Amuk Massa dan Depresi Sosial: Absennya Fungsi Negara Sosial dan Merebaknya Berbagai Kerusuhan Massa

Di tahun-tahun akhir kekuasaan Soeharto, sejumlah kerusuhan dan amuk massa terjadi di beberapa kota di Indonesia. Beberapa di antaranya terjadi di Purwakarta (1995), Pekalongan (1995), Jakarta (27 Juli 1996), Situbondo (1996), Tasikmalaya (1996), Sanggau Ledo (1997), Tanah Abang Jakarta (1997), Rengasdengklok (1997), Banjarmasin (1997) dan puncaknya Perisitiwa 13-15 Mei 1998 di Jakarta, Bandung, Solo, Medan dan Palembang. Isu pokok dalam kerusuhan-kerusuhan itu adalah agama dan rasialisme anti-Cina.

Setelah turunnya Soeharto, dan kita memasuki era reformasi, berbagai kerusuhan dan amuk massa terjadi hampir di setiap ibu kota kabupaten. Isu-isunya pun lebih beragam, seperti ketidakpuasan terhadap pejabat publik, kepolisian, konflik internal partai politik, pertikaian antar kampung, pertikaian antar etnis (Kalimantan) juga isu agama seperti di Maluku dan Poso. Pertanyaannya adalah: mengapa massa mudah mengamuk, merusak bahkan membunuh? Pelakunya pun beragam, tidak pandang latar belakang sosial dan ekonomi. Apakah dengan maraknya berbagai kasus tersebut bisa disimpulkan amuk massa merupakan ciri khas atau watak masyarakat Indonesia?

Tindakan Amuk di Nusantara

Amok atau Amuck dalam bahasa Inggris, maupun Amouco dari bahasa Portugis diambil dari kata “Amuk” yang merupakan kosa kata dalam bahasa Melayu. Istilah ini diambil dari berbagai studi, catatan perjalanan, atau misi keagamaan orang-orang Eropa di kepulauan Nusantara, seperti The Suma Oriental (Ditulis awal abad ke-16) karya Tome Pires, The History of Sumatra (1783) karya William Marsden, Voyages to the East Indies karya John Splinter Stavorinus (1798), The History of Java (1817) karya Thomas Stamford Raffles, History of the Indian Archipelago (1820) karya John Crawfurd, The Malay Archipelago (1869) karya Alfred Russel Wallace dan studi kontemporer The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali  (1995) karya Geoffrey Robinson.

Secara umum studi-studi dan catatan-catatan itu menunjukkan bahwa kekerasan jenis amuk merupakan tindakan khas di beberapa wilayah Nusantara jauh sebelum kolonialisme Portugis maupun Belanda. Bentuknya seperti duel atau perkelahian (baik di kalangan bawah maupun kalangan ningrat). Duel merupakan kebiasaan menantang orang lain untuk berkelahi sampai mati, jika keduanya tidak mencapai suatu kesepakatan terhadap suatu hal atau soal. Atau juga bentuk-bentuk kekejaman yang dilakukan para penguasa pribumi.

Tome Pires menggambarkan kebiasaan di Jawa mengenai laki-laki berusia duabelas tahun ke atas yang umum membawa keris di pinggangnya (sampai hari inipun di beberapa daerah adalah biasa dan wajar laki-laki membawa senjata tajam sehari-hari).

Stavorinus mendeskripsikan kekejaman dan kebrutalan para penguasa pribumi dalam menjatuhkan hukuman kepada para penjahat (misalnya hukum tombak di Sulawesi atau diberikan kepada binatang liar, seperti harimau, yang sedang lapar). Stavorinus hanya sampai pada pendeskripsian bahwa kekejaman merupakan bagian dari ritus di beberapa masyarakat di Nusantara.

John Crawfurd menilai penduduk Nusantara memiliki jiwa pendendam, dan ditambah dengan ketidakadilan dan pemerintahan yang buruk memicu terjadinya amuk. Menurut Crawfurd, “Amuck means generally an act of desperation, in which the individual or individuals devote their lives, with few or no chances of success, for the gratification of their revenge”. Demikian juga dengan karya Alfred Wallace yang mendeskripsikan kebiasaan berperang antar suku Dayak di Kalimantan.

Karya Geoffrey Robinson – berdasarkan catatan-catatan misionaris Inggris di Bali pada abad 17 – mendeskripsikan orang Bali “kejam, suka perang, dan mudah marah serta menjadi amok”, dengan tindakan intrik politik dalam keluarga bangsawan, perang berkelanjutan antar kerajaan, perbudakan dan praktik-praktik sosial barbar seperti pembakaran janda yang merupakan norma dalam masyarakat Bali.

Dalam buku Freek Colombijn dan Thomas Lindblad (Ed) Roots of Violence in Indonesia (2002), yang dimaksud dengan Amok atau Amuck adalah: “frenzied and indiscriminate homicidal attack of an individual on a group of people, with suicidal intent; the attack was a response to a grave insult, and the death of the amok runner restored his dignity” (hal.10). Jadi amuk lebih dimaknai sebagai suatu bentuk tindakan mematikan (membunuh) yang dilakukan di luar kontrol dan tanpa pandang bulu dari seorang individu terhadap sekelompok orang, sebagai respon terhadap suatu yang menyinggung, dan kematian si pelaku amuk dianggap sebagai sesuatu yang mengembalikan harga dirinya. Kedua penulis ini menarik suatu pendefinisian “Amuk”

Kalau ditarik secara umum, studi-studi klasik dan kontemporer tersebut melihat bahwa kekerasan merupakan sesuatu yang inheren dalam masyarakat Indonesia, yang semakin dibentuk oleh penindasan pemerintah (baik pemerintah kolonial maupun para penguasa pribumi), dan ketidakadilan sosial-ekonomi. Faktor “kebrutalan” para penguasa kolonial maupun pribumi semakin membentuk karakter tindakan amuk di banyak daerah di Nusantara. Jadi sejarah perkembangan masyarakat Indonesia telah membentuk tindakan kekerasan terkondisi di dalam struktur pikiran setiap orang Indonesia.

Pola ini kembali diulang di masa Orde Baru, lewat kekerasan polisi dan militer, bentuk penghukuman sadis (seperti penembakan misterius atau Petrus, dan pembantaian tahun 1965), arogansi penguasa dan pejabat pemerintah pusat dan daerah baik militer maupun sipil, dan dikerangkakan oleh kesenjangan sosial dan ekonomi, serta kebuntuan apresiasi politik. Maka, setelah faktor penekan itu runtuh (rejim Orde Baru), maka meledaklah dendam sosial individu-individu dalam bentuk kerusuhan massa.

Amuk Massa di Era Reformasi: Depresi Sosial?

Jika bentuknya diperluas menjadi amuk massa, bukan aksi individu, pretensi para pelaku dalam melakukan pengrusakan maupun pembunuhan, dilakukan tanpa rasa bersalah. Dianggap suatu yang “biasa”, sehingga umumnya tidak muncul penyesalan setelah tindakan dilakukan.

Dalam beberapa media massa maupun televisi, orang dekat dari pelaku amuk umumnya menggambarkan pelaku sebagai orang yang sopan, ramah, santun dan banyak yang taat beribadah. Orang-orang dekat ini biasa mengaku terkejut bahwa pelaku bisa melakukan tindakan yang menyebabkan kematian satu atau lebih orang lainnya. Baik itu yang dilakukan secara individual, maupun dalam suatu amuk massa.

Dalam tindakan amuk massa, individu telah kehilangan identitas individualnya, dan lebur dalam identitas massa atau kerumunan orang. Seakan-akan tindakan yang dilakukan atas nama atau identitas orang banyak menjadi sah, dan bisa dianggap sebagai sesuatu yang heroik. Identitas si individu menjadi lebur dalam identitas massa, yang membuat si individu kehilangan identitas dirinya sebagai orang yang santun, ramah dan sopan, menjadi bagian massa yang marah, beringas dan destruktif. Dalam identitas massa tersebut, maka sosok manusia yang menjadi sasaran amuk bukan lagi dilihat sebagai manusia, tetapi sebagai “yang lain” yang bukan “seperti dirinya” dan “bukan kita”, sehingga cukup pantas dan layak untuk dimusnahkan, tanpa harus merasa bersalah.

Sejarah masyarakat Indonesia yang lekat dengan kekerasan, menjadi referensi individu yang sudah lebur dalam identitas massa. Ketimpangan sosial dan ekonomi, keruwetan politik, ketidakpercayaan pada sistem, institusi dan aparat hukum, dan ingatan terhadap penindasan negara, menumbuhkan depresi sosial yang meledak menjadi kemarahan. Ini jelas bisa dilihat dalam berbagai amuk massa di era reformasi yang terjadi dalam jumlah yang sangat besar. Diawali peristiwa 13-15 Mei 1998, aksi main hakim sendiri terhadap pelaku copet (dipukuli atau dibakar ramai-ramai sampai mati), pertikaian antar kampung, antar pemeluk agama, antar pendukung kepala daerah/tokoh politik (misalnya massa yang marah dan membakar kantor bupati,), antar anggota partai politik, antar etnis, sejumlah siswa yang merusak sekolah karena tidak lulus ujian, sejumlah perkelahian atau aksi kerusuhan oleh suporter sepakbola dan lain sebagainya.

Semua dikanalisasi pada saat identitas individu lebur dalam identitas massa atau kerumunan orang banyak. Tindakan tak terkontrol dan tidak pandang bulu meletup saat bersama kerumunan massa. Hanya butuh satu tindakan pemantik, seketika kerumunan massa menjadi beringas.

Peran Negara Sosial Sebagai Salah Satu Obat Depresi Sosial

Tindakan amuk massa bisa juga dilihat karena tidak adanya penyaluran untuk menyelesaikan problem individu maupun sosial dari suatu situasi krisis. Selama ini kita hidup dalam situasi krisis, baik krisis sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Saluran moralitas agama sampai hari ini tidak sanggup memberikan jalan keluar dari krisis. Saluran keadilan sosial-ekonomi dan politik yang beradab belum bisa disediakan. Saluran kebudayaan semakin mengarah pada konsumerisme, yang justru menyalakan bara api krisis. Dalam hal ini maka fungsi negara sosial menjadi penting untuk hadir, dan menyediakan saluran-saluran untuk keluar dari krisis-krisis itu, bukan hanya bagi komunitas, juga bagi setiap individu, untuk mampu keluar dari depresi sosial.

Negara diperlukan untuk dapat mendorong komunitas-komunitas dan asosiasi-asosiasi masyarakat berperan dalam menumbuhkan solidaritas sosial. Komunitas dan asosiasi bisa menjadi ruang kolektif untuk membicarakan, mendiskusikan dan menyelesaikan problem sosial di tingkat lokal, agar bisa menjadi benteng untuk bertahan dalam menghadapi krisis, dan tidak tersalurkan menjadi kemarahan sosial. Dalam kondisi ideal seperti ini, kita bisa berharap depresi sosial bisa ditekan seminimal mungkin, dan yang masih tersisa punya tempat untuk keluar dari krisis itu, tanpa menjadi tindakan amuk massa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s