Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Tetap Miskin (Timbangan Buku)

Judul Buku: How Rich Countries Got Rich… and Why Poor Countries Stay Poor. Penulis: Erik S. Reinert. Penerbit: Constable, London (2008).


Persoalan ketimpangan antara negara-negara maju dan negara-negara dunia ketiga, banyak menjadi sorotan para ekonom dan studi-studi politik, terutama ekonomi-politik. Beberapa nama yang ditahbiskan sebagai peraih nobel bidang ekonomi seperti Joseph Stiglitz dan Amartya Sen, juga menuliskan karya-karya yang mencoba untuk membongkar selubung ketimpangan yang terjadi selama ini di antara dua kelompok negara tersebut. Ketimpangan yang terbentuk demikian jauh, sehingga sejumlah program yang disusun di tingkat lembaga dunia seperti United Nations (UN) ditujukan untuk menebas jarak ketimpangan yang demikian lebar. Program-program seperti Millennium Development Goals, Make Poverty History, dan lainnya, merupakan hasrat untuk membangun tata dunia yang lebih baik, artinya adanya keseimbangan ekonomi dan kekayaan, bukannya ketimpangan yang jomplang, sebagaimana terjadi saat ini.

Untuk melihat soal ketimpangan tersebut, tulisan ini akan membahas buku Erik S. Reinert yakni How Rich Countries Got Rich… and Why Poor Countries Still Poor, yang terbit pertama kali pada tahun 2007, dan memenangkan Myrdal Prize tahun 2008. Dalam bukunya ini Reinert melakukan suatu kajian menarik yakni dengan menelusuri dokumen-dokumen sejarah perdebatan ekonomi dan kebijakan, terutama di AS dan Eropa dalam menggagas dan merumuskan kebijakan ekonomi-politik yang sesungguhnya bertentangan dengan teori dan doktrin ekonomi pemikiran Adam Smith, yang saat ini seakan-akan dianggap sebagai kitab suci yang digenggam negara-negara maju dalam membangun perekonomian mereka hingga dapat berkembang pesat sampai seperti sekarang ini.

Ketimpangan Ekonomi Dunia: Negara Kaya dan Miskin

Ada dua kajian kontemporer yang penting dalam melihat pembentukan ketimpangan di dunia, dan tawaran teoritik yang diajukan untuk menebas ketimpangan tersebut. Kajian pertama adalah kajian Amartya Sen, dalam karyanya Development As Freedom.[1] Dalam karyanya tersebut, Sen setuju pada pentingnya pasar terutama terhadap segala pertimbangan mengenai hasil-hasil tertinggi yang dicapainya, tidak dapat dipandang sebagai pernyataan tidak langsung bahwa pasar tidak diperlukan sebagai subyek kajian kritis atau intervensi terhadapnya tidak dapat dibenarkan. Kemungkinan bagi munculnya titik puncak kemiskinan sebagai akibat dari monopoli, persoalan informasi atau timpangnya akses terhadap sumberdaya harus disusun untuk menentang kasus paling pokok (prima facie) mengenai pasar dalam menentukan apakah pantas untuk diintervensi atau tidak. Secara keseluruhan Sen menampilkan dirinya sebagai pembela proyek pasar kompetitif dan lebih menyukai untuk mengutarakan persoalan dan isu-isu ketimpangan dengan menekankan pada sistem jaminan sosial (social security system) dibandingkan dengan intervensi langsung.[2] Singkatnya, Sen mendukung kombinasi dari penggunaan pasar secara luas, sekaligus pembangunan dan pengembangan kesempatan sosial.[3]

Kajian kedua adalah kajian Joseph Stiglitz dalam bukunya Dekade Keserakahan.[4] Dalam bukunya ini Stiglitz menguraikan mengenai munculnya gelembung perekonomian akibat hiperaktifitas perekonomian yang makin besar akibat lonjakan ekspansi dalam perekonomian maupun bursa saham, yang dimulai di era 90an. Menurut Stiglitz, di era ini pertumbuhan ekonomi melambung ke tingkat yang belum pernah tercapai dalam satu generasi, dan Stiglitz meramalkan akan terjadi resesi ekonomi yang hebat di Amerika Serikat (AS), dan juga sebagian besar negara di dunia.[5] Di sini, Stiglitz lebih banyak menyoroti perekonomian dan politik di AS, dan kaitannya dengan situasi di luar AS, namun Stiglitz menekankan bagaimana lonjakan ekonomi yang menggelumbung dan globalisasi membawa serta benih-benih swadestruktif yang menghancurkan dirinya sendiri.

Bagi Stigliz, strategi global AS tidak akan berhasil selama kebijkannya adalah terus menekan negara-negara dunia ketiga untuk mengadopsi kebijakan yang berbeda dengan yang diadopsi oleh AS sendiri, yakni mengadopsi kebijakan pasar fundamentalis yang di dalam negeri AS justru sangat ditentang oleh pemerintahan Clinton, dan juga pengabaian AS terhadap prinsip keadilan sosial, kesetaraan dan kejujuran. Singkatnya, Stiglitz menguraikan bahwa perekonomian dunia sudah terbentuk untuk saling bergantung, dan hanya dengan menciptakan tata-dunia yang setara maka stabilitas pasar global bisa diciptakan. Itu semua mensyaratkan adanya semangat kerjasama yang tidak dibangun di atas brutalitas, dengan mendikte kondisi yang tidak sesuai di tengah krisis, memaksakan perjanjian dagang yang curang, atau dengan melaksanakan kebijakan yang berstandar ganda.[6]

Kedua studi tersebut melihat situasi perekonomian kontemporer tanpa perlu untuk melihat jauh ke belakang bagaimana sesungguhnya negara-negara maju membangun dan membentuk perekonomiannya hingga menjadi seperti sekarang ini. Jadi jika diajukan pertanyaan bagaimana negara-negara kaya tetap kaya, dan mengapa negara-negara miskin tetap miskin, jawaban Sen dan Stiglizt akan merujuk pada soal-soal brutalitas ekonomi negara maju, yang menekan negara-negara dunia ketiga, dan keenggananya untuk menciptakan kesetaraan. Jawaban yang ditawarkan oleh Sen dan Stiglitz pun lebih dalam rupa menyiasati agar ada perlindungan kepada wilayah yang-sosial dari terpaan pasar yang kompetitif semata-mata. Keduanya akan menolak jawaban bahwa negara-negara dunia ketiga harus memberlakukan proteksi bagi industri dan perekonomiannya. Buat mereka, harus ada penyesuaian dari sistem pasar terhadap upaya penciptaan kesetaraan (equality) ketimbang memperbesar ketimpangan (inequality).

Berbeda dengan model pendekatan Amartya Sen dan Joseph Stiglitz yang lebih menekankan pada persoalan kontemporer, seperti globalisasi, Washington Consensus, MNCs, IMF dan Bank Dunia, studi Erik S. Reinert dalam bukunya How Rich Countries Got Rich… and Why Poor Countries Stay Poor mencoba untuk menelusuri perdebatan ekonomi para pembuat kebijakan ekonomi dan politik di AS, dan menggali sejarah ilmu ekonomi untuk mencari bahan-bahan dan karya-karya yang dilupakan oleh para ekonom saat ini, yang padahal di jamannya merupakan literatur yang dijadikan rujukan oleh para ekonom dan pengambil kebijakan.[7] Beberapa nama yang dirujuk Reinert misalnya kajian para ekonom Jerman seperti Christian Wolff (1679-1754), Johann Heinrich Gottlob von Justi (1717-1771), Johann Friedrich von Pfeiffer (1718-1787), Friedrich List (1789-1846), Gustav Schmoller (1838-1917), ekonom Italia Antonio Genovesi (1712-1769) dan Giuseppe Mazzini (1805-1872), maupun ekonom Inggris seperti John Cary (1649-1720), dan dijadikan rujukan pada zamannya sebagai bahan untuk membuat kebijakan ekonomi dan politik yang membuat negara-negara kaya menjadi semakin kaya, sampai hari ini. Namun, ekonom yang justru kerap digembar-gemborkan dan bukunya kerap dirujuk para ekonom pasca perang dunia kedua adalah nama-nama seperti Adam Smith, David Ricardo dan Joseph Schumpeter. Karya-karya para ekonom Jerman seperti Friedrich List hilang dari perpustakaan di Universitas Harvard, juga pidato-pidato perdebatan para politisi mengenai kebijakan ekonomi AS sulit didapat di perpustakaan New York Public Library. Singkatnya, pemikiran-pemikiran tersebut dianggap tidak penting untuk masa kini dan karenanya patut disingkirkan. Dalam penelusuran inilah Reinert menemukan kenyataan bahwa para ekonom yang pemikirannya disingkirkan dari khasanah ekonomi mainstream inilah yang pemikiran dan teorinya dirujuk dalam kebijakan ekonomi AS, mengenai kebijakan industri dan pertumbuhan tak merata.

Jawaban terhadap mengapa pemikiran semua ekonom dan naskah perdebatan kebijakan ekonomi politik – termasuk pidato-pidato di Senat dan Kongres yang menjadi jawaban sebenarnya mengenai apa yang terjadi sehingga AS tumbuh dari negara miskin menjadi negara kaya – tidak lagi diperhatikan, sekaligus juga menjawab pertanyaan pokok buku Reinert yakni: “bagaimana negara-negara kaya tetap kaya… dan negara-negara miskin tetap miskin?” yang kalau ditelusuri pada dokumen dan literatur sejarah ekonomi dan pemikiran ekonomi yang dirujuk para politisi AS, maka jawabannya menurut Reinert adalah: “….the United States protected their manufacturing industry for close to 150 years”,[8] jawaban yang diperoleh para politisi dan ekonom AS dari literatur klasik para ekonom Jerman yang namanya hilang dari sejarah ilmu ekonomi.

Reinert melakukan penelusuran dengan membedakan dua tipe utama dari teori ekonomi. Tipe pertama mendasarkannya pada metafora yang diambil dari gejala alam, umumnya dari hukum fisika. Contoh dari metafora tersebut adalah invisible hand yang menjaga bumi tetap pada orbitnya dalam mengitari matahari, atau metafora mengenai keseimbangan (equilibrium), yang kemudian diturunkan pada ilmu ekonomi. Tipe kedua didasarkan pada pengalaman (experience-based theory) dan dibangun dari bawah dan terus naik secara bertahap, dan kerap muncul dalam kebijakan praktis, sebelum diluruhkan menjadi teori.[9]

Dengan pendekatan kedua, Reinert melakukan penelusuran mengenai kebijakan riil seperti apa dan pengalaman apa yang diambil oleh negara-negara maju dan menata perekonomiannya dan mengeluarkan kebijakannya dalam sepenjang perkembangannya, dan bukan didasarkan pada apa yang dituliskan oleh dalam sejarah ilmu ekonomi yang saat ini menjadi mainstream, seperti misalnya doktrin perdagangan bebas sebagai pintu menuju kemakmuran sebagaimana dimuat dalam karya magnum opus Adam Smith yakni The Wealth of Nations yang terbit tahun 1776. Dalam karyanya itu Smith menganjurkan agar Inggris membuka diri bagi perdagangan bebas, namun bagi menurut Reinert sejarah membuktikan bahwa pada kenyatannya Inggris menerapkan pemungutan pajak dan cukai lebih banyak dibandingkan Prancis selama seratus tahun semenjak terbitnya buku Smith, dan itu bukanlah bentuk dari perdagangan bebas sebagaimana anjuran Adam Smith. Jadi kemajuan dan kekayaan Inggris bukan dipicu oleh sistem ekonomi persaingan bebas, melainkan dengan membangun industri dalam negeri yang kuat dan dilindungi.[10]

Dalam bukunya tersebut Adam Smith juga menganjurkan agar AS tidak melakukan proteksi terhadap industri manufakturnya karena itu merupakan suatu kesalahan besar jika dilakukan, dan akan mengakibatkan kesalahan fatal.[11] Namun, Menteri Keuangan pertama AS, Alexander Hamilton, juga membaca buku tersebut, dan pada bagian lain menemukan argumen Smith bahwa “hanya negara-negara yang memiliki industri manufaktur-lah yang memenangkan perang”, dan karena itulah Hamilton mengambil argumen Smith tersebut untuk kebijakan industri dan perdagangan AS, ketimbang argumennya mengenai perdagangan bebas. Inilah yang dirujuk Reinert sebagai experienced-based theory yakni teori yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman yang ditemukan, bukan pada doktrin ekonomi semata. Pada era 1820an ada pepatah bijak di Amerika Serikat yakni: “Don’t do as the English tell you to do, do as the English did”, dan menurut Reinert kalau dimaknai dalam konteks sekarang ini bisa juga dikatakan: “Don’t do as the Americans tell you to do, do as the Americans did”.[12] Ini yang bagi Reinert merupakan ironi sekaligus secara khusus sangat menarik untuk dicatat, yakni AS yang selama ratusan tahun secara keras melawan dan menentang teori dan kebijakan ekonomi yang pada hari ini justru mereka dukung habis-habisan.

Dalam hal ini, AS mendasarkan kebijakan ekonominya dengan meniru (emulation) apa yang dilakukan Inggris dan Prancis, dan bukannya merujuk pada apa yang diteorikan oleh Adam Smith, dan emulation inilah yang menurut Reinert merupakan kunci penting bagi kemajuan negara-negara AS dan Eropa Barat di mana negara-negara maju tersebut, dulunya melakukan proteksi terhadap industrinya selama berabad-abad (bahkan dalam beberapa sektor masih dilakukan sampai hari ini), dan baru setelah industrinya mapan, mereka masuk dalam sistem perdagangan dunia.[13] Inilah yang menjadi penelusuran Reinert, bahwa bangunan industri manufaktur yang diproteksi merupakan inti dari kemajuan ekonomi negara-negara yang saat ini maju. Dalam penelusuran Reinert, pada saat produksi dalam industri manufaktur diperluas, biaya perkembangannya bergerak ke arah yang berlawanan yakni turun dan bukannya naik. Hal itu yang menjadi awal perkembangan kemakmuran AS dan sejumlah negara Eropa Barat yakni strategi emulation, sebagaimana diutarakan Reinert,

Rich countries display generalized imperfect competition, activities subject to increasing returns, and as I gradually began to understand, all have become rich in exactly the same way, through policies steering them away from raw materials and diminishing returns activities into manufacturing, where the opposite laws tend to operate.[14]

The basic strategy that made Europe so evenly rich was what Enlightenment economics called emulation and the extensive toolbox that was developed for the purpose of emulating… Emulation was essentially a positive and active effort, to be contrasted with envy and jealousy. In modern times emulation finds its approximate counterparts in the terminology of American economist Moses Abramovitz (1912-2000), whose ideas of catching-up and forging ahead resonate with the same understanding of dynamic competition.[15]

Menurut studi Reinert, kalau merujuk pada pemikiran Adam Smith dan para ekonom klasik Inggris lainnya, dalam karya-karyanya mereka jelas memperingati koloni Amerika dan negara-negara Eropa lainnya, bahwa meraka akan melakukan kesalahan yang sangat besar jika mencoba meniru Inggris, yakni melakukan dan mengembangkan industrialisasi. Adam Smith dan para pengikutnya berargumen bahwa masa keharmonisan ekonomi dunia akan terbentuk secara otomatis pada saat kekuasaan pasar diberikan kebebasan untuk mengatur. Inggris akan dapat mengimpor bahan mentah dari empat penjuru dunia dan sebagai gantinya akan mengekspor barang hasil industrinya kembali. Namun, tidak ada satu kekuasaan dan kekuatan di Eropa yang mengikuti anjuran Adam Smith tersebut, termasuk Norwegia, dan mereka justru sepakat bahwa mereka harus membangun industri lewat kebijakan yang aktif. Bagi Reinert, jika melihat keadaan saat ini di mana AS memimpin dalam retorika globalisasi, mengingatkan dirinya pada peran serupa yang dimainkan Inggris pada abad sembilanbelas. Apa yang dilakukan AS, Inggris, Prancis dan negara-negara Eropa masa itu merupakan teori ekonomi yang didasarkan pada pengalaman dan kondisi nyata (experience-based economy) dan bukan doktrin ekonomi retoris yang didasarkan model yang didasarkan pada hukum alam (fisika).[16]

Sayangnya, menurut Reinert, pasca Perang Dunia II pendekatan experience-based economics ini menghilang, dan digantikan oleh pendekatan abstrak yang merupakan turunan dari pendekatan ilmu ekonomi David Ricardo. Apalagi setelah Alfred Marshall memperkenalkan pemakaian teknik-teknik matematis dalam perhitungan ekonomi, ilmu ekonomi pun berubah seolah-olah menjadi ilmu pasti (hard science) dan melupakan aneka ragam segi-segi kualitatif ketika ia masih bernama “ekonomi-politik”. Political-economy beralih menjadi economics.

Hilangnya Experience-Based Economics Dari Studi Ekonomi Mainstream

Perkembangan experience-based economics merupakan perkembangan dari tradisi ekonomi heterodoks[17], yang tradisinya ini oleh Reinert dikategorikan sebagai the Other Canon.[18] The Other Canon ditujukan sebagai sebuah konsep yang menyatukan teori dan pendekatan ekonomi yang melakukan pengamatan terhadap fakta-fakta, pengalaman dan pembelajaran sebagai titik awal bagi teorisasi tentang ekonomi. Menurut Reinert, semenjak tahun 1400an, hanya tipe ekonomi the Other Canon yang – yang memberikan tekanan bahwa aktivitas ekonomi secara kualitatif berbeda dengan pertumbuhan ekonomi – berhasil dan mampu membawa bangsa demi bangsa keluar dari kemiskinan.[19] Pada saat pertumbuhan ekonomi berhasil dicapai, bangsa-bangsa yang hegemonik dalam suatu rangkaian berpindah ekonomi berbasis-biologi menjadi ekonomi berbasis-fisika, sebagaimana dilakukan Inggris pada akhir abad delapanbelas dan AS pada pertengahan abad duapuluh. Setalah perlahan-lahan experience-based economics sebagai bagian tradisi the Other Canon mulai punah muncul teori David Ricardo sebagai satu-satunya teori yang memainkan peran, baik bagi politik aliran kiri maupun politik aliran kanan. Buat Reinert, debat besar pasca Perang Dunia II antara retorika pasar bebas ala kapitalisme dengan ekonomi terpimpin ala komunisme sesungguhnya hanyalah turunan yang sama dari ekonomi David Ricardo. Mengapa Reinert mempersamakan komunisme dengan kapitalisme? Dalam hal ini tradisi ilmu sosial sebelum Marx lebih memfokuskan pada pengembangan pengetahuan, gagasan-gagasan baru serta teknologi sebagai faktor penggerak perekonomian. Namun pada saat dampak-dampak sosial kapitalisme tak terjelaskan oleh cara pandang ini, Marx mengambil teori nilai kerja David Ricardo yang sangat abstrak untuk membangun teorinya sendiri.

Kalau kita lihat dengan yang terjadi di Indonesia, ada kemiripan dengan gagasan experience-based economcs, di mana semangat untuk melaksanakan nilai-nilai kerakyatan, nasionalisme dan pembebasan, dipantulkan melalui program-program ekonomi dan politik yang dilandaskan pada semangat anti modal-asing dan ekonomi asing, dengan menyusun suatu piranti pemikiran bernama ekonomi nasional. Ekonomi nasional akan disusun melalui program proteksi dan industrialisasi, lewat program Rentjana Urgensi Perekonomian (RUP) yang didalamnya terdapat Program Benteng, di mana usaha-usaha lokal dan dalam negeri, dan usahawan dalam negeri akan dilindungi dan dikembangkan dengan sokongan pemerintah. RUP dimaksudkan untuk mengawali industrialisasi dengan jalan mengkaitkan kegiatan-kegiatan industri besar dengan industri kecil. Sektor industri besar akan berfungsi sebagai determinan pertumbuhan yang strategis, khususnya untuk menjalankan program subtitusi impor, dan dengan itu akan meletakkan lendasan bagi peekonomian nasional yang sesungguhnya.[26]

Program tersebut tidak berjalan mulus, dan hanya menumbuhkan model ekonomi rente, dan program ini dibubarkan dan haluan ekonomi-politik diarahkan pada model ekonomi terpimpin, untuk mewujudkan suatu perekonomian nasional yang kuat dan mandiri, melalui jalan industrialiasi. Program ini dijalankan di bawah program semeseta delapan tahun berencana di bawah payung kebijakan ekonomi terpimpin dan program landreform (reforma agraria).

Para pemikir ekonomi Indonesia dan para pendiri bangsa seperti Mohammad Hatta, Sjafruddin Prawiranegara, Semaoen, bahkan Soekarno, memikirkan program atas dasar antitesa ekonomi kolonial yang timpang dan eksploitatif, dan bukan atas dasar doktrin-doktrin teori ekonomi. Perkembangan pemikiran ekonomi Indonesia di awal kemerdekaan sampai masa demokrasi terpimpin, bisa dikategorikan sebagai experienced-based economics, di mana teorisasi ekonomi dibuat atas dasar fenomena sosial-politik, dan bukan pada doktrin ekonomi. Cita-cita membangun ekonomi nasional dilandaskan pada pengalaman dan pemahaman atas ekonomi kolonial, bukan semata-mata merujuk teori ekonomi yang sudah mapan. Namun pendekatan ini luruh, bersamaan dengan jatuhnya Soekarno dan politik demokrasi terpimpinnya, dan Soeharto dengan Orde Baru-nya membawa perekonomian pada jalur doktrin ekonomi yang merujuk pada Smith dan Ricardo.

Penutup

Buku Reinert ini memang bisa dibilang jauh berbeda dari kebanyakan buku-buku anti-globalisasi yang ada sekarang. Sisi lain yang menarik dari buku ini adalah bagaimana Reinert mengisahkan perburuannya atas literatur-literatur klasik, merupakan bacaan yang sangat mengasyikkan. Reinert menduga bahwa menghilangnya experience-based economics dari ilmu ekonomi yang diajarkan secara umum dalam perkuliahan-perkuliahan di masa modern ini, antara lain disebabkan oleh menghilangnya literatur-literatur tentang itu dari perpustakaan-perpustakaan baik di kampus maupun di perpustakaan publik. Pada tahun 1984 Baker Library di Universitas Harvard menyingkirkan seluruh tulisan Friedrich List, ekonom Jerman yang pertama kali menciptakan teori soal pertumbuhan tidak merata (uneven growth), dan Reinert menemukannya dari penjual buku di Boston. Perpusatakaan publik New York pada pertengahan 1970an mengambil keputusan memikrofilmkan seluruh koleksi pamflet selama era perdebatan kongres dan senat di abad tujuhbelas dan delapabelas, dan membuang aslinya. Untungnya bahan-bahan tersebut (170 ribu pamflet) selamat di tangan seorang kolektor, dan dari penjual buku di London, Reinert dan istrinya yang seorang librarian membeli sekitar 2.300 pamflet, yang mendokumentasikan perdebatan-perdebatan kebijakan ekonomi di Senat dan Kongres AS awal 1800an, yang menjadi bukti faktual mengenai yang menjadi langkah-langkah yang diambil AS dari sebuah negara jajahan yang miskin dan kemudian berkembang pesat menjadi penguasa ekonomi dunia. Perdebatan yang dokumentasinya disingkirkan tersebut, merupakan dokumen perdebatan ekonomi yang tidak pernah diajarkan dalam perkuliahan ekonomi modern.

Kepustakaan Rujukan

Mackie, J. A. C., “The Indonesian Economy 1950-1963”, dalam Bruce Glassburner, The Economy of Indonesia: Selected Readings (New York: Cornell University Press, 1971).

Nofrian, Fahru, Pendekatan Ekonomi Heterodoks: Empat Pilar Pemikiran Prancis (Jakarta: IGJ dan Unika Atma Jaya, 2009).

Reinert, Erik S., How Rich Countries Got Rich… and Why Poor Countries Stay Poor (London: Constable, 2008).

Sen, Amartya, Development As Freedom (Oxford: Oxford University Press, 1999).

Stiglitz, Joseph E., Dekade Keserakahan: Era ‘90an dan Awal Mula Petaka Ekonomi Dunia (Terj.) (Jakarta: Marjin Kiri, 2006).

Catatan


[1] Amartya Sen, Development As Freedom (Oxford: Oxford University Press, 1999).

[2] Ibid., hal. 119-120.

[3] Ibid., hal. 126-127.

[4] Lihat Joseph E. Stiglitz, Dekade Keserakahan: Era ‘90an dan Awal Mula Petaka Ekonomi Dunia (Terj.) (Jakarta: Marjin Kiri, 2006).

[5] Ibid., hal. 3.

[6] Ibid., hal. 30-31.

[7] Erik S. Reinert, How Rich Countries Got Rich… and Why Poor Countries Stay Poor (London: Constable, 2008).

[8] Ibid., hal. 25

[9] Ibid., hal. 26-27.

[10] Ibid., hal. 21-22.

[11] Menurut Reinert ironisnya adalah, salah satu alasan penting bagi AS untuk mengobarkan perang kemerdekaan dari Inggris adalah karena Inggris sebagai penjajah melarang adanya industri manufaktur di AS sebagai koloninya (Reinert 2008: 25). Pernyataan Adam Smith tersebut dinilai sebagai pernyataan kolonialis, karena Smith tidak menginginkan AS sebagai koloni melepaskan diri dari tangan Inggris.

[12] Ibid., hal. 23.

[13] Ibid., hal. 15. Menurut Reinert strategi dasar yang menjadikan Eropa kaya secara merata adalah apa yang disebut ekonomi pencerahan sebagai emulation (mencontoh/meniru) dan juga “the extensive toolbox that was developed for the purpose of emulating”.

[14] Ibid., hal. 7.

[15] Ibid., hal. 15. Huruf miring sesuai dengan tulisan aslinya.

[16] Reinert mengutip apa yang ditulis Friedrich List pada tahun 1841: “for several hundred years England’s economic policy was based on a simple rule: import of raw materials and export industrial products. To be wealthy, countries like England and France would have to emulate and copy the economic structures of Venice and Holland, but not necessarily theori economic policies”, Reinert, ibid., hal. 81.

[17] Dalam ilmu ekonomi umumnya dibagi dalam dua kategori besar, yaitu pendekatan ortodoks dan heterodoks. Pendekatan ortodoks lebih mementingkan angka-angka, sementara pendekatan heterodoks lebih berpijak pada fenomena sosial yang mengandung wawasan filsafat politik dan moral. Misalnya, dalam melihat hubungan antara pasar dengan negara, pandangan ortodoks melihat keduanya sebagai entitas terpisah yang berbeda bahkan ditempatkan secara dikotomis, sementara pandangan heterodoks melihat pasar dan negara sebagai entitas yang saling berhubungan dan tidak terpisah, dan satu dengan lainnya saling berdialektika. Dalam tradisi heterodoks di antaranya: Karl Marx, Michal Kalecki, Piero Sraffa, dan John M. Keynes. Tradisi ortodoks di antaranya: Alfred Marshall, Léon Walras, Paul Samuelson, Friedrich Hayek, Milton Friedman dan Joseph Stiglitz. Lihat Fahru Nofrian, Pendekatan Ekonomi Heterodoks: Empat Pilar Pemikiran Prancis (Jakarta: IGJ dan Unika Atma Jaya, 2009), hal. 10-11.

[18] The Other Canon ditujukan sebagai titik rujukan bagi “reality economics” dan juga merupakan jaringan para ekonom. Reinert, ibid., hal. 321 Fn. 9.

[19] Ibid., hal. 30

[20] Ibid., terutama pada Bab 6.

[21] Ibid., hal. 103.

[22] Ibid., hal. 173-174.

[23] Ibid., hal. 175.

[24] Ibid., hal. 177.

[25] Ibid., hal. 165.

[26] J. A. C. Mackie, “The Indonesian Economy 1950-1963”, dalam Bruce Glassburner, The Economy of Indonesia: Selected Readings (New York: Cornell University Press, 1971), hal. 47.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s