Membaca Krisis Keuangan Global

economic-crisis-istock

Krisis keuangan global yang dipicu oleh kebangkrutan perusahan-perusahaan keuangan raksasa AS seperti Merrill Lynch dan Lehman Brothers mendorong juga terjadinya krisis ekonomi, terutama di Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Eropa. Dampaknya sedikit banyak ikut mempengaruhi bisnis dan perekonomian di Indonesia berupa anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan juga terus melemahnya nila tukar Rupiah terhadap US Dollar. BEI sendiri sempat ditutup beberapa hari untuk menghindari semakin tajamnya penurunan IHSG.

Sejumlah bank di Eropa yang ikut menanamkan investasi di dua perusahaan tersebut — terutama Lehman Brothers — mengalami kebangkrutan, sehingga beberapa di antaranya harus disuntik dana ekstra besar oleh bank-bank pemerintah. Bank of America juga dipaksa untuk mengakuisisi Merrill Lynch sebesar US$ 50 Miliar untuk mencegah krisis keuangan yang lebih besar jika Merrill Lynch bangkrut. Namun pada saat Lehman Brothers rontok, keuangan AS langsung mengalami krisis serius.

Menurut majalah Business Week, gelombang krisis keuangan global kali ini mengancam terjadinya PHK besar-besaran di AS, bahkan PHK massal bisa mengancam tiga industri otomotif terbesar di Detroit, yakni General Motors, Ford dan Chrysler, di mana terdapat 600 ribu tenaga kerja terlibat di dalamnya (Business Week No.31/Nov. 2008). Krisis ini banyak dikomentari sebagai krisis kapitalisme, atau bahkan dianggap merupakan kegagalan kapitalisme sebagai sebuah sistem. Masyarakat AS sendiri kemudian mulai gencar mendiskusikan soal sosialisme. Beberapa debat di stasiun televisi CNN mengangkat tema ini setelah hantaman krisis keuangan terjadi.

Kegagalan AS Membangun Imperium

Gejala krisis keuangan di AS ini sudah diraba James Petras semenjak tahun 1980an. Dalam bukunya yang ditulis bersama Morris Morley, Empire or Republic? (1995), Petras melihat bahwa kehadiran kapital keuangan (finance capital) yang menjadi garda depan perekonomian AS pada 1980an, telah menyebabkan terjadinya deregulasi terhadap sistem perbankan yang memfasilitasi perpindahan modal secara besar-besaran dari kegiatan produktif dan produksi barang-barang. Investasi-investasi industri banyak disubordinasikan di bawah pendanaan militer dan rejim spekulan di Amerika Latin, Leverage Buyout (LBO), dan juga bisnis real estate di dalam negeri. Lembaga-lembaga investasi keuangan tumbuh menjamur.

Perluasan kegiatan ekonomi ke seluruh penjuru dunia, lewat kegiatan kapital keuangan, serta juga dengan menciptakan perang maupun operasi militer di mana-mana, seperti menguasai Amerika Latin, Perang Teluk, Perang Irak, Afghanistan, dan lain-lain, disebut sebagai kegiatan yang dilakukan di bawah program “kepemimpinan global” untuk membuka dan menguasai ekonomi dunia. Proyek inilah yang dalam beberapa tahun terakhir ini kita kenal dengan sebagai globalisasi.

Pada dekade itu, bank bukan hanya memberikan pinjaman kepada sektor real estate sampai tiga kali lipat besarnya, melainkan juga menyediakan 50%-70% dari modal untuk membeli LBO. Menurut studi Petras, pada akhir 1988 total pinjaman bank kepada LBO diperkirakan sebesar 175-200 Miliar US$ (Petras dan Morley 1995: 27).

Menurut Petras, kegagalan pada sistem perbankan AS — termasuk kegagalan untuk dapat dengan cepat menyerap simpanan maupun pinjaman secara masif — yang menyebabkan Pemerintah AS harus membayar bailout sampai 500 Miliar US$, juga harus dilihat dalam konteks politik yang lebih luas, di mana kebijakan mengedepankan financial capital merupakan hegemoni yang tidak bisa ditandingi oleh institusi-institusi publik, yang menjadikan para “pembuat undang-undang” (regulator) sebagai instrumen untuk membantu kejahatan para bankir mencapai tujuannya.

Petras menilai bahwa baik Partai Demokrat, Partai Republik maupun Kongres, dan eksekutif, telah memainkan peran aktif dalam mempromosikan dan mendorong ekspansi kapital keuangan. Sementara itu, sejumlah akademisi dan pakar media memberikan dukungan dengan mempromosikan tibanya era bebas krisis, yakni masyarakat informasi pasca-indutri. Bisnis spekulasi keuangan kemudian dipromosikan lewat kemajuan teknologi informasi, di mana rumah-rumah dialihfungsikan menjadi perbankan, dan mem buat siapa saja bisa menjadi “usahawan” (entrepreneur). Sementara “retorika pasar-bebas” di adopsi, para “usahawan” tersebut berspekulasi dengan uang milik publik. Di sisi lain, pemerintah menjadi beking kegiatan ekonomi ini dengan cara menjamin semua simpanan atau deposit (Petras dan Morley 1995: 28-29).

Merujuk pada analisis Petras, hasrat para elit AS untuk mengubah karakter ekonomi domestik menjadi “kepemimpinan global” menjadi penyebab utama terjadinya erosi pada fondasi-fondasi domestik kekuasaan negara yang mengikis masyarakat domestik. Ideologi pasar bebas dan globalisasi yang ditebar seluas-luasnya, sehingga berlaku seperti imperium lah yang mendorong kerusakan fondasi ekonomi domestik. Bagi Petras, yang terpenting untuk AS adalah mengembalikan fungsi negara republik (bukan imperium), yang artinya harus berkonfrontasi dengan partai-partai politik besar, bank-bank, dan perusahaan-perusahaan yang telah menangguk untung besar dari upaya mengeksploitasi rakyat AS dan harta publik atas nama “kepemimpinan global”.

AS dan Kapitalisme Kasino

Analisis lain yang menarik untuk dirujuk adalah buku karya Susan Strange yang berjudul Casino Capitalism (1997). Buku yang pertama kali terbit tahun 1986 ini ditulis untuk menanggapi pandangan konvensional kaum liberal yang memaksakan kepada setiap orang — baik mahasiswa, politisi maupun jurnalis — untuk mempercayai bahwa bahaya besar bagi ekonomi dunia adalah proteksionisme. Bagi kaum liberal, kebijakan pembatasan perdagangan beggar-thy-neighbour merupakan penyebab terjadinya depresi besar tahun 1930an.

Dalam analisa Susan Strange, kesalahan manajemen dalam pengaturan keuangan dan kredit merupakan hal yang jauh lebih berbahaya ketimbang proteksionisme dalam kebijakan perdagangan. Ini yang tumbuh dan berkembang pesat di era 1970an dan 1980an, yang juga didorong oleh sejumlah implikasi politik dari perubahan besar pasar keuangan internasional, di mana banyak para pembuat-kebijakan hanya berusaha untuk mengetahui, namun sesungguhnya sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada pasar, karena negara tidak memperdulikannya (significant ignorance). Dalam pandangan Strange, bisnis keuangan dunia, terutama di AS yang dijalankan bak bermain kasino dengan cara memperdagangkan saham, investasi dan keuangan, telah melahirkan casino capitalism.

Dalam ilustrasi Strange, sistem keuangan dunia Barat berkembang pesat menyerupai sebuah kasino yang sangat besar. Setiap hari permainan berlangsung di kasino yang menyertakan sejumlah uang yang demikian besar. Pada malam harinya, permainan juga berlangsung di belahan lain muka bumi. Di gedung-gedung pencakar langit di berbagai kota-kota besar di seluruh dunia, berbagai ruangan penuh dengan anak-anak muda yang memainkan permainan ini sambil menghisap rokok. Mata mereka tertuju pada layar komputer yang menyajikan perubahan harga-harga. Mereka bermain menggunakan hubungan telepon lintas-benua atau mesin pencet elektronik. Mereka tak ubahnya para penjudi di kasino yang mengamati perputaran bola perak pada meja roulette dan memasang chips di atas warna merah atau hitam, angka ganjil atau genap.

Sebagaimana layaknya sebuah kasino, saat ini keuangan skala besar dunia menawarkan pilihan terhadap berbagai jenis permainan, seperti pasar valuta asing (foreign exchange market) dalam berbagai bentuknya, atau dalam bentuk surat hutang (bonds), surat berharga, serta saham milik pemerintah. Di semua jenis pasar ini, pemain bisa memasang taruhan untuk masa depan dengan terlebih dulu menyepakati dan membeli atau menjual berbagai pilihan dan semua kategori yang tersembunyi yang diciptakan oleh sistem keuangan. Sejumlah pemain — khususnya perbankan — bermain dengan jumlah uang yang sangat besar. Dalam kasino terdapat juga banyak operator kecil. Ada juga para pemberi petunjuk, penjual saran, penjaja sistem dan para pembujuk-rayu. Bandar yang berada di belakang meja kasino keuangan global ini adalah bankir-bankir raksasa dan para broker besar (Strange 1997: 1-2).

Kapitalisme kasino ini berkembang sedemikian pesat. Namun pemerintah AS tidak terlalu memedulikan aktivitas ekstra-teritorial dari bank-bank yang telah membawa seluruh sistem keuangan internasional lepas dari pengawasan dan regulasi. Dan itu terjadi tepat pada saat integrasi pasar keuangan bergerak ke arah yang berlawanan, sementara keseimbangan pasar dan otoritas mencoba untuk menjaga setidaknya kurang lebih sama. Di sisi lain, tren dominan dalam pembuatan kebijakan domestik AS pada masa Presiden Gerald Ford, Jimmy Carter dan Ronald Reagan mengarah pada deregulasi. Deregulasi saat itu dilakukan terhadap penerbangan (airlines), telepon dan jasa keuangan (Strange 1997: 52).

Secara umum, Strange berargumen bahwa risiko dan ketidakpastian dalam sektor/struktur keuangan telah memprovokasi terjadinya guncangan besar ekonomi pada dua dekade 70-90an. Dalam karyanya ini Strange mencoba menelusuri rincian data-data dalam analisis sejarah yang berhasil ia identifikasi. Selain itu Strange juga mengajukan argumen untuk menentang upaya memecahkan krisis ekonomi internasional yang banyak diajukan. Argumen Strange adalah Amerika Serikat harus mengambil peran utama, dan secara radikal mengusulkan bahwa regulasi keuangan terhadap agen-agen penyedia kredit tidak boleh berdasarkan yurisdiksi teritorial, melainkan pada nilai mata uang (currency) di manapun transaksi kredit berlangsung.

Analisis Strange dalam menempatkan dan memahami “keputusan-keputusan kunci” yang diambil dalam sebuah sektor/struktur kekuasaan dalam ekonomi-politik internasional, menunjukkan bagaimana aktivitas-aktivitas yang menyebabkan terjadinya guncangan tersebut menyebar dan berakibat pada struktur lain. Strange juga menyimpulkan bahwa perubahan konstitusional dan pemerintahan di AS akan menguntungkan sistem internasional. Menurut Strange, Pemerintah AS harus menghadirkan kembali stabilitas dan kepastian terhadap manajemen ekonomi domestik mereka. Sistem keuangan dunia yang tidak stabil dan tidak bisa diprediksi merupakan bagian dari akibat langsung meningkatnya instabilitas kebijakan ekonomi AS. Bagi Strange, meletakkan ekonomi AS dalam keteraturan merupakan tugas yang lebih mudah untuk diucapkan daripada dilakukan, dan memerlukan sejumlah prasyarat perubahan institusional (Strange 1997: 75).

Penutup

Analisis James Petras dan Susan Strange memberikan gambaran bahwa krisis keuangan yang terjadi hari-hari ini merupakan akibat dari kebijakan ekonomi dan politik AS semenjak tiga puluhan tahun lalu. Berbagai krisis keuangan yang mengguncang di era 70an, 80an, 90an dan sekarang ini ternyata tidak membuat Pemerintah AS mengambil kebijakan-kebijakan yang bisa mengatur pasar keuangan domestiknya agar tidak mengganggu struktur ekonomi di wilayah lain.

Kebijakan untuk mendorong integrasi ekonomi dunia di bawah kepemimpinan AS juga tidak membawa hasil lain selain krisis ekonomi dan keuangan terus-menerus, yang akibatnya bukan hanya melanda AS, melainkan juga seluruh dunia. Belum lagi akibat dari berbagai operasi militer maupun perang yang dilakukan AS di Amerika Latin, Afrika, Timur-Tengah, dan lain-lain. Dari analisis Petras dan Strange terlihat bahwa bagaimanapun juga AS merupakan kunci penting dari berbagai krisis ekonomi dunia. Dengan demikian tugas Barack Obama akan semakin berat untuk memulihkan ekonomi dari krisis yang semakin dalam dan merusak, bukan hanya bagi AS tapi juga bagi dunia. (DGX)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s