lainnya – misalnya mahasiswa yang menuntut agar dibuat kurikulum pendidikan yang lebih santai dan tidak terlalu  disiplin, kaum politisi liberal menuntut kebebasan pers, dan lainnya. Setiap tuntutan ini ada dalam partikularitasnya masing-masing, tidak berhubungan satu dengan lainnya; apa yang menyatukan mereka adalah mereka menciptakan di antara mereka sebuah chain of equivalence (kesetaraan) di mana mereka semua dimaknai sebagai anti sistem. Munculnya sebuah batas (frontier) yang memisahkan rejim opresif dengan masyarakat adalah kondisi paling baik bagi universalisasi tuntutan melalui bermacam-macam kesetaraan (equivalences).

Meskipun begitu semakin luasnya chain of equivalences, (rantai yang membangun kesetaraan) semakin banyak kebutuhan bagi kesetaraan yang lebih  umum yang merepresentasikan rantai secara keseluruhan. Makna dari representasi adalah adanya partikularitas. Jadi satu dari mereka harus diasumsikan sebagai representasi dari rantai secara keselruhan. Inilah gerak hegemonik yang sempurna: pokok dari sebuah partikularitas mengasumsikan sebagai sebuah fungsi dari representasi universal.

Sebagaimana bisa dilihat dalam bagan yang digambarkan Laclau di bawah ini[27]:

Garis horisontal pembatas yang memisahkan rejim opresif (Tsar) dengan masyarakat; lambang D1 sampai D4 sebagai tuntutan partikular, terbagi di antara lingkaran yang merepresentasikan makna anti-sistem, yang membuat hubungan yang ekuivalen menjadi dimungkinkan. Akhirnya D1 di atas lingkaran ekuivalen mewakili ekuivalen secara general.

Namun pada sisi lain rejim opresif (Tsar) juga melakukan praktek hegemoni dan mencoba menyerap transformasi (menggunakan istilah Gramsci) beberapa dari tuntutan oposisi. Karena itu garis batas yang memisahkan rejim opresif dengan kelompok yang berseberangan sangatlah tidak stabil, karena jika rejim opresif mengakomodir sebagian dari tuntutan, maka dapat membuyarkan chain of equivalence dan mengembalikannya kembali pada masing-masing partikularitas, kondisi ini disebut logic of difference.

Antagonisme memainkan peran penting dalam teori discourse Laclau dan Mouffe. Menurut Laclau dan Mouffe, antagonisme merupakan “a failure of difference” semenjak adanya keterbatasan-keterbatasan dalam obyektivitas sosial. Antagonisme sosial merupakan, “…a result of the exclusion of discursive elements, the differential character of which is collapsed through their articulation in a chain of equivalence”.[28] Antagonisme memainkan peran penting dalam pembentukan identitas dan hegemoni, kerena penciptaan suatu antagonisme sosial meliputi penciptaan musuh yang akan menjadi sesuatu yang penting bagi political frontiers.[29] Antagonisme sosial membuat setiap makna sosial berkontestasi, dan tidak akan pernah menjadi stabil (mapan), yang kemudian memunculkan political frontier: setiap aktor akan memahami identitas mereka melalui hubungan antagonistik, karena antagonisme mengidetifikasikan musuh mereka. Misalnya sebagai contoh, fakta bahwa petani dieksploitasi dan dipaksa bekerja oleh kaum kapitalis pemilik pertanian, dan hubungan antagonisme antara petani dan pemilik tanah, akan membuat si petani mengenali para pemilik tanah sebagai musuh mereka, dan mengkonstruksi identitas mereka yakni petani yang adalah berlawanan dengan para pemilik tanah.[30]

Misalkan aktor-aktor A, B, C dan D: jika terdapat antagonisme antara sebuah kelompok (A, B dan C) dengan D, maka kemudian A, B dan C dapat mengidentifikasi batasan politik (political frointier) mereka terhadap D, karena grup tersebut (A, B dan C) bukanlah D. Sebuah identitas bahwa mereka bukanlah D dapat menjadi formasi yang hegemonik. Lalu, antagonisme memainkan peran kunci dalam membentuk batas politik (political frontier) di antara A, B dan C (beroposisi terhadap D). Dalam pengertian tersebut, formasi hegemonik selalu memerlukan yang dibentuk di luar dirinya (constituted outside) yang memiliki relasi antagonsitik. Antagonsime sosial terjadi jika agen-agen hegemonik tidak mampu menjaga identitas mereka dan mengkonstruksi musuh mereka. Dalam hal ini, antagonisme menguak perbatasan dari batas-batas politik suatu formasi sosial, sebagaimana ditunjukkan pada point di mana identitas tidak dapat lagi distabilkan dalam pemaknaan utuh dari suatu system of differences (sistem pembedaan), tetapi dikontestasikan oleh kekuatan yang berdiri pada batasan tatanan tersebut.

Gerakan Sosial dan Perjuangan Hegemonik

Tesis Laclau dan Mouffe adalah bahwa gerakan sosial baru merupakan ekspresi dari antagonisme yang muncul dalam memberikan respon terhadap formasi hegemoni yang diinstal secara utuh di negara-negara Barat pasca Perang Dunia II, sebuah formasi dalam krisis saat ini. Format hegemoni tersebut diletakkan pada tempatnya semenjak awal abad ini. Juga adanya gerakan-gerakan sosial sebelum Perang Dunia II, namun berkembang secara utuh setelah perang sebagai respon terhadap hegemoni formasi sosial baru.[31]

Dalam formasi sosial baru ini, Laclau dan Mouffe melihat bukan hanya melalui penjualan tenaga individu-individu ditempatkan pada dominasi modal, tetapi juga melalui partisipasi mereka dalam banyak hubungan-hubungan sosial lainnya. Banyak ruang kehidupan sosial yang saat ini mengalami penetrasi oleh hubungan-hubungan kapitalisme, sehingga sepertinya hampir mustahil untuk keluar dari hubungan-hubungan tersebut. Budaya, waktu luang, kematian, seks, dan lainnya, saat ini menjadi bidang untuk memperolah keuntungan bagi modal. Formasi sosial baru ini yang melahirkan sejumlah antagonisme-antagonisme sosial baru.

Antagonisme-antagonsime sosial baru inilah yang menjadi locus dari lahirnya gerakan-gerakan sosial yang bukan hanya berbasikan pada ke-agenan buruh, melainkan agen-agen yang didefinisikan sebagai “agen-agen baru” yang menghadirkan “gerakan sosial baru”. Gerakan yang mengusung tuntutan baru yang lebih kompleks, dalam masyarakat post-industrial atau advanced capitalism. Laclau dan Mouffe menawarkan strategi baru gerakan sosial dalam menghadapi relasi sub-ordinasi dalam masyarakat post-industrial, yakni melalui perjuangan hegemonik, dengan membangun chain of equivalence, dan mengkonstruksi universalitas identitas dan tuntutan.

Kepusatakaan Rujukan

Barret, Michelle, “Ideology, Politics, Hegemony: From Gramsci to Laclau and Mouffe”, dalam Slavoj Žižek (Ed.), Mapping Ideology (London: Verso, 1994).

Derrida, Jacques, Positions (Chicago: University of Chicago Press, 1981).

Garner, R. and Mayer. N. Zeld, “The Political Economy of Social Movement Sectors”, dalam Gerald. D. Suttles and Mayer. N. Zeld (Eds), The Challenge of Social Control: Citizenship and Institution Building in Modern Society (Norwood New Jersey: Ablex, 1985).

Gasche, Rodolphe, The Tain of the Mirror: Derrida and the Philosophy of Reflection (Cambridge MA: Harvard University Press, 1986).

Gramsci, Antonio, Selections from Prison Notebooks (Edited by Quentin Hoare and Geoffrey. N. Smith)  (London: Lawrence and Wishart, 1978).

Howarth, David, “Discourse Theory”, dalam David Marsh and Gerry Stoker (Eds.), Theory and Method in Political Science (London: Macmillan, 1995).

Howarth, David, Discourse (Buckingham: Open University Press, 2000).

Laclau, Ernesto, Politics and Ideology in Marxist Theory: Capitalism, Fascism, Populism (Second Edition) (London: Verso, 1987) .

Laclau, Ernesto, New Reflections on the Revolution of Our Time (London: Verso, 1990).

Laclau, Ernesto, Emancipation(s) (London: Verso, 1996).

Laclau Ernesto, “Deconstruction, Pragmatism, Hegemony” dalam Chantal Mouffe (Ed), Deconstruction and Pragmatism (London: Routledge, 1996).

Laclau, Ernesto, “Identity and Hegemony: The Role of Universality in the Constitution of Political Logic”, dalam Judith Butler, Ernesto Laclau and Slavoj Žižek, Contingency, Hegemony, Universality: Contemporary Dialogues on the Left (London: Verso, 2000).

Laclau, Ernesto, “Constructing Universality”, dalam Judith Butler, Ernesto Laclau and Slavoj Žižek, Contingency, Hegemony, Universality: Contemporary Dialogues on the Left (London: Verso, 2000).

Laclau, Ernesto, “Democracy and the Question of Power” dalam Constellations Volume 8, No.1 (2001).

Laclau, Ernesto and Chantal Mouffe, “Post-Marxist Without Apologies” dalam New Left Review No.166, November/December (1987).

Laclau, Ernesto and Chantal Mouffe, Hegemony and Socialist Strategy: Towards A Radical Democratic Politics (Second Edition) (London: Verso, 2001) .

Mario Dani, “The Concept of Social Movement” dalam The Sociological Review, Vol. 40, (1992).

McCharty, John D. and Mayer N. Zeld, “Resource Mobilization and Social Movements: A Partial Theory”, dalam American Journal of Sociology, Vol. 82 (1977).

Melluci, Alberto, Nomads of the Present: Social Movements and Individual Needs in Contemporary Society (London: Hutchinson Radius, 1989).

Mouffe, Chantal, “Hegemony and Ideology in Gramsci”, dalam Chantal Mouffe (Ed.), Gramsci and Marxist Theory (London: Routledge, 1979).

Mouffe, Chantal, The Return of the Political (London: Verso, 1993).

Mouffe, Chantal, “Deconstruction, Pragmatism and the Politics of Democracy” dalam Chantal Mouffe (Ed), Deconstruction and Pragmatism (London: Routledge, 1996).

Mouffe, Chantal, The Democratic Paradox (London, Verso, 2000).

Mouffe, Chantal, “Hegemony and New Political Subjects: Toward A New Concept of Democracy” dalam Kate Nash (Ed), Readings in Contemporary Political Sociology (Oxford: Blackwell, 2000).

Mouffe, Chantal, Politics and Passions: The Stakes of Democracy (London: Centre for the Study of Democracy – University of Westminster, 2002).

Mouffe, Chantal, On The Political (London: Routledge, 2005).

Smith, Anna Marie, Laclau and Mouffe: The Radical Democratic Imaginary (London: Routledge, 1998).

Tilly, Charles, From Mobilization to Revolution (Reading: Addison-Wesley, 1978).

Tilly, Charles, “Social Movement and National Politics” dalam C. Bright and Sandra Harding (Eds), State-Making and Social Movements: Essays in History and Theory (Ann-Arbor, Michigan: University of Michigan Press, 1984).

Torfing, Jacob, New Theories of Discourse: Laclau, Mouffe and Žižek (Oxford: Blackwell, 1999).

Touraine, Alain, The Voice and the Eye: An Analysis of Social Movements (Cambridge: Cambridge University Press, 1981).

Touraine, Alain, Return of the Actor: Social Theory in Postindustrial Society (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1988).

Turner, Ralph, “Collective Behaviour and Resource Mobilisation as Approach to Social Movements: Issues and Continuities”, dalam L. Kriesberg (Ed), Research in Social Movements: Conflicts and Change, Vol. 4. Greenwich: JAI Press (1982).

Turner, Ralph and Lewis Killian, Collective Behaviour (Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, 1987).

Zeld Mayer N. and John. D. McCharty, “Social Movement Industries: Competition and Cooperation Among Movement Organizations”, dalam L. Kriesberg (Ed), Research in Social Movements: Conflict and Change, Vol. 3. Greenwich: JAI Press (1980).

Catatan


[1] Ernesto Laclau, Politics and Ideology in Marxist Theory: Capitalism, Fascism, Populism (Second Edition) (London: Verso, 1987).

[2] Ernesto Laclau and Chantal Mouffe, Hegemony and Socialist Strategy: Towards A Radical Democratic Politics (Second Edition) (London: Verso, 2001).

[3] Lihat misalnya studi Alberto Melluci, Nomads of the Present: Social Movements and Individual Needs in Contemporary Society (London: Hutchinson Radius, 1989).

[4] Ralph Turner and Lewis Killian, Collective Behaviour (Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, 1987), hlm. 223.

[5] Ralph Turner, “Collective Behaviour and Resource Mobilisation as Approach to Social Movements: Issues and Continuities”, dalam L. Kriesberg (Ed), Research in Social Movements: Conflicts and Change, Vol. 4. Greenwich: JAI Press (1982), hlm. 5.

[6] John. D. McCharty and Mayer. N. Zeld, “Resource Mobilization and Social Movements: A Partial Theory”, dalam American Journal of Sociology, Vol. 82 (1977), hlm. 1217-1218.

[7] Ibid.

[8] Lihat juga Mayer. N. Zeld and John. D. McCharty, “Social Movement Industries: Competition and Cooperation Among Movement Organizations”, dalam L. Kriesberg (Ed), Research in Social Movements: Conflict and Change, Vol. 3. Greenwich: JAI Press (1980).

[9] R. Garner and Mayer. N. Zeld, “The Political Economy of Social Movement Sectors”, dalam G. Suttles and Mayer. N. Zeld (Eds), The Challenge of Social Control. Norwood New Jersey, Ablex (1985), hlm. 120.

[10] Charles Tilly, From Mobilization to Revolution (Reading: Addison-Wesley, 1978).

[11] Charles Tilly, “Social Movement and National Politics” dalam C. Bright and Sandra Harding (Eds), State-Making and Social Movements: Essays in History and Theory. (Ann-Arbor, Michigan: University of Michigan Press), hlm. 306.

[12] Ibid., hlm. 303.

[13] Alain Touraine, The Voice and the Eye: An Analysis of Social Movements (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), hlm. 77-81.

[14] Alain Touraine, Return of the Actor: Social Theory in Postindustrial Society (Minneapolis: University of Minnesota Press), 1988, hlm. 68.

[15] Alain Touraine, The Voice and the Eye, hlm. 81

[16] Alberto Melluci, Nomads of the Present, hlm. 29

[17] Mario Dani, “The Concept of Social Movement” dalam The Sociological Review, Vol. 40 (1992).

[18]Chantal Mouffe, “Hegemony and New Political Subjects: Toward A New Concept of Democracy” dalam Kate Nash (Ed), Readings in Contemporary Political Sociology (Oxford: Blackwell, 2000), hlm. 295. Mouffe mencontohkan gerakan-gerakan yang mengedepankan issu-issu seperti: ekologi, anti nuklir dan gerakan anti-birokrasi.

[19] Ibid., hlm. 296-297.

[20] Ernesto Laclau, “Democracy and the Question of Power”, dalam Constellations Vol.8, No.1 (2001) hlm. 5.

[21] Ernesto Laclau and Chantal Mouffe, Hegemony and Socialist Strategy, hlm. 105.

[22] Ernesto Laclau and Chantal Mouffe, “Post-Marxist Without Apologies” dalam New Left Review No.166, November-December (1987), hlm. 82.

[23] Ernesto Laclau and Chantal Mouffe, Hegemony and Socialist Strategy, hlm. 134-137.

[24] Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, Hegemony and Socialist Strategy, hlm. 10-11.

[25] Ernesto Laclau, “Constructing Universality”, dalam Judith Butler, Ernesto Laclau and Slavoj Zizek, Contingency, Hegemony, Universality, hlm. 301-302.

[26] Ibid., hlm. 302-303.

[27] Ibid., hlm. 303.

[28] Jacob Torfing, New Theories Of Discourse: Laclau, Mouffe, Zizek (Oxford: Blackwell, 1999), hlm.  305.

[29] David Howarth, “Discourse Theory”, dalam David Marsh and Gerry Stoker (Eds.), Theory and Method in Political Science (London: Macmillan, 1995), hlm. 121.

[30] David Howarth, Discourse (Buckingham: Open University Press, 2000), hlm. 105.

[31] Chantal Mouffe, Hegemony and the New Political Subject, hlm. 299.

One thought on “Laclau-Mouffe Tentang Gerakan Sosial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s