Buruh di Indonesia Pasca Orde Baru (Timbangan Buku)

Judul Buku: Made in Indonesia: Indonesian Workers Since Soeharto. Penulis: Dan La Botz. Penerbit: South End Press, Cambridge-Massachusetts (2001)

Jatuhnya rezim Soeharto pada 1998 banyak dipandang memberikan angin segar dan harapan cerah bagi gerakan buruh yang baru. Selama penindasan yang panjang di bawah Orde Baru, serikat buruh independen dan kelompok-kelompok advokasi banyak bermunculan di era tahun 1990-an dan kemudian menjamur di bawah rejim pasca Orde Baru atau reformasi di mana pembatasan politik hampir tidak terjadi terhadap organisasi buruh. Dengan meningkatnya pemogokan dan juga organisasi-organisasi buruh, banyak yang membayangkan jika kebangkitan sektor buruh dapat menjadi kekuatan kunci dalam sosial dan politik untuk mendorong perubahan demokratis.

Studi Dan La Botz ini muncul dalam waktu yang tepat dalam memberikan sumbangan bagi perdebatan issu perburuhan pasca-Soeharto, dengan banyak bermunculannya organisasi buruh, dan berbagai halangan yang harus dihadapi organisasi-organisasi tersebut dalam memperjuangkan kepentingan buruh. Studi ini didasarkan pada wawancara yang ekstensif terhadap aktivis mahasiswa, aktivis politik, dan aktivis buruh. Buku ini juga menyajikan detil yang mendalam mengenai pergeseran konteks ekonomi dan politik dalam pengorganisasian, dan juga trayektori personal para pemain kunci seperti Muchtar Pakpahan dan Dita Indah Sari, dan lainnya. Secara keseluruhan, buku ini menyediakan deskripsi yang jangkauannya luas – namun jarang diteliti – mengenai pertumbuhan perubahan sosial Indonesia yang amat cepat, yang menarik minat dan diapresiasi oleh banyak kalangan, terutama terhadap sasaran seperti aktivis buruh internasional, aktivis hak asasi manusia internasional, dan gerakan solidaritas. Namun, secara keseluruhan analisa La Botz tidaklah terlalu memuaskan.

Buku ini dimulai dengan pengantar singkat lewat narasi tiga aktivis mahasiswa mengenai perjuangan tiga generasi semenjak tahun 1970-an sampai munculnya gerakan reformasi di akhir tahun 1990-an. Dengan maksud untuk meletakkan kisah ini dan perjuangan buruh kontemporer dalam konteks yang lebih luas, La Botz mencurahkan tiga bab berikutnya untuk menjelaskan sejarah ekonomi-politik, menguraikan situasi perkembangan Indonesia dari masa kolonial Belanda sampai jatuhnya Orde Baru dalam bangunan kerangka analisa sistem-dunia (world system analysis) kepitalisme global. Penelusuran kembali bidang yang umum ini menghasilkan sejumlah pemahaman historis baru, sekaligus dengan baik meringkas mengenai tekanan eksternal, kebijakan negara dan gerakan politik berbasis-massa yang membentuk dan seringkali menghalangi organisasi buruh independen.

Pendekatan yang dilakukan La Botz menyangkut tiga hal: pertama, ia mempersonifikasi perjuangan dengan memberikan cita rasanya lewat perhatiannya pada sejumlah aktor; kedua, memungkinkan pembaca untuk memahami bahwa pengorganisasian yang harus dilakukan untuk menurunkan seorang diktator tidaklah terjadi dalam satu malam saja; dan ketiga, memberikan cita rasa pada issu mengenai kesulitan yang dihadapi para aktivis dalam upaya mereka untuk membangun organisasi buruh yang sejati.

Pada bagian pertama buku ini, La Botz mencoba menyajikan suatu gambaran umum dari sistem ekonomi-politik dalam konteks global yang lebih luas. Bagian ini memeriksa perkembangan ekonomi Indonesia selama pemerintahan Soeharto (1965-1997), dengan fokus khusus pada krisis ekonomi Asia tahun 1997 dan perkembangan politik semenjak tahun itu juga. Bagian ini juga berusaha menjelaskan kembali akibat-akibat buruk kolonialisme Belanda terhadap rakyat jajahan, upaya mereka untuk mengorganisir diri dan memperoleh kemerdekaan nasional, dan perkembangan pembangunan pada periode 1949 dan kudeta tahun 1965 yang membawa Soeharto dan militer ke tampuk kekuasaan.

Bagian kedua buku ini memfokuskan pada upaya membangun respon yang merakyat terhadap krisis Orde Baru. La Botz mengawalinya dengan melihat peran organisasi non-pemerintah (ONP) dalam perjuangan dan juga sejumlah kontradiksi yang menyertainya. Sumbangan penting La Botz terdapat pada bagian bagian utama buku ini, yang terdiri dari tiga bab mengenai spektrum federasi serikat-serikat buruh pasca Orde Baru. Uraian La Botz berpusat pada tiga kelompok, yakni: Serikat Pekerja Seluruh Indonesia – Reformasi (SPSI-Reformasi) yaitu serikat buruh konservatif reinkarnasi dari serikat buruh bentukan pemerintah; Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), federasi serikat buruh independen dan relatif baru yang dipimpin Muchtar Pakpahan; dan Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), serikat buruh kecil namun radikal dan independen yang dipimpin Dita Indah Sari. Melalui wawancara dengan para pimpinan serikat buruh di atas, La Botz seakan membawa kita masuk ke dalam organisasi-organisasi tersebut, menyoroti orientasi politik mereka, struktur organisasi, strategi mobilisasi, dan perjuangan untuk mendapatkan pengakuan dan pengaruh, baik di level nasional maupun di antara kaum buruh Indonesia.

Bagian ketiga dari buku ini yang berjudul “Alternatives to Global Capitalism” memusatkan perhatiannya pada PRD, yang menjadi partai afiliasi FNPBI dan upaya yang mereka lakukan untuk mengubah tatanan sosial yang sudah mapan. Deskripsi dalam tiga bab ini diisi juga oleh dua faktor lain yang memfokuskan pada kerja-kerja ONP yang bergerak di bidang perburuhan dan munculnya gerakan kiri dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang berafiliasi dengan Dita Sari dan FNPBI. Inklusi dari dua bab ini sangatlah penting karena keduanya secara membuat eksplisit jaringan kerja yang amat dekat antara serikat-serikat buruh formal dengan bentuk-bentuk gerakan politik lainnya. Khususnya adalah mahasiswa, yang memainkan peran kunci baik di dalam ONP dan gerakan demokrasi yang lebih luas, juga memiliki keterlibatan yang cukup dalam dengan perjuangan buruh, dan sangat jelas mempengaruhi strategi dan politik kaum buruh. PRD merupakan benang merah hubungan ini, dengan menjelaskan secara detil kemunculannya dari kelompok studi mahasiswa radikal menjadi partai politik yang (meskipun kecil) cukup menggetarkan dan militan, yang memiliki tiga sayap utama yang memfokuskan pada konstituen kuncinya yakni: mahasiswa, petani dan buruh. Buku ini ditutup dengan kesimpulan dengan bagian tentang solidaritas buruh internasional (khususnya yang berbasis di Amerika Serikat) dan sebuah epilog yang menekankan pada manuskrip PRD yang diberi judul “Sosialisme Dari Bawah” (Socialism from Below).

Terlepas dari sumbangan yang besar dengan menggunakan cara pandang yang meluas, buku ini secara analitis memiliki permasalahan dan kekurangan dalam hal membangun jarak yang kritis terhadap permasalahan, serta mengalami kelemahan dalam memahami studi dan sejarah Indonesia. Bisa jadi karena La Botz hanya memiliki sedikit latarbelakang mengenai studi Indonesia sebelumnya, dan sangat mengandalkan wawancara dengan para pimpinan buruh, di mana gambarannya mengenai buruh di Indonesia umumnya tidak jelas dan tidak lengkap. Misalnya, studi ini tidak memiliki deskripsi mengenai statistik demografi mengenai tenaga kerja buruh secara keseluruhan, dan distribusi buruh secara sektoral, mayoritas terbesar yang tidak bekerja membanting tulang di perusahaan-perusahaan manufaktur di Jabotabek, yakni wilayah yang menjadi fokus utama pengorganisasian dan perhatian dalam buku ini.

La Botz juga kelihatannya kurang berhasil dalam menempatkan gerakan buruh dan PRD dalam perspektif politik yang tepat, mengabaikan diskusi dan konflik internal, dan marjinalisasi buruh dalam politik nasional. Studi ini berbeda juga dengan studi-studi lain yang umumnya berhasil melakukan penilaian komprehensif mengenai gerakan buruh seperti Vedi Hadiz, di mana dalam buku ini La Botz sepertinya kurang berhasil untuk menguraikan implikasi dan batasan-batasan dari gerakan buruh, yang sejauh masih mengalami fragmentasi dan hanya sedikit persekutuan politik nasional yang berniat dan tertarik untuk mengorganisir buruh. Demikian juga pada saat La Botz mendisuksikan ONP yang menyingkirkan batasan-batasan pengorganisasian buruh oleh ONP yang umumnya berasal dari kelas menengah. Meski kelompok-kelompok ini telah banyak melakukan pendampingan terhadap buruh, mereka lebih terlatih dan berpengalaman dalam hal pendidikan dan advokasi buruh dibandingkan pengorganisasian di level kerja, dan kompetisi yang sering terjadi di antara NPO dan dengan bakal serikat buruh independen untuk mendapatkan dukungan dana lembaga donor internasional yang jumlahnya tidak banyak, dan tempat di mana banyak gerakan buruh tetap bergantung kepada lembaga donor seperti itu. Terakhir, terlepas dari banyaknya jumlah wawancara yang berhasil dilakukan dengan para aktivis buruh, suara kaum buruh Indonesia sendiri tetaplah tidak berbunyi dan diam di dalam kesunyian. Terdapat sedikit wawancara langsung dengan sejumlah buruh, sedikit tentang pandangan mereka mengenai serikat buruh, dan tidak menyebutkan bahwa banyak dari kaum buruh yang tidak menggunakan hak suaranya sebagai buruh dalam pemilu legislatif tahun 1999, artinya buruh tidak memilih partai buruh atau partai yang memperjuangkan kaum buruh. Misalnya, hanya sejumlah kecil anggota SBSI yang memilih Partai Buruh Nasional (PBN) di mana Muchtar Pakpahan menjadi ketuanya, dan pada kenyataannya, tidak ada partai buruh yang mendapatkan kursi dalam pemilu legislatif 1999.

Hal penting yang menarik untuk diperhatikan dari buku ini adalah, meski judulnya adalah mengenai buruh, namun keseluruhan buku ini lebih tentang aktivis buruh, bukan buruh secara umum. Dari buku ini bisa dipelajari dan ditelusuri banyak hal mengenai produksi Indonesia (sebagai bagian dari jaringan produksi global), dan lebih banyak lagi mengenai para aktivis Indonesia yang berupaya membangun serikat buruh dan pusat perburuhan, namun sesungguhnya hanya menelaah sedikit saja mengenai buruh Indonesia. Bisa jadi ini dikarenakan waktu studi yang singkat, namun memiliki ambisi untuk memberikan kekayaan informasi sebanyak mungkin, yang pada akhirnya pembaca hanya sampai pada pengetahuan mengenai apa yang dipikirkan oleh aktivis dan pengorganisir buruh – yang umumnya adalah orang-orang yang berlatar-belakang pendidikan perguruan tinggi – namun pembaca tidak begitu berhasil mengetahui sesungguhnya bagaimana para buruh “biasa” melihat dan memaknai sesuatu.

Kekurangan lain dalam karya ini adalah tidak menyajikan suatu wawasan baru mengenai  isu yang bersifat melampaui seperti eksploitasi buruh dan pembatasan hak-hak buruh. Yang disajikan hanya lebih baik dalam hal memprakarsai kepada politik dan masyarakat Indonesia secara umum dan issu perburuhan secara khusus, dan banyak bagian utama dalam buku ini lebih bersifat ringkasan yang bisa jadi sangat bermanfaat, ketimbang suatu bentuk analisa yang baru.

Meskipun demikian, posisi Indonesia yang sulit di dalam ekonomi global, terjadinya pergeseran panorama politik, dan aturan baru terhadap kelompok buruh di era pasca Orde Baru, semuanya memperlihatkan betapa pentingnya pemahaman yang lebih baik mengenai buruh di Indonesia dan tantangan yang mereka hadapi. Meskipun La Botz tidak menyajikan nuansa perbedaan yang khusus atau analisa yang baru, ia berhasil menyajikan buat siapa saja yang tertarik kepada tema pengorganisasian buruh di Indonesia sebuah kajian pendahuluan yang amat penting bagi gerakan buruh kontemporer dan para pemimpinnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s