Hernando de Soto, Misteri Modal dan Neoliberalisme

I mean by capital, the value that things have that can be transported to start off new ventures. Pretty much what I think the economist defines it as, stuff that begets stuff. That is to say, value. It’s value that can be monetized or not. It can be expressed in monetary form or it can be expressed in other forms, but that you can move around. Let me give you an example, the Peruvian Telephone Company, had a value back home in the Lima Stock Exchange in 1990 of fifty-three million dollars. Badly titled, within a bad legal system. We decided, the Peruvians, to privatize it. So basically, over three years, it was re-titled because nobody would buy it. And we titled and represented it on paper. And once it was properly titled, put within the right legal context, it got sold for two billion dollars, thirty-seven times its value; which means, that without painting the telephone company, without mowing the lawn, repairing the windows, or whatever, just by representing it in paper, in a structure and format that the law allowed to travel internationally, we raised its value thirty-seven times. That’s capital. 

(Hernando de Soto, Hoover Institution, 22 April 2002)

Dalam karya monumentalnya, The Mystery of Capital, Hernando de Soto mencoba untuk menjawab satu pertanyaan yakni: Kenapa kapitalisme berjaya di Barat, tetapi gagal di bagian “sisa” dunia lainnya? De Soto memaparkan dan menganalisa kegagalan kapitalisme di negara-negara Amerika Latin semenjak memerdekakan diri dari penjajahan Spanyol.[1] Satu hal yang menarik bagi De Soto adalah temuannya dalam melihat bagaimana sektor-sektor ekonomi informal – yang dalam praktiknya didominasi oleh “kaum miskin” – bisa berjalan dan melibatkan perputaran uang yang nilai sangat besar. Bahkan melampui pendapatan suatu negara.

Karya De Soto ini sontak banyak diasosiasikan sebagai doktrin ekonomi neoliberal, yang mengedepankan ide-ide mengenai perlunya perluasan pasar dan hak kepemilikan individu direhabilitasi melalaui program sertifikasi bagi usaha-usaha yang belum masuk dalam kategori “legal”, melainkan masih di wilayah “extralegal”. Dengan didorongnya sektor “extralegal” ini menjadi “legal”, maka selanjutnya pemerintah/negara tidak perlu lagi terlalu campur tangan, karena begitu legalitasnya dipenuhi maka individu yang tadinya berada di luar sistem pasar, bisa masuk dan ikut terlibat aktif di dalam sistem ekonomi pasar, atau dalam bahasa De Soto dapat ikut terlibat di dalam kapitalisme secara sah. Sektor “extralegal” merupakan sektor “gleap” di mana negara dapat melakukan intervensi, sekaligus merupakan wilayah di mana modal hilang ditelan “pasar gelap”, padahal jika dibawa masuk ke dalam arus sistem pasar, akan dapat mendorong pertumbuhan dan kelipatan keuntungan. Hernando de Soto, tampil dengan ide-ide tersebut, yang dengan gencar dikampanyekan di negara-negara dunia ketiga, tempat di mana “pasar-gelap” dijalankan secara besar-besaran.  Pertanyaannya adalah apakah terdapat kesesuaian antara gagasan Hernando de Soto di dalam karyanya The Mystery of Capital dengan gagasan neoliberalisme?

Untuk mendiskusikan, pertama-tama tulisan ini akan mencoba  menelusuri dan coba mengenali terlebih dahulu “binatang” apakah neoliberalisme yang banyak dikemukakan akhir-akhir ini? Dalam tulisan ini neoliberalisme yang dimaksud adalah pandangan bahwa, “individual freedoms are guaranteed by freedom of the market and of trade is a cardinal feature of neoliberal thinking”.[6] Pandangan inilah yang mendominasi posisi pijak Amerika Serikat (AS) yang akan ditekankan di seluruh dunia. Bukti yang bisa disodorkan adalah bagaimana AS memaksa Irak dengan penggunaan kekuatan militer merupakan tampilan aparatur negara yang misi utamanya adalah memfasilitasi kondisi-kondisi yang memungkinkan bagi profitable capital accumulation baik bagi modal domestik maupun mancanegara. David Harvey menyebutkan jenis aparatur negara seperti itu sebagai negara neoliberal (neoliberal state).[7] Dalam pandangan ini maka kebebasan (freedom) yang melekat merefleksikan kepemilikan atas barang milik (private property), wirausaha, perusahaan-perusahaan multinasional, dan financial capital. Dengan rujukan ini maka menjadi sangat mungkin untuk mempersandingkannya dengan pikiran-pikiran Hernando de Soto, dan melihat apaah piranti pemikiran Soto sebangun dan sesisi dengan kategori neoliberalisme yang diracik Harvey.

Hernando de Soto dan Pertanyaannya: Kenapa Modal Menjadi Sesuatu yang Misterius ?

Ide dasar Hernando Soto yang tertuang dalam buku tersebut melahirkan sejumlah pertanyaan kritis, seberapa jauh gagasan Soto tidak memberikan ruang sebesarnya bagi pusaran arus neoliberalisme yang meringsek masuk? Seberapa jauh, klaim ontologis keadilan ala neoliberalisme di-amini sebagai sebuah finalitas praktik ekonomi universal? Atau perlu melihat sisi-sisi lain dari denyut kehidupan ekonomi masyarakat yang belum berhasil dicengkeram klaim ontologis tersebut?

Dalam karyanya The Mystery of Capital, Hernando de Soto mencoba untuk menjawab satu pertanyaan yakni: Kenapa kapitalisme berjaya di Barat, tetapi gagal di bagian “sisa” dunia lainnya? Soto memaparkan dan menganalisa kegagalan kapitalisme di negara-negara Amerika Latin semenjak memerdekakan diri dari penjajahan Spanyol.[8] Satu hal yang menarik bagi Soto adalah temuannya dalam melihat bagaimana sektor-sektor ekonomi informal – yang dalam praktiknya didominasi oleh “kaum miskin” – bisa berjalan dengan melibatkan perputaran uang yang nilai sangat besar. Bahkan melampui pendapatan suatu negara.

Buku ini memposisikan suatu kondisi di mana sistem kapitalisme pasar merupakan suatu sistem yang hari ini merupakan sebuah sistem final yang – mau tidak mau – mengharuskan setiap individu masuk ke dalamnya, dan menciptakan serta mengembangkan modal (capital) untuk kelangsungan hidup setiap individu, komunitas maupun bangsa. Dalam buku tersebut Soto mencoba untuk menunjukkan dan menguraikan bahwa tembok besar yang menghalangi “bagian lain dari dunia”, yakni negara-negara miskin dan “di luar” Barat”, untuk memperoleh keuntungan dari sistem kapitalisme adalah dikarenakan kegagalan untuk memproduksi modal (capital). Ini bisa dilihat dalam argumen Soto,

In this book I intend to demonstrate that the major stumbling block that keeps the rest of the world from benefiting from capitalism is its inability to produce capital. Capital is the force that raises the productivity of labour and creates the wealth nations. It is the lifeblood of the capitalist system, the foundation of progress, and the one thing that the poor countries of the world cannot seem to produce for themselves, no matter how eagerly their people engage in all the other activities that characterize a capitalist economy.[9]

Pada sisi lain, Soto juga mengajukan suatu hipotesis, berdasarkan data-data temuannya di sejumlah bagian maupun sektor-sektor pertanian di Asia, Afrika, Timur-Tengah dan Amerika Latin, bahwa sebagian besar kaum miskin telah memiliki aset-aset yang mereka butuhkan untuk dapat berhasil atau sukses dalam sistem kapitalisme. Catatan temuan Soto adalah bahwa nilai simpanan (savings value) di antara kaum miskin, secara faktual adalah sangat besar: empatpuluh kali dari seluruh bantuan asing yang pernah diterima di seluruh dunia semenjak tahun 1945. Data-data ini dikerucutkan dengan membeberkan sejumlah contoh beberapa negara seperti Mesir di mana kekayaan yang dimiliki dan diakumulasi orang-orang miskin adalah bernilai limapuluh-lima kali banyaknya dari seluruh investasi asing yang dilakukan secara langsung (direct foreign investment) yang pernah dicatat, termasuk Terusan Kanal dan Bendungan Aswam.[10] Contoh lain yang diajukan Soto adalah hasil data-data temuannya di Haiti, negara yang paling miskin di Amerika Latin, di mana total nilai aset dari orang-orang miskin adalah seratus-limapuluh kali lebih besar dari seluruh investasi asing yang pernah masuk di negara tersebut semenjak negara tersebut merdeka dari Perancis tahun 1804.[11]

Namun bagi Soto, ia juga menemukan fakta-fakta di mana terjadi ketidakefektifan bentuk dari sumber-sumber atau aset-aset yang dimiliki kaum miskin tersebut, seperti: rumah-rumah dibangun di atas tanah yang hak atas kepemilikannya tidak terdata dengan baik, kegiatan usaha yang tidak diorganisasi dan diurus sebagaimana sebuah usaha legal (unincorporated business) dengan liabilitas yang tidak dapat diukur (undefined liability), industri-industri berlokasi di mana para pemilik uang dan investor tidak dapat melihatnya.

Dalam bukunya ini Soto juga menyatakan bahwa dalam memahami perbedaan (difference) dan kemungkinan (possibilities) ia merujuk pada pemikiran dua filsuf post-structuralist Perancis yakni Jacques Derrida dan Michel Foucault. Soto menggunakan pemikiran Derrida dalam menggunakan kategori-kategori suatu bentuk kebudayaan untuk menggambarkan kebudayaan lainnya dalam suatu cara yang bisa dipahami oleh semua orang, dan tanpa harus menghancurkan keunikan karakter suatu kebudayaan. Bagi Soto model pemikiran Derrida ini banyak menolongnya dalam memahami bagaimana dia dan tim penelitinya berhasil mengintegrasikan pengaturan extralegal property menjadi formal property law.

Dari pemikiran Foucault, Soto mempelajari prinsip dasar dari konsepsi “secret architecture” yang mengkaitkan antara yang tidak kelihatan (the invisible) kepada yang kelihatan (the visible), dan juga menarik sebuah simpulan dari tulisan-tulisan Foucault bagaimana bagaimana sebuah sistem representasi yang baik akan meningkatkan la condition de possibilité dari kehidupan seluruh manusia.[12]

Misteri A’la Hernando de Soto

Pertanyaan yang menggelitik Soto ini dirumuskannya ke dalam lima misteri yang menyebabkan kegagalan-kegagalan di belahan dunia lain “di luar” Barat. Bagi Soto di belahan Barat, seluruh kepemilikan tanah, bangunan, pabrik, peralatan maupun barang-barang, didokumentasi dengan baik, yang memiliki fungsi sebagai tanda yang terlihat dari sebuah proses besar yang tidak terlihat yang menghubungkan semua aset tersebut kepada sektor-sektor perekonomian lainnya. Dengan adanya proses tersebut maka aset memiliki bentuk paralel: terlihat (ujud fisik dari asset itu sendiri) dan tidak terlihat (sebagai alat untuk melakukan generate income yang ujungnya adalah akumulasi modal). Ini bisa dilihat pada contoh rumah, di mana selain ujud fisik, rumah tinggal juga berfungsi sebagai jaminan kredit, bisa disewakan untuk meningkatkan pendapatan, atau sebagai “saham” yang kepemilikannya dapat dipecah-pecah dengan mudah. Aset juga dapat berfungsi sebagai dokumen yang mencatat riwayat kredit si pemilik, sumber untuk pengumpulan pajak, fondasi untuk penciptaan keamanan (jaminan hipotek) yang dapat dijual ke pasar sekunder. Dari sinilah Barat melakukan injeksi kehidupan individu ke dalam aset dan membuatnya mampu menghasilkan modal.

Sementara, menurut Soto, di negara-negara miskin dan juga negara-negara bekas komunis (Uni Sovyet), banyak aset yang melimpah tidak bisa menghasilkan capital karena aset-aset tersebut tidak pernah direpresentasikan sebagaimana dalam proses yang dipakai di negara-negara Barat. Negara-negara ini mampu membuat klip penjepit kertas sampai reaktor nuklir, tetapi tidak berhasil mendorong kapitalisme domestik bekerja. Problem yang dihadapi negara-negara miskin ini yang membawa Soto pada kesimpulan adanya lima misteri yang menyelubungi perkembangan kapitalisme di negara-negara miskin tersebut. Soto menguraikan lima misteri tersebut sebagai berikut:

(1) Misteri Informasi yang Hilang (The Mystery of Missing Information)

Dalam hal ini Soto menilai bahwa kelemahan dan kekurangan usaha dalam mendokumentasi upaya dan kapasitas orang miskin di dunia dalam mengumpulkan aset-aset. Namun semua aset tersebut adalah modal mati (dead capital), di mana kapasitas mereka memasuki wilayah legal atau formal mengalami banyak hambatan, dan dalam wilayah extralegal yang mereka masuki tidaklah murah dari segi pembiayaan, tidak aman, dan terutama gagal mentransformasi aset mereka menjadi kapital.

(2) Misteri Kapital (The Mystery of Capital)

Ini merupakan misteri pokok yang menjadi fokus utama penelitian Soto. Menurut Adam Smith, dalam sejarah, kapital telah terlepas dari makna awalnya dan justru merupakan pokok. Kapital direduksi hanya menjadi sekedar uang. Uang merupakan roda besar sirkulasi namun bukan pencipta produksi tambahan. Soto menambahkan bahwa dunia Barat mampu membuat proses tersembunyi yaitu system kepemilikian formal yang memungkinkan terjadinya proses, bentuk, peraturan pengolahan asset dalam kondisi tertentu, sehingga dapat berubah menjadi capital aktif (living capital). Menurut Soto ada enam efek dari sistem kepemilikian formal di Barat yang membuat warganegara mereka mampu menghasilkan kapital:

  1. Mengolah potensi ekonomis aset;
  2. Mengintegrasikan informasi tersebar ke dalam satu sistem;
  3. Membuat orang yang terlibat menjadi (lebih) bertanggungjawab;
  4. Membuat aset dapat dipertukarkan (fungible);
  5. Menempatkan orang dalam suatu jaringan;
  6. Melindungi transaksi. Ini dinilai sangat penting karena sistem kepemilikan formal bukan semata-mata melindungi aset itu sendiri, tetapi justru lebih melindungi dalam hal keamanan transaksi.

(3) Misteri Kepekaan Politik (The Mystery of Political Awareness)

Ini merupakan problem yang ada pada suatu pemerintahan. Pertanyaannya Soto adalah: jika begitu banyak kapital mati, kenapa pemerintah di negara-negara dunia ketiga tidak berupaya untuk menghidupkannya? Salah satu bukti temuan Soto adalah disebabkan karena bukti yang tersedia hanya ada di masa lalu pada saat jutaan orang berpindah dari kehidupan ekonomi kecil menuju kehidupan skala besar. Migrasi besar ini dengan cepat membuat pembagian kerja (division of labour) menjadi sesuatu yang niscaya dan membuat revolusi perdagangan bisa menjangkau negara-negara miskin. Migrasi penduduk dari wilayah-wilayah pedesaan agraris ke kota menumbuhkan pemukiman-pemukiman extralegal, yang membuat mereka hidup di luar toples kaca kapitalisme. Sebagian dari para pelaku extralegal ini dapat bertahan dengan ikut dalam tata-perdagangan, sekaligus mampu memenangkannya di depan negara. Kemudian negara lambat-laun menerima mereka dan mengadopsi mereka dalam sistem hukum. Dalam pandangan Soto hal seperti ini harus dilakukan pemerintah di negara-negara dunia ketiga, bukan dengan menentang gelombang ini, melainkan menangkap gelombang tersebut sebagai bagian dari penciptaan kapital.

(4) Pelajaran yang Hilang dari Sejarah Amerika Serikat (The Missing Lessons of U.S. History)

Dalam analisa Soto apa yang terjadi di negara-negara dunia ketiga pernah terjadi juga di negara Barat di masa lampau. Salah satu contoh yang dijadikan rujukan oleh Soto adalah Amerika Serikat. George Washington pernah menuliskan persoalan mengenai “para bandit” yang mencantol dan mengakar pada negara, yang akibatnya menghabiskan anggaran negara. Dalam sejarahnya, Amerika Serikat pernah terjadi banyak korupsi, perampasan tanah, penyuapan, dan ketidakmampuan para pemimpin-pemimpinnya dalam mengatur dan melakukan kontrol terhadap negara. Tetapi secara perlahan persoalan ini bisa diselesaikan, tetapi kompleksitas persoalan tersebut membuat pendokumentasian proses ini terabaikan. Para pemegang kebijakan ekonomi di Amerika Serikat melupakan bahwa para pioneer mereka dulunya disebut oleh Washington sebagai kaum bandit, yang tidak mampu menghasilkan modal karena tidak memiliki sertifikat atas kepemilikian termasuk tanah.

(5) Misteri Kegagalan Hukum (The Mystery of Legal Failure)

Pertanyaan pokok Soto dalam melihat persoalan ini adalah: Kenapa hukum kepemilikan (property law) tidak bekerja pada negara-negara di luar Barat? Hasil penelitian Soto menyatakan bahwa di Barat semua bentuk kepemilikan berada di bawah satu sistem hukum nasional yang jelas dan pasti. Ini membuat setiap orang dapat merujuk pada satu kontrak sosial “hitam di atas putih” yang bisa membuat aset-aset mereka digunakan dengan produktif. Sementara, di negara-negara miskin hal ini tidak terjadi, karena sebagian besar warganegaranya tidak mendapatkan akses ke dalam sistem yang mampu menciptakan kapital hidup (living capital). Dalam analisa Soto, ini terjadi karena ada pandangan yang salah dari mereka yang berada di wilayah extralegal dalam melihat wilayah yang legal, sehingga hukum gagal memberikan jaminan terhadap penciptaan kapital. Lima alasan kesalahan pandang dari mereka yang berada di wilayah extralegal, yang diajukan Soto dalam melihat kegagalan tersebut, yakni:

  1. Orang berada di sektor extralegal atau sektor bawah tanah (underground) berasumsi bahwa wilayah tersebut bisa menghindari pajak. Menurut Soto mereka justru bukan terhindar dari pajak, tetapi mengeluarkan biaya lebih banyak untuk dapat menjamin hidup mereka di wilayah ini;
  2. Aset-aset perumahan tersebut tidak dimiliki secara legal karena mereka belum disurvei, dipetakan dan dicatat secara baik dan memadai;
  3. Mengeluarkan hukum formal (mandatory law) atas kepemilikan adalah memadai, dan pemerintah dapat mengabaikan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalankan hukum tersebut;
  4. Pengaturan-pengaturan extralegal atau “kontrak sosial” yang ada dapat diabaikan;
  5. Konvensi-konvensi fundamental dalam masyarakat mengenai bagaimana mereka dapat memiliki asset-aset, baik secara legal maupun extralegal, dapat diubah tanpa harus melibatkan kepemimpinan politik tingkat tinggi.

Lima misteri ini yang bagi Soto merupakan problem kunci dari kapitalisme modern saat ini, di mana aset-aset yang seharusnya bisa dikembangkan menjadi capital, tidak jadi apa-apa, dan mati.

Hak Kepemilikan: Dapatkah Menjawab Keberjarakan Kultural?

Asumsi Soto dengan berpijak pada filsafat post-structuralist Derrida dan Foucault mencoba untuk menjawab soal penerapan formal property rights mungkin akan berbenturan dengan preferensi-preferensi kultural komunitas-komunitas yang hidup dalam suatu bangsa. Kondisi ini seperti suatu kondisi keberjarakan antara individual property right dengan bentuk kepemilikan masyarakat (komunitas) adat dalam suatu rentang waktu tertentu. Keterbedaan kultural dalam memaknai bentuk kepemilikan dianggap Soto bukanlah suatu hal yang signifikan dalam mentransformasikan properti yang ilegal menjadi legal. Namun Soto seakan melupakan bahwa Derrida menolak keras bentuk esensialisme dan unversalitas yang dibakukan, dalam konsepsinya mengenai differancé.

Modal yang tidak kelihatan (invisible) atau yang extralegal ini dilihat Soto dengan cara bagaimana melihat bentuk hukum dari cara pandang extralegal, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik bagaimana itu bekerja dan akibat-akibat yang dihasilkannya. Untuk memahami ini Soto merujuk pada argumen Michel Foucault di mana akan lebih mudah untuk menemukan sesuatu makna dengan melihat itu dari sisi yang berlawanan dari suatu jembatan. Menurut Foucault untuk dapat menemukan apa yang masyarakat maksud dengan kewarasan, mungkin kita “should investigate what is happening in the field of insanity. And what we mean by legality in the field of illegality”. Jadi dalam pandangan Foucault makna mengenai “waras” (sanity) hanya bisa ditemukan dalam apa yang ada pada “kegilaan” (insanity), demikian juga mengenai apa itu yang legal hanya bisa ditemukan dalam wilayah yang ilegal. Inilah argumen Soto untuk melihat yang visible lewat yang invisible sehingga dua hal ini kemudian bisa dikaitkan satu dengan lainnya.

Namun Foucault melihat pada sisi di mana kegilaan (madness) merupakan sesuatu yang tidak bernalar (unreason) dalam suatu kondisi yang bernalar (reason). Di masa abad 17-18, unreason merupakan bentuk “kebinatangan” (animality) yang perlu ditundukkan, dan diisolasi dari komunitas bernalar (reason), karena itu dalam classism menurut Foucault “It was in relation to unreason and to it alone that madness could be understood”.[13] Tujuan rejim-rejim di abad-abad tersebut adalah untuk menjawab pertanyaan bagaimana kegilaan bisa dibatasi (confine)? Di sisi lain justru dengan cara melihat seperti itu maka Foucault menarik sebuah simpulan bahwa tujuan untuk memahami kegilaan adalah:

In other words, the bourgeoisie doesn’t give a damn about the mad, but from the nineteenth century onward and subject to certain transformations, the procedures used to exclude the mad produced or generated a political profit, or even a certain economic utility. They consolidated the system and helped it to function as a whole. The bourgeoisie is not interested in the mad, but it is interested in power over the mad; the bourgeoisie is not interested in the sexuality of the children, but it is interested in the system of power that controls the sexuality of children. The bourgeoisie does not give a damn about delinquents, or how thay are punished or rehabilitated, as that is if no great economic interest. On the other hand, the sets of mechanisms whereby delinquents are controlled, keep track of, punished, and reform does generate a bourgeoisie interest that functions within the economico-political system as a whole.[14]

Artinya argumen Soto dengan menggunakan Foucault bisa dibaca dengan cara Foucault, yaitu upaya untuk menundukkan wilayah extralegal untuk masuk dalam wilayah legal, bukanlah untuk membuat orang-orang miskin memiliki kemampuan untuk menciptakan kapital, tetapi justru untuk membuat kaum elit kapitalis yang hidup dalam toples kaca Braudel melipatgandakan keuntungan dalam keseluruhan sistem ekonomi yang mereka kuasai. Dalam analisa Foucaultian maka kaum kapitalis dalam toples kaca tidak akan pernah perduli apakah orang-orang miskin yang akan masuk dalam wilayah legal (melalui legal property rights) akan kemudian bisa menciptakan kapital. Yang mereka pedulikan adalah apakah masuknya orang-orang miskin dalam toples kaca kapitalisme akan bisa membuat mereka menciptakan kapital yang berlipatganda dari yang sudah mereka miliki.

Dengan ini maka pandangan Soto semakin terang dan jelas, bahwa problem orang miskin bukanlah problem pengentasan kemiskinan, melainkan problem perluasan cakupan kapital yang melihat bahwa wilayah extralegal merupakan wilayah yang sangat menjanjikan untuk ditarik menjadi penggerak roda kapitalisme, tidak ada jaminan yang ditawarkan oleh Soto apakah dengan masuknya para “penghuni” wilayah extralegal ke wilayah legal, maka otomatis mereka akan berhasil menciptakan modal, bukannya justru kehilangan aset-aset yang hanya mungkin mereka miliki dan pertahankan dalam wilayah extralegal.

Argumen Soto bahwa keberjarakan kultural bukanlah penghalang bagi pembentukan hak kepemilikan juga bukan sesuatu hal yang tidak bisa digugat. Pandangan Derrida yang digunakan oleh Soto tidak semata-mata bisa dilekatkan dalam melihat persoalan kultural. Tesis Soto bahwa kepemilikan legal memberdayakan semua individu dalam setiap bentuk kebudayaan, dan keraguannya bahwa kepemilikan per se berkontradiksi secara langsung dengan setiap budaya besar,[15] bertentangan dengan gagasan Derrida, yang dijadikan rujukan bagi Soto. Bagi Derrida tidak ada yang menjadi prioritas antara keragaman budaya dan universalitas hak kepemilikan. Atau yang satu merusak yang lain. Tetapi yang satu ada karena yang lain ada (undecidable), jadi Derrida menolak esensialisme hak kepemilikan.

Jika merujuk pada pemikiran Derrida, maka pandangan Soto mengenai kepemilikan legal yang berlaku universal merupakan suatu bentuk metafisika kehadiran (metaphysics of presence) yang mencoba untuk menghapuskan konsep tanda-tanda (budaya) dalam seluruh sejarah. Jadi Soto mencoba untuk memaksakan pemaknaan seluruh budaya (signs) pada hak kepemilikan sebagai keberlakuan universal (metafisika kehadiran). Sebagaimana dinyatakan Derrida,

But there are two ways of eliminating the primordiality of the sign… Signs can be eliminated in the classical manner in a philosophy of intuition and presence. Such a philosophy eliminates signs by making them derivative; it annuls reproduction and representation by making signs a modification of simple presence. But because it is just such a philosophy – which is, in fact, the philosophy and history of the West – which has so constituted and established the very concept of signs, the sign is from its very origin and to the core of it sense marked by this will to derivation or effacement. Thus to restore the original and nonderivative character of signs, in opposition to classical metaphysics, is, by an apparent paradox, at the same time to eliminate a concept of signs whose whole history and meaning belong to the adventure of the metaphysics of presence.[16]

Bagi Derrida operasi seperti itu dimungkinkan adalah fakta bahwa seluruh pasangan (dyads) konseptual yang dibentuk oleh diskursus filsafat membentuk “dissymmetric, hierarchically ordered space whose closure is transversed by the forces, and worked by the exteriority, that is represses”.[17] Jadi adanya proses pemaksaan (violating) dalam implantasi legalitas atas wilayah extralegal coba diabaikan oleh Soto, dengan berpijak pada asumsi bahwa hak kepemilikian bersifat universal. Soto tidak begitu saja menguraikan dengan lebih jelas model dan bentuk-bentuk hak kepemilikan, namun idenya kental dengan nafas libertarian yang mendasarkan rujukannya pada hak kepemilikan individual. Artinya hak kepemilikan yang bersifat kolektif dan tidak dapat diperjualbelikan akan tetap dikategorikan sebagai bentuk kapital mati dalam wilayah extralegal.

Di sini kemudian pertanyaannya muncul, bagaimana benturan antara bentuk hak kepemilikan individual dan hak kepemilikan kolektif bisa didamaikan dalam toples kaca (bell jar) Braudel? Apakah keberjarakan kultural dalam hal kepemilikan model-model tersebut bisa begitu saja diselesaikan dengan melakukan individualisasi kepemilikan? Apakah bentuk kepemilikan kolektif yang bisa menghidupi komunitas masyarakat, namun tidak efisien dalam toples kaca Braudel, bisa dinyatakan sebagai sesuatu yang salah?

Mengangkat Toples Kaca (Bell Jar) Fernand Braudel

Kapitalisme merupakan wilayah ekslusif dari segelintir orang yang hidup dalam sebuah “toples kaca”. Argumen ini merupakan argumen Fernand Braudel yang dikutip Soto untuk melihat perkembangan kapitalisme global. Untuk itu toples kaca tersebut harus diangkat, karena toples kaca Braudel ini diselubungi oleh lima misteri yang membuatnya terpisah dari kebanyakan pihak di luarnya. Mengangkat toples kaca berarti membawa masuk aset-aset yang selama ini dinilai mati menjadi hidup. Mengangkat toples kaca diasumsikan menghilangkan apharteid ekonomi kapitalisme yang hanya dimiliki segelintir orang. Itulah yang menjadi tesis utama keselruhan pemikiran Soto dalam buku Mystery of Capital.

Karena itu argumen penting yang harus dicermati dari pemikiran Soto adalah soal formal and legal property rights sebagai jawaban kunci bagi usaha untuk memproduksi modal. Persoalan ini yang akan ditekankan kepada pemerintah-pemerintah yang akan menjadi wilayah garapan proyek neoliberal, sebagaimana pernah dinyatakan Soto,

The question is: How is it that so many governments, from Suharto’s in Indonesia to Fujimori’s in Peru, have wanted to title these people and have not been able to do so effectively? One reason is that none of the state systems in Asia or Latin America can gather proof of informal titles. In Peru, the informals have means of proving property ownership to each other which are not the same means developed by the Spanish legal system. The informals have their own papers, their own forms of agreements, and their own systems of registration, all of which are very clearly stated in the maps which they use for their own informal business transactions.  If you take a walk through the countryside, from Indonesia to Peru, and you walk by field after field – in each field a different dog is going to bark at you. Even dogs know what private property is all about. The only one who does not know it is the government. The issue is that there exists a “common law” and an “informal law” which the Latin American formal legal system does not know how to recognize.[18]

Bagi Soto jelas bahwa toples kaca membuat kapitalisme menjadi seakan klub privat yang esklusif, hanya tersedia bagi segelintir orang yang memperoleh keistimewaan dan ia menggambarkan bahwa jutaan orang lainnya berdiri di luar toples dan memandang ke dalam penuh kemarahan (enrages).[19] Entah dari mana Soto menyimpulkan banyak orang marah karena tidak bisa ikut berkecimpung dalam gegap-gempita kapitalisme, namun ia juga menekankan bahwa sistem apartheid kapitalisme ini akan terus berlangsung jika tidak segera diselesaikan kecompang-campingan yang terjadi pada sistem hukum dan politik di banyak negara yang menutup kaum mayotiras memasuki sistem kepemilikan formal.

Kesimpulan dan Penutup

Dengan melihat bagaimana jawaban Soto terhadap persoalan kemiskinan yang terjadi di negara-negara dunia ketiga dan pasca-komunis, maka sangat terasa kekentalan hasrat dan jiwa neoliberalisme dalam pandangan Soto. Kembali kepada argumen Harvey yang menyatakan bahwa secara teoritis negara neoliberal haruslah mengutamakan hak kepemilikan pribadi, aturan hukum dan institusi-institusi yang secara bebas memfungsikan pasar bebas dan perdagangan bebas, di mana kerangka-kerja hukumnya adalah untuk kewajiban menjamin negosisasi kontrak secara bebas antara individu secara yuridis yang berlangsung dalam pasar.[20] Bahwa, kesakralan dari kontrak dan hak individu atas kebebasan bertindak, berekspresi dan memilih harus dilindungi. Dengan itu, usulan-usulan yang diajukan Soto kerangka-bangunnya sama dengan karakter neoliberal yang secara teoritis dirumuskan oleh Harvey.

Dengan begitu, agenda Soto untuk mengangkat “toples kaca” Braudel, dan memungkinkan semua orang untuk bisa ikut bertransaksi di dalam pasar bebas kapitalisme yang tunggal, tanpa harus terhambat soal-soal extralegal dan juga batas-batas negara dan wilayah, merupakan doktrin pokok pemikiran neoliberal sebagaimana merujuk pada Harvey. Gejala-gejala yang dilansir Soto dalam ujud misteri-misteri yang menggelitik, tidak lebih dan tidak kurang adalah agenda yang yang sekarang sedang dipaksakan oleh lembaga-lembaga keuangan internasional, perusahaan multinasional, lewat lembaga-lembaga seperti United Nations (UN) dengan program-programmnya seperti MDGs (Millenium Development Goals), lembaga seperti UNCLEP (United Nations Commission of Legal Empowerment for the Poor), agar kapitalisme bisa diakses semua orang, dan sebagai sistem bisa melibatkan sebanyak mungkin individu untuk terlibat di dalamnya.

Kepustakaan Rujukan

Derrida, Jacques, Dissemination (Chicago: Chicago University Press, 1981).

Derrida, Jacques, Speech and Phenomena (Evanston: Northwestern University Press, 1973).

Foucault, Michel, Society Must Be Defended: Lectures at the College de France 1975-1976 (New York: Picador, 2003).

Foucault, Michel, Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason (London: Routledge, 2001).

Harvey, David, A Brief History of Neoliberalism (Oxford: Oxford University Press, 2005).

Soto, Hernando de, The Mystery of Capital: Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else (London: Black Swan, 2001).

Soto, Hernando de, Wawancara dengan Peter Robinson pada 22 April 2002, dalam website Hoover Institution (http://www.hoover.org/publications/uk/2995496.html)

Catatan


[1] Hernando de Soto, The Mystery of Capital: Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else (London: Black Swan, 2001).

[2] Ibid, hal. 5.

[3] Ibid, hal. 6.

[4] Ibid.

[5] Ibid, hal. 263.

[6] David Harvey, A Brief History of Neoliberalism (Oxford: Oxford University Press, 2005), hal. 7.

[7] Ibid.

[8] Hernando de Soto, op. cit.

[9] Ibid., hal. 5.

[10] Ibid., hal. 6.

[11] Ibid.

[12] Ibid, hal. 263.

[13] Michel Foucault, Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason (London: Routledge, 2001), hal. 83.

[14] Michel Foucault, Society Must Be Defended: Lectures at the College de France 1975-1976. New York: Picador, 2003, hal. 33.

[15] Hernando de Soto, op. cit., hal. 240.

[16] Jacques Derrida, Speech and Phenomena (Evanston: Northwestern University Press, 1973), hal. 51.

[17] Jacques Derrida, Dissemination (Chicago: Chicago University Press, 1981), hal. 5.

[18] Wawancara Hernando de Soto dengan Peter Robinson pada 22 April 2002, dalam website Hoover Institution (http://www.hoover.org/publications/uk/2995496.html)

[19] Hernando de Soto, op. cit., hal. 68.

[20] David Harvey, op. cit., hal. 64.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s