Membaca Gagasan Keadilan Amartya Sen

Mengapa pemikiran Amartya Sen – peraih Nobel Ekonomi 1998 – dan terutama sekali gagasannya mengenai keadilan menjadi menarik untuk didiskusikan?  Ide mendiskusikan pemikiran Amartya Sen  sesungguhnya tidak terlepas dari terbitnya buku Amartya Sen paling mutakhir, yakni The Idea of Justice (2009). Buku ini sendiri menarik perhatian banyak kalangan, karena dalam buku ini Sen dianggap sedang membangun argumen filosofisnya, terutama mengenai gagasan keadilan, demokrasi dan kebebasan. Berbeda dengan buku-buku Sen pada umumnya yang sarat dengan data statistik, tabel dan kurva dalam menyoroti persoalan ekonomi, kemiskinan dan kelaparan, dalam buku ini ia lebih mengutarakan argumen-argumen filosofisnya mengenai gagasan keadilan dan upaya memerangi ketidakadilan dalam konteks praktik demokrasi dan keniscayaan globalisasi.

Keadilan merupakan keutamaan yang dibangun di dalam republik ini. Keadilan bukan semata-mata sebentuk benda yang bisa diukur secara presisi dan persis, dan dibuat batas-batasnya secara jelas, melainkan karena keadilan adalah tempat di mana orang-orang memaknai apa yang diperjuangkannya. Karenanya, mempertautkan keadilan dengan konteks kekinian menjadi hal yang sangat penting. Apa yang ditulis Amartya Sen merupakan upayanya untuk mempertautkan keadilan dengan persoalan sosial-politik-ekonomi saat ini. Bagi Sen, gagasan keadilan yang sekarang ini ada, tidak lagi memadai untuk menampung berbagai persoalan dan gejolak yang melanda masyarakat secara keseluruhan. Mulai luruhnya batas-batas nasional, dan hadirnya globalisasi sebagai suatu yang imperatif, mendorong Sen untuk merumuskan gagasan keadilan yang baru.

Dalam buku The Idea of Justice, Sen membahas soal-soal etika, hak asasi manusia, globalisasi dan demokrasi, dan juga teori pilihan sosial. Sen juga tetap gigih memperjuangkan rasionalitas manusia — yang menurut Sen jauh lebih bernilai ketimbang prinsip maksimalisasi kepentingan-diri semata sebagaimana dalam teori pilihan rasional — sebagai hal yang penting bagi ekonomi, yang akhir-akhir ini mengalami kebangkrutan moral.

Pada bagian pendahuluan di buku tersebut, Sen mengajukan ilustrasi mengenai tiga bocah yakni Anne, Bob dan Carla serta sebuah seruling. Ilustrasi ini mengandaikan adanya prinsip kelangkaan (seruling) dan hak (dengan beragam perspektif). Anne menyatakan bahwa seruling itu harus diberikan kepadanya karena ia satu-satunya di antara mereka yang bisa memainkannya (yang diakui oleh kedua bocah lainnya). Sementara bagi Bob seruling itu harus diberikan kepadanya karena ia sangat miskin dan tidak memiliki mainan lain, sehingga seruling itu akan menjadi mainannya satu-satunya. Demikian juga dengan Carla sang pembuat seruling yang menyatakan bahwa ia yang paling berhak atasnya. Pertanyaan yang diajukan Sen dalam soal ini adalah, bagaimana kita memutuskan satu di antara tiga klaim yang keseluruhannya memiliki dasar legitimasi tersebut? Karena sangat sulit untuk mencari pengaturan secara institusional yang bersifat universal yang dapat membantu untuk mencari jalan keluar dari persoalan pelik tersebut. Dari sini Sen memulai argumennya bahwa konsepsi mengenai “masyarakat yang adil” atau “just society” pun tidak akan dapat menolong kita untuk memutuskan bocah mana yang seharusnya mendapatkan seruling.

Maka siapa yang berhak mendapatkan seruling akan bergantung pada gagasan keadilan mana yang menjadi pijakan argumentasinya. Bagi para pengusung gagasan kesetaraan-ekonomi maka akan menunjuk Bob sebagai pihak yang paling berhak untuk memperoleh seruling tersebut. Para libertarian akan menunjuk Carla, sementara kaum utilitarianisme akan lebih memilih Anne, karena hanya dia yang paling mungkin untuk mendapatkan kepuasan secara maksimal. Sampai di sini keadilan bukan lagi menjadi semacam ideal yang sifatnya monolitik, melainkan gagasan yang sifatnya pluralistik yang mengandung banyak dimensi di dalamnya. Ada hasrat pada diri Sen untuk menemukan sejenis prinsip yang dapat mengatur alokasi sumberdaya secara umum. Sen mencoba mengemukakan soal-soal mengenai pengaturan dan pengelolaan secara sosial seperti apa yang harus dibuat, institusi-institusi sosial mana yang harus dipilih, dan juga mengenai realisasi sosial seperti apa yang nantinya akan muncul.

Dari sini Sen mencoba menelaah ulang gagasan “keadilan” yang sudah digagas Thomas Hobbes, John Locke, dan Immanuel Kant yang mencoba untuk merumuskan gagasan keadilan yang diturunkan dari konsep “kontrak sosial” antara warga dengan negara. Di titik ini “masyarakat yang adil” dipahami sebagai hasil dari institusi-institusi negara yang berjalan secara adil, dengan adanya pengaturan sosial serta hak-hak warga. Secara umum Sen mencoba untuk menekankan betapa perlunya suatu titik berangkat yang radikal dari tradisi dominan dalam memfilsafatkan keadilan, sebagaimana dalam Locke, Kant dan kemudian Rawls, yang diturunkan dari hipotesa mengenai kontrak sosial, yang memfokuskan pada upaya untuk mengejar adanya aturan-aturan dan institusi-institusi yang adil. Dengan titik berangkat argumennya dari buku monumental John Rawls yakni A Theory of Justice, yang memberikan pengaruh besar bagi dirinya, Amartya Sen mengumandangkan bahwa sudah saatnya untuk memikirkan kembali teori-teori keadilan yang saat ini ada.

Pendekatan yang dikemukakan Sen adalah bahwa dalam demokrasi, nalar publik (public reasoning) merupakan perlengkapan yang sangat penting sehingga ide keadilan dapat dibawa ke wilayah praktis untuk direalisasikan. Ruang publik merupakan tempat di mana nalar publik diuji dan dikontestasikan, dan di situ publik dapat saling setuju untuk tidak bersepakat. Bagi Sen, dari sini bisa dibangun titik awal untuk membangun proses penalaran sebagai cara untuk menghapuskan ketidakadilan. Menariknya, penekanan Sen pada pentingnya public reason bukan diambil dari Rawls, melainkan dari gagasan diskursus politiknya Jurgen Habermas, yang sebelumnya sangat jarang disinggung Sen di dalam karya-karyanya.

Sampai detik ini, Amartya Sen merupakan satu dari sedikit intelektual yang dengan gigih terus-menerus bekerja dan berupaya untuk merumuskan suatu pengukuran yang tujuannya adalah mengurangi ketidakadilan. Bersama Mahbub Ul-Haq, Sen mengembangkan Human Development Index (HDI), sebagai indikator yang lebih bisa menujukkan keadilan dan ukuran pemerataan, yang kemudian diturunkan juga menjadi Gender-Related Development Index (GRDI). Bersama Martha Nussbaum, Sen juga merumuskan pendekatan kapabilitas (capabilities approach), yakni suatu pendekatan untuk mengukur tingkat kebebasan yang substantif, misalnya, kemampuan untuk hidup panjang, terlibat dalam berbagai transaksi ekonomi dan partisipasi dalam aktivitas politik. Sen juga terlibat aktif mengkampanyekan gagasan human security sebagai kontra-posisi dari state-security, sebagai upaya untuk mendorong peningkatan kualitas hidup manusia dan perlindungan dari berbagai ancaman-ancaman terhadap manusia seperti: wabah penyakit, bencana, krisis ekonomi, dan lain-lain yang mengancam keamanan kehidupan manusia. Suatu gagasan bagaimana untuk menjamin keamanan kehidupan manusia sehari-hari secara umum.

=================================================================

Amartya Sen, dilahirkan pada 3 November 1933 di Bengali, India. Ia merupakan ekonom India yang meraih penghargaan Hadiah Nobel bidang Ilmu Ekonomi pada tahun 1998 untuk sumbangsih pemikirannya mengenai ekonomi kesejahteraan (welfare economics) dan teori pilihan sosial (social choice theory), dan juga untuk perhatiannya pada persoalan-persoalan yang dihadapi kelompok-kelompok masyarakat paling miskin. Amartya Sen menyelesaikan pendidikannya di Presidency College di India dan University of Cambridge, Inggris. Amartya Sen sangat dikenal luas melalui karya-karyanya yang membahas sebab-musabab kelaparan, yang mendorongnya untuk mengembangkan solusi praktis untuk melindungi atau membatasi akibat-akibat yang nyata, atau setidaknya kemampuan untuk berhadapan dengan persoalan kekurangan pangan.  Pada saat ini Amartya Sen merupakan Thomas W. Lamont University Professor dan juga Professor of Economics and Philosophy di Harvard University. Ia juga merupakan senior fellow di Harvard Society Fellows, distinguish fellow di All Souls College, University of Oxford, dan juga fellow di Trinity College, University of Cambridge, di mana ia pernah menjabat sebagai Master dari tahun 1998 sampai 2004. Amartya Sen merupakan orang Asia pertama dan juga akademisi India pertama yang pernah memimpin di Universitas Oxford maupun Cambridge.

Sejumlah Karya Amartya Sen: Choice of Techniques (1960); Collective Choice and Social Welfare (1970); Choice of Techniques (1971); On Economic Inequality (1973); Poverty and Famines: An Essay on Entitlement and Deprivation (1981); Poor, Relatively Speaking (1982); Utilitarianism and Beyond (bersama Bernard Williams); On Ethics and Economics (1987); The Standard of Living (bersama Geoffrey Hawthorn, 1989); Hunger and Public Action (bersama Jean Drèze, 1991)); Inequality Reexamined (1992); The Quality of Life (bersama Martha Nussbaum, 1993); India: Economic Development and Social Opportunity (bersama Jean Drèze, 1995); Choice, Welfare and Measurement (1997); Resources, Values, and Development (1997); Reason Before Identity (1998); Development As Freedom (1999); Commodities and Capabilities (1999); Social Exclusion: Concept, Application, and Scrutiny (2000); Rationality and Freedom (2002); Pathologies of Power: Health, Human Rights, and the New War on the Poor (bersama Paul Farmer, 2004); The Argumentative Indian: Writing on Indian History, Culture and Identity (2005); Identity and Violence: The Illusion of Destiny (2006); Employment, Technology and Development (2008); The Tacit Dimension (bersama Michael Polanyi); The Idea of Justice (2009); Mismeasuring Our Lives: Why GDP Doesn’t Add Up (bersama Joseph Stiglizt dan Jean-Paul Fitoussi, 2010)

3 thoughts on “Membaca Gagasan Keadilan Amartya Sen

  1. Pingback: Membaca Gagasan Keadilan Amartya Sen «

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s