Islam-Politis di Indonesia Pasca-Soeharto (Timbangan Buku)

Judul Buku: Political Islam and Violence in Indonesia. Penulis:  Zachary Abuza. Penerbit: Routledge, New York (2007).

Buku karya Zachary Abuza ini merupakan buku yang cukup penting dalam menguraikan problem terorisme di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, meskipun banyak keraguan yang dihidangkannya, terutama dalam hal detilitas konsep, data-data empiris, dan juga dalam disiplin metodologis. Dalam hal ini, keraguan terhadap Abuza adalah karena minimnya ia bersentuhan dengan isu-isu Indonesia. Ini terlihat dengan lemahnya Abuza dalam pemahaman dan pengetahuan mengenai latar belakang politik Indonesia, Islamisme dan jihadisme. Meskipun Abuza telah melakukan perjalanan berkeliling Asia Tenggara dan Indonesia selama beberapa tahun untuk melakukan berbagai wawancara terhadap narasumber dan sejumah aktivis, namun jika dibaca oleh para pakar dan ahli dalam kajian Islam di Indonesia dan kepulauan Asia Tenggara, akan dijumpai sejumlah keganjilan dan kekurang-cermatan, setidaknya dalam hal istilah, peristiwa-peristiwa tertentu dan nama tempat.

Secara umum, Abuza menguraikan bahwa tujuan dari studinya ini adalah ingin melakukan eksplorasi terhadap tiga fenomena yang berlangsung dan saling terkait dalam kepolitikan Indonesia, yakni: pertama, munculnya Islam sebagai kekuatan sosial dan politik; kedua, runtuhnya sistem pemerintahan yang otoriter dan sentralistis; dan ketiga, munculnya peningkatan kekerasan politik dan aksi terorisme, di mana para pelakunya mengatasnamakan Islam dalam tindakan tersebut. Abuza mencoba untuk menguji bagaimana fenomena-fenomena tersebut terbangun dalam delapan tahun semenjak kejatuhan Soeharto, dan mencoba untuk melakukan penilaian terhadap apa yang akan terjadi dalam pemerintahan SBY sampai tahun 2009.

Di luar bagian pendahuluan dan kesimpulan, buku ini ini terdiri dari empat bab yang memfokuskan pada demokratisasi dan munculnya Islam-politis, Jemaah Islamiyah dan terorisme Islamis, kelompok Muslim radikal dan milisi Islamis, dan terakhir, mengenai arah masa depan Islamisme di Indonesia yang memiliki motif yang sama namun metode yang berbeda-beda. Keempat subyek tema ini disajikan dengan sederhana oleh penulis melalui sebuah buku yang sangat berguna jika membacanya secara utuh. Salah satu kekuatan dari buku ini adalah dalam hal bagaimana setiap bab saling berhubungan dan berkaitan satu dengan lainnya dan pada konteks yang sama mengenai Indonesia pasca-Soeharto.

Bab mengenai munculnya Islam-politis menyajikan hasil survei tentang tren yang meluas yang bisa dilihat dari Pemilu 1999 dan 2004. Jika dibandingkan dengan kekuatan dukungan Islam yang ditampilkan pada Pemilu 1955 dengan data dan fakta pada pemilu 1999 dan 2004, misalnya, tidaklah sesederhana sebagaimana diutarakan Abuza, di mana Masyumi bukanlah partai Islam modern, demikian juga dengan NU yang kurang lebih sama. Juga peningkatan dukungan terhadap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memperoleh 7.3 persen pada 2004 dibandingkan dengan 1.3 persen (Abuza melakukan kesalahan dengan menyebutnya 1 persen) yang diperoleh pendahulunya yakni Partai Keadilan (PK) tidaklah demikian luar-biasa sebagaimana diutarakan Abuza. Penting untuk dicatat bahwa untuk pemilu 2004 PK bergabung bersama 15 partai Islam kecil – yang ikut pemilu 1999 namun gagal mencapai 2 persen electoral threshold untuk ikut pemilu 2004 – untuk membentuk PKS. Jika dihitung secara teliti dan cermat, sepertinya PKS memperoleh 3 persen lebih dalam pemilu 2004 dibandingkan yang dilakukan para pendahulunya secara kolektif di tahun 1999. Meskipun demikian, pengamatan Abuza yang paling penting mengenai landasan Islamis dari PKS cukup tersajikan dengan baik, sebagaimana dinyatakan Abuza: “What they say to a public audience is very different than the internal message to their members. Rather than focusing on sharia immediately, they continue to focus on the moral qualities of Islam and the gradual Islamization of society. That they have downplayed sharia as tactical” (hal.28).

Pada bab mengenai Jamaah Islamiyah dan Islamisme teroris, Abuza menulis dengan menelusuri Jemaah Islamiyah secara ekstensif dengan melakukan riset sampai pada wilayah operasinya di seluruh Asia Tenggara. Jadi tidaklah terlalu mengejutkan jika bab ini menampilkan suatu penyajian dan kesimpulan yang menarik dan menambah wawasan, pemahaman dan pengetahuan kita mengenai keuletan dan kemampuan beradaptasi dari jaringan teroris. Ramalan Abuza mengenai bagaimana gerakan teroris akan menjalankan taktik dan strategi di Indonesia ternyata bisa diuji kredibilitasnya sampai saat ini, sebagaimana dinyatakan Abuza: “JI will likely attempt to re-ignite sectarian conflict in Indonesia’s outlying provinces, engage in a campaign of religious purification against what it perceives as improper practices, and solidify transnational ties with terrorist and other sympathetic organizations in an attempt to reinvigorate itself” (hal.52).

Uraian yang cukup menarik juga disajikan pada pada bab empat buku ini yang membahas mengenai kelompok-kelompok Muslim radikal dan milisi Islamis, di mana Abuza menyajikan gambaran yang cukup mengganggu konsolidasi demokrasi dan transisi demokrasi, di mana kelompok-kelompok tersebut: “Although most are quite small in membership, they have a disproportionate voice in Indonesian politics in Indonesian politics and society. Their ends and means are for the most part decried by the moderate majority, but too often they only react to the Islamists’ provocations. Vociferous and thoroughly committed to their causes, they tend to have good recruitment networks on university campuses and cadre-based parties such as PKS” (hal. 81).

Bisa jadi, yang paling menarik dari buku ini adalah dalam hal bagaimana Abuza melakukan studi atas masing-masing dari tiga tema pokok tadi di dalam bagiannya masing-masing, dan kemudian berupaya untuk mengeksplorasi sinergi dan interkoneksi yang unik yang menghubungkan ketiganya. Dari semuanya, kemudian bab paling menarik adalah bab lima yang membawa semua penjelasan dan analisanya dan mengkaitkannya secara bersama-sama dalam sebuah upaya untuk membuat cara penyajian agar kelihatan mengarah kepada “masa depan Islamisme di Indonesia”. Memang, bab terakhir ini meskipun menarik, namun tidak pernah cukup memuaskan pembaca – karena ikhtiarnya adalah mencoba melihat sesuatu ke depan, dan merupakan sesuatu yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh buku ini, karena proses itu merupakan proses yang sedang berjalan. Namun bab ini merupakan bab paling panting dikarenakan kisah dari seluruh buku ini berada di bab ini.

Sejumlah kelemahan memang kelihatan di sana-sini. Misalnya dalam hal terminologi dan konsep di mana sepertinya Abuza abai untuk memberikan penjelasan yang rinci dan penjelasan akar historisnya, karena sangat mengganggu bagi pembaca yang tidak memiliki pengetahuan yang komprehensif mengenai Islam. Misalnya, dalam bagian-bagian awal Abuza memberikan deskripsi yang membingungkan mengenai “santri” dengan “salafi”, di mana Abuza menggambarkan santri Muslim sebagai mereka yang mewakili “a more Salafist Islam”, namun dengan tidak memberikan penjelasan yang memuaskan mengenai apa yang dimaksud dengan Salafi. Santri umumnya mengindikasikan seorang Muslim yang taat, sedangkan Salafisme merupakan suatu definisi yang lebih kompleks, namun itu bisa memadai jika Abuza menggambarkannya tegas secara literalis sebagai bentuk Islam yang mencari kemiripan praktik dari generasi Muslim pertama. Banyak sekali variasi perilaku Islam yang taat di Indonesia, dan Salafisme hanya merupakan satu dari sekian yang sangat kecil. Kesalahan intepretasi santri sebagai Salafi merupakan kesalahan fundamental, seperti menyamakan dengan begitu saja bahwa dalam agama Kristen semua Protestan sebagai Mormon. Dengan penjelasan yang minim mengenai Salafi, Abuza semakin membingungkan pada saat ia menjelaskan bahwa pemimpin Laskar Jihad sebagai seorang “Salafi ortodoks” dan Hizbut Tahrir sebagai “Salafi murni”. Abuza juga tidak memberikan semacam glossary mengenai istilah-istilah yang diturunkan dari bahasa Arab, seperti dakwah, shari’ah, ulama, khilafah dan Wahabisme.

Hal lain yang cukup mengganggu dari deskripsi dan penjelasan Abuza adalah tendensi untuk menempatkan individu maupun organisasi yang berbasiskan pada gagasan kekerasan maupun perilaku teroristik, tanpa menyediakan bukti-bukti dan fakta-fakta yang bisa dikatakan lengkap. Misalnya saja, Abuza melakukan klaim bahwa Laskar Mujahidin adalah bagian dari jaringan teroris Jemaah Islamiyah (JI) dan sekolah Islam al-Zaytun mendidik dan melatih para teroris, namun tanpa menyajikan data-data yang valid dan lengkap. Bisa jadi bahwa Laskar Mujahidin memang merupakan kelompok paramiliter yang menjalankan cara-cara kekerasan, dan al-Zaytun memiliki kaitan dengan gerakan bawah tanah Darul Islam, namun belum bisa dikaitkan dengan atau memiliki implikasi dengan terorisme Jemaah Islamiyah. Demikian juga dengan penjelasan Abuza bahwa Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) sebagai cabang dari JI, namun tanpa memberikan rujukan atau catatan kaki dari mana ia menarik kesimpulan seperti itu.

Namun, secara umum, dalam bukunya ini Abuza mencoba untuk menjelaskan spektrum aktivis Islamis seutuhnya dalam proses demokratisasi, melalui Islamisme dalam partai politik kepada aktivisme mujahidin yang menggunakan cara-cara main hakim sendiri di luar hukum (vigilante), serta kelompok terorisme yang mengusung tema jihad. Namun juga, dalam beberapa hal buku ini bersifat sangat provokatif sekaligus memberikan banyak nuansa dan informasi serta pengetahuan. Terlebih, tidak semua detil yang disajikan dalam buku ini tepat dan benar, namun secara lebih luas, buku ini tetap merupakan buku yang layak untuk dibaca.

Buku setebal 162 halaman ini tentu saja tidak bisa diharapkan untuk mengambil suatu posisi yang mampu mendalami dan menjelajahi issu-issu yang menjadi fokus isinya dan kedalaman yang mungkin diharapkan oleh para pembaca. Meski demikian, sebagai sebuah buku pengantar, buku ini dapat memberikan pijakan untuk pendalaman dan penjelejahan lebih jauh, karena buat siapa saja yang ingin melakukan studi serius mengenai Islam dan aktivisme politik di Indonesia, akan sangat memerlukan buku ini, sebagai bahan awal dan titik pijak yang sangat baik untuk memulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s