Konstelasi Legislatif 2009-2014

Kalau kita melihat hasil penghitungan KPU pada pemilu 2009, bisa disusun perkiraan komposisi penguasaan kursi di legislatif di mana komposisi perolehan kursi di legislatif:

Berdasarkan hasil penghitungan suara KPU tersebut, maka hanya ada 9 partai yang memenuhi persyaratan 2,5% parliamentary threshold untuk bisa mendapatkan kursi di legislatif. Dari perhitungan ini bisa diambil perkiraan skenario koalisi dalam legislatif 2004-2009.

Skenario Kemungkinan Koalisi

Kalau merujuk pada basis ideologi sebagai dasar pembentukan koalisi, secara umum bisa dibagi menjadi tiga basis ideologi, meskipun kalau rujukannya adalah asas partai, maka hanya akan terbagi menjadi dua, yakni: Asas Pancasila (Demokrat, Golkar, PDIP, PAN, PKB, Gerindra, Hanura) dan Asas Islam (PKS, PPP). Namun skenario koalisi partai-partai berasas Pancasila tidak bisa ditempatkan dalam satu kandang, karena ada kecederungan-kecenderungan yang membelah perspektif politik di antara mereka.

Kalau melihat berdasarkan basis idelogis dan politis, maka setidaknya ada tiga koalisi yang terbangun: Koalisi pertama adalah koalisi Demokrat, Golkar, PKB yang bisa dinamai Nasionalis-Agama, karena merupakan partai nasionalis yang memiliki kecenderungan pada tendensi isu-isu keagamaan.

Koalisi kedua adalah koalisi PDIP, Gerindra, Hanura yang bisa dinamai Ultra-Nasionalis, karena mengusung isu-isu konservatif seperti kembali ke UUD 1945, ide-ide Pancasila yang Orde Baru, dan memiliki tendensi militeristik.

Koalisi ketiga adalah koalisi PAN, PKS, PPP yang bisa dinamai Fundamental-Agama, karena memiliki kecenderungan partai-partai berasas agama, dan agenda-agenda politik hukum keagamaan. Sebenarnya PAN merupakan partai dengan asas Pancasila, namun dalam politik legislatif 1999- 2009 memiliki kedekatan yang kuat dengan partai-partai berasas Islam, jadi dengan itu PAN bisa dimasukkan dalam koalisi di sini.

Koalisi ini bergeser seiring dengan pertarungan kepentingan partai-partai. PKS, misalnya, selama periode 2004- 2009 masuk dalam koalisi Demokrat-Golkar, kerap melancarkan kritik terhadap pemerintahan, ketimbang memberikan dukungan. Bahkan, dalam dua tahun terakhir kepemimpinan SBY-JK, pimpinan PKS baik pusat maupun daerah selalu mengecam SBY-JK, dan selalu menyatakan tidak ingin berkoalisi dan bekerjasama dengan Demokrat-Golkar karena dinilai tidak memiliki kepemimpinan yang tegas.

Namun, seiring dengan semakin menguatnya SBY dan Demokrat dalam seluruh survei yang dilakukan berbagai lembaga riset, juga indikasi tidak ada kenaikan signifikan dalam perolehan suara PKS, di ujung-ujung masa kampanye PKS langsung banting stir mendukung SBY sebagai presiden, yang ditunjukkan lewat iklan-iklan. Untuk memperkuat upayanya “mencari muka” kepada SBY dan Demokrat, PKS bahkan mengklaim telah membentuk koalisi bersama Demokrat, yang langsung dibantah oleh Demokrat beberapa hari sebelum pemilu.

Oportunisme PKS ini yang harus diwaspadai SBY-Demokrat dalam masa pemerintahan 2009-2014, karena orientasi PKS yang ingin ikut serta dalam kekuasaan yang mendorong PKS menjadi “berkepala dua” mencaci-maki SBY sepanjang 2004-2009, namun memohon-mohon minta bagian setelah melihat kecenderungan menguatnya SBY-Demokrat secara tajam dalam pemilu 2009. Namun, keretakan koalisi Demokrat-Golkar memberikan peluang Demokrat untuk mengakomodir oportunisme politik PKS. Artinya SBY membutuhkan dukungan kekuatan legislatif yang bisa mendukung program-program politiknya, dan oportunisme PKS bagaikan gayung bersambut dengan pragmatisme SBY.

Partai lain yang mendekat Demokrat adalah PAN. Tujuan PAN juga tidak terlalu berbeda dengan PKS, yakni meminta bagian kekuasaan, bukan urusan kesesuaian program politik maupun ideologi. Ini semakin diperjelas setelah pertemuan pengurus DPW PAN di rumah Amien Rais, yang akan mengusung SBY sebagai Capres dan mengajukan kader PAN sebagai Cawapres. Sejumlah nama disebut, namun yang paling santer adalah Hatta Rajasa.

Koalisi lain yang terbangun bersama Demokrat adalah PKB. Ketua PKB Muhaimin Iskandar sudah menetapkan komitmennya untuk bersama-sama Demokrat, semenjak terjadinya kekisruhan dan perpecahan di tubuh PKB. PKB secara terbuka sudah memberikan dukungannya kepada SBY dalam Pemilihan Presiden 2009, dan merupakan koalisi yang “tidak banyak menuntut” kepada SBY. Kalau dilihat dari kemungkinan pembentukan koalisi, kelihatannya hanya PKB yang akan menjadi koalisi kuat bagi Demokrat.

Sementara itu, PPP masih mengalami pertikaian dalam menentukan arah koalisi, pertikaian keras masih antara kubu Bachtiar Chamsyah dengan kubu Suryadarma Ali. Namun, jika melihat gelagatnya, PPP akan lebih cenderung bergabung dengan koalisi yang dipimpin Demokrat, ketimbang mencari alternatif lain di luar keduanya, jika ada konstelasi baru.

Di seberang kubu Demokrat, PDIP mulai membangun rencana koalisi dengan Hanura dan Gerindra. Kepentingan menghadapi SBY menjadi faktor penentu terbentuknya rencana koalisi yang melibatkan Hanura dan Gerindra, yang sudah diketahui terjadi ketidakcocokan dan hubungan tak harmonis antara Wiranto dan Prabowo, setelah reformasi 1998 dan kasus penculikan aktivis. Meski demikian, sepertinya ketakharmonisan Wiranto dengan Prabowo akan dicairkan oleh kepentingan menghadapi SBY, dan rencananya akan dilakukan bersama-sama dengan Megawati. Kepentingan untuk pemilihan presiden bisa jadi dilanjutkan dalam bentuk koalisi dalam legislatif, baik menang maupun kalah dalam pilpres nanti.

Pada akhirnya Jusuf Kalla mengajak Wiranto maju sebagai pasangan capres-cawapres. Artinya Golkar memilih untuk berkoalisi dengan Hanura, setelah keretakannya dengan Demokrat tak bisa lagi direkatkan. Sementara Megawati memilih Prabowo sebagai pasangannya untuk maju pilpres, setelah melalui negosiasi yang alot dan melahirkan berbagai spekulasi, dan diakhiri dengan resminya Megawati-Prabowo maju dalam pilpres.

Konstelasi Pasca Pilpres

Pertanyaan yang masih menggelayut adalah, seperti apa koalisi yang akan terbentuk setelah pilpres nanti. Jika salah satu pasangan menang, maka dua pasangan yang kalah akan bergabung dengan pemenang, atau berkoalisi dengan yang kalah untuk beroposisi terhadap yang menang?

Dalam koalisi sementara di legislatif, jika merujuk hasil pemilu legislatif, maka bisa digambarkan sebagai berikut: Koalisi Demokrat-PKB-PKS-PAN-PPP akan menguasai 314 suara, yakni sekitar 56 persen perolehan kursi. Koalisi Golkar-Hanura akan menguasai 125 kursi dan koalisi PDIPGerindra akan menguasai 121 kursi legislatif. Dengan komposisi ini, jika koalisi Golkar-Hanura dan PDIP-Gerindra bergabung, tetap masih belum bisa menguasai mayoritas kursi legislatif. Dengan konstelasi seperti ini, seharusnya akan terbentuk pemerintahan yang kuat dan stabil, karena didukung oleh suara mayoritas di legislatif.

Namun, sebagaimana telah disinggung di atas, karena basis koalisi antar partai bukan dibangun atas dasar kepentingan ideologis, melainkan kepentingan akses kekuasaan semata mata, dan juga berdasarkan pengalaman kepolitikan Indonesia selama ini, maka potensi untuk terjadinya pergeseran koalisi pasca pilpres masih besar kemungkinannya.

Penutup

Kalau skenario koalisi akan mengerucut pada tiga pengelompokan, yakni Blok Demokrat, Blok PDIP dan Blok Golkar, maka konstelasi politik akan lebih dikuasai oleh Blok Demokrat, karena Blok Demokrat menguasai mayoritas legislatif, dan jika berhasil merangkul salah satu Blok lainnya, maka akan menjadi mayoritas mutlak.

Yang menarik jika Blok PDIP dan Blok Golkar berkoalisi, maka akan terjadi keseimbangan dalam legislatif, karena koalisi kedua Blok menguasai 44 persen kursi legislatif. Meskipun tidak menjadi mayoritas tetapi bisa memainkan fungsi penyeimbang dalam mengawasi kerja-kerja pemerintah.

Jika skenario koalisi akan mengerucut pada dua blok saja, yakni Blok Demokrat dan Blok PDIP-Golkar, maka konstelasi politik legislatif akan lebih efektif dan efisien, karena hanya akan menghasilkan kelompok partai-partai oposisi dan kelompok partai-partai pemerintah, sehingga kerja-kerja pengawasan legislatif bisa lebih mengarah pada hal-hal yang programatik dan “politis”, ketimbang ruang untuk memperdagangkan kepentingan jangka pendek individu atau kelompok. Meskipun itu masih tergantung juga pada kualitas anggota legislatif yang nantinya akan duduk. (DGX)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s