Kejahatan Asian Agri

asian-agri-hormati-proses-peradilan-sengketa-pajak-lUD

Kasus dugaan penggelapan pajak dan pencucian uang PT Asian Agri Group menghebohkan negeri ini. Sekiranya dugaan ini terbukti secara hukum, maka inilah kasus penggelapan pajak terbesar dalam sejarah republik. Bisa jadi banyak kasus serupa yang nilai kerugiannya lebih besar, namun kasus inilah yang sampai ke meja hijau.

Asian Agri Group merupakan usaha milik Sukanto Tanoto yang pernah menyandang gelar orang terkaya Indonesia 2006 versi majalah Forbes. Dugaan penggelapan pajak – kemudian bertambah menjadi dugaan pencuian uang – pertama kali diendus oleh investigasi majalah Tempo, dan didukung oleh pengakuan Vincentius Amin Sutanto, mantan pegawai Asian Agri, atas dugaan pengelapan pajak. Sayangnya kepolisian justru menangkap Vincent, atas tuduhan penggelapan uang, namun tidak memeriksa Asian Agri.

Yang menggelikan, untuk menghadapi sorotan publik, Asian Agri Group membayar dua lembaga riset yakni Jurusan Komunikasi UGM dan P3-ISIP UI untuk melakukan riset mengenai tendensius dan tidak profesionalnya pemberitaan Tempo. Hasil riset ini dipresentasikan di sebuah diskusi publik di Jakarta pada 18 Desember 2007. Belakangan pihak UGM menyatakan akan menelusuri persoalan ini, dan pihak UI membantah bahwa  P3-ISIP UI merupakan lembaga penelitian di bawah naungan UI. Sayangnya belum terdengar tindak lanjut upaya hukum dari UI untuk mengajukan tuntuan atas penggunaan nama dan lambang UI pada acara tersebut.

Untungnya, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak menanggapi kasus ini dan membentuk tim investigasi khusus. Ditjen Pajak mengumumkan bahwa dari hasil penyelidikan sementara penyidikan kasus ini, Asian Agri telah menggelapkan pajak sekitar Rp1,3 triliun, dan kemungkinan masih bisa bertambah!

Dari kasus ini kita dipampangkan secara jelas betapa etika usaha bisnis dan etika akademis diinjak-injak. Bahayanya, perilaku Asian Agri semakin membuat publik yakin bahwa dunia usaha tidak lebih dari sekumpulan rompak yang berusaha sedapat mungkin untuk menghindari kewajibannya – salah satunya – membayar pajak. Sinisme terhadap sektor privat mendapatkan pijakannya. Perilaku biadab pelaku usaha seperti itu sama berbahanya dengan suatu pemerintahan diktator. Bagi suatu pemerintahan demokratis, maka perilaku seperti itu harus diberantas dan dikikis habis. Hanya pada negara-negara lemah dan tak punya wibawa saja tindakan seperti itu bisa lolos dan melenggang. Di sini kita bisa melihat apakah lembaga peradilan kita sama jahatnya dengan para  rompak berkedok pelaku usaha. Saat ini, di dalam genggaman sistem peradilan kepercayaan terhadap sektor privat dipertaruhkan.

Di sisi lain, tamparan keras mendarat di wajah dunia akademik kita. Kampus yang memiliki tradisi dan reputasi ilmiah pun jadi tak beda seperti pembunuh bayaran. Yang dibunuhnya adalah etika, paradigma dan nilai-nilai keilmuan. Gerard Delanty dalam artikelnya “The Sociology of the University and Higher Education: The Consequences of Globalization” (2005) menulis bahwa “the university can be seen as the paradigmatic institution of the public sphere”. Bagi Delanty hampir di manapun universitas dipahami sebagai institusi yang memiliki misi publik. Universitas menyediakan pendidikan yang menyiapkan warganegara untuk menempati profesi pelayanan publik, atau sekurangnya secara prinsipil dibutuhkan publik untuk pengembangan ekonomi atau tujuan-tujuan lainnya yang bersifat kepentingan publik. Juga secara langsung menginformasikan ruang publik sekaligus menyiapkan warga untuk berpartisipasi di dalamnya. Sementara apa yang dilakukan para akademisi yang dibayar oleh Asian Agri adalah mencoba memanipulasi publik, bukannya menelanjangi kejahatan yang merugikan negara, malah menutupinya dengan klaim “riset akademik”.

Yang sekarang menjadi penting adalah mendukung sepenuhnya kerja-kerja Ditjen Pajak untuk membongkar dugaan penggelapan pajak Asian Agri dan  mengawasi lembaga peradilan yang sedang menyidangkan kasus ini. Kalau kasus ini sampai lolos dari jerat hukum, itu artinya penyelenggaraan negara, dunia akademik kita dan utamanya peradaban kita, terancam bahaya besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s