Dari Menjadi Indonesia Ke Indonesia Yang Menjadi

GARUDA

Hari-hari ini kita dihadapkan pada persoalan-persoalan bagaimana memilih suatu tatanan kehidupan bernegara, apakah yang berlandaskan keyakinan-keagamaan ataukah sekuler-rasional. Pilihan pertama tidak banyak menyisakan ruang berdebat dan berpikir, karena ukuran-ukurannya sudah ditentukan sedari awal, baik input maupun output ditetapkan secara absolut. Pilihan kedua banyak menyisakan ruang perdebatan, perbedaan pikiran, program-program yag disusun berdasarkan hitungan-ukuran rasio, dan bukan pada pertimbangan satu dasar keyakinan dogmatis, melainkan pada program-program dan kinerja sebagai ukuran keberhasilan.

Dua pilihan tersebut bisa dirujuk dengan “berkunjung kembali” kepada gagasan awal menjadikan dan membentuk Indonesia. Memilih Indonesia menjadi republik-sekuler tentu bukan pilihan asal-comot, atau sekedar meniru-niru mereka “yang di seberang Barat sana”. Embrio Indonesia lahir dari modernisme dan pencerahan, dari kaum muda berpendidikan sekuler namun tidak kehilangan identitas ke-Indonesiannya. Embrio Indonesia lahir dari keragaman pikiran para “kaum muda”, yang oleh Shiraisi disebut sebagai “embrio bangsa”.

Studi Takashi Shiraishi Zaman Bergerak (1997), bahkan menyebutkan bahwa kaum muda sebagai “embrio bangsa”. Kaum muda dalam analisa Shiraishi adalah kaum muda di era-era awal abad duapuluh, yang dibentuk oleh modernisasi di Hindia Belanda. Modernisasi Hindia Belanda telah membentuk sebuah kelompok sosial baru, yang tidak lagi semata-mata bersandar pada nilai-nilai tradisonal, melainkan merupakan paduan dengan “sebuah gaya modern” yang dibentuk lewat pendidikan modern ala Eropa.

Kelompok sosial ini yang oleh Shiraishi disebut sebagai “kaoem moeda”. Menurut Shiraishi, kaum muda di Hindia bukan berarti secara total menjadi “Barat” dan lepas dari gagasan, persepsi, kebiasaan, dan etika tradisional, melainkan justru hal-hal tradisional mengalami kehilangan makna yang utuh, karena tradisionalitas menjadi berdampingan dengan modernitas, sesuai dengan gaya modern kaum muda, sehingga maknanya mengalami perubahan.

Kaum muda melahirkan kebaharuan dalam politik saat itu, dengan melihat bagaimana gagasan memandang diri mereka dan situasi kolonial tempat mereka berada, yakni gagasan-gagasan humanitas, kemajuan dan kesetaraan manusia. Gagasan-gagasan ini yang terus dikumandangkan lewat media-media surat kabar dan mendorong terbentuknya suatu kesadaran bersama dalam memandang kolonialisme dan cita-cita pendirian suatu bangsa, suatu kesadaran nasional.

Dari ide-ide dan gagasan para “embrio bangsa” dibangun suatu paham kebangsaan yang egaliter, menghormati persamaan-persaudaraan, dan menjunjung tinggi kebebasan dan kemanusiaan. Pengalaman kolonialisme menjadi pelajaran terhadap bahaya ketimpangan, penindasan, rasialisme, dan feodalisme, sehingga nilai-nilai tersebut selalu diikat bersama-sama saat menggagas nasion yang merdeka dan berdaulat. Keragaman dan pluralisme yang menjadi kondisi yang-demikian-adanya diperhitungkan dengan cermat sebagai dasar pokok merumuskan suatu tatanan kenegaraan-kebangsaan bernama Indonesia, yang muncul dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, di depan sidang BPUPK.

Soekarno merumuskan Pancasila, sebuah dasar negara, sebuah staatside, rumusan dari apa yang menjadi diskursus para “embrio bangsa”, suatu rumusan yang merupakan pensejajaran modernitas dan nilai-nilai ke-Indonesiaan. Dalam rumusannya, Soekarno – salah satu “embrio bangsa” – menolak feodalisme, rasialisme dan monarkhi dengan mengedepankan nilai-nilai modernitas “Barat” yakni humanisme, demokrasi, keadilan, nasionalisme sejajar dengan pola-laku khas Indonesia yakni religiusitas dan kemusyawaratan. Masing-masing nilai yang dirumuskan Soekarno bersifat sama pentingnya, dan tidak ada satu kepentingannya melebihi atau mengatasi yang lain. Para “embrio bangsa” ini telah meletakkan gagasan dasar bernegara, suatu pembayangan bagaimana menjadi Indonesia.

Kita sekarang berada dalam situasi membayangkan suatu Indonesia yang menjadi. Suatu Indonesia yang menjadi tatanan yang disandarkan pada rumusan dasar staatside. Indonesia yang menjadi demokratis, yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial, persatuan dalam perbedaan, kemusyawarahan dan religiusitas. Semua dihormati dan dijaga. Bukan dilecehkan dan berusaha dihilangkan, ditiadakan. Semua upaya untuk merontokkan dan mengabaikan nilai-nilai yang dirumuskan dalam staatside merupakan bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita para “embrio bangsa”, yang menjadi cita-cita pendirian dan penyelenggaraan suatu republik bernama Indonesia.

Proses Indonesia yang menjadi suatu tatanan kenegaraan dan kebangsaan demokratis, yang sekarang ini terus-menerus harus kita upayakan. Dengan bersimbah luka, oleh berbagai peristiwa kekerasan, perpecahan, konflik dan pengabaian nilai, proses untuk menjadikan Indonesia lebih baik terus diupayakan. Hanya apakah pemerintah-pemerintah yang sudah dipilih menjalankannya dengan serius? Meneruskan pikiran dan gagasan para “embrio bangsa” dengan praktek dan tindakan yang tepat? Ataukah lebih berorientasi kepada kepentingan politik jangka pendek, dengan berupaya merebut perhatian suatu golongan, sehingga mengabaikan bahkan juga melecehkan nilai-nilai yang dirumuskan dalam staadside?

Apa yang menjadi ancaman bagi politik adalah ketika nilai-nilai dasar dikompromikan dengan kepentingan satu golongan. Artinya nilai-nilai dasar diletakkan di bawah kompromi, yang bahayanya, lama-kelamaan hasil-hasil kompromi kepada satu golongan jadi lebih menentukan dari nilai dasar. Kalau terus-menerus demikian, maka upaya menuju Indonesia yang menjadi lebih baik tidak akan pernah tercapai, karena nilai-nilai dasar diinjak-injak kompromi kepentingan.

Maka sudah saatnya pemerintah kembali kepada jalurnya, yakni pengemban amanat cita-cita yang berlandaskan nilai dasar staatside, suatu cita-cita bagi Indonesia yang menjadi rumah bagi semua warga Indonesia, rumah yang nyaman untuk didiami, rumah yang menghidupi, bukan yang mematikan. Para “embrio bangsa” berpikir, bekerja dan berjuang untuk menjadikan Indonesia, kita melakukan hal sama untuk Indonesia yang menjadi demokratis, berkeadilan-sosial dan menghormati setiap warga negara yang berdiam di dalamnya. (DGX)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s