Modal Sosial dan Politik Bakal Calon Presiden 2009-2014

04072014stumpspeechpost

Maraknya iklan Ketua PAN Soetrisno Bachir, bisa dibaca sebagai penanda dimulainya proyek politik untuk pencalonan presiden. Meskipun iklan tersebut tidak secara terang-terangan menyatakan pencalonan dirinya sebagai presiden, namun diskursus politik Indonesia menjelang pemilu menjadi penanda referensial bagi setiap tindakan yang secara konsisten tampil di media massa untuk menonjolkan diri. Langkah Soetrisno Bachir ini kemudian diikuti oleh sejumlah orang lainnya, seperti Wiranto, Prabowo, dan paling mutakhir, Rizal Mallarangeng. Bahkan tiga nama terakhir lebih eksplisit menyatakan pencalonan dirinya sebagai presiden.

Fenomena kandidat presiden AS dari Partai Demokrat, Barack Obama, yang dengan sangat intensif menggunakan media massa (cetak, radio dan televisi) dan internet (salah satunya lewat situs Facebook) sebagai medium kampanye pencalonan dirinya, dijadikan inspirasi oleh sejumlah bakal-calon presiden di Indonesia. Rizal Mallarangeng adalah salah satu yang menyebutkan bahwa dirinya terinspirasi metode kampanye ala Obama. Di sini, kekuatan media diyakini menjadi salah satu modal utama untuk menciptakan pencitraan diri ke hadapan publik, setidaknya pencitraan kelayakan diri sebagai presiden.

Secara obyektif, ada perbedaan mendasar antara fenomena Obama dengan politik pilpres di Indonesia. Obama merupakan kandidat dari Partai Demokrat, yang notabene adalah satu dari dua partai yang mengikuti pemilihan presiden, selain Partai Republik. Calon independen di luar dua partai tersebut terbukti belum pernah berbicara banyak dalam pilpres di AS. Dengan demikian, Obama bukan kandidat yang mendapat dukungan lewat media dan internet semata. Selain sebagai Senator Illinois, ia telah memenangi konvensi pemilihan calon presiden dari Partai Demokrat. Obama berpijak pada modal politik yang besar yakni dukungan partai politik, dan media internet merupakan pendukung saja. Sementara, langkah-langkah balonpres independen di Indonesia justru mengandalkan media sebagai modal yang utama, dan modal politik justru dicari belakangan.

“Modal politik yang dicari belakangan” ini merujuk pada upaya untuk mendompleng partai politik yang memiliki kekuatan cukup untuk mengajukan seorang capres. Kalau modal politik dijadikan rujukan penting dalam pilpres, maka hanya Partai Golkar, PDIP, serta kemungkinan PAN, PKB dan PKS, -yang dalam dua pemilu lalu cukup konsisten mempertahankan/menaikkan suara–  yang berpotensi mengajukan calon.

Modal politik lain yang juga bisa dijadikan rujukan adalah organisasi kemasyarakatan (Ormas). Ormas-ormas yang berpengaruh di Indonesia di antaranya adalah Nadhlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Organisasi keagamaan lainnya sampai hari ini belum sekuat dan dan memiliki pengaruh seperti NU dan Muhammadiyah. Organisasi profesi seperti petani, buruh, pengusaha, juga belum sekuat, sebesar dan sesolid kedua ormas tersebut. Sementara, di antara parpol peserta pemilu tidak sedikit yang memiliki afiliasi atau memiliki kedekatan dengan kedua ormas besar ini, misalnya PKB dan PKNU dengan NU; PAN, PMB dan PBB dengan Muhammadiyah; di samping partai lainnya seperti PPP yang juga mengharapkan dukungan anggota kedua ormas itu.

Di luar modal politik partai dan organisasi, media massa juga banyak dinilai merupakan modal untuk dapat maju menjadi calon presiden. Dalam hal ini tentu saja Barack Obama tidak bisa dirujuk, karena dia menjadi calon dari dari salah satu partai dalam sistem dwi partai Amerika Serikat yang sudah berlangsung puluhan tahun. Yang bias dirujuk misalnya kasus Italia, di mana Partai Forza Italia yang didirikan konglomerat media Silvio Berlusconi banyak dianalisis sebagai partai yang memanfaatkan kekuasaan uang dan media. Forza Italia didirikan tahun 1993, dan langsung memenangkan pemilu Italia tahun 1994, dan menghantarkan Berlusconi duduk sebagai perdana menteri.

Kemenangan Forza Italia dan Berlusconi banyak dinilai karena kekuatan uang dan media yang dikuasai Berlusconi. Dalam satu tahun Berlusconi membangun image partainya dan mengincar para pemilih moderat yang digambarkan Berlusconi sebagai “disoriented, politically orphans and which risked to be unrepresented”. Modal ekonomi merupakan modal utama Berlusconi untuk meraih kemenangan dalam pemilu, ditambah kemampuan menciptakan dan mengelola image dan mengkonstruksi image dalam masyarakat lewat kekuatan media yang dimilikinya, dan berhasil menyapu suara dari “massa mengambang” dari kalangan kelas menengah.

Kalau mengikuti model Berlusconi, di antara balonpres yang dekat dengan kekuatan media massa adalah Rizal Mallarangeng. Rizal banyak dikaitkan dengan media Metro TV dan TV One. Iklan “kampanyenya” cukup intensif muncul di berbagai stasiun televisi. Rizal dinilai mengandalkan semacam modal sosial dalam melakukan “kampanye” pencalonannya. Modal sosial dalam artian Bourdieu merupakan suatu capital of social connections, artinya “kampanye” Rizal Mallarangeng lebih dilihat karena hubungan-hubungan sosialnya dengan para pemegang modal ekonomi yang di antaranya menguasai media massa. Rizal bukan sosok yang memiliki basis kekuatan politik formal, maupun kekuatan ekonomi, melainkan lebih mengandalkan hubungan-hubungan sosial yang selama ini ia bangun.

Calon-calon presiden lain merupakan figur-figur lama dalam politik nasional, seperti Sultan Hamengkubuwono X, Akbar Tanjung, Wiranto, Sutiyoso, Prabowo dan Yusril. Selain mengandalkan modal ekonomi, sejumlah dari mereka mengandalkan juga hubungan-hubungan sosial yang mereka bangun selama menjadi pejabat publik sampai hari ini, baik dalam hal dukungan dana maupun dukungan politik.

Tiga orang balonpres yakni Wiranto, Sutiyoso dan Prabowo lebih mengedepankan simbol pengalaman ketentaraan mereka. Delusi masyarakat mengenai suatu bentuk stabilitas keamanan ala Orde Baru menjadi lahan pokok dari ketiga calon ini. Figur tentara sebagai sosok penjaga rasa aman diharapkan berkembang di dalam masyarakat, sehingga mereka memiliki peluang untuk mendapatkan suara dukungan. Wiranto malah sempat menjadi capres pada pemilu 2004 yang diajukan Partai Golkar dan kalah di putaran pertama. Sekarang ia akan maju lagi melalui Partai Hanura. Figur-figur ini masih harus diuji oleh hasil pemilu legislatif, apakah partai pendukung mereka mampu menembus batas minimum untuk dapat mengajukan capres.

Balonpres lainnya merupakan balonpres yang memiliki modal politik sebagai kekuatan utama. Mereka adalah Megawati, Jusuf Kalla dan Hidayat Nur Wahid. Megawati dan Jusuf Kalla lebih memiliki modal politik yang besar sebagai ketua dua partai politik terbesar. Di sini Megawati lebih diuntungkan secara internal dibandingkan dengan Kalla, karena Megawati merupakan figur sentral dalam PDIP, dan nyaris tidak memiliki saingan serta juga banyak diunggulkan lewat berbagai jejak pendapat (polling) dan survei. Sementara dalam Partai Golkar selain Jusuf Kalla masih terdapat sejumlah nama yang memiliki pengaruh seperti Sultan Hamengkubuwono X, Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie dan Agung Laksono. Dukungan Megawati lebih solid dibandingkan Kalla di Partai Golkar. Jusuf Kalla yang dikenal sebagai pengusaha dinilai memiliki modal ekonomi, politik dan sosial sebagai seorang balonpres, namun dengan munculnya nama-nama pesaing di dalam tubuh Partai Golkar, gerak Kalla tidak semulus Megawati.

Figur lain dalam Partai Golkar yang banyak dianggap pantas untuk dimajukan sebagai balonpres adalah Sultan HB X dan Akbar Tanjung. Sultan dianggap tokoh kharismatis dan pembaharu, sekaligus reformis. Ia juga dinilai memiliki pengalaman dalam memimpin, sebagaimana selama ini dijalani sebagai Gubernur DI Yogyakarta. Mitos kepemimpinan Sultan Yogya sudah ada semenjak Sri Sultan HB IX, yang adalah ayah dari Sultan HB X. Trah keluarga kesultanan Yogyakarta banyak dianggap memiliki kekuatan moral tertentu untuk memimpin Indonesia. Selain itu, dalam berbagai polling maupun survei, Sri Sultan mendapat poin yang cukup tinggi, bersaing dengan figur-figur yang kuat seperti SBY dan Megawati.

Hidayat Nur Wahid disokong oleh PKS yang cukup diperhitungkan dalam berbagai pilkada. Banyak yang menduga PKS akan memperoleh kenaikan suara dalam pemilu 2009 dan dianggap banyak orang membawa suatu semangat kebaruan dalam politik. Meskipun partai agama bukan suatu yang baru di Indonesia, namun PKS mengalami peningkatan perolehan suara cukup besar dalam dua pemilu sebelumnya.

Calon terakhir adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebagai incumbent SBY banyak memperoleh keuntungan, yakni modal sosial dan politik. Pengalaman merupakan modal sosial yang cukup penting, di mana hubungan-hubungan sosial banyak dibangun selama menjabat sebagai presiden. Meskipun banyak kebijakan yang ditentang, namun banyak juga kebijakan yang mendapatkan dukungan luas, terutama dalam hal pemberantasan korupsi, penyelesaian soal Aceh dan upaya membangun demokrasi dan memajukan hak asasi manusia.

Modal sosial ini yang menjadi potensi besar SBY. Modal politik SBY memang belum terlihat sekuat lainnya, di mana Partai Demokrat (PD) yang pada pemilu lalu merupakan partai pendukung SBY, tidak menunjukkan pengembangan berarti sebagai satu partai politik peserta pemilu. Perolehan suara PD pada pemilu lalu belum cukup untuk menjadi kekuatan politik signifikan untuk pemilu 2009. Namun, dukungan Partai Golkar bisa jadi modal politik besar bagi SBY. Bagaimana nanti Partai Golkar menentukan sikap bisa menjadi titik tolak peluang SBY. Pernyataan Jusuf Kalla bahwa ia siap kembali berpasangan dengan SBY – sekalipun bisa dimaknai secara berbeda – bisa menjadi kalkulasi yang penting.

Beberapa waktu ke depan nanti, mungkin akan bertambah banyak bakal calon presiden yang bermunculan. Peluang mereka bisa diukur apakah memiliki prospek atau tidak, yang bisa dibuat adalah gambarannya lewat ukuran modal sosial, politik dan ekonomi, yang kalaupun seorang calon memiliki ketiganya, belum tentu bisa memenangkan pemilihan presiden. (DGX)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s