Catatan Ringkas Atas Novel “Lalita” Karya Ayu Utami

LalitaTulisan singkat ini untuk keperluan diskusi novel Lalita karya Ayu Utami, yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UI di Depok 22 November 2012. Tulisan ini hanya catatan ringkas belaka dan tidak untuk dikutip. Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan penulisan, kesalahan pengejaan maupun gagasan atau kalimat yang melompat.

Pengantar

Bukanlah hal yang mudah untuk saya menilai sebuah karya sastra, terutama dalam hal derajat estetisnya maupun keseluruhan struktur tekstual yang dibangun, selain saya bukanlah seorang kritikus sastra dan juga bukan seorang sastrawan, saya hanya pernah berkuliah di Fakultas Sastra, itupun mengambil studi Sejarah dan Filsafat, bukan studi Sastra. Untungnya, membaca karya sastra dalam bahasa sendiri tidak memerlukan semacam ketrampilan khusus laiknya membaca karya matematika atau kimia. Sederhananya meski hasil pembacaan bisa berbeda pada setiap pembaca, namun karya sastra pada dasarnya bisa dinikmati siapa saja. Dalam hal ini saya hanya bisa menilai diri saya sebagai pembaca karya sastra yang ikut urun gagasan mendiskusikan Lalita, karya sastra kesekian yang dihasilkan Ayu Utami. Alasan ketertarikan saya untuk ikut terlibat dalam diskusi ini lebih kurang karena saya pernah membaca dua novel awal Ayu Utami, yakni Saman dan Larung, karya-karya berikutnya belum lagi pernah saya baca sampai pada Lalita yang kini kita perbincangkan.

Sebagai penikmat sastra, dan bukan kritikus sastra, bukan pula ahli Filsafat Timur, maupun arkeolog, saya kesulitan untuk memulai dan memijakkan langkah awal pembacaan saya atas teks ini. Karya ini memuat cakupan pembahasan yang luas dan menyediakan banyak sandaran untuk kita memulai titik pijak. Ketika mulai membacanya, selintas seperti membaca The Da Vinci Code karangan Dan Brown, namun saya tidak bisa mengambil simpulan kalau keduanya, dalam klasifikasi kesusasteraan, berada dalam satu genre yang sama. Saya akan mendiskusikan soal berkembangnya spiritualitas dalam konteks menguatnya wacana “Nusantara sebagai axis mundi” atau “poros dunia” dalam banyak perbincangan dan diskusi beberapa tahun terakhir ini. Saya tertarik untuk juga mendiskusikan istilah otentik yang beberapa kali muncul dalam karya ini, dan kaitannya dengan politik.

Membaca Lalita

Karya Lalita merupakan buku ketiga dari seri Bilangan Fu yang ditulis Ayu Utami. Saya sama-sekali belum membaca karya Bilangan Fu maupun Manjali,  bagian pertama dan kedua dari seri tersebut, namun saat membaca Lalita saya mengambil kesimpulan kalau novel ini bisa dibaca secara terpisah, karena yang satu sepertinya bukan penentu bagian lainnya. Saya mencoba untuk melibatkan politik di dalam pembahasan ini karena saya menilai pendekatan yang dilakukan Ayu dalam karyanya ini mengandung implikasi ideologis dan politis.

Apa yang ditulis Ayu beriringan dengan muncul dan menguatnya pandangan yang menyebutkan bahwa Nusantara pernah menjadi pusat dari seluruh peradaban yang pernah berkembang di atas muka bumi ini. Kajian paling berpengaruh di Indonesia terhadap argumen ini datang dari Profesor Arysio Santos, ilmuan asal Brasil, dalam bukunya Atlantis: The Lost Continent Finally Found, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Atlantis. Atlantis merupakan suatu wilayah yang disebut oleh Plato sebagai “surga dunia” yang hilang. Buku Prof. Santos didiskusikan di banyak tempat di Indonesia, juga oleh kelompok-kelompok spiritual yang sejak lama mengimani tesis bahwa Nusantara merupakan axis mundi atau poros dunia. Buku Atlantis sendiri hanya sempat saya baca bagian awalnya, selebihnya saya hanya membaca ulasan-ulasan tentangnya maupun diskusi dengan orang-orang yang sudah membacanya. Buku Santos segera menjadi rasionalisasi atas apa yang selama ini dipandang sebagai irasional. Hal ini saya baca dari tesis magister seorang mahasiswa pascasarjana jurusan Antropologi FISIP UI yang menulis tentang sebuah kelompok spiritual yang memiliki kepercayaan demikian.

Kepercayaan atas hal ini semakin menguat dengan munculnya desas-desus mengenai keberadaan sebuah piramida di bawah Gunung Sadahurip di Garut. Jadi gunung tersebut dipercaya bukan sekedar timbunan tanah dan batuan, melainkan gundukan yang menutupi sebuah piramida. Dalam diskusi dan obrolan santai saya dengan Ali Akbar, seorang arkeolog dari Departemen Arkeologi FIB-UI, para arkeolog dan geolog meyakni bahwa Gunung Sadahurip merupakan sebuah gunung alami yang di bawahnya tidak terdapat piramida. Demikian juga terhadap situs Gunung Padang yang merupakan situs megalitikum, di mana terdapat bangunan yang terbuat dari susunan batu-batu besar, oleh kelompok-kelompok spiritual diyakini jikalau di bawahnya terdapat sejenis piramida.[1]

Sejumlah kelompok spiritual juga banyak melakukan studi untuk membasiskan teori mereka bahwa Nusantara merupakan axis mundi. Telaah arsip dan arkeologis mereka lakukan dengan mengajukan sejumlah penemuan misalnya terdapatnya relief dan patung orang berjenggot dengan mengenakan jubah seperti orang Persia di Candi Penataran di daerah Blitar. Juga patung orang Suriname di Candi Cetho di kaki Gunung Lawu. Mereka meyakni bahwa Jawa dan Nusantara ini merupakan pusat dunia atau poros dunia atau axis mundi dalam Lalita. Mereka meyakini entah berapa milenia lalu semua peradaban di muka bumi berkiblat ke Nusantara, tempat mereka belajar bahkan menjadikan Nusantara sebagai pusat peradaban jagad.

Pandangan demikian yang saya tangkap dari konstruksi kisah yang dibangun Ayu. Pandangan bahwa ada cara lain dalam menemukan kebenaran di luar akal-budi. Ayu menerima pandangan bahwa spiritualitas merupakan jembatan lain menuju kebenaran. Bagi Ayu, akal-budi tidak cukup untuk menjelaskan fenomena dan kejadian-kejadian alam serta peradaban manusia, bahkan akal-budi bisa mencelakai. Ini digambarkan Ayu pada tokoh Anshel Eibenschütz. Akal-budi telah membawa petaka buat Anshel, yakni ayahnya yang direnggut dari dirinya, dan pengucilan terhadap dirinya oleh komunitas psikonalisa pimpinan Sigmund Freud. Namun cara Ayu menyajikannya jadi seperti ingin meyakinkan suatu pandangan tertentu terhadap pembaca. Dalam hal ini saya setuju pada argumentasi Bagus Takwin, “kalimat-kalimat yang ditata menjadi bangunan argumentasi dalam hemat saya terlalu keras sebagai paparan sastra. Banyak bagian novel ini seperti hendak meyakinkan pembaca tentang pandangan, visi, atau teori tertentu”.[2] Dengan ini Ayu ingin menyajikan kepada para pembacanya suatu cara pandang baru, suatu telaah baru mengenai sekelumit sejarah dan masyarakat Indonesia, dan bagaimana upaya menelusuri kebenarannya tanpa harus melalui jembatan akal-budi. Dan ini sah-sah saja untuk dilakukan.

Yang menarik buat saya, yang pernah mendalami studi Sejarah, adalah kelihaian Ayu dalam membangun keterkaitan antara tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dengan penokohan yang ia ciptakan, yakni Anshel Eibenschütz. Misalnya perkenalannya dengan Claude Debussy di perayaan seratus tahun Revolusi Prancis di Paris pada 1889.[3] Atau juga bagaimana Ayu membangun cerita pertemuan Anshel dengan Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung serta komunitas psikoanalis, yang diakhiri dengan pengucilan terhadap Anshel oleh komunitas tersebut, karena dianggap mengotori ilmu pengetahuan yang rasional dengan spiritualitas yang irasional. Di situ Freud digambarkan bagai seorang diktator yang menyingkirkan siapa saja yang berseberang pandangan dengannya. Dalam beberapa tulisan dan surat-menyurat beberapa murid Freud, deskripsi Ayu mengenai perilaku Freud memiliki kesesuaian. Banyak murid Freud yang menanggap Freud arogan, angkuh dan kerap menihilkan pandangan orang lain (terlebih muridnya). Dalam surat-surat yang ditulis Freud kepada murid-muridnya kentara kalau nadanya sinis dan agresif pada murid-muridnya.[4] Sebagai cerita kisah itupun beredar luas. Freud sendiri memang tidak mudah untuk digoyahkan oleh argumen yang menurutnya tidak kuat. Namun, pengucilan justeru membesarkan Anshel. Melalui Jung, Ayu telah menjadikan Anshel menjadi jangkar bagi perkembangan psikoanalisa dunia.

Fakta-fakta sejarah ini dengan cukup cerdik, lihai dan cermat dipadu untuk menciptakan karakter dan tokoh Anshel Eibenschütz serta cucunya Lalita, yang menurut saya merupakan sentrum dari seluruh penokohan di dalam novel Lalita ini. Namun, masuknya kisah-kisah Count Drakula dalam novel ini terkesan dipaksakan hanya untuk memenuhi hasrat pembenaran mengenai adanya pola-pola bagan konsentris. Sisipan kisah sejarah keluarga Vlad Dracula menjadi tidak relevan dengan seluruh kisah Lalita, meski coba dimasukkan melalui  upaya pencarian ilmiah Anshel Eibenschütz dalam rupa disertasi doktoralnya.

Kembali ke bahasan awal saya, buku ini setidaknya menambah daftar buku yang mencoba melihat sisi lain sejarah pembentukan Nusantara, sebagaimana banyak dipercaya berbagai kelompok spiritual, yang akan dinilai sebagai suatu cara yang baik untuk menyampaikannya kepada publik dan pembaca. Implikasi ideologis dan politis seperti ini yang saya sebut di bagian awal.

Mencari Otentisitas

Di luar hal-hal yang berurusan dengan spiritualitas dan tata-bangun penokohan, ada hal yang saya anggap menarik dalam novel ini. Ayu, setidaknya, empat kali menggunakan kata otentik (hal. 26, 81, 229) dalam Lalita. Dua kali ia gunakan dalam menilai makanan dan tempat makan (hal. 26). Sekali ia gunakan dalam menerangkan soal fotografi digital dan analog, di mana fotografi analog disebut sebagai fotografi yang otentik, sementara fotografi digital sarat dengan kepalsuan (hal. 81). Dan, sekali ia gunakan dalam menggambarkan cinta Lalita, pada kakeknya dan buku Indigo, suatu bentuk cinta otentik terhadap hal yang ada di luar dirinya sendiri (hal. 229).

Sebagaimana spiritualitas dan juga ideologi, otentisitas menjadi hal paling panting dalam proses pencarian. Otentitas merupakan suatu hal yang kerap dianggap orisinil, yang murni, yang genuine, yang juga kerap digolongkan sebagai suatu ketulusan tanpa pretensi. Kata otentisitas ini dalam pandangan saya merupakan benteng penjaga yang diyakini Ayu, melalui tokoh-tokoh dalam novelnya, yang bisa membebaskan manusia dari berbagai kepalsuan. Lalita banyak menyampaikan kesinisan, terutama melalui metafora fotografi dan gambar, mengenai otentisitas yang banyak direnggut dan dimanipulasi bahkan dikomersialisasi oleh kapitalisme dan diperjualbelikan menjadi komoditi dagang (hal. 229).

Meski otentisitas ini juga yang mendorong Hitler untuk merumuskan sejenis manusia baru yang paling unggul, paling murni dan paling otentik di dalam ras Arya. Juga Orde Baru-nya Soeharto merumuskan sejenis manusia otentik yang dirumuskan dengan nama Manusia Pancasila. Dua rumusan yang sama-sama menyandarkan teorinya pada pencarian akan otentisitas.

Dalam hal otentisitas saya teringat pada perempuan filsuf Hannah Arendt. Arendt adalah korban kekejian Nazi yang sedang merumuskan otentisitasnya. Pengalaman traumatis zaman Nazi mendorong Arendt merumuskan suatu yang otentik di dalam politik. Buat Arendt, politik yang otentik adalah politik yang titik-tolaknya adalah prinsip kebebasan, kesetaraan serta kebersamaan semua orang di dalam ruang kehidupan yang plural. Dalam karyanya The Human Condition, Arendt menegaskan politik semestinya dipahami di luar kategori penguasaan, pemaksaan dan kekerasan, dan menilai kategori-kategori itu justeru bertentangan dengan politik yang otentik. Dalam politik yang otentik, setiap individu yang berbeda-beda akan bertindak bersama-sama dan berargumentasi untuk merumuskan apa yang terbaik buat mereka secara bersama-sama melalui argumentasi dalam ruang diskursif. Politik adalah ruang di mana warga dapat mengekpresikan dirinya secara bebas, baik bertindak, berbicara maupun berpikir di luar batas-batas agama dan tradisi budaya secara aktif, tanpa mengalami tekanan. Untuk menjaga politik yang otentik maka politik harus menjadi ruang bagi kebersamaan dan keberagaman sekaligus, di mana setiap orang mampu menanggalkan kepentingan partikularnya dan memiliki empati terhadap posisi orang lain, dan ruang itu semestinya dijaga oleh tindakan aktif para warga.[5]

Sampai sini saya sudah terlihat memaksa-maksa argumen saya. Jadi sebaiknya saya akhiri. Tapi sedemikian juga yang saya tangkap dari Lalita. Kegeraman penulis pada kepalsuan, kepada mal-mal yang bercahaya dan penyingkirkan terhadap yang otentik di luar sana, yang penuh debu, asap dan panas serta pengap. Kepalsuan fotografi digital dan kepalsuan restoran mewah yang memanipulasi rasa makanan dengan menjual suasana. Otentisitas yang saya rasa masih akan dicari Ayu melalui karya-karyanya yang lain di kemudian hari. Terima kasih.

P.S Kalaupun ada yang paling menggugah saya dari buku ini, adalah membuat saya ingin kembali lagi mengunjungi candi Borobudur.

Depok, 23 November 2012

 

Catatan


[1] Hal-hal mengenai Gunung Sadahurip dan situs di Gunung Padang saya dapatkan dari Dr. Ali Akbar, arkeolog di Departemen Arkeologi FIB-UI yang melakukan penelitian mendalam terhadap dua lokasi tersebut. Menurutnya, meski tidak bisa dipastikan keberadaannya, persoalan piramida di bawah kedua gunung itu memang cukup menghebohkan, bahkan telah menarik perhatian serius bahkan dari kalangan pemerintah. Menurut kajian terakhir para arkeolog dan geolog yang meneliti dua situs tersebut, tidak ditemukan tanda-tanda adanya piramida, namun penemuan arkeologis tersebut tidak menjadikan keyakinan bahwa memang terdapat sejenis piramida di dalam kedua situs menjadi hilang begitu saja dari kalangan kelompok-kelompok spitirual.

[2] Argumen Bagus Takwin saya cukil dari tulisannya yang dipresentasikan dalam diksusi buku Lalita ini di Komunitas Salihara. Tulisan ini sebenarnya bukan untuk disebarluaskan, namun saya meminta izin Bagus Takwin untuk mengutipnya. Lihat Bagus Takwin, Lalita, Sebuah Kisah Tentang Spiritualitas, tulisan yang dipresentasikan dalam diskusi buku Lalita di Komunitas Salihara, 4 Oktober 2012.

[3] Komponis Claude Debussy sangat terpengaruh dengan musik gamelan. Musik Debussy disebut sebagai musik Impresionis yang lebih lamat-lamat dan mementingkan nuansa. Ia melakukanya dengan mengubah paduan nada yang mengambang dan tidak pernah mencapai penyelesaian, dengan cara menggunakan musik pentatonis lima nada yang merupakan nada khas gamelan. Musik Debussy membawa pengaruh besar dan pembaruan besar dalam musik Eropa. Debussy menemukannya dalam pertunjukan pagelaran gamelan dalam acara l’Exposition Universele (Pameran Semesta) yang digelar di Paris pada 1889 sebagai bagian dari perayaan seratus tahun Revolusi Prancis. Ia menonton pagelaran gamelan saat mengunjungi le village javanais, sejenis stand Desa Jawa pada perayaan tersebut. Pada acara tersebut dipentaskan gamelan Sunda Sari Oneng dari Desa Parakan, Sukabumi. Lihat Joss Wibisono, Saling-Silang Indonesia Eropa: Dari Diktator, Musik, Hingga Bahasa (Jakarta: Marjin Kiri, 2012), hal. 12-13.

[4] Pembahasan mengenai ini bisa dilihat pada Jerome Neu (Ed), The Cambridge Companion to Freud (Cambridge: Cambridge University Press, 1998).

[5] Pandangan Hannah Arendt mengenai politik otentik bisa dibaca dalam karya Agus Sudibyo, Politik Otentik: Manusia dan Kebebasan Dalam Pemikiran Hannah Arendt (Jakarta: Marjin Kiri, 2012).

One thought on “Catatan Ringkas Atas Novel “Lalita” Karya Ayu Utami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s