“Cinta”: Ontologisasi Absurditas Sebuah Pengajuan Ide Diskusi

* Tulisan kecil yang disampaikan untuk diskusi “Harlah Satu Tahun Cak Tarno Institute (CTI)”, yang jatuh pada tanggal 14 Februari 2007. Diskusi di CTI, Kober Town Square, Depok, Sabtu 10 Februari 2007. Terima kasih kepada semua teman-teman di CTI atas kegairahan intelektualitas yang selama ini diberikan, dan menjadi jiwa dari terus berlangsungnya Pangkalan Diskusi Sabtuan ini.

My aim is: to teach you to pass from a piece of disguised nonsense to something that is patent nonsense

(Ludwig Wittgenstein, Philosophical Investigations, Para. 464)

Pada Mulanya Adalah Kata

Percakapan dengan Bagus Takwin, yang kemudian melibatkan banyak teman-teman lain, mengenai “cinta” melahirkan perdebatan panjang yang tak kunjung berakhir sampai hari ini kita semua duduk di sini untuk kembali mengulangi percakapan tersebut, dengan keterlibatan pihak yang lebih luas dan banyak. Pertanyaan yang paling dasar dalam percakapan tersebut adalah: Apakah “cinta” itu ada?

Pertanyaan tersebut berawal dari suatu pertanyaan Bagus Takwin kepada saya di suatu senja, setelah diskusi Sabtuan di CTI. Pertanyaannya singkat saja: “Apakah anda percaya ‘cinta’?” Jawaban saya singkat: “Mengapa saya harus mempercayai sesuatu yang tidak ada”.  Jawaban saya inilah yang kemudian menyulut perdebatan panjang dan luas, yang tak berujung dan tak berakhir. Bahkan terus berulang-ulang di berbagai tempat dan kesempatan, yang melibatkan semakin banyak teman untuk ikut berembug-debat. Akhirnya rembug-debat itu menghasilkan diskusi hari ini, supaya semakin banyak teman-teman yang terlibat berembug-debat, dan diharapkan bisa diakhiri dengan aman, damai dan tentram-terkendali. Bahkan, selain Bagus Takwin, tak kurang tokoh-tokoh ternama CTI seperti Surya Fermana, Faizionisme Al-Jufri, Rhein Beresaby, Olan, Deni Salman, Chris Sahat, Robertus Robet, Abdul Qodir, Yogi Sumule, Damuri Muhammad,  Bung Doel Kimpul, Kanjeng Gusti Adipati Kun Sutianto, Guswandi, Bung Jhonny, Risdianto, Arifin, dll, termasuk His Royal Highness Cak Tarno sendiri, terlibat seru dalam setiap kesempatan perdebatan, sambil tak lupa menghirup kopi sedap seduhan gadis manis toko sebelah.

Namun, perlu ditegaskan di sini bahwa perdebatan ini bukan perdebatan yang bersifat personal, ataupun mempersonalisasi perdebatan ini hanya pada dua orang, melainkan sebuah tawaran diskusi untuk membaca satu tema, bukan hanya dari satu posisi membaca, tetapi juga dari posisi membaca yang berbeda, sehingga ada pandangan berbeda (parallax view) dalam memaknai “cinta” sebagai tema yang menjadi pokok diskusi dan obrolan di hari ini.

Terlebih, tulisan ini tidak dibuat dengan pretensi-pretensi akademis, maupun tujuan-tujuan falsafati, namun lebih pada goresan-goresan pikiran untuk mengajak teman-teman semua di sini membincangkan suatu tema yang empat hari dari sekarang, tepatnya tanggal 14 Februari nanti, akan dirayakan oleh banyak manusia di seluruh dunia, Valentine’s Day.[1] Tema yang selalu menarik dan ramai dibincangkan, dan kerap banyak berakhir bahagia dalam cerita-cerita film maupun novel, namun banyak berakhir lara dalam lirik-lirik lagu yang dinyanyikan.

Jadi tulisan ini lebih berpretensi pada posisi argumentasi saya, jauh dari suatu tulisan ilmiah-akademik yang mengembangkan suatu tesis pokok, dan juga tulisan ini tidak ditulis dalam suatu argumentasi pokok yang solid, karena hanya berupa lintasan pemikiran yang ingin saya diskusikan bersama-sama di sini.

Lengjilengbeh Gestur “Cinta”

Seorang pelanggan buku di toko buku Cak Tarno yang kebetulan datang membeli buku saya ajukan pertanyaan, sebagaimana pertanyaan Bagus Takwin kepada saya: “Anda percaya cinta itu ada?” Jawaban dia singkat: “Iya”. Pertanyaan saya selanjutnya: “Trus seperti apa bentuknya?” Dia diam sebentar sambil menerawang ke atas, lalu tersenyum: “Tidak bisa didefinisikan”. Mungkin jawaban ini merupakan jawaban yang banyak dijadikan rujukan banyak orang, bahwa cinta tidak bisa didefinisikan, hanya bisa dirasakan saat “dia” datang menghampiri kita. Di sini biasa perkutatan muncul. Apakah “rasa” ini tidak bisa dijelaskan? Atau biarkan saja sebentuk rasa itu dalam keabstrakannya sendiri, karena nalar manusia tidak mampu mencapai penjelasan atasnya? Semacam keyakinan para Agnostik saat diajak berbicara tentang Tuhan?

Saya mengambil suatu jalan untuk mencoba membaca “cinta” sebagai suatu cara untuk mengajukan suatu posisi di sini, bahwa saya tidak melihat “cinta” sebagai sesuatu yang ada sekalipun tak terjelaskan (ontic), melainkan lebih kepada suatu simbolisasi terhadap sebuah peristiwa metafisika yang dipaksa hadir dalam diskursus masyarakat modern. Simbolisasi terhadap suatu bentuk abstrak yang diontologisasi menjadi suatu sebentuk ideal-final.

Jika merujuk pada pemikiran Derrida, maka pandangan mengenai “cinta” yang berlaku universal merupakan suatu bentuk metafisika kehadiran (metaphysics of presence) yang mencoba untuk menghapuskan konsep tanda-tanda (budaya) dalam seluruh sejarah. Jadi konsepsi universalitas “cinta” mencoba untuk memaksakan pemaknaan seluruh budaya (signs) pada keberadaan (state of being) “cinta” sebagai keberlakuan universal (metafisika kehadiran). Sebagaimana dinyatakan Derrida,

But there are two ways of eliminating the primordiality of the sign… Signs can be eliminated in the classical manner in a philosophy of intuition and presence. Such a philosophy eliminates signs by making them derivative; it annuls reproduction and representation by making signs a modification of simple presence. But because it is just such a philosophy – which is, in fact, the philosophy and history of the West – which has so constituted and established the very concept of signs, the sign is from its very origin and to the core of it sense marked by this will to derivation or effacement. Thus to restore the orginal and nonderivative character of signs, in opposition to classical metaphysics, is, by an apparent paradox, at the same time to eliminate a concept of signs whose whole history and meaning belong to the adventure of the metaphysics of presence.[2]

Bagi Derrida operasi seperti itu dimungkinkan adalah fakta bahwa seluruh pasangan konseptual (dyads) yang dibentuk oleh diskursus filsafat membentuk “dissymmetric, hierarchically ordered space whose closure is transversed by the forces, and worked by the exteriority, that is represses”.[3]

Sejauh pemahaman saya, pemahaman “cinta” sebagaimana yang banyak hadir mengisi ruang hidup manusia lewat pelbagai novel-novel roman, film-film, puisi-puisi dan juga lagu-lagu, merupakan konstruksi pemaknaan “cinta” yang dikonstruksi berdasarkan moralitas Kristianitas Barat. Dalam konsepsi “Kasih” (Love), yang kemudian diadopsi maknanya menjadi “cinta”,[4] umumnya dipahami sehari-hari sebagai suatu bentuk rasa sayang (care) seorang individu, yang tidak mengharap jasa dan imbalan, disampaikan secara tulus apa adanya, terhadap individu lainnya, dan didasarkan pada nilai-nilai kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust). “cinta” yang dimaksud di sini tentu saja cenderung kepada “cinta” yang merupakan penanda dari hubungan dua individu yang bersifat romantis, karena di titik inilah perdebatan seru kerap berpusar.[5]

Menurut saya konsepsi “cinta” ini diambil dari nilai moralitas Kristianitas Barat, di mana Tuhan telah menurunkan anaknya yang tunggal, untuk mati dan disalibkan, demi untuk menghapuskan dosa manusia. Moralitas ini mengambil posisi suatu bentuk “kasih” tanpa syarat. “Kasih” sang Pencipta kepada yang diciptakan, karena itu untuk menyelamatkan ciptaannya, Sang Pencipta mengorbankan anaknya. Ungkapan-ungkapan tersebut jelas nampak dalam sakramen-sakramen pernikahan dalam tradisi Kristiani, saat pastur/pendeta meneguhkan pernikahan sepasang pengantin. Moralitas inilah sebagai suatu bentuk “tindakan kasih” paling tinggi kualitasnya, yang antar sesama manusia diminta untuk meneladaninya terhadap manusia lainnya. Bentuk moralitas inilah yang kemudian diadopsi dalam berbagai kisah-kisah roman, maupun lirik-lirik dalam banyak lagu, bahkan dalam dalam tradisi filsafat dan pemikiran, dan juga sebagai penanda referensial bagi hubungan romantik antar dua individu, yang dalam etika moralitas ini harus melibatkan individu laki-laki dan perempuan.[6]

“Cinta” dalam bahasa Indonesia sendiri pernah saya baca di suatu buku entah ditulis oleh siapa dan berjudul apa (ini bisa dikoreksi, disalahkan, dibenarkan atau diapakan saja) diambil dari nama Dewi Sinta, istri Raja Sri Ramayana (Sri Rama), sang titisan Dewa Wisnu. Dalam huruf sankrit (mungkin) Sinta ditulis dengan huruf Çinta (Sinta), sebagaimana juga Çakti (Sakti). Mengambil Çinta sebagai kata untuk menerjemahkan makna “cinta” yang dipahami secara konvensional, diambil dari kisah Dewi Sinta saat lepas dari tawanan Rahwana, raja Alengka. Setelah Sri Rama dengan pasukan kera yang dipimpin Hanoman berhasil mengalahkan Rahwana, Sri Rama meragukan “kesucian” istrinya setelah berbulan-bulan berada dalam tawanan Rahwana. Dewi Sinta mengajukan opsi bahwa cara membuktikan kesuciannya adalah dengan menceburkan diri dalam api. Seandainya api dapat membakar dirinya dan ia mati, itu berarti bahwa ia telah kehilangan kesuciannya. Tetapi jika ia selamat, dan api tidak bisa menyentuh seujungpun rambutnya, maka itu bukti bahwa ia masih tetap suci. Pada saat upacara pembuktian itu dilakukan Dewi Sinta melompat ke dalam api yang menyala-nyala, dan ia terlihat berjalan tenang melewati api tanpa seujung rambutnya pun terbakar. Tindakan pengorbanan Dewi Sinta ini yang dijadikan simbol bagi suatu rasa kasih yang rela berkorban apa saja – termasuk jiwanya – untuk membuktikan kesetiaan dirinya terhadap suaminya. Kesetiaan dan pengorbanan inilah yang kemudian digunakan sebagai terjemahan dari tindakan “cinta” yang dipahami secara konvesional. Kapan kata ini mulai digunakan? Saya sendiri tidak tahu!

Kembali kepada persoalan moralitas Kristiani Barat, saya bukan mengabaikan bahwa sebelum tindakan penyaliban orang tidak berbicara “cinta”, hanya tindakan pengorbanan tersebut menjadi titik pijak bagi lahirnya konsep “cinta” yang mapan, karena ada rujukan tindakan dari manisfestasi “rasa cinta” tersebut, yakni berkorban untuk orang lain secara nyata. “Cinta” dalam kerangka moralitas demikian berujung pada pernikahan sebagai bentuk pengejawantahkan “rasa cinta”, institusionalisasi dari sesuatu yang abstrak menjadi suatu yang memiliki bentuk. Dan kembali merujuk pada kerangka moralitas tersebut, tindakan “mencipta cinta” di luar institusionalisasi pernikahan akan dikategorikan sebagai zinah dan dosa, karena hukum moralitas absolut menolak bentuk “cinta” di luar yang disetujui institusi penjaga moral tersebut.

Terlepas bahwa hubungan antar dua individu yang berakhir di depan  penghulu ataupun altar tersebut memiliki sejuta motif, namun institusi tersebut memiliki klaim bahwa “rasa cinta” tersebut sudah diujudkan, yakni dalam bentuk pernikahan, dengan berjanji dan bersumpah di hadapan the Big Other, Sang Pencipta.

Adopsi hukum moral ini dalam melihat hubungan antara laki-laki dan perempuan dinilai lewat kualitas hubungan tersebut. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bentuk hubungan tersebut adalah kira-kira: ketulusan, loyalitas dan kepercayaan.[7] Tanpa adanya syarat-syarat tersebut maka tingkat kualitas “cinta” akan dinilai rendah, bahkan bisa jadi dikategorikan sebagi “bukan sebuah perasaan ‘cinta’”.

Saya ambil sebuah contoh. Seorang laki-laki, sebut saja Kadir, menyukai seorang perempuan, sebut saja bernama Nadine Chandrawinata. Kadir menyukai Nadine karena cara bagaimana Nadine berbicara, kemurahan hatinya, keyakinan filosofisnya, pandangan-pandangannya terhadap berbagai persoalan kehidupan dan prinsip-prinsipnya. Semua itu menggetarkan sanubari Kadir sehingga ia menyukai Nadine, berdasarkan apa yang melekat dalam diri Nadine, dan siap berkorban apapun untuk Nadine. Seorang laki-laki lainnya, sebut saja Suryo, pada saat yang bersamaan juga menyukai Nadine. Suryo menyukai Nadine karena kecerdasannya, kecantikannya, kebaikannya dan juga sekaligus karena Nadine adalah seorang perempuan bergelar Putri Indonesia, yang mapan sebagai wanita karir, dan mempunyai penghasilan yang cukup besar, sehingga ada jaminan bahwa jika hubungan mereka berlangsung sampai ke tingkat pernikahan, mereka tidak akan hidup melarat. Suryo menyukai Nadine pada apa yang ada di dalam Nadine sekaligus apa yang ada di luar Nadine (penghasilan), dan Suryo pun siap berkorban apapun untuk Nadine. Dalam moralitas “cinta” yang banyak di-amini orang, akan serta merta dinilai bahwa “cinta” Kadir lebih tulus dan mulia, karena “cinta” Kadir dinilai imaterial, sementara di sisi lain “cinta” Suryo dianggap penuh kepalsuan karena ada unsur material (matre) di dalamnya.

Saya tidak tahu sikap Nadine bagaimana terhadap keduanya, karena saya memfokuskan hanya pada cara orang menilai bentuk intensi hubungan tersebut atas dasar parameter-parameter idealisasi yang absurd. Idealisasi fiktif yang dihadirkan lewat berbagai medium konstruksi berpikir terhadap tipe ideal “cinta” ala Barat, yang dibentuk atas dasar suatu filsafat moral yang membuat ontologisasi matafisika, di mana hubungan antar dua individu memiliki suatu ujung finalitas, bukan sebuah proses di mana pelbagai kemungkinan dimungkinkan. Hubungan antar dua individu adalah condition of possibilities, bukan suatu obsesi final, yang mengukur tingkat keberhasilannya pada sesuatu yang metafisik. Idealisasi macam itu tentu saja akan menyeret cara berpikir kita pada suatu keadaan di mana absurditas diontologisasi.

Seorang teman, sebut saja Surya Fermana, pernah berujar bahwa pengetahuannya tentang “cinta” ia wariskan dari sesuatu yang ada sebelum ia lahir, dan dibangun dalam pikirannya lewat bentukan-bentukan di luar dirinya, yang belum tentu merupakan pilihannya. Jadi pengetahuan yang dipaksa dan dibentuk secara hirarkis yang bekerja di luar dirinya, sebagaimana argumentasi Derrida. Saya tidak ingin berpolemik apakah Surya percaya dengan sesuatu yang membentuk pemahamannya dari luar tersebut, tapi lebih pada konstruksi yang membentuk dari luar itu sendiri. Sepertinya bahwa kata “cinta” bisa dibilang memiliki dimensi performatif-nya sendiri, setiap pilihan yang kita hadapi dalam bahasa adalah meta-choice (melampaui pilihan), seperti kata Žižek, “a choice of choice itself, a choice that affects and changes the very coordinates of my choosing”.[8]

Mengenai choice ini, Žižek memberikan contoh (dengan dirinya sebagai contoh), dalam situasi keseharian di mana rekannya (baik dalam hal seksual, politik maupun keuangan) menginginkan Žižek untuk langsung pada suatu kesepakatan, dan ia (orang tersebut) pada dasarnya mengatakan demikian:

Please, I really love you. If we get it together here, I will be totally dedicated to you! But beware! If you reject me, I may lose control and make your life a misery!

Žižek dalam hal ini melihat bahwa dirinya tidak dengan sederhana dihadapkan dengan suatu pilihan yang jelas: bagian kedua dari pesan tersebut (I may lose control and make your life a misery) meruntuhkan bagian yang pertama (I will be totally dedicated to you) – seseorang yang siap menghancurkan saya jika saya mengatakan padanya tidak dan ia tidak akan benar-benar mencintai saya dan mencurahkan segalanya untuk kebahagiaan saya, sebagaimana klaim yang dibuatnya. Jadi pilihan paling nyata yang saya hadapi adalah mengingkari persyaratan-persyaratannya: membenci, atau setidaknya suatu bentuk pengabaian yang bersifat manipulatif lewat saya, menggarisbawahi kedua persyaratan dari pilihan tersebut.

Žižek juga melihat juga sebuah hipokrasi yang bersifat simetris yang terkandung dalam ucapan:

I love you and will accept whatever your choice will be; so even if (you know that) your refusal will ruin me, please choose what you really want, and do not take into consideration how it will affect me!

Bagi Žižek tawaran tersebut merupakan kepalsuan manipulatif, dengan tentu saja terletak pada cara di mana hal tersebut menggunakan “kejujuran”-nya yang dipaksakan, di mana Saya dapat mengatakan Tidak sebagai sebuah tekanan tambahan atas saya untuk mengatakan Iya: “How can you refuse me, when I love you so totally?”[9]

Soal “cinta” dan pilihan baik pilihan bersifat dipaksakan, maupun pilihan yang bersifat bebas, keduanya merupakan suatu bentuk paradoks, sebagaimana dinyatakan Žižek,

This is also the basic paradox of love: […] If I am directly ordered to love a woman, it is clear that this does not work: in a way, love must be free. But on the other hand, if I proceed as if I really have a free choice, if I start to look around and say to myself ‘Let’s choose which of these women I will fall in love with’, it is clear this also does not work, that is not ‘real love’ The paradox of love is that it is a free choice, but a choice which never arrives in the present – it is always already made. At a certain moment, I can only state retroactively that I’ve already chosen.[10]

Kemudian pertanyaan pengugahnya adalah: Apakah “cinta” memang betul ada, ataukah kita diberitahu, dibentuk dan oleh sesuatu di luar kita bahwa “cinta” memang ada, dan maknanya dipilihkan untuk kita?

Siapa “Mencinta” Siapa?

Paradoks dalam “cinta” sebagaimana diuraikan Žižek, bagi saya seperti mengajak kita untuk meneruskan dengan pertanyaan: Sekiranya kita mempunyai pilihan itu, maka siapa yang “mencinta” siapa?

Dasar pikiran saya adalah bahwa hubungan antar dua individu memiliki motif. Mustahil ada hubungan dua individu tanpa memiliki motif sama-sekali. Motif di sini bukan semata suatu bentuk negatif, melainkan suatu pre-kondisi yang dipertimbangkan oleh seorang individu, dalam upaya membangun hubungan dengan individu lainnya.

Perihal “cinta”, motif yang merupakan motif ideal adalah ketulusan untuk memberikan kebahagiaan terhadap yang lain, tanpa harus mempertimbangkan apakah si individu yang menyukai individu lainnya tersebut akan mencapai kebahagiaan yang ia harapkan diterima pada individu lain, yang akan ia berikan kebahagiaan tersebut. Motif ideal ini dinilai tidak memiliki intensi lain selain suatu niatan tulus, plus pengorbanan jika itu harus dilakukan. Idealisasi semacam ini merupakan bentuk kualitas hubungan yang dianggap sangat tinggi. Karena untuk orang lain, ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Idealisasi semacam ini yang banyak menjebak orang untuk berpikir untuk mencapai titik ideal tersebut, sehingga saat ada orang yang sedemikian meyakininya, dan oleh karenanya ia dinilai “menderita”, maka terbelahlah dua pandangan. Yang pertama akan mengagumi pilihan tersebut, dengan suatu asumsi bahwa ia sedang menjalankan “praktik cinta sejati”. Di sisi yang lain orang akan menilainya sebagai suatu kebodohan karena melarutkan diri pada hal-hal yang merugikan. Dua pandangan ini muncul dari orang-orang yang sebenarnya terjebak dalam idealisasi tersebut, namun kemudian mengajukan penilain-penilaiannya sendiri dalam menilai kondisi itu.

Yang menarik di sini adalah adanya pandangan bahwa itu merupakan ujud “cinta sejati”, yang seorang individu berupaya melakukan segalanya “demi cinta”. Persoalannya adalah, saat itu tidak ditemukan maka si individu tidak memiliki seperangkat jawaban untuk menyelesaikan persoalannya. Idealisasi semacam ini merupakan bentuk ontologisasi absurditas. Meyakini sesuatu yang tidak ada, saat ia membuktikan bahwa itu tidak ada, ia tidak mampu menjawab kenapa itu tidak ada.

Sulit untuk saya bisa membuktikan bahwa trend maraknya perceraian di kalangan para artis merupakan tendensi seperti itu. Bayangan saya adalah para artis tersebut memiliki suatu fantasi fiksional sebagaimana peran yang mereka mainkan dalam sinteron-sinetron, dan meyakini bahwa pernikahan adalah wujud ideal dari manifestasi “cinta”. Namun hanya dalam hitungan bulan mereka sadar bahwa ternyata idealisasi tersebut hanya mereka temukan dalam skrip-skrip naskah yang mereka baca dalam pengambilan adegan, dan bukan dalam kehidupan hubungan mereka dengan individu lainnya. Apakah demikian adanya? Atau memang itu merupakan motif agar tenar saja? Ini saya kurang tahu, karena saya belum pernah berdiskusi soal ini dengan mereka.

Motif buat saya menjadi penting, karena di sinilah sebenarnya jawaban dari kenapa banyak orang mencarinya dalam fantasi “cinta”. Motif itupun merupakan suatu pilihan dan pertimbangan yantg sudah dibentuk dalam tataran level simbolik. Menurut Lacan ada the Other (dengan huruf “O” besar yang membuatnya kerap disebut big Other) yang beroperasi di tataran simbolik ini. The Other merupakan lokus di mana ada rangkaian penanda (chain of signifier) yang menentukan apa pun yang mungkin membuat kehadiran dari subyek – suatu bentuk wilayah kehidupan di mana subyek harus tampil (appear).[11]

Pada saat kita berbicara (atau mendengar apa yang dibicarakan itu), kita tidak pernah begitu saja berinteraksi dengan lainnya; aktivitas kita berbicara didasarkan pada penerimaan dan sandaran kita pada suatu jarigan yang kompleks dari aturan (rules) dan bentuk-bentuk lain dari presuposisi-presuposisi (sesuatu yang diperkirakan). Pertama, terdapat sejumlah tata-aturan grammar yang harus saya kuasai secara spontanitas dan secara buta: jika saya pendam aturan-aturan tersebut dalam pikiran saya setiap waktu, maka bicara saya akan terputus. Kemudian terdapat latar belakang di mana saya ikut berpartisipasi dalam kehidupan dunia yang sama yang memungkinkan saya dan pasangan saya berbincang-bincang untuk dapat saling memahami. Aturan yang saya ikuti ditandai oleh pembagian yang sangat jelas: terdapat aturan-aturan (dan makna-makna) yang saya turuti secara buta, di luar kebiasaan, tetapi yang mana, jika saya refleksikan, setidaknya saya dapat menjadi sadar/mengetahui secara parsial, sebagaimana aturan-aturan gramatika yang umum; dan terdapat juga aturan-aturan yang saya ikuti, makna-makna yang membayang-bayangi saya, dalam ketidaktahuan (seperti larangan-larangan dalam bawah sadar). Kemudian, ada juga aturan-aturan dan makna-makna yang saya ketahui, tetapi yang seharusnya tidak boleh kelihatan kalau saya mengetahui – ucapan-ucapan yang jorok dan kasar yang harusnya dilewati dalam kebisuan demi untuk menjaga penampilan yang pantas.

Kembali merujuk Žižek, ruang simbolik berjalan seperti sebuah penggaris yang berlawanan dengan kemampuannya mengukur dirinya sendiri. Bagi Žižek, inilah mengapa the big Other dapat dipersonifikasikan atau direifikasi menjadi agen tunggal, yakni: “Tuhan” yang mengawasi dirinya (si Žižek) dari suatu tempat, dan juga semua individu yang nyata, atau juga suatu Sebab yang melibatkan dirinya (Freedom, Communism, Nation), dan yang untuk hal tersebut dia siap untuk memberikan jiwanya. Žižek melanjutkan, pada saat dirinya berbicara, dirinya bukanlah semata-mata suatu “small other” (individual) yang berinteraksi dengan “small other” lainnya; the big Other akan selalu ada mengawasi.[12]

Dalam psikoanalisa Lacanian, the big Other merupakan sebuah struktur simbolik di mana subyek akan selalu melekat. Struktur simbolik ini bukanlah sebuah fakta sosial positif: itu adalah quasi-transcedental, dan bentuk-bentuk kerangka yang membangun persepsi kita atas realitas; statusnya normatif, dan ia adalah sebuah dunia dari aturan-aturan simbolik dan kode-kode.[13] Renata Salecl menambahkan bahwa the big Other juga bukan bagian dari wilayah fisik: secara radikal ia bersifat eksternal, kode-kode simbolis non-psikologis yang universal mengatur (regulating) pengalaman diri (self-experience) kita yang fisik. Adalah suatu kesalahan baik menginternailisasi the big Other dan mereduksinya kepada fakta psikologis, ataupun mengeksternailisasi the big Other dan mereduksinya kepada institusi-institusi dalam realitas sosial. Menurut Salecl, dengan melakukan hal tersebut, kita kehilangan fakta bahwa bahasa itu sendiri adalah sebuah institusi kepada mana subyek diletakkan (submitted).[14]

Di luar dari kekuasaan yang melekat kuat pada dirinya, the big Other adalah rentan atau rapuh (fragile), insubstansial, sesungguhnya virtual, dalam artian bahwa statusnya adalah presuposisi subyektif. Ia eksis hanya sejauh jika subyek berlaku sepertinya ia eksis.[15] Misalnya dalam hal ini kita bisa sebut “cinta”.  “Cinta” adalah hakekat bagi individu-individu yang mengenali diri mereka ada di dalam “cinta”, sebagai pijakan bagi seluruh eksistensi mereka, titik rujukan yang menunjukkan yang pokok (utama) dari horison makna, sesuatu yang untuk hal tersebut orang-orang siap untuk mengorbankan jiwa mereka, dan pada saat itu satu-satunya yang betul-betul eksis hanyalah para individu dan aktivitas mereka. Jadi substansi tersebut adalah aktuil hanyalah sejauh sebagaimana kepercayaan si individu terhadap sesuatu tersebut (“cinta”) dan bertindak menurut sesuatu tersebut. Menurut Lacan, itu disebabkan karena karakter virtual dari the big Other adalah seperti sebuah surat yang selalu sampai pada tempat tujuannya. Dan orang dapat mengatakan bahwa satu-satunya surat yang pasti dan efektif sampai pada tempat tujuannya adalah surat yang tidak dikirimkan, artinya alamat sebenarnya bukanlah individu lain (others) yang memiliki darah dan daging, melainkan the big Other itu sendiri.[16]

Menjadi jelas bahwa substansi dari hubungan antara seorang individu dengan pasangannya adalah aktivitas hubungan mereka, bukan idealisasi mereka karena adanya the big Other yang mengawasi, dan membentuk alienasi dalam hubungan keduanya.

Lalu… Apakah Cinta Itu Ada?

Pertanyaan di ataslah yang menjadi sumber masalah dan membuat kita semua ada di sini hari ini, dan membahas tema ini. Beberapa argumen akan coba saya ajukan untuk diskusi ini.

Ada argumen yang menyatakan bahwa “cinta” bersifat universal, namun praktiknya bersifat partikular. Ada yang menyatakan bahwa “cinta” adalah sesuatu yang bersifat abadi dan absolut, tapi ada juga yang bilang bahwa “cinta” bisa bertumbuh-kembang secara temporer, kemudian layu dan mati. Banyak juga yang setuju bahwa “cinta” adalah sesuatu yang ada dan konkrit, namun tidak bisa didefinisikan atau dijelaskan hanya bisa dirasakan ketika ia datang. Banyak argumen lain yang bisa disebutkan, namun sebuah penjelasan yang memadai adalah milik masing-masing individu.

Jebakan esensialisme seperti itu, yang melihat suatu kemutlakan yang tidak dapat diubah, yang bagi saya merupakan suatu cara pandang yang keliru. Tidak ada suatu yang esensi dalam wilayah pemaknaan, semuanya merupakan konstuksi yang dibentuk dalam suatu rentang sejarah. Modifikasi dan perubahan pemaknaan terus-menerus berlangsung. “Cinta” sebagai penanda pun harus diberlakukan seperti itu. Artinya rujukan yang mau dibuat terhadap dirinya (signified) tidak pernah ada, dan kalaupun ada tidak akan pernah mencapai finalitas (fixed).

Rumitnya membicarakan “cinta” sama rumitnya dengan membicarakan demokrasi.  Derrida, misalnya, berargumen bahwa: “no democracy without deconstruction”.[17] Maksudnya di sini adalah, semua orang mengetahui apa itu demokrasi, semua orang mengerti apa itu demokrasi, tapi tidak seorangpun yang bisa menunjukkan seperti apakah yang namanya demokrasi itu. Artinya konsepsi demokrasi harus terus didekonstruksi, karena tidak ada satupun petanda referensial yang final yang bisa dilekatkan pada demokrasi. Demokrasi liberal kah? Demokrasi sosialis kah? Demokrasi terpimpin kah? Untuk menjawab itu Derrida mengajukan argumen democracy to come, di mana demokrasi terus membuka diri terhadap pelbagai kemungkinan terhadap dirinya, “to what arrives of happens, to the event”.[18]

Bagaimana dengan “cinta”?

Menurut saya “cinta” tetap sebuah absurditas, diimpikan dan didealkan sebagai satu-satunya landasan paling hakiki dalam hubungan sepasang individu. Di luar itu berarti hubungan keduanya tidak didasarkan atas “cinta”. Sementara tidak ada yang bisa menjelaskan “cinta” itu apa. Hubungan di luar itu kemudian dipahami sebagai hubungan yang dilandaskan pada hal-hal yang bersifat material (nafsu, materi, dll), sementara cinta harusnya bersifat imaterial. Jadi iklan-iklan perjodohan di media-media massa pun harus diasumsikan didasarkan bukan atas “cinta”, namun diharapkan saat pasangan tersebut bertemu melalui rubrik jodoh, akan terbangun “cinta” di antara keduanya. Apakah ini tidak lebih dari yang dikatakan Žižek: I’ve already chosen!

Ini bukan berarti bahwa saya menafikan hubungan antara sepasang individu. Itu ada dan nyata, dan banyak motif yang melandasinya, hanya saya menolak upaya reduksi bahwa “cinta” harus menjadi dasar dalam relasi tersebut, sementara “cinta” sendiri tak diketahui seperti apa dirinya. Hubungan antara sepasang individu cukup didasarkan pada komitmen dan loyalitas sebagai dasar etis, mungkin juga pengorbanan sebagai bentuk altruisme. Dan tidak perlu membangun idealisasi absurd seperti “cinta” yang kalau dicari-cari dan tidak ditemukan, akan memukul pikiran dan merusak jiwa. Tidak sedikit orang yang mengalami hal-hal seperti itu: membangun idealisasi terhadap sesuatu yang abstrak, saat ia meyakini telah menemukan dalam satu sosok dan menjalaninya, perlahan-lahan idelisasi tersebut asimetris dengan aktivitas keseharian antar mereka. Orang itu kecewa dan perlahan mencoba sadar dan berkata pada diri sendiri “Ternyata itu bukan cinta” atau “Apakah cinta seperti ini? Berakhir tidak sesuai harapan?” Hal-hal seperti itu tidak akan terjadi jika idealisasi tidak dibangun di dalam pikiran, itu lebih daripada aktivitas perjalanan antar dua individu, yang mungkin menemukan kecocokannya, atau tidak sama sekali. Hubungan itu punya dasar-dasar etis yakni komitmen dan kesetiaan. Dengan itu tidak perlu sebuah abstraksi ideal diontologisasi sebagai suatu obsesi final.

Meskipun Tak Berujung, Membingungkan dan Kontroversial, “Cinta” Sebagai Sebuah Tema Diskusi Toh Tetap Menarik!

Tidak ada kesimpulan apapun yang saya ajukan dalam tulisan ini, selain mencoba untuk melakukan ekplorasi dan mengajukan argumentasi terhadap hegemonisasi makna “cinta” dalam diskursif sosial yang kita diami dan tinggali. Argumen maupun ekplorasi saya ini bisa jadi tiada berkenan dalam keyakinan banyak orang yang kadung diisi oleh suatu adigium absolut bahwa “cinta” romantik itu adalah sesuatu yang eksis dan harus terus diperjuangkan. Bagi saya hubungan antar dua orang merupakan suatu hubungan di mana satu membutuhkan yang lain atas suatu pertimbangan (baik rasional maupun irasional) yang tidak bisa dengan begitu saja “cinta” dilekatkan pada yang irasional (bahkan seringkali pada keduanya secara bersamaan). Hubungan itu memang harus didasarkan pada komitmen dan loyalitas sebagai dasar etis hubungan, soal ketulusan dan kebenaran merupakan upaya membentengi ketidakmampuan manusia untuk mencapai titik tertinggi kualitas moral Kristiani Barat yang keburu ditanamkan (impose) lewat berbagai medium film, kisah, lagu dan puisi. Idealisasi macam ini yang harus ditolak sehingga dengan semena-mena hubungan antar dua orang di cap didasarkan atas rasa “cinta” atau tidak.

Yang paling penting adalah terus memiliki dan membangun harapan (hope), bahwa hubungan tersebut harus berjalan dengan baik, ketimbang memeksakakannya sebagai suatu yang didasarkan pada ontologisasi terhadap yang absurdi. Ontologisasi metafisis seperti ini tentu saja membahayakan akal sehat manusia, sehingga menanggalkan harapan yang seharusnya harus tetap mengendap dan diam dalam diri setiap individu. Harapan yang akan terus menyalakan obor kehidupan setiap individu, bahwa sesuatu akan bisa berlangsung dengan baik dan kualitasnya dapat terus ditingkatkan, tanpa harus bermimpi pada bentuk idealisasi tertentu, sebagaimana kerap dinyanyikan puluhan ribu orang di seantero Stadion Anfield, Liverpool, pada setiap pertandingan:

walk on… walk on… with hope in your heart, and you’ll never walk alone… you’ll never walk alone!”

Cak Tarno Intitute,

Kober Town Square – Depok

10 Februari 2007

P.S:

Pesan saya kepada teman-teman saya di sini, jikalau pasangan anda bertanya pada anda: “Apakah kau mencintai saya?” Maka yang harus anda jawab adalah: “Ya…Tentu saja… Lebih dari apapun!”, dan Anda akan terhindar dari selaksa kepelikan yang mungkin akan terjadi jika tidak menjawab demikian…..

Catatan


[1] Kisah tentang Santo Valentino tentu sudah banyak ditulis dan diceritakan ulang hingga dijadikan memorial day bagi banyak orang dalam merefleksikan hubungannya dengan pasangannya.

[2] Jacques Derrida, Speech and Phenomena (Evanston: Northwestern University Press, 1973), hal. 51.

[3] Jacques Derrida, Dissemination (Chicago: Chicago University Press, 1981), hal. 5.

[4] Konsep dan kata “Cinta” dalam bahasa Indonesia sendiri akan dibahas pada bagian-bagian selanjutnya.

[5] Bentuk-bentuk konsepsi “Cinta” yang lain seperti hubungan orang-tua dengan anak, hubungan saudara kandung, ataupun yang bernuansa patriotisme, akan saya hindarkan sebagai tema atau topik diskusi.

[6] Dalam diskursus moralitas ini, hubungan romatik (dan erotik) hanyalah sah dan “lazim” sejauh melibatkan dua orang laki-laki dan perempuan. Hubungan ini tidak berlaku untuk bentuk romantik antara sesama laki-laki atau sesama perempuan, juga tidak berlaku untuk saudara kandung maupun orang tua dan anak, karena itu dinilai merupakan pelanggaran dan penyimpangan hukum moral hubungan cinta Kristiani ataupun kepercayaan dan agama-agama monoteis Timur-Tengah dan sekitarnya.

[7] Hubungan ini juga melibatkan gairah emosi (passion), hasrat (desire), dll, namun itu hanyalah dinilai sebagai “bunga-bunga” dari hubungan “cinta”, sedangkan fundamennya kira-kira tiga hal tersebut.

[8] Slavoj Žižek, How To Read Lacan (New York: Norton, 2007), hal. 14.

[9] Contoh-contoh dan argumen Žižek ini dapat dilihat pada Slavoj Žižek, ibid., hal. 14-15.

[10] Slavoj Žižek, The Sublime Object of Ideology (London: Verso, 1999), hal. 166

[11] Jacques Lacan, The Four Fundamental Concepts of Psycho-Analysis (Ed. Jacques-Alain Miller), (London: Penguin Books, 1994), hal. 203.

[12] Slavoj Žižek, How To Read Lacan, hal. 9.

[13] Renata Salecl, (Per)versions of Love and Hate, (London: Verso, 2000), hal. 17

[14] Ibid.

[15] Slavoj Žižek, How To Read Lacan, hal. 10.

[16] Ibid., hal. 11

[17] Jacques Derrida, Politics of Friendship, trans. George Collins (London: Verso, 2000), hal. 105.

[18] “Autoimmunity: Real And Symbolic Suicides – A Dialogue With Jaques Derrida”, dalam Giovanna Borradori, Philosophy in A Time of Terror: Dialogues with Jürgen Habermas and Jacques Derrida (Chicago: University of Chicago Press, 2003), hal. 120.

One thought on ““Cinta”: Ontologisasi Absurditas Sebuah Pengajuan Ide Diskusi

  1. Hi webmaster do you need unlimited content for your blog ?
    What if you could copy post from other sites, make it unique and publish on your blog – i know the right tool for you,
    just search in google:
    kisamtai’s article tool

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s