“Burma” versus “Myanmar”

Tindak kekerasan aparat rezim junta militer Burma terhadap aksi damai yang dimotori para biksu beberapa waktu lalu mengakibatkan jatuhnya puluhan korban jiwa dan ratusan luka-luka. Hal ini mengundang reaksi keras dari dunia internasional, dan disidangkan secara khusus oleh Dewan HAM PBB yang menghasilkan kecaman keras lewat resolusi Dewan HAM PBB. Sekjen PBB kemudian mengirim Ibrahim Gambari sebagai utusan khusus Sekjen PBB untuk melakukan penyelidikan, dan bertemu pemimpin rezim junta militer Jenderal Senior Tan Shwee dan juga tokoh pro-demokrasi Daw Aung San Suu Kyi. Hasil yang akan dilaporkan Gambari yang akan menentukan sikap Dewan Keamanan PBB nantinya.

Sejak merdeka tahun 1948, sampai hari ini politik Burma terus bergejolak oleh berbagai kudeta militer. Kudeta terakhir dilakukan tahun 1989, setelah militer Burma mengambil alih kekuasaan dengan tidak mengakui kemenangan partai National League of Democracy (NLD) dalam pemilu dan menyebut diri State Law and Order Restoration Coucil (SLORC). Rezim junta kemudian mengubah nama Burma menjadi Myanmar, dan ibukota Rangoon menjadi Yangoon. Pengubahan nama ini bukan tidak didasarkan pada suatu alasan politis. Bisa jadi ini merupakan upaya rezim junta memendam nilai historis dan makna patriotis yang melekat pada “Burma”. Di samping itu rezim SLORC pun mengubah namanya menjadi State Peace and Development Council (SPDC) untuk memberikan pemaknaan yang lebih “lembut”.

Penyebutan Myanmar ditentang oleh sebagian besar penduduk Burma, bukan karena secara keseluruhan mereka menyetujui Burma sebagai nama negara mereka, melainkan lebih karena Myanmar merupakan representasi dari rezim junta. Nama Burma sendiri sebenarnya lebih merujuk pada etnis Burma yang merupakan etnis mayoritas penduduk Burma. Sejumlah etnis lain, seperti suku Karen, juga mendefinisikan mereka sebagai “bukan Burma”, dan mengobarkan perlawanan untuk memisahkan diri dari negara Burma, sekaligus juga menolak Myanmar. Myanmar dan Burma telah terbentuk menjadi identitas politik. Burma menjadi identitas bagi mereka yang memperjuangkan demokrasi, sedangkan Myanmar merupakan identitas yang mendukung kediktatoran rezim junta.

Rezim junta memberlakukan penggunaan nama Myanmar untuk seluruh publikasi resmi, baik yang dikeluarkan oleh negara maupun warga, seperti misalnya surat kabar. Sekalipun secara tidak resmi warga masih merujuk Burma sebagai nama negara.

Burma dan Myanmar menjadi identitas politik yang berkontestasi. Bahkan bagi orang-orang yang berada di luar Burma, pemilihan penggunaan nama Myanmar atau Burma menjadi bersifat politis. Burma menjadi penanda dari demokrasi dan kebebasan, di sisi lain Myanmar merupakan penanda bagi otoritarianisme dan kediktatoran. Dalam situasi seperti ini akhirnya kita pun diletakkan dalam posisi untuk merujuk pada Burma ataukah Myanmar. Bagi Aung San Suu Kyi, Myanmar merupakan perwujudan dari the evil, dan menghimbau kalangan pro-demokrasi di manapun berada untuk menggunakan Burma untuk merujuk negerinya. Burma merupakan penanda bagi the good. Jurubicara Gedung Putih Tony Fratto misalnya menyatakan bahwa Washington menolak menggunakan istilah yang digunakan rezim junta karena alasan intensional. Fratto menyatakan penolakan Washington lebih disebabkan karena “we choose not to use the language of a totalitarian dictatorial regime that oppresses its people.” Dalam situs US State Department dinyatakan, “Due to consistent support for the democratically elected leaders, the US government likewise uses Burma.”

Banyak juga yang tidak terlalu mengindahkan pemakaian dua nama tersebut. Mark Farmener (Burma Campaign UK) menyatakan bahwa penggunaan nama Burma atau Myanmar bukanlah suatu hal yang penting, “Who cares what people call the country? It’s the human rights abuses that matter,” lanjutnya.

Namun, Burma dan Myanmar telah menjadi identitas politik, baik di Burma maupun di luar Burma. Burma sudah menjadi penanda referensial bagi demokrasi dan kebebasan, dan karena itulah tulisan ini menggunakan Burma untuk merujuk pada nama negeri itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s