Gelombang Krisis Kapitalisme Global

capitalism-doesnt-work

Kebangkrutan Yunani menggemparkan seantero jagad. Kantor berita Reuters pada 31 Juli 2012 dengan lebih halus menyebut Yunani nyaris bangkrut, sementara ekonom Amerika Serikat (AS) Noriel Roubini dengan lebih gamblang menyebut Yunani telah bangkrut (CNBC 20 Januari 2010). Apa yang terjadi pada Yunani, dan sejumlah negara Eropa lainnya seperti Spanyol dan Portugal, merupakan bagian dari krisis ekonomi mondial yang dipicu krisis keuangan besar-besaran di AS.

Krisis keuangan global yang berlangsung hingga hari ini, gejala awalnya bisa dirujuk semenjak bangkrutnya perusahan-perusahaan keuangan raksasa di AS seperti Merrill Lynch dan Lehman Brothers pada 2008, yang kemudian mendorong juga terjadinya krisis ekonomi, terutama di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Indonesia pun sempat terkena dampaknya, berupa anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan juga terus melemahnya nila tukar Rupiah terhadap mata uang US$ Dollar. Pada waktu itu, BEI sendiri sempat ditutup beberapa hari untuk menghindari semakin tajamnya penurunan IHSG.

Sejumlah bank-bank Eropa yang ikut berinvestasi di dua perusahaan tersebut — terutama Lehman Brothers — pun tak luput mengalami kebangkrutan. Beberapa di antaranya bahkan harus disuntik dana ekstra besar oleh bank-bank pemerintah. Bank of America juga dipaksa untuk mengakuisisi Merrill Lynch sebesar US$50 miliar untuk mencegah krisis keuangan yang lebih besar jika sampai Merrill Lynch mengalami kebangkrutan. Namun pada saat Lehman Brothers menyusul ikut ambruk, keuangan AS pun seketika mengalami krisis serius.

Dalam studi Hans-Werner Sinn, Casino Capitalism: How the Financial Crisis Came About and What Needs To Be Done Now (2010), pada 2008 terdapat lebih dari 100 lembaga keuangan AS dan Inggris yang mengalami kejatuhan/kebangkrutan maupun yang dinasionalisasi, baik sebagiannya maupun secara keseluruhan. Di Islandia, seluruh bank dinasionalisasi, dan untuk seluruh keperluan praktis, negeri itu bisa dikatakan mengalami kebangkrutan. Irlandia, Hungaria dan Yunani mengalami gagal bayar atau kesulitan pembayaran, dan banyak yang menilai Inggris Raya dan Italia pun mengalami problema yang serius. Demikian juga dengan negara-negara Eropa Timur, baik yang tergabung di dalam maupun di luar Uni Eropa, berada dalam kesulitan. Meski pada tahun 2010 badai resesi yang menghantam semenjak 2008 dalam beberapa hal bisa dikatakan berakhir, namun banyak yang menilai bahwa ini hanya bersifat sementara saja, karena krisis perbankan masih jauh dari situasi membaik, dan krisis hutang pemerintah (publik) masih membayangi sampai hari ini. Peristiwa Jumat 10 Oktober 2008 yang kemudian dikenal dengan istilah “Jumat Hitam” (Black Friday), merupakan hari di mana akhir pekan yang seharusnya ditunggu, justeru manjadi hari di mana harga-harga saham seantero jagad jatuh terpuruk sampai 18.2 persen, suatu kejatuhan skala besar yang tidak pernah dialami dalam beberapa generasi. Kejatuhan harga yang demikian di dalam satu minggu, bahkan tidak terjadi pada depresi besar tahun 1929 (Sinn 2010: 1).

Menurut majalah Business Week, gelombang krisis keuangan global saat itu juga mengancam terjadinya PHK besar-besaran di AS. PHK massal bahkan mengancam tiga industri otomotif terbesar di AS, yakni General Motors, Ford dan Daimler Chrysler, yang secara total mempekerjakan sekitar 600 ribu orang (Business Week, No.31/2008). Media massa dan para pengamat serta akademisi banyak menilai krisis ini sebagai krisis kapitalisme, atau bahkan dianggap merupakan kegagalan kapitalisme sebagai sebuah sistem.

Kegagalan AS Membangun Imperium

Gejala krisis keuangan di AS yang saat ini terjadi sudah diraba James Petras sedari tahun 1980an. Dalam bukunya yang ditulis bersama Morris Morley, Empire or Republic?: American Global Power and Domestic Decay (1995), Petras memandang bahwa kehadiran kapital keuangan (finance capital) yang menjadi garda depan perekonomian AS pada 1980an telah menyebabkan terjadinya deregulasi terhadap sistem perbankan yang memfasilitasi perpindahan modal secara besar-besaran dari sektor kegiatan produktif dan produksi barang-barang kepada invetasi keuangan. Investasi-investasi industri banyak disubordinasikan di bawah pendanaan militer dan rejim spekulan di Amerika Latin, Leverage Buyout (LBO), dan juga bisnis real estate di dalam negeri. Lembaga-lembaga investasi keuangan tumbuh menjamur.

Perluasan kegiatan ekonomi ke seluruh penjuru dunia, lewat kegiatan kapital keuangan, juga dengan menciptakan perang maupun operasi militer di mana-mana, seperti: menguasai Amerika Latin, Perang Teluk, Perang Irak, Afghanistan, dan lain-lain, disebut sebagai kegiatan yang dilakukan di bawah program “kepemimpinan global” untuk membuka dan menguasai ekonomi dunia. Proyek inilah yang dalam beberapa tahun belakangan ini dikenal sebagai “globalisasi”.

Pada dekade itu, dunia perbankan bukan hanya memberikan pinjaman kepada sektor real estate sampai tiga kali lipat besarnya, melainkan juga menyediakan 50%-70% dari modal untuk membeli LBO. Menurut studi Petras, pada akhir 1988 total pinjaman bank kepada LBO diperkirakan sebesar US$175-200 miliar (Petras dan Morley 1995: 27). Menurut Petras, kegagalan pada sistem perbankan AS — termasuk kegagalan untuk dapat dengan cepat menyerap simpanan maupun pinjaman secara massif — yang menyebabkan Pemerintah AS harus membayar bailout hingga sebesar US$500 miliar, harus juga dilihat dalam konteks politik yang lebih luas, di mana kebijakan mengedepankan financial capital merupakan hegemoni yang tidak bisa ditandingi oleh institusi-institusi publik, yang menjadikan para “pembuat undang-undang” (regulator) sebagai instrumen untuk membantu kejahatan para bankir mencapai tujuannya.

Petras menilai bahwa baik Partai Demokrat, Partai Republik maupun Kongres, dan eksekutif, telah memainkan peran aktif dalam mempromosikan dan mendorong ekspansi kapital keuangan. Sementara itu, sejumlah akademisi dan pakar media memberikan dukungan dengan mempromosikan tibanya era bebas krisis, yakni masyarakat informasi pasca-indutri. Bisnis spekulasi keuangan kemudian dipromosikan melalui kemajuan teknologi informasi, di mana rumah-rumah dialihfungsikan menjadi perbankan, dan membuat siapa saja bisa menjadi “usahawan” (entrepreneur). Sementara “retorika pasar-bebas” diadopsi, para “usahawan” tersebut berspekulasi dengan uang milik publik. Di sisi lain, pemerintah menjadi beking kegiatan ekonomi ini dengan cara menjamin semua simpanan atau deposit (Petras dan Morley 1995: 28-29).

Kalau merujuk pada analisis Petras, maka jelas terpampang betapa hasrat para elit AS untuk mengubah karakter ekonomi domestik menjadi “kepemimpinan global” menjadi penyebab utama terjadinya erosi pada fondasi-fondasi domestik kekuasaan negara yang mengikis masyarakat domestik. Ideologi pasar bebas dan globalisasi yang ditebar seluas-luasnya, sehingga berlaku lagaknya imperium, yang menjadi penyebab utama kerusakan fondasi ekonomi domestik. Bagi Petras, yang terpenting untuk AS adalah mengembalikan fungsi negara republik (bukan imperium), yang artinya harus berkonfrontasi dengan partai-partai politik besar, bank-bank, dan perusahaan-perusahaan yang telah menangguk untung besar dari upaya mengeksploitasi rakyat AS dan harta publik atas nama “kepemimpinan global”.

Amerika Serikat dan Kapitalisme Kasino

Analisis lain yang menarik untuk dirujuk adalah buku karya Susan Strange yang berjudul Casino Capitalism (1997). Buku yang pertama kali terbit tahun 1986 ini ditulis untuk menanggapi pandangan konvensional kaum liberal yang memaksakan kepada setiap orang — baik mahasiswa, politisi maupun jurnalis — untuk memercayai bahwa bahaya besar bagi ekonomi dunia adalah proteksionisme. Bagi kaum liberal, kebijakan pembatasan perdagangan beggar-thy-neighbour merupakan penyebab terjadinya depresi besar tahun 1930an.

Dalam analisa Susan Strange, kesalahan manajemen dalam pengaturan keuangan dan kredit merupakan hal yang jauh lebih berbahaya ketimbang proteksionisme dalam kebijakan perdagangan. Ini yang tumbuh dan berkembang pesat di era 1970an dan 1980an, yang juga didorong oleh sejumlah akibat politik dari perubahan besar dalam pasar keuangan internasional, di mana banyak para pembuat-kebijakan hanya berusaha untuk mengetahui, namun sesungguhnya sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada pasar, karena negara tidak memperdulikannya. Dalam pandangan Strange, bisnis keuangan dunia, terutama di AS dijalankan bagai bermain kasino, dengan cara memperdagangkan saham, investasi dan keuangan, yang kemudian melahirkan casino capitalism atau kapitalisme kasino.

Dalam ilustrasi Strange, sistem keuangan dunia Barat berkembang pesat menyerupai sebuah kasino yang sangat besar. Setiap hari permainan berlangsung di kasino yang menyertakan sejumlah uang yang demikian besar. Pada malam harinya, permainan juga berlangsung di belahan lain muka bumi. Di gedung-gedung pencakar langit di berbagai kota-kota besar di seluruh dunia, berbagai ruangan penuh dengan anak-anak muda yang memainkan permainan ini sambil menghisap rokok. Mata mereka tertuju pada layar komputer yang menyajikan perubahan harga-harga. Mereka bermain menggunakan hubungan telepon lintas-benua atau mesin pencet elektronik. Mereka tak ubahnya para penjudi di kasino yang mengamati perputaran bola perak pada meja roulette dan memasang chips di atas warna merah atau hitam, angka ganjil atau genap.

Sebagaimana layaknya sebuah kasino, saat ini keuangan skala besar dunia menawarkan pilihan terhadap berbagai jenis permainan, seperti pasar valuta asing (foreign exchange market) dalam berbagai bentuknya, atau dalam bentuk surat hutang (bonds), surat berharga, serta saham milik pemerintah. Di semua jenis pasar ini, pemain bisa memasang taruhan untuk masa depan dengan terlebih dulu menyepakati dan membeli atau menjual berbagai pilihan, dan semua kategori yang tersembunyi yang diciptakan oleh sistem keuangan. Sejumlah pemain — khususnya perbankan — bermain dengan jumlah uang yang sangat besar. Dalam kasino terdapat juga banyak operator kecil. Ada juga para pemberi petunjuk, penjual saran, penjaja sistem dan para pembujuk-rayu. Bandar yang berada di belakang meja kasino keuangan global ini adalah bankir-bankir raksasa dan para broker besar (Strange 1997: 1-2).

Kapitalisme kasino ini berkembang sedemikian pesat. Namun pemerintah AS tidak terlalu memedulikan aktivitas ekstra-teritorial dari bank-bank yang telah membawa seluruh sistem keuangan internasional lepas dari pengawasan dan regulasi. Itu terjadi tepat pada saat integrasi pasar keuangan bergerak ke arah yang berlawanan, sementara keseimbangan pasar dan otoritas mencoba untuk menjaga setidaknya kurang lebih sama. Di sisi lain, trend dominan dalam pembuatan kebijakan domestik AS pada masa Presiden Gerald Ford, Jimmy Carter dan Ronald Reagan mengarah pada deregulasi. Deregulasi saat itu dilakukan terhadap penerbangan (airlines), telepon dan jasa keuangan (Strange 1997: 52).

Menurut Strange, risiko dan ketidakpastian dalam sektor/struktur keuangan telah memprovokasi terjadinya guncangan besar ekonomi pada dua dekade 1970-1990an. Dalam bukunya ini, Strange mencoba menelusuri rincian data-data dalam analisis sejarah yang berhasil ia identifikasi. Selain itu Strange juga mengajukan argumen untuk menentang upaya memecahkan krisis ekonomi internasional yang banyak diajukan. Argumen Strange adalah Amerika Serikat harus mengambil peran utama, dan secara radikal mengusulkan bahwa regulasi keuangan terhadap agen-agen penyedia kredit tidak boleh berdasarkan yurisdiksi teritorial, melainkan pada nilai mata uang (currency) di manapun transaksi kredit berlangsung.

Analisis Strange dalam menempatkan dan memahami “keputusan-keputusan kunci” yang diambil dalam sebuah sektor/struktur kekuasaan dalam ekonomi-politik internasional, menunjukkan bagaimana aktivitas-aktivitas yang menyebabkan terjadinya guncangan tersebut menyebar dan berakibat pada struktur lain. Strange juga menyimpulkan bahwa perubahan konstitusional dan pemerintahan di AS akan menguntungkan sistem internasional. Menurut Strange, Pemerintah AS harus menghadirkan kembali stabilitas dan kepastian terhadap manajemen ekonomi domestik mereka. Sistem keuangan dunia yang tidak stabil dan tidak bisa diprediksi merupakan bagian dari akibat langsung meningkatnya instabilitas kebijakan ekonomi AS. Bagi Strange, meletakkan ekonomi AS dalam keteraturan merupakan tugas yang lebih mudah untuk diucapkan daripada dilakukan, dan memerlukan sejumlah prasyarat perubahan institusional (Strange 1997: 75).

Sebagaimana Strange, Hans-Werner Sinn juga menilai bahwa sistem perbankan di Wall Street menjadi biang kerok dari kebangkrutan ekonomi AS, yang berdampak ke seluruh dunia, juga jatuh dalam casino capitalism atau kapitalisme kasino. Perjudian di dunia saham dan perbankan umumnya dilakukan para spekulan saham dan pialang-pialang. Meski tidak berspekulasi buta laiknya berjudi di kasino, Sinn memandang masalah krusialnya adalah bank-bank Wall Street juga terlibat di dalam perjudian bersama para spekulan tersebut, yang memang memiliki kemungkinan positif untuk memperoleh kemenangan. Jenis perjudian ini pembayarannya, secara rata-rata, bukan di bawah nilai pasar taruhan, melainkan di atasnya. Permainan spekulasi bank-bank investasi, yang menjadi jantung dari seluruh rangkaian peristiwa ini, dilandaskan pada model bisnis rasional yang dalam banyak hal memiliki kemiripan dengan permainan judi, namun ada perbedaannya, yakni permainan ini menjanjikan keuntungan sangat besar dalam jangka panjang, dengan menggunakan uang masyarakat/publik. Dari gambaran itu, sebenarnya bisa ditampakkan di mana sesungguhnya letak persoalan.

Sinn, ekonom Jerman yang percaya pada doktrin supply-side economy, memandang perlunya dilakukan upaya untuk mengubah sistem perbankan di AS agar tidak terulang kembali krisis besar sebagaimana tahun 2008. Sinn mengambil kembali doktrin Keynesian, yakni perlunya peran negara untuk melakukan regulasi dan mengawasi perbankan lebih ketat agar tidak kembali jatuh dalam permainan kapitalisme kasino. Pandangan ini dikemukakan Sinn karena adanya fakta bahwa sistem perbankan AS secara umum telah mengalami kebangkrutan dan tak akan bisa lagi beroperasi tanpa bantuan pemerintah (Sinn 2010: 260).

Penutup

Analisa James Petras dan Susan Strange bisa memberikan gambaran bagaimana krisis keuangan yang terjadi hari-hari ini merupakan akibat dari kebijakan ekonomi dan politik AS semenjak tiga puluhan tahun lalu. Hans-Werner Sinn juga menilai sistem perbankan AS secara umum telah bangkrut dan hanya bisa beroperasi dengan bantuan dari pemerintah, dikarenakan sistem jaminan (mortgage finance) sudah kental dengan rasa sosialisme, di mana negara menutupi hampir 95 persen dari mortgage securitization market.

Petras dan Strange sudah membaca gejala ini bahkan jauh sebelum krisis yang betul-betul hebat menghantam di tahun 2008 sampai sekarang. Keterpurukan ekonomi sejumlah negara Eropa seperti Yunani, Portugal, Spanyol dan lainnya saat ini, merupakan hempasan dari krisis yang dimulai dari rontoknya pasar keuangan AS pada 2008. Krisis tersebut merupakan gejala krisis keuangan yang sudah dimulai dua-tiga dekade sebelumnya. Berbagai krisis keuangan yang mengguncang di era 1970an, 1980an, 1990an dan akhir-akhir ini, ternyata tidak membuat Pemerintah AS merumuskan kebijakan-kebijakan baru yang bisa mengatur pasar keuangan domestiknya agar tidak mengganggu struktur ekonomi di wilayah lain.

Kebijakan untuk mendorong integrasi ekonomi dunia di bawah kepemimpinan AS juga tidak membawa hasil lain selain krisis ekonomi dan keuangan terus-menerus, yang akibatnya bukan hanya melanda AS, melainkan juga seluruh dunia. Belum lagi akibat berbagai operasi militer maupun perang yang dilakukan AS di Amerika Latin, Afrika, Timur-Tengah, dan tempat-tempat lainnya. Dari analisis Petras, Strange dan Sinn, bisa ditarik kesimpulan bahwa bagaimanapun juga AS merupakan titik krusial dari berbagai krisis ekonomi dunia. Dengan demikian tugas Barack Obama maupun presiden AS berikutnya, akan semakin berat untuk memulihkan ekonomi dari krisis yang semakin dalam dan merusak, bukan hanya bagi AS tapi juga bagi dunia.

Rujukan

Petras, James and Morris Morley, Empire or Republic? American Global Power and Domestic Decay (London: Routledge, 1995)

Strange, Susan, Casino Capitalism (Manchester: Manchester University Press , 1997).

Sinn, Hans-Werner, Casino Capitalism: How The Financial Crisis Came About and What Needs To Be Done Now (Oxford: Oxford University Press, 2010)

2 thoughts on “Gelombang Krisis Kapitalisme Global

  1. iii semua ribut2 tidak menentu,kalau amerika dan eropa bangkrut yg susah semua petani karet,petani sawit,petani rempah2 dan petani2 lainnya mau dijual kemana produknya karena kagak ada yg beli !!!Sadarlah wahai manusia jgn saling mencela,seharusnya kita saling percaya dan kerjasama jadi harga2 pertaniaan kita meningkat dan roda perekonomiaan kita berputar luar biasa !!!Ayo kita dukung amerika dan eropa!!!Salam bahagia dan sejahtera buat semuanya !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s