Kaum Anarkis dan Perjuangan Demokratik Baru

* Tulisan ini merupakan “Pengantar” untuk buku Sean M. Sheehan, Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan (Jakarta: Marjin Kiri, 2007).

I am free only when all human beings surrounding me – men and women alike – are equally free. The freedom of others, far from limiting or negating my liberty, is on the contrary its necessary condition and confirmation. I become free in the true sense only by virtue of the liberty of others, so much so that the greater the number of free people surrounding me the deeper and greater and more extensive their liberty, the deeper and larger becomes my liberty

(Mikhail Bakunin)

Anarkisme sebagai sebuah konsep dalam ilmu sosial maupun filsafat kerapkali disalahartikan – atau bisa jadi disengaja disalahartikan – sebagai suatu prinsip yang berhubungan dengan hal-hal yang bernuansa destruktif, chaotic, dan ketidak-teraturan (disorder). Bahkan kerapkali anarkisme diposisikan bersebarangan dengan demokrasi. Namun di satu sisi pemahaman keliru seperti ini muncul karena memang sangat minimnya literatur yang memadai mengenai anarkisme di Indonesia, baik mengenai sejarah perkembangannya, filsafatnya, maupun perdebatannya dengan berbagai aliran pemikiran dalam filsafat dan ilmu-ilmu sosial.

Seringkali kita mendengar di berbagai talkshow, diskusi, seminar, dll, bahwa bentuk-bentuk destruktif, merusak, menghancurkan, membakar, dan tanpa tujuan dan arahan yang jelas (misal: amuk massa), dengan segera dan semena-mena dikategorikan sebagai suatu tindakan anarkis. Kedangkalan pemahaman seperti itu memang menyedihkan, terlebih diucapkan dengan nada percaya diri yang sangat tinggi oleh para intelektual yang menyandang gelar akademis tertinggi. Ditambah lagi, kata “anarki” bisa dan kerap digunakan secara sangat lentur, sehingga selalu menjadi sumber kerancuan, sehingga pemahaman yang dangkal atas anarkisme, akan semakin membuat anarkisme sebagai bagian dari tradisi pemikiran filsafat dan praktik politik menjadi semakin kusut.

Pengantar ini mencoba untuk sedikit melihat anarkisme dalam tradisi filsafat dan politik, yang memang karena sifat kontroversialnya, jarang dijadikan rujukan pemikiran atau tindakan praktis. Dengan berpijak pada bagaimana Anarkisme sebagai pemikiran dan tindakan praktis dalam tradisi filsafat dan politik, teks buku Sheehan ini dibaca kembali. Keperluan untuk memijakkan pembacaan teks Sheehan pada perkembangan pemikiran dan tindakan praktis Anarkisme dalam tradisi filsafat dan politik, lebih ditujukan untuk memberikan penyanggah yang bisa dijadikan salah satu sandaran dalam menilai teks Sheehan.

Karena itu menjadi suatu hal yang sangat penting dengan kehadiran buku terjemahan karya Seán M. Sheehan ini, untuk lebih membuka ruang perdebatan dan pemahaman yang lebih filosofis dan akademis mengenai anarkisme, baik sebagai pemikiran filsafat politik, maupun juga gerakan sosial-politik, sehingga kedangkalan pemahaman mengenai anarkisme bisa dihindari. Pengantar ini mungkin akan cenderung bersifat deskriptif, dengan sedikit analisis oleh seorang yang tidak (atau mungkin belum) bisa dikatakan Anarkis.

Anarkisme Dalam Tradisi Filsafat dan Politik

Liberty for all, and a natural respect for that liberty: such are the essential conditions of international solidarity

(Mikhail Bakunin)

Membicarakan anarkisme sepertinya sulit untuk melepaskan sejumlah nama yang sangat dikenal dalam tradisi filsafat dan politik anarkisme yakni: Pierre Joseph Proudhon, Mikhail Bakunin, Peter Kropotkin, Max Stirner, dan Levnikolaevich (Leo) Tolstoy. Sekalipun banyak pemikir anarkis yang kemudian sangat menonjol, namun mereka bisa disebut merupakan para pioneer yang mengenalkan anarkisme sebagai tradisi politik dan filsafat secara menonjol.[1] Pierre-Joseph Proudhon adalah orang pertama yang menggunakan istilah anarkisme sebagai filsafat politik.

Secara umum kaum anarkis juga memiliki kecenderungan untuk mempersamakan antara kata “negara” dan “pemerintah”, tapi kaum anarkis secara prinsipil menolak secara tegas dari negara bukanlah konsep pemerintahan, karena ada perbedaan yang relevan antara pemerintah (mengacu pada negara) dengan pemerintahan (mengacu pada administrasi sistem politik), gagasan yang ditolak kaum anarkis adalah tentang adanya suatu tatanan berkuasa yang menuntut dan menghendaki kepatuhan warganya. Anarkisme menolak otoritas sentral dan disakralkan yang diujudkan dalam bentuk negara.

Seperti juga dalam tradisi pemikiran politik dan filsafat lainnya, anarkisme pun bukan merupakan suatu bentuk pemikiran yang hanya merujuk pada satu tendensi saja. Secara umum, ada dua tandensi yang dominan dalam tradisi anarkisme, yakni anarkis individual dan anarkis kolektif (komunisme). Dalam hal ontologi sosial, keduanya sama dalam mana menolak keberadaan subyek yang terpisah dari dunia yang obyektif. Artinya, sebagaimana juga Marx, anarkisme menolak anggapan adanya dunia “di luar” subyek, yang berdiri terpisah dari subyek yang memahami (knowing subject). Dalam hal aksiologi keduanya menolak otoritas sentral yang memaksakan kepatuhan warganya. Namun secara epistemologis, ada perbedaan yang prinsipil dalam hal melihat posisi subyek dalam tatanan masyarakat. Perbedaan antara anarkisme individual dan anarkisme komunis (kolektif) yang pada bagian-bagian selanjutnya akan diuraikan, termasuk juga yang ada di dalam teks yang ditulis Sheehan.

Menurut Noam Chomsky, anarkisme sebagai pemikiran maupun tindakan praktis, memiliki sangat banyak bentuk dan karakteristik. Sangatlah susah untuk memberikan batasan-batasan yang ketat terhadap seluruh tendensi-tendensi konfliktual dalam teori secara umum maupun juga ideologi. Chomsky menambahkan bahwa sekalipun dibuat suatu ekstraksi dari sejarah pemikiran libertarian dan secara teliti mengembangkan tradisi-tradisinya, tetaplah sulit untuk memformulasikan doktrin-doktrin anarkisme sebagai sebuah teori tentang masyarakat dan perubahan sosial yang spesifik dan determinan.[2]

Chomsky merujuk pada konsepsi Rudolf Rocker, seorang sejarawan anarkis, yang menurutnya mempresentasikan konsepsi yang sistematis mengenai perkembangan pemikiran anarkis, melalui konsep anarcho-syndicalism, yang menuliskan bahwa anarkisme bukanlah,

a fixed, self-enclosed social system but rather a definite trend in the historic development of mankind, which, in contrast with the intellectual guardianship of all clerical and governmental institutions, strives for the free unhindered unfolding of all the individual and social forces in life. Even freedom is only a relative, not an absolute concept, since it tends constantly to become broader and to affect wider circles in more manifold ways. For the anarchist, freedom is not an abstract philosophical concept, but the vital concrete possibility for every human being to bring to full development all the powers, capacities, and talents with which nature has endowed him, and turn them to social account. The less this natural development of man is influenced by ecclesiastical or political guardianship, the more efficient and harmonious will human personality become, the more will it become the measure of the intellectual culture of the society in which it has grown.[3]

Bagi Emma Goldman anarkisme bukanlah suatu bentuk teori mengenai masa depan, tetapi merupakan “kekuatan yang menggerakkan keseluruhan hidup manusia, yang terus-menerus menciptakan  keadaan-keadaan yang baru, berjuang dalam keadaan apapun untuk menolak segala sesuatu yang bisa menghambat perkembangan manusia”.[4]

Negara Sebagai Horor

And there are those who, like us, see in the State, not only its actual form and in all forms of domination that it might assume, but in its very essence, an obstacle to the social revolution

(Peter Kropotkin)

Anarkisme sebagai filsafat politik revolusioner memiliki banyak perbedaan dalam hal suara (voices), asal-usul dan interpretasi. Dari anarkisme-individualis seperti Max Stirner sampai anarkisme-komunal/kolektif macam Bakunin dan Kropotkin, anarkisme merupakan sederet perbedaan karakter dan bentuk dari filsafat dan strategi politik. Namun seluruh perbedaan tersebut, disatukan oleh sebuah prinsip penolakan dan kritik fundamental terhadap otoritas politik dan seluruh bentuk-bentuknya. Bagi kaum anarkisme klasik, negara adalah suatu tubuh bagi semua bentuk penindasan, eksploitasi, perbudakan serta degradasi bagi manusia. Sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata Bakunin,

The State is like a vast slaughterhouse or an enormous cemetery, where all the real aspirations, all the living forces of a country enter generously and happily, in the shadow of that abstraction, to let themselves be slain and buried. [5]

Negara memang merupakan sasaran utama kiritik terhadap otoritas dari para anarkis klasik. Bagi kaum anarkis klasik negara merupakan penindasan fundamental dalam masyarakat, dan karena itu negara harus dilenyapkan pada saat aksi revolusi yang pertama kali. Perdebatan tersebut memang khas dalam konteks saat di mana gelora revolusi menghebat di Eropa di abad 19. Perdebatan filosofis dan teoritis mengenai revolusi muncul di antara para pemikir dan tokoh revolusioner seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Mikhail Bakunin, Peter Kropotkin, dll, dalam sidang internasionale pertama.

Dalam sidang tersebut terjadi perdebatan “luar biasa” antara Marx dan Bakunin. Perdebatan ini yang membawa kaum anarkis abad 19 kepada konflik yang tajam dengan Marxisme. Marx meyakini bahwa pada saat negara bertindak sangat menindas dan eksploitatif, itu merupakan refleksi dari ekploitasi ekonomi dan instrumen dari kelas yang berkuasa, di mana kekuatan politik direduksi oleh kekuatan ekonomi. Bagi Marx ekonomi – melebihi dari negara – merupakan tempat yang fundamental dari penindasan. Negara memiliki sedikit eksistensi independen melampaui kepentingan kelas dan ekonomi. Karena itulah maka negara dapat digunakan sebagai alat dari revolusi hanya jika berada di tangan kelas yang tepat – yakni kaum proletariat.[6] Negara hanyalah melakukan dominasi, dengan kata lain, hanya karena pada saat itu berada di tangan kaum borjuis. Pada saat perbedaan kelas hilang, negara akan kehilangan karakter politiknya. Argumen ini yang dikedepankan Marx dalam menjawab keberatan-keberatan Bakunin terhadap negara transisional, sebagaimana yang dinyatakan Marx, “…when class domination ends, there is no State in the present political sense of the word”.[7]

Para anarkis seperti Bakunin dan Kropotkin tidak bersetuju dengan Marx pada titik tersebut. Bagi kaum anarkis, negara lebih dari sekedar sebuah ekspresi kekuatan kelas dan kekuatan ekonomi. Lebih dari itu, negara memiliki logika dominasinya sendiri dan merawat dirinya sendiri (self-perpetuation), dan karena itu negara menjadi otonom terhadap kepentingan kelas.

Lebih dari pada bekerja dari masyarakat menuju negara, sebagaimana dilakukan Marx, dan melihat negara sebagai derivatif dari hubungan ekonomi kapitalisme dan tumbuhnya kaum borjuis, para anarkis bekerja dari negara menuju masyarakat. Negara menciptakan penindasan fundamental dalam masyarakat, dan eksploitasi ekonomi datang dari bentuk penindasan politik seperti itu. Dengan kata lain, penindasan politik yang menyebabkan penindasan ekonomi menjadi mungkin.[8]

Penolakan ini bisa dilihat dalam surat Peter Kropotkin kepada Lenin tahun 1920. Kropotkin menguraikan bahwa kekuasaan Partai Komunis menjadi kekuasaan tunggal dan mutlak dan menempatkan sovyet-sovyet berada di bawahnya, artinya teori membangun kekuatan dan organisasi dari bawah untuk menciptakan suatu bentuk kehidupan yang baru, tidak muncul dalam negara Uni Sovyet. Bahaya inilah yang menurut Kropotkin akan menjadi ancaman sosialisme Uni Sovyet di masa depan, sebagaimana diuraikan Kropotkin,

It would seem that the soviets should have served precisely this function of creating an organization from below. But Russia has already become a Soviet Republic only in name. The influx and taking over of the people by the: “party”,  that is, predominantly the newcomers (the ideological communists are more in the urban centers), has already destroyed the influence and constructive energy of this promising institution – the soviets. At present, it is the party committees, not the soviets, who rule in Russia. And their organization suffers from the defects of bureaucratic organization.

To move away from the current disorder, Russia must return to the creative genius of local forces which as I see it, can be a factor in the creation of a new life. And the sooner that the necessity of this way is understood, the better. People will then be all the more likely to accept [new] social forms of life. If the present situation continues, the very word “socialism” will turn into a curse. This is what happened to the conception of “equality” in France for forty years after the rule of the Jacobins.[9]

Terlebih lagi, bagi para anarkis, hubungan borjuis pada kenyataannya merupakan sebuah refleksi dari negara, daripada negara sebagai refleksi dari hubungan-hubungan borjuis. Menurut Bakunin, kelas penguasa (the ruling class) merupakan representasi real material dari negara. Di balik setiap kelas penguasa dalam setiap epos di situ muncul negara. Karena negara memiliki logika otonominya sendiri, maka negara tidak pernah dapat dipercaya sebagai alat revolusi sebagaimana argumen kaum Marxis, kemudian kekuasaan negara akan terus-menerus berlanjut dengan cara yang lebih tirani dan tidak terbatas. Negara tersebut akan bekerja, sebagaimana argumen Bakunin, melalui sebuah kelas penguasa baru – sebuah kelas birokratik yang akan menindas dan mengeksploitasi kaum buruh dengan cara yang sama sebagaimana kelas borjuis menindas dan mengeksploitasi mereka.[10]

Jadi dasar anarkisme memandang negara sebagai suatu horor yang menyeramkan, bukan dalam pengertian pandangan yang bersifat destruksif atau anti terhadap ketata-aturan, melainkan lebih kepada suatu pandangan filosofis dan politis, bahwa ketata-aturan yang diciptakan negara dibangun atas dasar suatu bentuk pemaksaan, dengan asumsi bahwa tatanan masyarakat harus diatur dengan cara yang demikian. Kekuasaan dan otoritas penggunaan alat-alat kekerasan yang melekat pada negara yang dilihat sebagai sumber potensial dan ancaman terhadap kebebasan masyarakat untuk mengatur dirinya sendiri.

Anarkisme secara tegas menolak negara bukan dalam artian pengertian administrasi sistem politik, tetapi yang paling pokok adalah penolakan tegas terhadap gagasan tentang suatu tatanan berkuasa yang menuntut dan menghendaki kepatuhan warganya (kalau perlu nyawa dari warganegaranya), dalam otoritas sentral yang disakralkan dalam wujud bentuk negara.

Menurut tradisi pemikiran anarkisme, asumsi ini merupakan dasar dari cara berpikir borjuis yang memang memerlukan negara – dengan seluruh perangkat represifnya – sebagai alat untuk terus-menerus menjaga kepentingan kaum borjuis, yang memang juga didapat lewat cara-cara yang eksploitatif, dengan memenjara kebebasan masyarakat.

Lebih jauh menurut Bakunin, cara berpikir ini juga yang singgah dalam kepala para pimpinan kelompok sosialis dan komunis di Rusia, sehingga negara komunis Rusia kemudian tidak lebih berbeda dengan bentuk negara dalam sistem kapitalisme, yang birokratis dan represif, bahkan bagi Bakunin menjadi ancaman baru dalam bentuk bahaya “birokrasi merah” (red bureaucracy), yang merupakan presentasi dari apa yang mereka sebut sebagai sosialisme otoriterian (authoritarian socialism).

Dalam konteks kritik terhadap sosialisme otoriterian inilah, kaum anarkis membentuk dua sumber energi revolusioner mereka dalam menentang pembatasan-pembatasan dan hirarki-hirarki yang dibangun oleh sosialisme otoriterian, yakni mereka yang percaya pada individualisme, dan mereka yang percaya pada spontanitas massa.

Anarkisme: Individu Sebagai Sumber Inspirasi

There is no judge but myself who can decide whether I am right or wrong

(Max Stirner)

Max Stirner merupakan salah satu tokoh anarkis yang paling menonjol. Max Stirner, seorang pemikir Jerman, merupakan pemikir anarkisme individualis paling penting. Menurut Guérin, Stirner melakukan rehabilitasi terhadap individu pada saat dunia filsafat didominasi oleh filsafat anti-individualisme Hegelian, juga pada saat mana tulisan Simone Weil mengkritik karena tidak ada tulisan yang diproduksi para aktivis maupun pemikir Marxist untuk menjawab pertanyaan yang muncul dari kebutuhan untuk membela individu menghadapi bentuk-bentuk penindasan yang baru yang muncul setelah era penindasan kapitalisme klasik.[11]

Striner menyatakan bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri, apa yang dimauinya, dan hanya individulah yang bisa menentukan apakah ia benar atau salah, karena individu memiliki keunikan sebagai nilai intrinsik. Dalam pandangan Stirner kebebasan hanya dapat ditaklukan bagi diri si individu sendiri. Pernyataan Stirner yang cukup menarik adalah, “freedom given or conceded is not freedom but stolen good’”. Karena itu bagi Stirner hanya pada masing-masing individulah, setiap individu harus tunduk, bukan pada negara, masyarakat, ataupun kemanusiaan dapat menjadi tuan bagi individu.[12]

Bagi Stirner untuk dapat membebaskan dirinya sendiri, individu harus memulai dengan meletakkan “bagasi” intelektual di mana orang tua dan guru-guru si individu “memasangkannya” bagi dirinya. Namun Stirner juga tidak berasumsi bahwa individu hidup terlepas dari individu-individu lainnya. Untuk menjawab pertanyaan bagaimana ia bisa hidup dalam masyarakat dengan ekslusifitas seperti itu, Stirner menjawab bahwa hanya manusia yang memiliki pemahaman atas “kediriannya sendiri” dapat menciptakan hubungan-hubungan dengan sesamanya.

Stirner tidak mengabaikan bahwa individu membutuhkan pertolongan dan juga teman-teman, dengan memberikan contoh, jika ia menulis buku maka ia membutuhkan pembaca. Ia bergabung dengan sesama kawan-kawannya untuk meningkatkan kekuatannya dan memenuhi kebutuhan dirinya secara lengkap, melalui kombinasi kekuatan mereka, dibandingkan dalam kondisi terisolasi, sebagaimana dinyatakan Stirner,

If you have several million others behind you to protect you, together you will become a great force and will easily be victorius – but one condition: these relations with others must be free and voluntary and always subject to repudiation.[13]

Striner membedakan antara masyarakat (society) yang sudah terbentuk, yang mana merupakan suatu pembatasan (constraint), dari asosiasi (association) yang merupakan tindakan sukarela (voluntary).[14] Karena itu Stirner menolak partai politik di mana seseorang harus mengikuti partai tersebut kemana pun, yang secara absolute menyetujui dan mempertahankan prinsip-prinsip dasar dari partai tersebut. Karena itu bagi Stirner ia lebih memilih bentuk asosiasi politik ketimbang partai politik.

Anarkisme: Massa Sebagai Sumber Inspirasi

A social revolution… does not occur at the behest of a master with a ready-made theory, or at the dictate of a prophet. A truly organic revolution is a product of universal life, and although it has its messengers and executors it is really not the work of any one person”.

(Pierre Joseph Proudhon)

Pierre-Joseph Proudhon merupakan tokoh anarkisme yang percaya bahwa gerakan anarkisme haruslah disandarkan pada kekuataan gerakan massa. Dalam hal ini Proudhon memetik pelajaran berharga dari Revolusi 1848 bahwa massa merupakan sumber kekuatan dari revolusi. Namun berbeda dari pemikiran revolusi Marxian, Proudhon percaya bahwa revolusi berlangsung berdasarkan suatu bentuk tindakan spontanitas dari Rakyat.

Menurut Proudhon revolusi sosial tidak memerlukan sebuah kepemimpinan atau kenabian, jadi bukanlah kerja satu orang, melainkan produk dari suatu bentuk universalitas, dan revolusi haruslah dilakukan dari bawah dan bukan dari atas. Proudhon meyakini bahwa pada saat krisis revolusi berakhir, maka rekronstruksi sosial haruslah menjadi tugas dari seluruh rakyat yang dilakukan untuk diri mereka sendiri.

Sama seperti Proudhon, Bakunin juga percaya bahwa revolusi sosial tidak dapat dideklarasikan atau diorganisir dari atas, dan hanya dapat dibuat dan diciptakan, dan dikembangkan sepenuhnya oleh spontanitas dan keberlanjutan aksi massa, kelompok-kelompok dan asosiasi-asosiasi dalam masyarakat.[15] Dalam istilah Bakunin revolusi datang seperti “pencuri di malam hari”, revolusi merupakan tekanan yang dibuat oleh suatu keadaan-keadaan tertentu. Argumen Bakunin ini dipengaruhi oleh peristiwa Komune Paris, yang merupakan bentuk nyata dari proses revolusi yang berlangsung dari bawah, berlangsung spontan, dan diorganisir oleh seluruh massa, dan bukan oleh kepemimpinan partai, organisasi atau individu tertentu.

Anarkisme Baru

Penghujung abad dua puluh ditandai dengan discourse dominan globalisasi, sebagai penanda dari suatu kondisi “keharusan sejarah” yang harus diikuti semua orang. Keharusan sejarah yang membawa dunia ke dalam satu tatanan integral secara ekonomi, yang akan ditopang dengan kemajuan teknologi, informasi dan kebudayaan, sebagai bagian dari perkembangan tahapan peradaban umat manusia. Discourse dominan globalisasi adalah “kemajuan ekonomi”, “kemajuan teknologi informasi”, “kemajuan ilmu pengetahuan”, “kemajuan peradaban” di mana dimensi ruang dan waktu tidak lagi menjadi tembok besar yang menghalangi terjadinya proses komunikasi dan diseminasi informasi, serta pergerakan arus modal dalam wilayah ekonomi. Tapi di sisi lain, banyak pemikiran yang menguraikan bahwa discourse globalisasi, tidak kurang dan tidak lebih, adalah sebuah “jalan” yang disiapkan untuk proyek neoliberalisme. Karena itulah proyek ini mendapatkan banyak tentangan dan perlawanan yang luas.

Pesan-pesan kemajuan yang dibawa oleh discourse globalisasi ternyata tidak begitu saja membutakan banyak orang dari realitas yang diakibatkannya. Banyak uraian-uraian statistik yang dengan jelas memberikan gambaran akan “wajah keji” dari globalisasi, yang selama tertutupi oleh topeng “kemajuan teknologi”, “pertumbuhan ekonomi”, “kemajuan kebudayaan dan peradaban”. Perlawanan terhadap globalisasi-neoliberalisme pun bermunculan, ditandai dengan tonggak demonstrasi besar-besaran menolak kapitalisme pada pelaksanaan Konferensi WTO bulan November 1999 di Seattle, Amerika Serikat, jantung kapitalisme global, kemudian bergulir dan merebak pada sejumlah pertemuan-pertemuan organisasi perdagangan maupun keuangan dunia yang membahas agenda-agenda globalisasi neoliberalisme, seperti di Bangkok, Genoa, Cancun dan belahan dunia lainnya.

Di penghujung abad dua puluh, munculnya gerakan-gerakan menentang globalisasi neoliberalisme menandakan bangkitnya kembali kaum anarkis dalam gerakan sosial dan politik. Berbeda dengan gerakan-gerakan dalam tradisi anarkisme sebelumnya yang memfokuskan perjuangan dan perlawanannya terhadap satu otoritas negara, gerakan anarkis akhir abad dua puluh ini mengedepankan tuntutan yang melampaui batas-batas otoritas satu negara, dan lebih merujuk pada satu tatanan global dan memperjuangkan tuntutan keadilan global, di mana perusahaan-perusahaan multinasional yang bergerak secara mondial menjadi kekuatan dominasi dan otoriter baru, yang dalam beberapa hal bahkan melampaui wewenang negara.

Karena gerakan-gerakan para “anarkis baru” ini berwatak internasionalis, demikian juga dengan tuntutan-tuntutan yang mereka ajukan. Salah satu contohnya adalah kelompok anarkis Ya Basta! di Italia. Ya Basta! merupakan salah satu kelompok pendukung bagi gerakan Zapatista di Meksiko yang mengedepankan tuntutan bagi adanya jaminan atas “pendapatan pokok” (basic income) yang berlaku secara universal, kewargaan global, jaminan terhadap kebebasan setiap orang untuk bergerak menyeberang batas-batas negara, dan akses yang bebas terhadap perkembangan teknologi-teknologi baru – yang dalam praktiknya merupakan bentuk pembatasan yang ketat atas hak paten. Slogan mereka adalah: “No One Is Ilegal”, dan Ya Basta! membangun jaringan tanpa perbatasan (noborder network) dengan mendirikan kamp-kamp liburan sebagai laboratorium untuk menumbuhkan bentuk perlawanan yang kreatif di perbatasan-perbatasan Polandia, Jerman dan Ukrania, di Sicily dan di Tarifa, Spanyol.[16]

Gerakan anarkisme baru di Amerika Utara, secara khusus, merupakan gerakan yang memperjuangkan reinventing democracy. Gerakan ini tidak mempertentangkan bentuk organisasi, tapi sebaliknya, justru mengupayakan penciptaan bentuk (kerangka) organisasi yang baru. Gerakan ini tidaklah senjang secara ideologi, tetapi bentuk-bentuk organisasi yang baru itulah ideologinya. Mereka menciptakan dan menjalankan jaringan kerja horisontal ketimbang struktur atas-bawah seperti negara, partai-partai atau perusahaan-perusahaan. Jaringan kerja didasarkan pada prinsip-prinsip desentralisasi, dan demokrasi konsensus non-hirarkis.[17]

Teks Seán M. Sheehan dan Gerakan New Anarchism

Hence an anarchist must not purchase kisses, he should merit them

(Pamflet kaum anarkis Spanyol)

Sheehan membuka bukunya dengan deskripsi peristiwa 29 November 1999 di Seattle, saat diadakannya sidang World Trade Organization (WTO). Sebuah karnaval sedang berlangsung, karnaval menentang kapitalisme. Paragraf pertama buku ini sampai dengan paragraf keenam, mendeskripsikan suatu aksi demonstrasi yang diorganisir dengan cara-cara anarkis, yang dalam deskripsi Sheehan disebutkan bahwa pengorganisasian tersebut dilakukan dengan cara yang demikian rapih dan sistematis, tanpa memerlukan kewenangan yang tersentral dan hirarki yang birokratis. Coba kita simak kutipan dua paragraf pertama dari buku Sheehan ini:

Seattle November 1999. Karnaval Melawan Modal. Delegasi WTO tiba di Seattle pada malam 29 November. Ribuan demonstran menanti kedatangan mereka yang diantar iringan limosin dan bis ke Pusat Pameran. Arak-arakan pertama di sepanjang Seattle dimulai pukul enam pagi keesokan harinya, dan blokade jalan terus berlangsung sampai menjelang senja, dimeriahkan oleh tetaer jalanan dan pesta-pesta kaki-lima. Rabu pagi terlihat luapan demonstran lebih banyak lagi sejak pukul tujuh. Responnya juga makin keras dan mobil lapis baja mulai terlihat di jalanan. Jumatnya, para demonstran tanpa-kekerasan ini membentuk kelompok-kelompok besar untuk melakukan aksi duduk di depan penjara kota, tempat demonstran lainnya ditahan. Setiap petang pertemuan digelar. Perwakilan dari pelbagai kelompok afinitas duduk bersama dalam lingkaran besar untuk mendiskusikan strategi gerakan. Bangunan gudang tempat pertemuan dilakukan berhari-hari sampai dengan tanggal 29 November adalah tempat dilaksanakannya kursus aksi tanpa-kekerasan dan bengkel solidaritas bagi kawan-kawan mereka yang ditahan. Begitu aksi berlangsung, kegiatan langsung dipusatkan pada pelatihan P3K.

Prinsip-prinsip anarkis terlihat begitu sukses mengatasi keadaan sepanjang lima hari protes, sampai-sampai para militant non-anarkis lainnya pun mulai mengadopsi langkah-langkah kaum anarkis. Merebaklah suatu struktur yang tak mengenal kewenangan tersentral atau hirarki birokratis, namun yang koordinasi antar kelompoknya berlangsung luar biasa kompak ketika berlangsung aksi skala besar, termasuk aksi turun jalan, blokade rantai manusia, pengibaran spanduk, pertunjukkan dan teater jalanan. Peran serta seluruh kelompok diterima di Pusat Konvergensi yang ditata secara anarkis. Pusat Konvergensi tersebut berfungsi sebagai sentra penyedia aneka ragam kebutuhan organisasi, mulai dari bantuan akomodasi pelayanan medis sampai bentuk baru rencana agitasi. Komunikasi berlangsung efektif dengan memanfaatkan ponsel, papan-papan pengumuman ukuran besar di Pusat Konvergensi, sampai pesan-pesan yang disemprotkan ke kaos” (Sheehan, hal. 3-4).

Kutipan tersebut diambil dari laporan Sheehan atas peristiwa Seattle 1999, di mana ratusan ribu orang, terutama kaum muda, “berperang” di sudut-sudut jalan kota Seattle. Saat yang bersamaan sidang para pemimpin negara-negara ekonomi G-8 sedang berlangsung memilah-milah peta wilayah eksploitasi baru, disertai upaya untuk sedikit memberikan “wajah manusiawi” dalam kerja-kerja eksploitatif tersebut.

Aksi-aksi tersebut diselenggarakan tidak dalam sebuah struktur pelaksaanaan yang terpusat dan parokial, tetapi bekerja dalam sistem-sistem kecil yang dalam banyak hal tidak berhubungan satu dengan lainnya, tetapi berjalan dengan keselarasan bak berada di bawah satu pusat komando. Deskripsi ini yang diuraikan dengan cukup detil di bagian pertama buku ini. Gerakan kelompok-kelompok inilah yang oleh Sheehan disebut sebagai the new anarchism, atau bentuk baru dari anarkisme, baik dalam hal tindakan aksi maupun pemikiran. Gerakan anti-kapitalisme dan anti-neoliberalisme yang berkembang pesat pasca 1999 digambarkan Sheehan,

Sejenis otonomi sosial-politik yang didambakan oleh gerakan antikapitalis ini berasal dari model anarkis, dan semangatnya juga semangat anarkis. Sikap non otoritariannya, ketidaksetujuannya pada parpol-parpol kiri tradisional, dan komitmennya pada aksi langsung adalah warisan langsung semangat sosialisme libertarian (hal.9).

Bagi Sheehan, anarkisme memiliki pendirian yang bersifat revolusioner dan mencita-citakan tatanan sosial baru yang dilandasi ole ide-ide sosialis-libertarian. Dalam sifat sosialis-revolusioner yang libertarian ini di dalamnya terkandung penentangan yang kuat terhadap bentuk-bentuk otoritas yang disentralkan, hirarkis, atau yang dipaksakan. Lembaga, organisasi, serta struktur pemikiran dan kesenian yang merepresentasikan bentuk-bentuk otritas seperti itu dikecam dan ditolak, karena merupakan penghambat, pengontrol dan pengekang bagi daya kreatif dan produktif manusia.

Produk-produk Budaya yang Mengkonstruksi Fobia Anarkisme

Dalam buku ini Sheehan banyak menguraikan produk-produk kebudayaan, seperti film dan novel, yang mengangkat atau menyisipkan tema-tema anarkisme dalam produk-produk tersebut. Ini mungkin salah satu yang menonjol dari buku ini, karena ia mencoba untuk menelusuri perkembangan pemikiran anarkisme lewat produk-produk kebudayaan, berbeda dengan buku-buku mengenai anarkisme yang lebih banyak menyoroti soal teori, sejarah dan aksi-praktis anarkisme.

Novel-novel dan film-film yang dirujuk oleh Sheehan memiliki tema-tema yang mempresentasikan penokohan-penokohan dalam lingkup tradisi anarkisme. Novel-novel dan film-film tersebut banyak yang memberikan citra penokohan yang stereotipe tentang kaum anarkis yang menakutkan. Film-film dan novel-novel tersebut membangun citra tradisonal tokoh anarkis yang sesisi-sebangun dengan nihilisme dan destruktif ala Dostoyevsky, sebagai “pembunuh gila bercambang”, yang akhirnya tertanam kuat.[18] Media massa dengan gampang kemudian mempersamakan “anarkisme”, “sosialisme” dan “terorisme”. Beberapa film dan novel popular membuat stereotipe anarkisme sebagai “dorongan destruktif yang irasional (hal.10-11).

Novel Joseph Conrad, The Secret Agent (1907), mengkisahkan tentang komunitas fikstif kaum anarkis di London, dengan tokoh yang digambarkan dengan “caping sombrero berlakan hitam yang dipasang miring untuk menudungi cekung dan ceruk wajahnya yang berantakan”, dan juga tokoh “seorang professor penggusar yang membawa-bawa bom dalam sakunya” (hal. 11).

Film-film di awal abad ke-20 banyak melakukan pencitraan kaum anarkis sebagai simbolisasi dari irasionalitas, dan tentu saja: Menakutkan! Misalnya film Robert Baker, The Siege of Sydney Street (1960), yang menayangkan adegan tembak-menembak antara polisi dengan perampok bank yang digambarkan sebagai anarkis. Dalam film tersebut para perampok tersebut dicitrakan memiliki motivasi politik – sekalipun tidak pernah dinyatakan sebegai anarkis – mereka digambarkan kerap nangkring di klub (café) yang disebut sebagai klub orang-orang “anarkis, atheis dan vegetarian” oleh bartender dalam sebuah adegan percakapannya dengan mata-mata polisi. Salah seorang perampok ditokohkan sebagai seorang ideolog yang tulus namun keji. Yang lainnya adalah seorang yang memiliki “kelainan” yang gemar menggunakan pisau, yang menikmati kekejaman dan agresivitas seksualnya sendiri. Demikian juga film karya Claude Charbol, Nada (1970), yang mengkisahkan penculikan duta besar AS, oleh tokoh pemberontak fanatik anarkis berbaju hitam.

Namun Sheehan juga mengulas novel fiksi ilmiah The Dispossesed (1974), karya Ursula Le Guin, yang memberikan gambaran mengenai tatanan masyarakat anarkis yang bisa berjalan, dengan berpijak pada gagasan yang diajukan Kropotkin, di mana,

[…] warga bekerja untuk saling bertukar kebutuhan hidup. Uang tidak diperlukan, dan penugasan diatur oleh sistem komputer yang menawarkan penempatan yang layak sesuai dengan latar belakang dan kemampuan pribadi. Tempat kerja dikelola secara demokratis dan tidak ada penugasan yang diwajibkan. Kuatnya kesadaran moral dan budi pekerti membuat tugas administrasi ini tak seberapa semrawut sebagaimana yang dibayangkan (Hal. 54-55).

Namun novel Ursula Le Guin belum cukup untuk menghapus mitos penokohan anarkisme sebagai “yang menyeramkan”, “irasional”, “fatalis” bahkan juga sering disamakan dengan penyakit “psikopat”. Anarkisme masih sering dilihat dengan metafora anak muda yang ugal-ugalan, sedang mencari identitas diri, dan semoga sadar dan taubat di hari tua. Ini bisa dilihat dalam film-film yang mengisahkan kehidupan Oscar Wilde, sastrawan anarkis sosialis-libertarian paling ternama.

Dalam tulisan Sheehan ini, kaum liberal mengkisahkan penangkapan Oscar Wilde, pemenjaraannya dan kisah hidupnya yang mati muda, dan ditempatkan dalam konteks kekolotan di akhir abad. Wilde ditokohkan dan sikapnya dianggap cakap, sehingga pembahasan mengenai sikap pembangkang dan anti-subordinasinya diletakkan sebagai suatu yang naïf, tidak matang, ke-kanak-kanakan. Serupa itulah kaum anarkis digambarkan, yakni anak muda pemberontak, pembangkang, yang setelah nantinya memperoleh banyak pengalaman dan kedewasaan akan melihat betapa urakan idealisme masa muda mereka, dan akan kembali menjadi “seperti orang-orang yang lain” (hal.34).

Sekalipun gambaran tersebut bertolak belakang dengan pemikiran Oscar Wilde, yang meyakini bahwa setiap daratan yang ada di semua peta adalah “wilayah tanpa pemerintah dan tanpa kepemilikan pribadi”. Wilde mengagungkan klaim-klaim sosialisme yang dirajut dengan semangat kebebasan individu, yakni pembebasan setiap pribadi dalam masyarakat sosialis yang memberikan kemerdekan bagi setiap individu.

Dalam konstruksi produk kebudayaan yang didominasi oleh sikap fobia anarkisme inilah, gagasan anarkisme bertumbuh-kembang di abad duapuluh. Produk-produk kebudayaan fobia-anarkisme inilah yang tetap memberikan ruang pemaknaan yang menakutkan sekaligus menjijikan terhadap anarkisme, yang dalam masyarakat secara umum tetap dimaknai sebagai suatu bentuk destruktif dan merusak, chaos, anti-aturan, anti-negara, dan anti pada semua yang teratur dan diatur.

Keterlibatan Marx dan Nietzsche

Anarkis komunis menyandarkan teori dan praktik politiknya pada pikiran-pikiran Marx dalam analisis dan gagasan perjuangan mereka, yang kemudian juga mempengaruhi pemikiran para anarkis-baru (new anarchism) yang muncul. Sebagaimana banyak pemikir dan teoretisi postmodernist yang juga tetap memijakkan basis analitiknya pada filsafat Marxisme, kaum anarkis-baru ini juga melakukan “pembacaan” sendiri terhadap pemikiran Marx. Pembacaan tersebut diterapkan pada cara melihat kapitalisme dalam aras baru neoliberalisme, dan sikap-sikap baru dalam menghadapainya.

Sheehan menguraikan, dalam inti pemikiran anarkisme ada keyakinan bahwa rakyat harus menentukan masa depannya sendiri berdasarkan kebebasan, martabat dan kreativitas mereka, hidup dan bekerja dalam sistem ekonomi yang memungkinkan mereka sedapat mungkin mengatur nasibnya sendiri. Neoliberalisme dinilai sebagai ancaman terhadap keyakinan tersebut, karena melakukan banyak reduksi terhadap wilayah kehidupan menjadi hanya sekedar serangkaian transaksi pasar yang berlaku universal. Hampir semua memiliki harga, namun hanya sedikit yang memiliki nilai. Penolakan anarkisme terhadap sistem ekonomi dan tata-etika tersebut memiliki akar filosofis yang merujuk pada pemikiran Karl Marx. Anarkisme sejalan dengan Marx dalam keyakinan revolusioner yang dinamis, pada kekuatan yang datang dari sifat dasar sejarah. Kesadaran bahwa realitas adalah apa yang dibuat manusia, dan realitas baru selalu berproses, menjadi dasar ontologi sosial yang kuat.

Menurut Sheehan, dalam diri Nietzsche para anarkis individualis menemukan sandaran pemikiran dan praktik politiknya. Banyak anarkis individualis sepakat dengan Nietzsche yang mengecam mentalitas kawanan dan rasa takut terhadap kehidupan yang dapat menggerogoti dan menyedot kapasitas seseorang untuk hidup sepenuh-penuhnya (Hal.82).  Kritik Nietzsche ditujukan pada konsekuensi psikologis tatanan sosial yang berkeras mengubah konsep-konsep bikinan manusia menjadi kebenaran abadi, seperti pemujaan terhadap dewa-dewa dan penyakiut psikologis, sebagai penyakit masyarakat modern. Dalam pandangan Nietzsche ini karena manusia selalu membutuhkan seperangkat kepercayaan untuk menenangkan arus kehidupan yang semrawut dan tanpa maknan supaya dapat membuat hidup menjadi lebih mudah untuk ditanggung. Penyakit modern ini yang ditentang Nietzsche.

Menurut Sheehan, baik Marx maupun Nietzsche, memberikan sumbangan besar bagi pemikiran teoritik mapun praktik Anarkisme. Kritik Marx adalah bahwa konsekuensi sosial tatanan ekonomi kapitalisme adalah mengalienasi sebagian besar orang yang memproduksi barang-barang yang tidak bisa mereka kontrol sendiri, sehjingga kesadaran mengalami reifikasi nilai material, sebuah ideologi yang memungkinkan kekuatan-kekuatan pasar bekerja seakan-akan alami dan abadi, dan juga fetisisme komoditi, yang unjungnya membuat orang menjadi tidak bahagia. Kritik Nietzsche ditujukan pada konsekuensi psikologis tatanan sosial yang berkeras mengubah konsep-konsep yang semata buatan manusia menjadi kebenaran abadi, seperti bentuk pemujuaan dewa-dewa dan penyakit psikologis. Jadi subyek bukanlah, melainkan kemenjadian yang kreatif, perpaduan dorongan yang dipicu oleh kehendak. Kedua pemikir inilah yang kemudian mempertegas posisi anarkis komunis dan anarkis individualis.

Terlepas dari perbedaan filosofis di antara keduanya, namun Sheehan tetap menilai keduanya memberikan sumbangan besar bagi integritas anarkisme dengan caranya sendiri-sendiri. Ontologi Marx dan analisanya mengenai kapitalisme menjadi inti anarkisme komunis. Kaum anarkis, sebagaimana juga Marx, tidak pernah mengangap bahwa komunisme itu adalah suatu utopia, keduanya sepakat pada hipotesa bahwa setelah terbentuknya masyarakat komunis, barulah sejarah umat manusia dimulai, sejarah di mana manusia mengarahkan masyarakatnya sendiri (Hal. 85). Meskipun demikian, kaum anarkis komunis tetap tidak sejalan dengan ide-ide Marxis soal partai dan negara.

Kritik Nietzsche pada psikologi kepatuhan, sikapnya yang meng-iya-kan hidup dan menonjolkan diri kreatif, serta kecamannya pada gagasan soal kebenaran dan nalar dengan mengorbankan sejarah dan “ada”, diterima sepenuhnya dalam semangat anarkisme individualis (Hal. 85-86). Namun di satu sisi, kaum anarkis individualis juga mengambil jarak dengan aspek-aspek pemikiran Nietzsche yang tidak sejalan dengan sosialisme libertarian.

Gerakan Anarkis Anti-Kapitalisme

Dalam pandangan Sheehan, merupakan suatu kesalahan besar jika semata-mata menilai bahwa anarkisme tidak percaya pada pemerintahan. Menurut Sheehan yang dipersoalkan banyak kaum anarkis adalah sifat pemerintahan. Sheehan juga menambahkan bahwa suatu kesalahan besar jika menilai bahwa kaum anarkis menentang organisasi partai. Dalam buku ini Sheehan menguraikan contoh gerakana anarkis di Spanyol pada tahun 1930-an yang menurutnya tidak akan mungkin berlangsung tanpa adanya partai anarkis yang terorganisir dalam serikat-serikat buruh dengan skala massal, yang didukung oleh gerak roda administrasi.

Salah satu contoh lain yang diajukan Sheehan adalah gerakan anti-kapitalis. Menurut Sheehan, gerakan anti-kapitalis bukanlah partai dalam pengertian yang tradisional, tetapi mewakili suatu bentuk organisasi non-hirarkis yang dapat menjalin hubungan-hubungan dengan berbagai gerakan buruh dan terus memperbaharui diri untuk perjuangan di masa-masa mendatang. Gerakan anarkis anti-kapitalis inilah yang menjadi fokus pokok buku Sheehan ini dalam melihat gerakan anarkisme, khususnya di penghujung abad dua puluh dan terus-menerus berlangsung sampai hari ini.

Gerakan anti-kapitalisme ini merupakan salah satu bentuk baru gerakan anarkis yang muncul secara mengejutkan, dan menghentakkan para pemilik modal dan pemimpin-pemimpin negara-negara industri garda depan yang tergabung dalam negara-negara G-7.

Jauh sebelumnya pada tanggal 1 Januari 1994, perlawanan terhadap globalisasi neoliberal sudah dilakukan sejumlah petani di Chiapas, Meksiko, yang menyebut diri mereka kelompok Ejértico Zapatista de Liberación Nacional (EZLN atau Tentara Pembebasan Nasional Zapatista), yang mengangkat senjata melawan pemerintah Meksiko, dan dengan singkat menduduki enam kota di Chiapas bagian Tengah dan Timur, mencela sejarah panjang diskriminasi dan eksploitasi terhadap mereka oleh elit-elit lokal dan nasional, dengan mengajukan program mereka dalam sebelas tuntutan yakni: pekerjaan, tanah, perumahan, makanan, perawatan kesehatan, pendidikan, kemerdekaan, kebebasan, demokrasi, keadilan dan perdamaian.[19]

Pemberontakan tersebut pertama kalinya direpesentasikan sebagai sebuah bentuk agasan perlawanan terhadap tekanan-tekanan dari neoliberal atau ekonomi “pasar bebas”. Secara waktu, pemberontakan tersebut bertepatan waktunya dengan dimulainya NAFTA (North American Free Trade Agreement), para pemberontak Zapatista memperlihatkan fakta bahwa mayoritas pedesaan miskin di Meksiko tidak sesuai dengan model neoliberal. Pemberontakan mereka juga memberikan harapan baru bagi banyak gerakan sosial di mesa depan dalam perjuangan anti-kapitalisme di Meksiko maupun di level internasional. Terlebih lagi, kaum Zapatista telah melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang mengenai masa depan masyarakat pribumi (indigeneous people) di hadapan globalisasi ekonomi dan budaya.[20]

Sheehan menilai EZLN berhasil merumuskan agenda revolusioner gaya baru, di mana Zapatista menyatalkan bahwa mereka tidak berniat merebut kekuasaan, melainkan demokrasi partisipatif yang memungkinkan warganegara menetang tatanan ekonomi yang berlaku, di mana masyarakat adat Chiapas mengalami penderitaan akibat kebijakan neoliberal pemerintah pusat Meksiko (Hal. 129).

Secara politik, EZLN mengorganisir dan mendorong program reforma agrarian radikal, memperluas konstituen, dan berkeras untuk menerapkan bentuk pemerintahan desentralis. Mereka menggalang dan mengorganisir dukungan internasional lewat koneksi jaringan internet, yang kemudian menghasilkan dukungan yang luarbiasa. Hasil dukungan tersebut diujudkan EZLN dengan menyelenggarakan Pertemuan Internasional Demi Kemanusiaan dan Melawan Neoliberalisme pada Agustus 1996. Acara ini dihadiri oleh 3.000 delegasi dari setidaknya 50 negara dan melahirkan gerakan anti-kapitalis global (Hal.130).

Sheehan menilai bahwa EZLN merupakan salah satu bentuk pengorganisasian dengan cara anarkis yang menjadi salah satu pioneer gerakan anarkisme akhir abad dua puluh. Dalam pandangan Sheehan pengorganisasian kekuasaan merupakan bagian dari inti proyek anarkisme, karena kekuasaan tersebut adalah, sebagaimana Nietzsche, dorongan manusiawi, maka anarkisme menempatkannya secara tersebar lewat desentralisasi.

Sheehan dengan optimis meyakini bahwa gerakan-gerakan anarkis anti-kapitalis ini akan sangat sulit untuk dihentikan dan dipadamkan, sekalipun infiltrasi dan pengintaian polisi akan semakin meningkat dalam hal menahan laju melebar dan meluasnya gerakan anti-kapitalis ini. Menurut optimisme Sheehan, kekuataan dan kekuasaan gerakan-gerakan anti-kapitalis tersebut tak akan mudah dilumpuhkan, justru karena sifatnya yang anarkis tersebut.

New Anarchism Dalam Pusaran Arus Gerakan Perjuangan Demokratik Baru

Of course, it is those Anarchists – whom the would-be Socialists hate so much for not having followed them in the middle-class ‘evolution’; of course, it is those blessed Anarchists who have their hand in these movements, and go to prison like Bortoni in Geneva and scores of our brothers in France and Spain. Yes, it is true they have a hand in these movements, and 8,000 workers on strike in Madrid shouted, the other day: Long live Anarchism! This is true. But they are proud to see that the workers trust them more than they trust their gloved ‘representatives’”.

(Peter Kropotkin)

Bagaimana kita melihat dan memaknai gerakan neo-anarkisme ini? Apakah itu merupakan gerakan sosial baru atau yang dikenal secara luas dengan new social movement?

Alain Touraine melihat gerakan sosial dalam konteks “gerakan sosial baru” (new social movement). Gagasan Touraine mengenai gerakan sosial sebagai kombinasi dari prinsip identitas, prinsip oposisi dan prinsip totalitas, di mana aktor-aktor sosial mengidentifikasikan diri mereka dan lawan mereka secara sosial, dan pada tingkatan-tingkatan dalam sebuah konflik. Gerakan sosial baru muncul dalam konteks adanya core konflik baru dalam masyarakat post-industri kontemporer. Bagi Touraine kombinasi tersebut, atau pun juga proses “formasi identitas”, dapat dideteksi pada setiap aspek dari perilaku sosial. Tetapi, gerakan sosial harus dibedakan sejauh isunya mencapai tingkat tertentu, yang secara historis dapat dirujuk lebih dari sekedar “keputusan-keputusan institusional atau norma-norma organisasional” yang ada dalam masyarakat.[21] Touraine mengindentifikasi keterkaitan gerakan sosial dengan adanya konflik dominan yang sudah ada dalam masyarakat. Menurut Touraine, gerakan sosial merupakan “perilaku/tindakan kolektif yang terorganisir dari aktor berbasiskan kelas yang berjuang melawan kelas yang menjadi lawan (musuh) dalam untuk mengambil kontrol sosial secara historis dalam sebuah komunitas yang konkret”. Historisitas yang dimaksud Touraine adalah keseluruhan sistem pemaknaan (system of meaning) yang menciptakan aturan-aturan dominan dalam sebuah masyarakat yang sudah terbentuk.[22] Dalam argumentasi Touraine, gerakan sosial merupakan,

the action, both culturally oriented and socially conflictual, of a social class defined by its position of domination or dependency in the mode of appropriation of historicity, of the cultural models of investment, knowledge and morality, toward which the social movement itself is oriented.[23]

Gerakan anarkisme berada dalam sistem pemaknaan di mana otoritas sentral yang dikelola oleh negara dianggap sebagai suatu yang “semestinya begitu adanya”. Dalam sistem pemaknaan seperti tersebut, kaum anarkis memaknai kebebasan individu sebagai suatu hal yang mutlak, dan menolak adanya otoritas terpusat yang mengatur dan membatasi kebebasan individu. Ideologi anarkisme menempatkan sistem yang memberlakukan bentuk otoritas represif atas individu tersebut sebagai lawan/musuh, baik dalam sistem kapitalisme-liberal maupun dalam sistem sosialis. Otoritas sentral merupakan tata-aturan dominan yang terbentuk dalam masyarakat yang harus dibongkar. Cara pandang seperti inilah yang kemudian secara terburu-buru dan dangkal dimaknai sebagai suatu bentuk cara berpikir anti-keteraturan (disorder).

Keteraturan (order) bukan dibuat dari luar individu atau masyarakat, tetapi dibuat oleh dan untuk masyarakat itu sendiri. Intervensi dari luar masyarakat, atas nama keteraturan, merupakan bentuk represif yang ditentang oleh kaum anarkis. Termasuk kritik keras Bakunin dan Kropotkin terhadap pemerintahan diktatur proletariat Uni Sovyet, yang bagi mereka justru menjadi “bahaya birokrasi merah” bagi kaum proletar itu sendiri.

Gerakan-gerakan yang ditulis Sheehan dalam bukunya ini merupakan suatu bentuk yang baru dalam gerakan sosial di awal abad 21. Sekalipun gerakan anarkis pernah berjaya di Spanyol maupun pola-polanya yang mempengaruhi revolusi Mei 1968 di Perancis, namun setelah itu tenggelam di bawah bangkitnya kembali gerakan-gerakan sosial lain seperti: gerakan buruh dan gerakan petani, atau gerakan-gerakan yang baru bangkit di akhir abad 20 seperti: gerakan perempuan, gerakan masyarakat adat, gerakan kaum minoritas atau gerakan kaum minoritas secara seksual (lesbian dan homoseksual), gerakan-gerakan berbasis populisme, dan lainnya.

Model gerakan-gerakan ini yang menjadi basis analisa Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe yang menggambarkan gerakan-gerakan tersebut sebagai “revolusi era kini”. Sekalipun Laclau dan Mouffe tidak pernah secara khusus menulis mengenai gerakan kaum anarkis, namun menarik untuk melihat gerakan ini dalam cara pandang yang mereka kembangkan.

Dalam buku mereka Hegemony and Socialist Strategy, Laclau dan Mouffe berusaha untuk menjelaskan kritis teoritis dan politis dari Marxisme, pembuktiannya bukan hanya kegagalan proyek Marxis-Leninis, tetapi juga kondisi sosial yang konkret dari menyusutnya kelas pekerja dalam masyarakat pasca-industri, dan fragmentasi dari domain politik dan bengkitnya “gerakan sosial baru”.[24] Dalam argumen Laclau dan Mouffe bahwa potensi radikalsime politik yang dikandung dalam Marxisme menjadi lemah dikarenakan oleh esensialisme kelas, reduksioninsme ekonomi dan keyakinan buta terhadap rasionalitas ilmu dan premis dialektika, yang semuanya ada di dalam Marxisme.

Dalam bagian pendahuluan buku Hegemony and Socialist Strategy edisi kedua (2001), Laclau dan Mouffe memberikan gambaran bahwa karya mereka tersebut merupakan “a critique and a deconstruction of the various discursive surfaces of classical Marxism”.[25] Dalam argumentasi mereka, teori Marxisme klasik tidak mampu memprediksikan, atau menghitung atau penjelasan yang kompeten terhadap perilaku dari perjuangan politik, juga sosial-politik atau kelas-kelas ekonomi, di mana kegagalan tersebut semakin terlihat pada abad 19 dan 20, yang menyebabkan terjadinya krisis dalam Marxisme itu sendiri.

Laclau dan Mouffe memulai analisisnya dengan mengidentifikasi antagonisme, antara klaim Marxisme mengenai dunia sosial-politis pada satu sisi, dengan “realitas” atau pada sisi lain perkembangan masyarakat yang secara aktual yang dapat diobservasi.[26] Marxisme menempatkan antagonisme yang bermuara pada kontradiksi kelas, sementara bagi Laclau dan Mouffe antagonisme adalah,

a relation wherein the limits of every objectivity are shown – antagonism, as a witness of the impossibility of a final suture, is the ‘experience’ of the limits of the social.[27]

Jadi bagi mereka, antagonisme bukanlah sesuatu yang internal dalam masyarakat, melainkan eksternal, atau dengan kata lain antagonisme menciptakan keterbatasan dari masyarakat.

Dekonstruski lain terhadap pemikiran Marxisme klasik adalah soal hubungan basis/superstruktur. Menurut Marxisme klasik hubungan ini dapat berjalan dengan sukses jika berbasikan pada “kesadaran palsu” (false consciousness) atau ideologi. “Kesadaran palsu” adalah segala hal yang menghalangi “massa” dalam menemukan kebenaran dari situasi mereka, yaitu: setiap hal yang mem-blokade pengetahuan mereka mengani fakta bahwa mereka dieksploitasi, di mana hasil kerja mereka (profit, surplus value) terus menerus dihisap (tanpa adanya legitimasi kebenaran) dari kerja mereka (alienasi).

Menurut Laclau dan Mouffe, argumen basis/superstruktur Marxisme menjadi lemah karena terjebak dalam esensialisme.  Esensialisme ini dapat dilihat dari bentuk kepercayaan dalam kepastian identitas secara simplifikasi dari konsep-kosenp seperti “individual”, “class”, dan “society”. Dengan menolak model berpikir seperti itu yang menempatkan “individu” menjadi bagian/anggota dari “class”, dan “class” itu sendiri merupakan bagian koheren dari “society”, Laclau dan Mouffe justru mempertanyakan apakah “individual” itu? Apakah “class” itu? Dan apakah “society” itu? Mereka menempatkan konsep-konsep tersebut dalam sebuah pembacaan dekonstruktif, dengan menyelidiki hubungan antara concept (misalnya konsep tentang working class) dan referent (misalnya konsep atau penanda dari “working class subject” akan dilekatkan secara pasti terhadap seseorang yang secara spesifik merepresentasikan “the working class”).

Esensialisme ini yang ditolak oleh Laclau dan Mouffe. Menurut mereka memang benar dalam kurun waktu kehidupan sejumlah orang tertentu, mereka mengisi (occupied) apa yang disebut working class subject position, di mana orang-orang tersebut yang pada waktu tertentu dikualifikasi sebagai “working class”, pada lain waktu akan mengisi “subject position” yang justru bertentangan, yang artinya tidak ada sesorangpun yang secara konsisten dapat menjadi “working class subject”. Menurut mereka esensialisme referensial inilah yang membuat Marxisme membingungkan secara teoritis.[28] Karena itu Laclau dan Mouffe berargumen bahwa identitas dari seluruh elemen-elemen ideologis dan agen-agen sosial adalah bersifat contingent dan negotiable. Ini dikarenakan contingency dan keterbukaan setiap hubungan sosial, di mana praktik artikulasi dan keagenan politik selalu dimungkinkan (possible).

Karena itu secara umum model perjuangan baru dan antagonisme-antagonisme baru ini di satu titik bersinggungan dengan momen anarkisme dalam era politik kontemporer, sebagaimana argumen Laclau dan Mouffe, “gerakan sosial baru” ini lebih berjuang untuk melawan dominasi ketimbang eksploitasi ekonomi.[29] Namun bukan berarti argumen Laclau dan Mouffe tidak memberikan penentangan terhadap ekploitasi kapitalisme, namun bagi mereka ekploitasi ekonomi lebih dilihat sebagai sebuah aspek dari problem dominasi yang lebih besar. Secara khusus, perubahan mengenai negara dalam limapuluh tahun terakhir atau lebih – dari model negara kesejahteraan dengan meningkatnya birokratisasi, sampai kepada privatisasi ala negara neoliberal – telah menciptakan hubungan-hubungan baru dalam subordinasi, dominasi dan pengawasan, sebagaimana juga hal yang sama pada bentuk-bentuk perlawanan: “In all the domains in which the state intervened, a politicisation of social relations is at the base of numerous antagonisms”.[30] Bisa disebutkan dengan kata lain bahwa perjuangan mereka melawan bentuk-bentuk tertentu dari kekuasaan negara dan hubungan-hubungan dominasi didorong oleh hal tersebut. Pada titik ini watak anti-otoriterianisme dan anti-negara dari mereka bertemu dengan prinsip-prinsip anarkisme. Artinya analisis yang digunakan Laclau dan Mouffe bisa membantu dalam memberikan analisa muncul dan berkembangnya gerakan anarkisme baru di penghujung abad dua puluh, dan strategi politik yang dilakukan untuk membangun diskursus hegemonik dalam gerakan anti-globalisasi neoliberalisme.

Penutup

Buku Sheehan bagaimanapun juga memberikan semacam wawasan baru mengenai anarkisme, baik dalam hal pemikiran, tradisi filsafat sampai dengan aksi politik, terutama yang secara kental mewarnai berbagai gerakan sosial menentang globalisasi dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. Sheehan dengan cukup baik dan gamblang, dengan bahasa yang mudah dipahami dengan penerjemahan yang sangat baik, memberikan kita suatu pemahaman yang agak menjernihkan seputar kontroversi pemikiran anarkisme, yang lebih sering dijadikan sebagai bentuk buruk dan sesuatu yang salah. Ketimpangan informasi dan pengetahuan yang berkembang menjadikan pemikrian anarkisme menjadi sosok yang menakutkan, ketimbang suatu pemahaman mengenai prinsip-prinsip pembebasan, kemerdekaan, dan kebebasaan.

Dalam buku Ben Anderson yang berjudul Under Three Flags (2005),[31] digambarkan bagaimana pemikiran anarkisme memberikan pengaruh yang luar biasa dalam gerakan kemerdekaan melawan kolonialisme di Philipina, dengan sosok Jose Rizal, pahlawan terbesar Filipina, sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam gerakan anti-kolonialisme, mendapat banyak pengaruh dari pemikiran anarkisme. Ini memberikan gambaran bahwa gerakan-gerakan anarkisme juga memiliki pangaruh dan tujuan-tujuan yang beriringan dengan gerakan-gerakan lain seperti gerakan pembebasan nasional, gerakan perempuan, dan gerakan-gerakan sosial lainnya, dan bukan semata-mata suatu bentuk pemikiran dan tindak destruktif sebagaimana yang banyak dipahami oleh para politisi, akademisi dan masyarakat banyak.

Depok, 25 Desember 2006

Catatan


[1] Beberapa nama lain tokoh gerakan Anarkisme juga diulas pemikirannya oleh Sheehan seperti Emma Goldman, Errico Matalesta, Murray Bookchin, Alexander Breckman, Oscar Wilde, dll.

[2] Noam Chomsky, “Introduction”. Kata Pendahuluan untuk buku Daniel Guérin, Anarchism From Theory to Practice (London: Monthly Review Press, 1970), hal. vii.

[3] Konsepsi Rudolf Rocker yang dirujuk oleh Noam Chomsky, ibid.

[4] Emma Goldman, Anarchism and Other Essays (New York: Dover Publications Inc.1963), hal. 63.

[5] Mikhail A. Bakunin, “The Paris Commune and the Idea of the State” dalam Sam Dolgoff (Ed), Bakunin on Anarchism (New York: Black Rose Books, 2002)

[6] Karl Marx, “Critique of the Gotha Program”, dalam Robert C. Tucker (Ed.), The Marx-Engels Reader (2nd. Ed.) (W.W Norton & Co: New York, 1978), hal. 538.

[7] Karl Marx, “After the Revolution: Marx Debates Bakunin”, dalam Robert C. Tucker (Ed.), ibid., hal. 545, 542-548.

[8] Mikhail Bakunin, Marxism, Freedom and the State (Freedom Press: London, 1950), hal. 49.

[9] Peter Kropotkin, “Letter to Lenin on 4 March 1920”, diambil dari situs Anarchist Archives di http://dwardmac.pitzer.edu/Anarchist_Archives/kropotkin/kropotlenindec203.html

[10] Mikhail Bakunin, Political Philosophy: Scientific Anarchism (Ed. G.P Maximoff) (London: Free Press of Glencoe, 1984), hal. 228.

[11] Daniel Guerin, op.cit., hal. 27.

[12] Ibid., hal. 28.

[13] Ibid., hal. 29.

[14] Ibid., hal. 29-30. Stirner menyebutkan, “society uses you, but you use association”.

[15] Mikhail Bakunin, “The Paris Commune and the Idea of the State” dalam Sam Goldoff, op.cit.

[16] David Graeber, “The New Anarchists” dalam New Left Review No.13, January-February 2002, hal. 64.

[17] Ibid., hal. 70.

[18] Penciptaan citra stereotipe ini menurut Seehan diciptakan atas dasar tindakan aksi-aksi pembunuhan di akhir abad ke-19 yang diilhami oleh Anarkisme, dengan korban-korban seperti Tsar Alexander II, Presiden Perancis Carnot, dan Presiden AS McKinley. Lihat Seehan hal. 10.

[19] Neil Harvey and Chris Halverson, “The Secret and the Promise: Women’s Struggles in Chiapas”, dalam David Howarth, Alleta. J. Norval and Yannis Stavrakakis, Discourse Theory and Political Analysis: Identities, Hegemonies and Social Change (Manchester: Manchester University Press, 2000), hal.151.

[20] R. Burbach, “Roots of Postmodern Rebellion in Chiapas”, dalam New Left Review, No.205 (1994), hal.113-124.

[21] Alain Touraine, The Voice and the Eye: An Analysis of Social Movements (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), hal. 81.

[22] Ibid., hal. 77-81.

[23] Alain Touraine, Return of the Actor: Social Theory in Postindustrial Society. (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1988), hal. 68.

[24] Laclau dan Mouffe lebih suka menyebutnya dengan “perjuangan demokratik baru” (new democratic struggle) ketimbang “gerakan sosial baru” (new social movement). Lihat Chantal Mouffe, “Hegemony and New Political Subjects: Toward A New Concept of Democracy” dalam Kate Nash (Ed), Readings in Contemporary Political Sociology. Oxford: Blackwell, 2000, hlm. 295. Mouffe mencontohkan gerakan-gerakan yang mengedepankan issu-issu seperti: ekologi, anti-nuklir dan gerakan anti-birokrasi. Laclau dan Mouffe  bahkan menilai istilah “new social movement” sebagai “the unsatisfactory term ‘new social movement’”, lihat Laclau dan Mouffe, Hegemony and Socialist Strategy: Towards A Radical Democratic Politics (London: Verso, 2001, 2nd Edition), hal. 159.

[25] Ernesto Laclau and Chantal Mouffe, Ibid., hal. 3. Dalam buku edisi kedua ini Laclau dan Mouffe mengajukan sejumlah argumentasi-argumentasi pokok mengenai pemikiran utama buku tersebut, sekaligus memberikan sejumlah jawaban atas kritik dan perdebatan terhadap cetakan edisi pertamanya.

[26] Ibid., hal. 122.

[27] Ibid., hal. 125.

[28] Ibid., hal. 119.

[29] Ibid., hal. 160.

[30] Ibid., hal. 162.

[31] Benedict Anderson, Under Three Flags: Anarchism and The Anti-Colonial Imagination (London: Verso, 2005). Buku ini juga akan diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s