Kartini: Sang Peretas Zaman Baru

15042013a-kartini

Tulisan yang disampaikan pada diskusi “Kartini & Liberty” yang diselenggarakan oleh University of Indonesia Liberalism and Democracy Study Club (UILDSC) dan Support Group and Resource Centre on Sexuality Studies of University of Indonesia (SGRC-UI), FISIP Universitas Indonesia, 21 April 2015.

Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia Bumiputra. Kalau bukan karena kami, pasti karena orang lain juga. Persamaan hak telah terbayang di udara, telah ditakdirkan.

(Kartini, Surat Kepada E.H. Zeehandelaar)

Pengantar

Kisah hidup Kartini berselimut kontroversi. Ia dipuja sekaligus dicerca. Dipuja karena pikirannya yang meneropong jauh melampaui zamannya. Dicerca akibat pilihan hidup yang bersebarangan dengan prinsip-prinsipna, terutama pernikahannya dengan Bupati Rembang, K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah memiliki sejumlah istri. Di luar segala kontroversi yang menyelubunginya, Kartini, dalam hidupnya yang teramat singkat, 25 tahun, mampu meretas jalan baru bagi apa yang selalu ia impikan sepanjang hayat, menjadi bagian dari sebuah bangsa yang merdeka.

Mendefinisikan Kartini bukan perkara sederhana. Setidaknya jika menilik tulisan Katrin Bandel. Katrin menggambarkan Kartini sebagai manusia hibrid, yakni muara bagi beragam nilai budaya. Kartini merupakan manusia Jawa kolonial dengan campur-aduk gagasan, baik Jawa maupun Eropa, dan beragam sumber-sumber lain, lalu menggabungkannya tanpa rasa canggung dan enggan. Kartini lebih berupaya mencari nilai kebaikan dan keindahan, tanpa memberikan penilaian bahwa nilai budaya tertentu lebih baik dari lainnya. Dalam diri Kartini tidak bersemayam identitas tunggal, melainkan identitas majemuk. Kartini adalah Jawa, Eropa, Hindia, Islam, sinkretis, kolonial, feminis, anti-kolonial, yang semuanya menubuh pada Kartini, sekaligus semua saling bertentangan.[1]

Pramoedya Ananta Toer melukiskan Kartini dengan istilah sinkretik. Ia adalah pertemuan dari semua nilai yang dipelajari dan dijalani dalam kehidupan. Ia membaca dan menekuni Buddhisme, percaya bahwa cinta mampu mengalahkan kejahatan, pemantang-daging (yang dipetiknya dari ajaran Buddhisme), sangat terpengaruh pemikiran Hinduisme Pandita Ramabai,[2] membaca kitab Veda, mempelajari agama Yahudi, menyebut Tuhan dengan istilah “Bapa” sebagaimana di dalam Kristen, dan juga mengimani Gusti Allah laiknya umat Islam. Kartini menjadi persilangan budaya, campur aduk, namun tidak saling menafikan satu dengan lainnya. Tidak ada suatu nilai yang lebih unggul atas nilai lainnya. Semua sama dan setara, melebur menjadi Kartini.[3]

Tulisan ini lebih-kurangnya berupaya menawarkan refeleksi atas gagasan-gagasan Kartini yang tertuang lewat surat-menyuratnya dengan sejumlah sahabat pena, yang telah diterjemahkan dan dibukukan ulang dengan judul Emansipasi: Surat-surat Kepada Bangsanya 1899-1904.[4] Untuk keperluan refleksi tersebut, tulisan ini akan menelaah tiga hal yang berkait dengan teks Kartini, yakni sosok dan latar belakang pembentukan gagasan Kartini, cuaca psikologis teks Kartini, dan bagaimana memaknai teks Kartini dalam konteks politik liberal-sosialis yang berkembang kala itu.

Kartini: Pengugah Nan Ringkih

Fajar baru pencerahan menyingsing di bumi Hindia. Merekah dalam ujud akal-budi, kebebasan, kemerdekaan, keadilan, dan kesetaraan, yang bermuara pada sosok penguak tabir di ufuk timur bumi: Kartini. Frasa tersebut memberi kesan pemujaan berlebih pada sosok Kartini. Namun, tentu ada alasan mengapa Kartini layak ditempatkan dalam posisi yang demikian tinggi dalam sejarah dan peradaban Indonesia. Coba kita cermati nukilan karya Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, dalam melukiskan sosok Kartini,

Kartini adalah pemula dari sejarah modern Indonesia. Dialah yang menggodok aspirasi-aspirasi kemajuan yang di Indonesia untuk pertama kali timbul di Demak-Kudus-Jepara sejak pertengahan kedua abad lalu. Di tangannya kemajuan itu dirumuskan, diperincinya, dan diperjuangkannya, untuk kemudian menjadi milik seluruh nasion Indonesia. Dikatakan Indonesia, karena, sekalipun ia lebih sering bicara tentang Jawa, ia pun tak jarang mengemukakan keinginannya buat seluruh Hindia – Indonesia dewasa ini. Tanpa Kartini, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin. […] Kartini adalah pemikir modern Indonesia pertama-tama.[5]

Pramoedya memberikan tempat khusus bagi Kartini sebagai “sang pemula” yang mempelopori dibukanya lembaran baru sejarah modern Indonesia. Sebagai pembatas bagi ancien régime yang tanggal di belakang.[6] Penulis dan revolusioner nyentrik Prancis, Marquis de Sade, melukiskan bahwa ancien régime memiliki kecenderungan untuk mempopulerkan apa yang ia sebut “seni mempermalukan”. Kejatuhan seseorang merupakan kehormatan bagi orang lainnya. Setiap orang memiliki superioritas dan inferioritas, anak laki-laki lebih superior dibanding anak perempuan.[7] Ancien régime yang menjadi simbol kebangkrutan kekuasaan feodalisme Prancis hampir tak berbeda dengan zaman lama yang dibayangkan Kartini.

Kartini muncul dengan semangat baru: semangat kebebasan, kesetaraan, anti-feodalisme, kemajuan dan keadilan. Ia berupaya menanggalkan semua tabiat lama yang bertentangan dengan apa yang diyakininya sebagai modernitas. Teks Kartini penuh dengan gugatan dan rasa marah. Ia menulisnya dengan langgam dan tutur bahasa yang halus, meski terkadang ungkapan marah terselip jelas dalam tata kalimatnya. Ia menemukan dirinya sebagai bagian dari zaman baru yang sedang merekah: zaman modernitas. Modernitas adalah penanda bagi tersedianya kebebasan, keadilan dan kesetaraan bagi setiap orang, setidaknya begitulah Kartini memaknainya, dengan ungkapan: “Kami menjunjung tinggi semboyan mulia: ‘kebebasan, kegembiraan!”.[8]

Kartini adalah subyek yang ringkih. Dalam terminologi Jacques Lacan, Kartini adalah subyek yang kekurangan. Subyek yang selalu berhasrat pada yang utuh dan lengkap, namun secara paradoksal merupakan penanda kekurangan dan hasrat sekaligus. Namun, bagi Lacan, kekurangan itulah yang menjadikan subyek mewujud (being). Hasrat membutuhkan kenikmatan yang harus dicari dan dipenuhi sebagai sebentuk subtitusi akibat kekurangan dan kehilangan.[9] Kartini menjadi subyek yang ringkih. Ia mencari pemenuhan hasratnya pada kebebasan dan kesetaraan yang hilang dalam ruang hidupnya yang dikungkung adat, agama dan penjajahan. Kebebasan dan kesetaraan adalah kenikmatan yang ada di luar dirinya, ada di Eropa, ada pada Estella Zeehandelaar, sahabat pena yang ia kasihi sepenuh-hati. Karena hasrat akan pemenuhan akan kenikmatan itulah Kartini meng-Ada (being).

Kartini percaya bahwa ia tak akan pernah memiliki cinta, namun sekaligus mengagungkan cinta. Baginya cinta tak lebih dari sebuah khayalan bagi bangsa Jawa.[10] Cinta yang sedemikian hanya mungkin di Eropa, di mana perempuan dan laki-laki adalah setara, bukan dalam hubungan hirarki dan subordinasi. Kartini pengagum sekaligus pembenci Belanda. Ia mengagumi Belanda dan Eropa sebagai ruang mental di mana akal-budi dan kemanusiaan mendapat tempat tinggi, namun benci kepada Belanda dalam ruang tindakannnya di tanah Hindia. Bagi Kartini, sejumlah orang Belanda di Hindia tidak lebih dari sekumpulan manusia congkak dan pongah yang memandang kaum Bumiputra sebagai bukan manusia, rendah, terbelakang, malas dan penipu ulung. Meski tanah Hindia telah menghasilkan berkantung-kantung emas yang mengisi saku orang-orang Belanda, tak terucap terima kasih dari mulut mereka. Justru penghinaan yang selalu datang. Kemarahan Kartini membuncah saat membicarakan ini,

Hindia memang surga bagi pegawai [Belanda] bukan? Sungguh pun demikian, sejumlah orang Belanda mengumpat-umpat Hindia sebagai ‘negeri Kera yang brengsek’ itu telah mengisi saku kosong mereka dengan emas…[11]

Kartini membenci permaduan, namun dengan kerelaan penuh memasuki kehidupan tersebut. Ia menikah dengan Bupati Rembang, K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang telah memiliki sejumlah selir. Kecintaan pada ayahnya, pribadi calon suaminya yang ia nilai luhur dan berbudi, serta keinginannya membantu Kartini mewujudkan impian mendirikan sekolah bagi perempuan, menjadi dasar pembenar atas pilihan yang ia ambil. Kartini mengungkapkan pilihan “rasionalnya” demikian,

Bupati Rembang menginginkan istri yang tidak kaya, tidak cantik, tidak muda pula, yang budi dan pikirannya lebih dijunjung tinggi daripada keindahan dan kekayaan… Pengaruh istri Bupati akan lebih besar daripada pengaruh anak perempuan Bupati… Sayap saya tidak akan dipotong; bahkan sebaliknya, akan menjadi lebih besar dan kuat sehingga dapat saya kembangkan lebar-lebar.[12]

Pernikahannya menjadi ironi terbesar dalam sejarah hidup Kartini. Seakan menjadi semacam pengkhianatan terhadap prinsip yang ia yakini sepanjang hayat. Prinsip menjadi perempuan bebas yang tidak ingin hidup dalam penindasan permaduan. Namun, Kartini selalu menjadi subyek yang ringkih dan retak. Seluruh kompleksitas dan kontradiksi melekat pada dirinya. Ia justru masuk ke dalam penjara yang selalu ingin ia hindari di dalam hidup. Perubahan sikap yang tidak tergambar terang lewat surat-suratnya. Hanya uraian singkat yang kurang menjelaskan apa-apa, selain rasionaliasi pada apa yang ia yakini sebagai sebuah proyek strategis dalam perujudan cita-citanya semenjak remaja.
Kartini adalah paradoks. Ia mencemooh status kebangsawanan dan menertawai unggah-ungguh serta sembah-sumpah, namun mengamini status kebangsawanan sebagai panutan rakyat kebanyakan. Memaki-maki kolonialisme, namun menerima kenyataan jasa besar kolonialisme bagi kaum Bumiputra. Bermimpi mengikuti pendidikan sampai jenjang tertinggi, namun saat kesempatan itu tiba, ia menampiknya. Kartini adalah hibrid, sinkretis dan paradoks. Meski demikian, dibalik semua kompleksitas yang menyelubungi dirinya, Kartini berhasil menciptakan sebuah panggung. Panggung yang di kemudian hari menjadi arena yang kita kenal sebagai pergerakan nasional.

Perempuan, Pendidikan dan Akal-Budi

Kartini dilahirkan dalam sebuah keluarga bangsawan yang maju dan terpelajar. Ayahnya berpandangan maju dan meyakini bahwa pendidikan formal merupakan hal yang sangat penting bagi anak-anaknya. Semua kakak lelakinya mencapai jenjang sekolah HBS (Hollandsche Burgerscholen), jenjang pendidikan tertinggi di Hindia. Kakak tertuanya, R.M. Sosrokartono, bahkan melanjutkan studi hingga ke Belanda. Kartini sendiri, bersama dua adik perempuannya, Roekmini dan Kardinah, juga disekolahkan sampai jenjang Sekolah Rendah (ELS, Europeesche Lagereschoolen). Namun, sebagai anak perempuan, Kartini tidak dibolehkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagaimana semua saudara laki-lakinya. Ia mesti masuk dalam masa pingit.

Sebagai manusia yang dilahirkan dari rahim pencerahan dan modernitas, Kartini tumbuh dalam semangat baru yang mewarnai zaman baru. “Aduhai! Kami justru bahagia hidup pada masa ini! Masa peralihan dari zaman lama ke zaman baru”, ujar Kartini dalam suratnya kepada Estella Zeehandelaar. Kartini sadar zaman baru telah tiba. Zaman baru membentuk beragam kosakata baru dalam memahami kehidupan sosial. “Emansipasi” merupakan kosakata baru yang berpengaruh besar dalam pembentukan diri Kartini. Kartini mengungkapkan bagaimana kosakata peradaban baru menyentuh dan membentuk kediriannya,

Sudah sejak saya masih kanak-kanak, ketika kata “emansipasi” belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, dan tulisan mengenai hal itu jauh dari jangkauan saya, timbul dalam diri saya keinginan yang makin lama menjadi makin kuat yaitu keinginan akan kebebasan, kemerdekaan, berdiri sendiri.[13]

Keinginan untuk ikut membentuk zaman baru demikian kuat dalam Kartini. Ia sadar betul dalam zaman baru yang modern, salah satu peralatan paling mumpuni adalah pendidikan. Dalam suratnya kepada Nyonya Nelly van Kol, keinginan itu tersingkap begitu kentara. Pada paragraf pertama suratnya, Kartini menjabarkan pikiran tentang betapa besar sesungguhnya perempuan bisa berperan di dalam masyarakat, jika diberikan peluang besar dalam bidang pendidikan. Pendidikan, yang ia yakini dapat membuat semua perempuan mendorong sesama perempuan maju bersama-sama, dengan mendidik sesama perempuan. Kartini meyakini pendidikan sebagai jalan keluar bagi segala ketimpangan yang selama ini berlangsung dalam masyarakatnya, khususnya dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki.

Gagasan Kartini berangkat dari keadaan perempuan Jawa, terutama kalangan bangsawan, yang dibelenggu adat-istiadat dan agama, sebagai biangkeladi dari ketimpangan yang ia lihat dan rasakan semenjak kanak-kanak. Perempuan bangsawan Jawa hampir selama hidupnya terpenjara adat-istiadat dan agama, dan hanya bisa keluar dari penjara itu dengan memasuki “penjara” baru yakni perkawinan. Perkawinan yang bukan didasarkan atas keinginan bebas, melainkan sebagai suatu perintah dari langit, yang turun melalui titah ayah, paman atau kakak laki-laki. Dalam masyarakat di mana Kartini hidup, seluruh praktik ini dianggap biasa dan adil. Kebiasaan dan keadilan yang ditetapkan laki-laki atas semua perempuan.[14] Kebiasaan yang membuat perempuan seakan-akan menerima itu di dalam kehidupannya, yang dalam metafora Kartini, dilukiskan dengan kata-kata “tanpa perubahan air muka”.[15] Namun, sesungguhnya perempuan memendam amarah dan penolakan yang besar terhadap seluruh keadaan yang seakan terberi bagi mereka. Penolakan yang terus mengganggu pikiran Kartini. Gangguan yang melecut kesadaran Kartini untuk mengubah itu semua. Bagi Kartini, semua itu merupakan penderitaan yang selalu menyertai sedari ia kanak-kanak. Situasi manipulatif yang diciptakan oleh jalinan kuasa patriarki-agama-kolonialisme, yang dimaknai Kartini sebagai: “yang pertama-tama menimbulkan keinginan dalam hati saya untuk melawan kebiasaan ikut-ikutan yang seolah-olah membenarkan dan menganggap adil keadaan lama itu”.[16]

Secara psikologis, hal-hal seperti perkawinan dalam adat-istiadat Jawa memantik rasa marah dalam diri Kartini. Kemarahan yang tumbuh sedari masa kecil. Kemarahan yang mewujud menjadi semangat perlawanan atas ketidakadilan yang justru dianggap adil oleh adat kebiasaan dan agama. Kemarahan yang terlukis dalam kalimat Kartini:

Kami telah melihat banyak sekali keadaan yang menyedihkan dalam perkawinan Jawa. Hal ini berhubungan erat dengan hak laki-laki yang kejam dalam hukum Islam. Penderitaan perempuan dalam ikatan semacam itu, dan penderitaan sejumlah anak yang lahir dari perkawinan serupa itu telah membakar dan mencambuk jiwa kami untuk memberontak melawan keadaan itu.[17]

Kartini mendefinisikan apa yang berlangsung terhadap perempuan yang hidup dalam penindasan adat-istiadat dan belenggu agama sebagai “keadaan lama” (ancien régime). Keadaan yang ingin ia ubah. Keadaan yang bertolak belakang dengan dunia Barat yang yang modern, beradab, dan maju. Dunia ia kenal lewat buku, majalah, tulisan dan surat-menyuratnya dengan para sahabat pena di Eropa. Dunia yang menurutnya telah membuat perempuan lebih bebas, lebih merdeka dan lebih berkuasa atas dirinya sendiri, ketimbang dunia di mana ia hidupi dan tinggali.

Kartini percaya bahwa keadaan lama bisa dijungkirbalikkan dan dirombak, kemudian keadaan baru bisa disongsong, jika perempuan bisa mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki, dan juga sama dengan orang Eropa. Untuk itu, Kartini menuntut peluang yang sama dalam pendidikan bagi perempuan dan juga bagi semua orang pribumi di tanah Hindia. Ia ingin mewujudkannya dengan mendirikan sekolah-sekolah bagi perempuan di Hindia Belanda. Kartini mengutarakannya dalam frasa demikian,

Usaha kami mempunyai dua tujuan, yaitu turut berusaha memajukan bangsa kami menuju keadaan yang lebih baik, yang lebih sepadan dengan martabat manusia… kami mewujudkan permohonan yang amat sangat: tolonglah mewujudkan cita-cita kami, yang bertujuan memberi kebahagiaan bagi bangsa dan kaum kami yaitu perempuan.[18]

Kartini sadar bahwa kekuasaan adat dan kolonial amat sukar dilawan dan ditundukkan. Karenanya ia meminta dan menuntut. Mencari celah-celah yang memungkinkan untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan. Ia meminta bantuan pada siapapun yang peduli. Termasuk pada kekuasaan rezim kolonial, yang sedang mencari muka pada dunia untuk menunjukkan bahwa mereka mamahami kosakata peradaban dan kemanusiaan.

Bagi Kartini, pendidikan merupakan jalan untuk membuka horison dan peradaban baru bagi perempuan dan kaum Bumiputra. Pendidikan Eropa telah menghasilkan kebangkitan baru, suatu zaman yang mencerahkan. Namun, buat Kartini, pendidikan Eropa bukan berarti meng-Eropa-kan bangsa Jawa melalui pendidikan bebas. Kartini menilai sifat-sifat baik yang ada pada bangsa lain, seperti: kebebasan, kesetaraan dan kemajuan, dapat melengkapi sifat-sifat baik yang sudah ada di dalam diri kaum pribumi Hindia. Pendidikan Eropa bukan berarti menyingkirkan sifat-sifat yang sudah ada pada orang Jawa, melainkan “untuk membuatnya lebih halus dan luhur!” Yakni sikap-sikap menghargai orang lain, melihat setiap orang sebagai sama dan setara.[19]

Pendidikan modern telah membuka dan memperluas cakrawala berpikir anak-anak bangsawan, termasuk Kartini, dalam melihat perbedaan yang sangat tajam antara laki-laki dan perempuan. Kartini melihat bahwa hanya dengan pendidikan modern yang mengandung nilai-nilai kesetaraan dan kemajuan, akan membawa terang dalam gelap-gulita nasib perempuan Bumiputra. Persoalan yang dihadapi adalah minimnya sekolah-sekolah yang mau menerima murid perempuan. Kartini berinisiatif mendirikan sekolah khusus perempuan di halaman rumahnya. Buat Kartini, hanya di dalam perempuanlah seluruh proyek peradaban baru dapat dilangsungkan,

Pekerjaan memajukan peradaban itu seharusnya diserahkan kepada kaum perempuan. Dengan demikian maka peradaban itu akan meluas dengan cepat dalam kalangan bangsa Jawa. Ciptakanlah ibu-ibu yang cakap serta berpikiran, maka tanah Jawa akan mendapat pekerja yang cakap. Peradaban dan kepandaiannya akan diturunkan kepada anak-anaknya. Anak-anak perempuannya akan menjadi ibu pula, sedangkan anak-anak yang laki-laki kelak pasti akan menjadi penjaga kepentingan bangsanya.[20]

Dalam kalimat-kalimat Kartini, masih terasa benar aroma peran domestik perempuan, meski ia cantumkan kata “cakap serta berpikirian” yang hanya bisa digapai lewat pendidikan. Kartini, bagaimanapun juga, merupakan manusia yang hidup dalam alam kebudayaan Jawa yang menempatkan perempuan pada posisi yang demikian subordinat dalam masyarakat. Meskipun hampir keseluruhan isi surat Kartini menggugat hal ini, namun ia masih melihat dirinya sebagai perempuan Jawa. Berkali-kali ia menyatakan ingin keluar dari tubuh sosial “Jawa”-nya, namun, berkali-kali pula ia menyanggah keinginannya tersebut dengan mengatakan bahwa ia tak mungkin keluar dari konteks ke-Jawaannya. Kartini merupakan paradoks. Namun, dalam yang-paradoks maka yang tak-mungkin akan selalu hadir.

Kata-kata “cakap serta berpikiran” merupakan pemujaan Kartini pada nalar dan akal-budi. Akal-budi hanya dapat bertumbuh di dalam alam kebebasan. Alam kebebasan hanya bisa dicapai jika manusia setara dan bebas. Manusia yang bebas dan setara hanya dimungkinkan jika manusia tersebut terpelajar dan berpendidikan. Maka, agar perempuan juga hidup sebagai makhluk yang setara, padanya harus diberikan pendidikan. Logika berpikir demikianlah yang kira-kira bisa disusun dalam memahami alur-berpikir Kartini. Keyakinannya pada kesemestaan hak-hak perempuan yang setara, yang terus-menerus mendorongnya mendengungkan tuntutan bagi penyelenggaraan pendidikan yang memadai bagi perempuan.

Kartini banyak berkenalan dengan banyak pemikir perempuan, dan pikiran-pikiran mereka tentang perempuan, melalui buku-buku yang diberikan ayah serta sahabat-sahabat Belandanya. Kartini membaca karya-karya Marie Max-Koenig, Louis Marie-Anne Couperus (novelis dan penyair Belanda); Cécile de Jong van Beek en Donk (novelis Belanda); Augusta de Wit (novelis Belanda yang banyak menulis soal Jawa); Jeanette van Riemsdijk dan karyanya Moderne Vrouwen (Perempuan-perempuan Modern); Bertha Felicitas Sophie Freifrau von Suttner (novelis dan aktivis radikal Austria, yang kemudian memenangkan hadiah nobel perdamaian); Cornélie Huygens (penulis, seorang sosialis-demokrat, dan aktivis feminis); Henryk Sienkiewicz (penulis dan jurnalis Polandia yang kemudian memenangkan hadiah nobel, karyanya Quo Vadis sangat disukai Kartini); Petrus Augusta de Genenstet (novelis dan teolog Belanda yang bukunya sering dikutip Kartini); Ada Ellen Bayle (novelis Inggris, karyanya perihal bagaimana seorang atheis bisa memperoleh kebenaran dan kemanusiaan sangat menggugah Kartini); Ferdinand August Bebel (penulis Jerman, seorang sosialis dan pendiri Partai Sosial Demokrat Jerman); serta buku Moderne Maagden (Gadis-gadis Modern) karya Eugene Marcel Péevost, yang membuka matanya mengenai gerakan perempuan.[21] Melalui karya-karya tersebut, Kartini menjelajahi belantara pemikiran mengenai hak-hak perempuan, kesetaraan perempuan, emansipasi, dan alam modern yang memungkinkan semua itu bisa terjadi. Kartini mengidolakan buku Hilda van Suylenburg karya Cécile de Jong van Beek yang mengisahkan perjuangan emansipasi perempuan. Kartini melukiskan karya Cécile, yang dianggap sebagai feminis pertama di Belanda, dengan ekspresi: “bagi saya H.v.S (Hilda van Suylenberg, pen.) masih saya anggap Ratu segala karya yang sampai sekarang terbit mengenai Emansipasi Wanita”.[22] Karya Cécile ini memberikan pengaruh sangat besar bagi Kartini. Dalam suratnya kepada Estella Zeehandelaar ia mengaku membaca buku tersebut sampai tiga kali.

Hasrat Meruntuhkan Benteng Adat dan Belenggu Kolonialisme

Sepanjang hayatnya, Kartini hidup di dalam budaya dan masyarakat yang meletakkan perempuan dalam posisi lebih rendah dari laki-laki. Masyarakat yang ditopang oleh budaya dan agama yang dengan semena-mena, dalam bahasa Kartini, melahirkan “teramat banyak azab dan sengsara yang diderita dalam dunia perempuan Bumiputra.[23] Perselingkuhan budaya Jawa dan agama, merupakan dua sumber malapetaka yang menempatkan perempuan sebagai bukan apa-apa, hanya sekedar ornamen pelengkap dalam sebuah bangunan kehidupan sosial.

Kekelaman yang dihadirkan oleh perselingkuhan budaya ningrat Jawa dan agama dicontohkan Kartini dalam bentuk perkawinan. Perkawinan yang diselenggarakan dalam adat Jawa dan agama Islam dinilai Kartini tidak lebih dari sebuah “pekerjaan” yang memberikan penghidupan. Terlebih, dalam menjalankan “pekerjaan” tersebut, perempuan Jawa melakukannya “dengan perjanjian dan dalam keadaan yang menghinakan dan merendahkan dirinya”.[24] “Pekerjaaan” yang diperintahkan oleh ayah, paman atau kakak, yaitu mengikuti seorang laki-laki, tanpa perlu dimintai pendapatnya, cukup mematuhinya.

Menurut Kartini, perkawinan bagi perempuan Bumiputra merupakan pelestarian penindasan, dan peralihan dari satu penjara ke penjara lain. Bagi Kartini, perkawinan adalah ketidakbebasan, seperti yang ia kemukakan, “Saya ingin bebas agar saya boleh, dapat berdiri sendiri, tidak perlu bergantung pada orang lain, agar…. agar tak harus menikah”.[25]

Kemarahan pada situasi yang tidak adil itu hanya bisa dijawab dengan adanya kebebasan bagi perempuan. Kebebasan yang selama berabad-abad hanya menjadi milik laki-laki. Yang terus-menerus bertahan karena adat kebiasaan dan hukum agama yang membentengi dan melindungi. Kebebasan yang dibelenggu di dalam benteng adat dan agama itu tidak dapat melompat keluar dengan sendirinya. Kartini sadar betul akan itu. Karenanya, buat Kartini, perempuan harus meruntuhkan benteng yang merintangi perempuan mencapai kebebasannya. Kartini mencapai satu kesimpulan, yakni “satu-satunya jalan keluar untuk menghindari hidup yang demikian, gadis itu merebut kebebasan bagi dirinya”.[26] Gadis di sini adalah semua perempuan yang hidup di dalam pembodohan, namun tidak bodoh. Mereka dipaksa menyimpan semua dendam dan amarahnya dibalik topeng baja, dibalik rumah-rumah yang memenjarakan mereka. Yang mereka sembunyikan dari mata dunia. Namun, bergolak kuat dalam hati mereka, yakni “hati perempuan yang mengutuk-ngutuk perbuatan laki-laki!”.[27]

Kartini bukanlah pembenci laki-laki. Ia membenci tatanan sosial yang menjadikan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Bagi Kartini, justru bersama-sama dengan kaum laki-laki yang berpikiran maju, maka semua bangunan sosial yang timpang karena adat, agama dan kolonialisme bisa dihancurkan. Pendirian ini terlihat dari apa yang ia sampaikan di dalam suratnya,

Kami akan menggoyah-goyahkan Gedung Feodalisme itu dengan segala tenaga yang ada pada kami, dan andaikan hanya ada satu potong batu yang yang jatuh, kami akan menganggap hidup kami tidak sia-sia. Tetapi sebelum itu, kami akan coba memperoleh kerjasama, meski dari hanya satu orang laki-laki Jawa yang paling baik dan terpelajar. Kami akan berhubungan dengan kaum laki-laki bangsa kami yang terpelajar dan maju. Kami hendak berusaha bersahabat dan mendapat bantuan dari mereka. Bukan orang laki-laki yang kami lawan, melainkan pendapat kolot yang turun-temurun, adat yang tidak terpakai lagi bagi tanah air Jawa kami masa depan.[28]

Kemarahan Kartini bukan hanya tertuju pada budaya feodal dan agama semata. Namun juga pada struktur sosial masyarakat jajahan Hindia yang menempatkan kaum Bumiputra sebagai serendah-rendahnya manusia. Bahkan lebih rendah dari manusia, disandingkan dengan kera. Pengalaman yang ia alami, sebagai seorang perempuan Jawa yang hidup dalam alam kolonialisme, menerbitkan kemarahan yang bertumpuk-tumpuk. Kemarahannya pada orang Eropa di Hindia yang berpola-laku tiada beda dengan penguasa pribumi yang kejam dan lalim. Kemarahan yang ia simpan dalam ingatan, lewat peristiwa pemukulan keji yang dilakukan seorang Eropa terpelajar terhadap anak-anak dan perempuan, hanya karena menghalangi jalannya si pembesar Eropa.

Tatanan sosial yang timpang dan diskriminatif di Hindia melahirkan lapisan masyarakat yang bertingkat. Orang Belanda sebagai jenjang tertinggi dan superior, sementara kalangan pribumi sebagai manusia rendah. Bagi Kartini, ketimpangan sosial yang membuat orang Belanda memandang dirinya jauh lebih tinggi dari kalangan pribumi. Terlebih, tidak jarang memandang pribumi tak lebih dari binatang kera. Kartini murka atas keadaan tersebut. Bagi Kartini, orang Belanda dapat hidup dan menumpuk kekayaan karena adanya tanah Hindia yang memberi mereka kemakmuran. Namun, tidak sedikit dari mereka justru mencaci-maki tanah Hindia, sumber mereka hidup.

Di balik kelembutan dan kehalusan budi-bahasanya, Kartini tumbuh menjadi sosok pemarah. Amarah yang dipantik kebrutalan adat-budaya feodal Jawa, agama dan kolonialisme. Namun, amarah Kartini bukanlah amarah yang berujung pada caci-maki dan umpatan. Amarahnya bermuara pada cita-cita, yakni pembebasan dan kesetaraan kaum perempuan, dan semua orang pribumi di tanah Hindia Belanda. Cita-cita, yang bagi Kartini, dapat diujudkan melalui pendidikan. Upaya mencerdaskan perempuan dan manusia Hindia. Upaya yang tak pernah ia cicipi sampai tuntas karena kungkungan budaya feodal masyarakat Jawa, membatasi cita-cita dan harapannya pada kehidupan yang ia angankan. Upaya yang ia yakini sebagai cara paling ampuh untuk membebaskan rakyat Hindia dari kebodohan, sekaligus upaya yang bisa membuat perempuan dan rakyat Hindia menjadi setara dengan bangsa-bangsa lain di Eropa.

Kartini dan Pusaran Politik Liberal-Sosialis

Munculnya Kartini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan Politik Etis yang diselenggarakan pemerintah Belanda atas wilayah jajahannya di Hindia Belanda. Politik Etis muncul seiring dengan menguatnya gagasan liberalisme dan sosialisme yang menyapu Eropa. Angin liberalisme dan sosialisme yang bertiup kencang mendorong perubahan haluan politik di banyak negara-negara Eropa, termasuk Belanda. Partai-partai berhaluan liberal dan sosialis menduduki mayoritas parlemen Belanda, dan mendorong berkembangnya pemikiran-pemikiran yang mengusung tema-tema kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan sebagai sebuah keyakinan baru dalam peradaban Eropa masa itu.

Dalam periode ini pula gagasan-gagasan baru itu melahirkan apa yang waktu itu dikenal dengan konsep pertanggungjawaban bangsa-bangsa Eropa atas kehidupan timpang bangsa jajahan mereka. Di Belanda, gagasan baru itu diujudkan dalam Politik Etis, yakni sejenis politik balas budi kepada negara jajahan atas apa yang sudah diambil daripadanya. Politik Etis merupakan gagasan politik baru yang memandang pentingnya penguasa kolonial Belanda membiayai proyek-proyek pembangunan sosial dan infrastruktur di negara koloninya. Politik Etis dipahami sebagai bentuk pembayaran hutang kehormatan atas dasar alasan kemanusiaan yang menyebabkan ketertinggalan penduduk pribumi yang telah menopang negeri induk. Salah satu program yang dijalankan dalam Politik Etis adalah pendidikan Barat bagi kaum pribumi.[29]

Persentuhan Kartini dengan gagasan kemajuan sudah dimulai saat ia berjumpa dengan tokoh penting Politik Etis, yakni Henri Hubertus van Kol, seorang aktivis sosialis yang juga anggota Partai Buruh Sosial-Demokrat Belanda (SDAP). Kunjungan Henri van Kol, dan percakapannya dengan Kartini bersama seorang wartawan media Belanda, terbit di media-media cetak di Belanda. Sontak Kartini menjadi sorotan di negeri induk. Para pendukung Politik Etis melihat Kartini sebagai ujud keberhasilan kebijakan tersebut, sekaligus juga keberhasilan politik kolonial. Bagi kaum Etis dan para pejabat pemerintah kolonial Belanda di Hindia, Kartini merupakan bukti nyata semangat “budi baik” kolonialisme Belanda di tanah jajajahannya.

Kartini merupakan salah satu warga Hindia yang beroleh kesempatan mencicipi pendidikan Barat, sebagaimana juga ayah, paman dan kakak-kakak lelakinya. Kartini mengecap pendidikan Barat tingkat Sekolah Rendah sampai usia 12 tahun. Memasuki usia 12 tahun – sebagaimana adat-istiadat bagi perempuan bangsawan Jawa – ia mesti menjalani usia pingit selama 4 tahun. Kartini melukiskan masa pingitnya sebagai berikut:

Saya harus masuk ke dalam penjara saya. Empat tahun yang berlangsung sangat lama itu saya habiskan di antara empat dinding tebal, tanpa pernah melihat sesuatu pun dari dunia luar. Bagaimana saya dapat menerobos waktu itu, saya tidak tahu. Yang saya ketahui hanyalah masa itu demikian mengerikan.[30]

Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, yakni HBS, tidak dikabulkan ayahnya. Meski demikian, sang ayah kerap menyediakan bacaan dan membolehkannya berhubungan, lewat surat-menyurat, dengan para sahabat pena, yang semuanya orang Belanda.

Kartini membuat “rumah pingit” yang memenjaranya menjadi tempat pengembangan gagasan. Ia melahap beragam buku tentang kehidupan dunia modern. Jenis bacaannya merentang dari karya sastra, ilmu bumi, sejarah, ilmu sosial dan segala perkembangan yang terjadi di dunia sekitarnya. Juga beragam majalah yang terbit di Eropa disantapnya. Seperti majalah kebudayaan De Gids, De Hollandsche Lellie, serta suratkabar Hindia De Echo dan De Locomotief, yang dipimpin Pieter Brooshoft, seorang aktivis Etisi.[31] Kartini juga sangat mengagumi Multatuli, terutama buku Max Havelaar dan Minnebrieven (Surat-surat Cinta), yang ia akui sangat berpengaruh membentuk kepribdiannya. Selain membaca, Kartini rajin menulis, termasuk menulis sejumlah esai di luar surat-menyurat. Tulisan-tulisan Kartini tersebar di berbagai suratkabar, majalah dan jurnal seperti Bijdragen Koninklijk Instituut, De Echo, dan De Locomotief.

Kartini belajar menulis dalam bermacam bahasa asing, namun bahasa Belanda merupakan bahasa yang paling dikuasainya dengan amat baik. Kegiatan surat-menyurat yang kemudian membawa gagasan Kartini berkelana sampai Eropa, berjumpa dengan banyak orang, berdiskusi dan bertukar-pikiran, dan terutama memberikan inspirasi.

Salah satu sahabat pena Kartini adalah Estella H. Zeehandelaar, atau Stella. Stella merupakan seorang feminis radikal yang juga seorang sosialis anggota Social-Democratische Arbeiders Partij (SDAP) atau Partai Buruh Sosial Demokrat di Belanda. Perkenalan dan pertukaran gagasan dengan orang-orang ini membentuk orientasi berpikir dalam diri Kartini. Pertukaran gagasan mengisi pandangan-pandangan Kartini tentang masyarakatnya sendiri, dan bagaimana masa depan seharusnya. Gagasan sosialis Stella tertancap kuat mempengaruhi Kartini. Dalam suratnya Kartini menuturkan bagaimana pengaruh Stella terhadap pikiran dan pandangan politisnya, “seperti yang kamu katakan, kalau ada kepentingan besar, kepentingan kecil harus diabaikan”.[32] Kartini meyakini bahwa hak-haknya sebagai individu boleh saja dikorbankan, jika berbenturan dengan kepentingan yang lebih besar, kepentingan orang banyak.

Kebebasan dan kepentingan orang banyak kerap bertumpang-tindih di dalam pikiran Kartini. Ia mengagungkan kebebasan-diri, sekaligus mengidealkan kepentingan orang banyak. Pergaulan, percakapan dan diskusinya dengan para kaum Etisi liberal, berbaur dengan korespondensinya dengan Stella yang berhaluan sosialis. Kartini mengagumi keduanya. Ia mendamba kebebasan, hak, keadilan dan kepentingan orang banyak secara bersama. Baginya itu semua dapat dirangkum dalam satu rumah besar yang ia idamkan, rumah kemerdekaan.

Ide-ide sosialis juga banyak didapatkan Kartini lewat tulisan-tulisan para penulis sosialis, seperti Cornélie Huygens, seorang sosialis-demokrat dan aktivis feminis. Bukunya yang terkenal Berthold Meryan sangat dikagumi Kartini dan memberikan pengaruh ide-ide feminis-sosialis ke dalam pemikiran Kartini. Juga penulis Ferdinand August Bebel, seorang sosialis Jerman dan pendiri Partai Sosial Demokrat Jerman. Karyanya yang berpengaruh bagi Kartini adalah De Vrouw en Sosialisme (Perempuan dan Sosialisme), yang memberikan perspektif sosialis mengenai perempuan kepada Kartini. Perjumpaan dan pergumulan Kartini dengan Stella dan para penulis sosialis yang membentuk watak dan gagasan sosialisme merebak di dalam pemikiran Kartini.

Mengkategorikan Kartini sebagai seorang liberal-sosialis secara ketat bisa jadi terlalu berlebihan. Kartini merumuskan semua gagasannya melalui korespondensi dan melahap bacaan. Kartini tidak menulis sebuah karya akademik yang ketat dan teoritik. Ia melontarkan apa yang dipikirkan, termasuk kegalauan, kegundahan, kecemasan, kegelisahan, keinginan, dan hasrat, dengan bersandar pada apa yang sudah ia baca dan perbincangkan lewat surat-menyurat. Di sana terlihat campur-baur yang luar biasa, namun sebentuk garis pemikiran bisa kita peras dari seluruh artikulasinya. Pengaruh gagasan sosialisme sekaligus liberal sangat kental mewarnai pikiran Kartini.

Pandangan Kartini pun sarat dengan humanisme. Bagi Kartini “cinta sesama manusia, cinta keadilan… bukanlah kata-kata besar dan hampa… kami percaya akan cinta!”.[33] Kartini berulang-kali menyebut kata cinta dalam surat-suratnya. Namun cinta yang dirujuk Kartini adalah cinta kemanusiaan dan keadilan, cinta kepada bangsa dan Bumiputra. Dalam konteks ini ia menjadi seorang humanis, percaya bahwa cinta sesama manusia bisa mengubah keadaan secara luar-biasa.

Kartini percaya pada hak sebagai kemelakatan pada setiap orang. “Salah satu dari cita-cita yang hendak saya sebarkan ialah: hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya[34] ucap Kartini dalam tulisannya. Ia percaya bahwa hak hidup bersifat mutlak, tak bisa diganggu-gugat. Demikian juga hak dan perasaan menusia. Kartini tidak mesti membaca John Locke untuk merumuskan pikiran yang nyaris serupa. Semua itu dia sarikan dari seluruh bacaan dan korespondensinya dengan para pemikir liberal.

Di sisi lain, Kartini menjelma menjadi seorang nasionalis saat berbicara mengenai bangsa Hindia dalam belenggu kolonialisme. Bagi Kartini penjajahan merupakah kejahatan kemanusiaan yang tak terperi. Ia memberi contoh sederhana bagaimana pemerintah kolonial mengisi dompetnya dengan beratus-ratus ribu dan berhuta-juta uang emas dengan menjual candu kepada rakyat Bumiputra. Kartini paham betul bahwa pajak-cukai candu merupakan salah satu sumber penghasilan yang melimpah bagi pemerintah Hindia Belanda, namun menyisihkan kesengsaraan tak berujung bagi kaum Bumiputra.[35] Kolonialisme dalam wajah keji yang paling telanjang dibeberkan Kartini. Kejahatan itu hanya mungkin dilepaskan jika bangsanya merdeka, lepas dari cengkeraman kolonialisme. Kartini mengajak untuk melawan kekejian itu, meski saat itu ia akui tak ada kekuasaan yang digenggam untuk menghadapinya. Dari sini Kartini membayangkan sebuah nasion yang bebas-merdeka dari penjajahan. Ada gagasan revolusioner dalam pikiran Kartini.

Semangat jaman akan perubahan masyarakat yang dilandasi semangat kebebasan, kesetaraan dan keadilan yang merebak di Eropa, terbang jauh hingga Jepara. Kartini merupakan hasil dari zaman yang sedang berubah tersebut. Zaman yang merindukan pecahnya revolusi yang mampu mengubah sejarah umat manusia, yang menjungkalkan tatanan lama yang timpang dan menindas. Kartini juga merupakan titik pertemuan dari semangat humanisme dan keyakinan revolusioner. Kartini meyakini pada suatu waktu akan terjadi perubahan besar dalam masyarakatnya,

Perubahan dalam seluruh dunia Bumiputra kami akan terjadi; titik baliknya sudah ditakdirkan. Tetapi kapan? Inilah masalahnya. Kami tidak dapat mempercepat jam revolusi. Mengapa justru kami di dalam rimba ini, di ujung negeri, mempunyai pikiran memberontak demikian? Teman-teman saya di sini berkata bahwa lebih bijaksana bagi kami jika kami tidur dulu seratus tahun lamanya, kalau kami bangun kembali, maka saat itulah waktu yang baik untuk kami…. Jawa sudah sampai sejauh yang kami inginkan.[36]

Kartini merupakan produk semangat pencerahan Eropa yang berimbas sampai bumi Hindia. Kepustakaan Kartini dipenuhi bacaan yang dinaungi semangat pencerahan. Semangat di mana nalar dan ilmu pengetahuan merupakan jalan bagi kemajuan, kebebasan dan kesetaraan. Surat Kartini pada Nyonya Nelly van Kol dengan terang-benderang membersitkan hal itu. Betapa Kartini memuja pengetahuan sebagai senjata pamungkas bagi masyarakat Hindia Belanda untuk berdiri sejajar dengan orang-orang Belanda. Bagi Kartini, pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan akan memberikan kebahagiaan bagi bangsanya, dan khususnya bagi kaum perempuannya.[37] Kartini ingin kaum pribumi tumbuh menjadi pemimpin bagi kaumnya. Kaum pribumi terpelajar seperti Abdoel Rivai dan Agus Salim, sosok pemuda brilian yang sangat dikaguminya, meski tak pernah ia kenal. Kartini yakin, orang seperti Agus Salim akan berguna bagi kemajuan Bumiputra dalam menghadapi kolonialisme Belanda.

Refleksi Atas Teks Kartini

Surat-menyurat Kartini kemudian terbit di Belanda dalam bentuk buku dengan judul Door Duisternis Tot Licht pada 1911, kemudian diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran oleh Balai Poestaka pada 1922. Buku Door Duisternis Tot Licht diterbitkan J. H. Abendanon, yang waktu itu merupakan Direktur Departemen Pengajaran dan Ibadah di Hindia Belanda. Abendanon merupakan salah seorang pendukung Politik Etis. Buku tersebut diterjemahkan ke berbagai bahasa asing.[38] Buku Door Duisternis Tot Licht sendiri di Belanda mengalami cetak ulang sebanyak empat kali.

Namun penting kiranya untuk memahami teks Kartini secara kritis. Suka atau tidak, seluruh surat yang dipublikasikan Abendanon, disunting olehnya sendiri. Abendanon merupakan pendukung Politik Etis, dan Kartini merupakan pelambang keberhasilan paripurna kebijakan Etis. Kartini merupakan bukti sahih betapa kebijakan pendidikan di tanah jajahan menghasilkan sebentuk mutiara gilang-gemilang yang mampu mengguncang dunia. Hanya Abendanon yang mengetahui bagaimana surat-surat Kartini tersebut disunting, mana bagian yang dipublikasikan, mana yang disembunyikan. Sebanyak 105 surat-menyurat Kartini dipublikasikan dalam buku Door Duisternis Tot Licht. Menurut Pramoedya Ananta Toer, sebuah studi yang dilakukan Dr. H. Bouman, pada tahun 1956, untuk mencari bahan-bahan baru tentang Kartini, menyingkap rahasia bahwa ada kesengajaan tertentu dalam menyunting dan menggunting surat-surat tersebut. Artinya, hanya bagian-bagian yang dipandang penting untuk menunjukkan keberhasilan Politik Etis saja yang dipublikasikan.[39] Jadi sosok Kartini yang kita kenal lewat surat-menyuratnya, merupakan sosok Kartini sebagaimana yang diinginkan Abendanon dan Politik Etis.

Meski demikian, menurut Joost Cote, surat-surat Kartini sangatlah berharga karena mewakili tumbuhnya ketidakpuasan terhadap diberlakukannya norma-norma terhadap peran perempuan, ketidakadilan yang dihadapi perempuan, serta bertumbuhnya tuntutan akan “kebebasan, kemerdekaan dan emansipasi”.[40] Melampui Cote, kita juga dapat memaknai surat-surat Kartini bukan semata-mata produk propaganda kolonialisme Belanda akan keberhasilan Politik Etis, namun juga memaknainya sebagai produk gagasan penting bagi tumbuhnya kesadaran akan kemerdekaan dan kebebasan yang sedang merebak. Karya propaganda Politik Etis menghadirkan sisi yang lain, yakni inspirasi yang disebarkan Kartini bagi banyak orang, baik di Hindia maupun belahan bumi lainnya, bahwa ada semangat pembebasan yang sedang merekah di suatu zaman baru. Kartinilah yang meretas zaman baru itu.

Selain itu, dalam membaca teks Kartini, kita harus melihat Kartini pertama-tama sebagai seorang bangsawan tinggi Jawa anak seorang bupati. Dalam tulisannya yang penuh amarah dan pemberontakan, meski disampaikan dengan cara yang halus, bagaimanapun harus dimaknai sebagai tulisan sesosok perempuan yang menjadi penghubung perubahan kelas sosial di dalam suatu masyarakat kolonial-feodal-patriarkis yang sedang menyambut menyingsingnya zaman modern, yang membentuk jagad Hindia Belanda. Tulisan Kartini mewakili suatu cita-cita baru pembaharuan kelas sosial lama yang sudah semakin terperosok dan memudar digerus kemajuan. Perempuan bangsawan yang hanya ingin dikenal sebagai sosok perempuan yang setara dan sama dengan manusia lainnya, tanpa embel-embel kebangsawanan, warna kulit, sudah menikah atau tidak. Hanya dia sebagai manusia.

Tulisan Kartini merupakan buah pikiran yang melesat jauh melampaui zaman di mana dia hidup. Ia membayangkan sebuah zaman baru yang berlangsung di Eropa, akan segera tiba di Hindia. Kartini membayangkan zaman baru itu akan hadir pada suatu hari nanti, tiga-empat generasi setelah dirinya. Mungkin seratus tahun lagi, saat ia tidak lagi ikut menikmati. Gagasan pembaharuan masyarakat yang ia imajinasikan bisa jadi terpengaruh oleh percakapannya dengan para sahabat pena di Eropa, terutama sekali Stella Zeehandelaar. Apa yang disampaikan Kartini kental dengan semangat itu. Semangat kebebasan, semangat kesetaraan, semangat keadilan, semangat persaudaraan, solidaritas, dan kemajuan. Semangat yang mungkin dibentuk oleh dialognya dengan gagasan-gagasan feminisme dan sosialisme yang dikemukakan Stella.

Apa yang digagas Kartini telah jauh melampui kisah hidupnya sendiri. Ia telah memberikan inspirasi penting bagi sumbu-sumbu kecil yang perlahan menjadi nyala berkobar bernama pergerakan nasional. Surat-surat Kartini yang telah diterbitkan, menjadi inspirasi bagi para pemimpin pergerakan nasional di Hindia. Kartini telah memantik tumbuhnya kesadaran nasional baru di kalangan pemuda dan kaum terpelajar Hindia. Buku Door Duisternis Tot Licht menjadi bahan bacaan wajib bagi para aktivis pergerakan. Kartini merupakan pembaharu dalam menggagas sebuah imajinasi mengenai sebuah tatanan masyarakat baru, dan sebuah cita-cita ideal yang baru tentang sebuah bangsa yang lebih besar dibandingkan asal-usul sosialnya sendiri.

Meski demikian, kecermelangan Kartini juga dijadikan pendasaran bagi pemerintah kolonial Belanda sebagai hasil paling manjur kebijakan Politik Etis. Tak dapat disangkal, Kartini dijadikan barang bukti paling nyata bagaimana “kemajuan” telah tumbuh di Hindia dan dilihat sebagai “cahaya peradaban Barat yang menerangi rakyat Bumiputra yang hidup dalam kegelapan”.[41] Karenanya, kumpulan surat-menyurat Kartini, oleh Abendanon diberi judul Door Duisternis Tot Licht, yang merupakan suatu pernyataan politis betapa peradaban Eropa berhasil membawa cahaya terang-benderang bagi tanah jajahan yang gelap-gulita. Politik Etis berhasil menelurkan seorang perempuan cerdas, terpelajar, santun, modern dan maju.

Gagasan-gagasan Kartini telah menjadi suluh penerang di zaman kegelapan Hindia yang dikungkung kolonialisme dan feodalisme yang berselingkuh dengan agama. Menjadi pentuntun untuk menyongsong zaman baru yang terbentang di Hindia. Gagasan-gagasan yang dihargai sedemikian tingginya hingga Sukarno menetapkan Kartini menjadi pahlawan nasional, dan hari kelahirannya ditetapkan sebagai hari nasional: Hari Kartini.[42] Kartini adalah satu-satunya manusia di Indonesia yang namanya ditetapkan menjadi hari nasional.

Penutup

Kartini merupakan sebuah Mozaik. Ia adalah kepingan-kepingan ornamen yang menyatu menjadi sosok. Di dalam centang-perenang itu ia menjadi utuh. Di dalam keutuhan ia terburai. Kartini adalah semua yang mungkin sekaligus yang tak mungkin. Kartini adalah paradoks. Namun, sebagaimana disitir Chantal Mouffe, justru di dalam yang paradoks semua ruang terbuka untuk menjadi.

Kartini telah menguak tabir. Ia adalah cahaya dari fajar modernitas dan akal-budi yang terbit di tanah Hindia. Sebagai cahaya ia memberikan terang. Ia adalah kunci pembuka zaman baru. Zaman yang dipimpin oleh akal-budi. Kartini merindukan berkembangnya kekuatan akal-budi bagi semua orang di Hindia, agar mereka tumbuh setara dan sederajat dengan sesamanya di Eropa. Pendidikan merupakan peralatan terpenting yang dipercaya Kartini dapat mengolah dan mengasah akal-budi. Di dalam akal-budi maka tidak ada lagi Eropa atau Jawa, semua adalah manusia bebas dan merdeka. Dalam akal-budi, perempuan dan laki-laki adalah sama. Dengan akal-budi bangsa Jawa dan Hindia akan menjadi semanusia-manusianya manusia. Kira-kira demikian gugah Kartini, yang ia sisipkan lewat surat-menyurat kepada semua sahabatnya. Ia menggugat semua tatanan yang merendahkan martabat manusia, terutama perempuan.

Kartini bukanlah kebaya, konde atau sekadar sosok ibu. Ia adalah penanda lahirnya zaman baru. Pencetus cara berpikir baru. Ia adalah pembaharu. Ia merumuskan emansipasi sebagai wahana memperjuangkan kedaulatan dan kemuliaan manusia. Ia mengoyak selubung kelam ketertindasan perempuan dalam adat, agama dan kolonialisme. Ia merumuskan sebuah bangsa. Kartini mengajak segenap bangsanya mengimajinasikan dan mendefinisikan apa yang kemudian menjadi Indonesia. Gagasan-gagasannya bersemai dan bertumbuh. Ia menjadi rujukan. Menjadi semangat. Menjadi tauladan. Dan yang terpenting, menjadi pelopor. Kartini merupakan jendela yang membuka cakarawala baru dalam memberi makna akan bangsa yang bebas dan merdeka. Kartini telah menyemainya, dan kita semua, sekarang ini, telah menuainya. Namun itu belum cukup. Kita masih harus memperbesar dan memperluas apa yang telah dimulainya lebih dari seabad lalu.

Maka, Habis Gelap Terbitlah Terang bisa dibaca secara berbeda. Bukan peradaban Barat yang menerangi kegelapan Hindia. Namun, ia sesungguhnya penerang saat gelap belum mau pergi. Kartinilah yang menyalakan obor agar kegelapan dapat segera diusir. Obor itu telah diteruskan. Sebagaimana petikan syair Henriette Roland-Holst, “Obor yang telah kami nyalakan di malam gelap gulita ini, akan kami serahkan kepada angkatan kemudian”.

Terima kasih,
Selamat Hari Kartini

Catatan

[1] Katrin Bandel, “Kartini, Manusia Hibrid”. Kata Pengantar dalam R. A. Kartini, Emansipasi: Surat-surat Kepada Bangsanya 1899-1904 (Jakarta: Jalasutra, 2014), hal. xxv, xxvii.
[2] Pandita Ramabai adalah perempuan Hindu pertama yang mempelopori perlawanan atas nasib buruk perempuan Hindu yang disebabkan adat-istiadat dan agama, terutama kenistaan dan penganiayaan yang diterima perempuan yang berstatus janda. Lihat Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja (Jakarta: Hasta Mitra, 1997), hal. 222.
[3] Ibid., hal. 219-226.
[4] R. A. Kartini, Emansipasi: Surat-surat Kepada Bangsanya 1899-1904 (Yogyakarta: Jalasutra, 2014).
[5] Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini, hal xiii-xiv.
[6] Ancien régime merupakan perlambang bagi keadaan lama yang berpijak pada nilai-nilai: adanya hak-hak istimewa, monopoli, hak-hak feodal, kemalasan, kesalehan yang munafik, dan kepercayaan pada tahayul. Lihat Immanuel Wallerstein, “Marx and History: Fruitful and Unfruitful Emphases” dalam Etienne Balibar and Immanuel Wallerstein, Race, Nations and Class: Ambiguous Identities (London: Verso, 1991), hal 126.
[7] Ronald Hayman, Marquis de Sade: The Genius of Passion (London: Tauris Parke, 2003), hal. 25.
[8] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, 18 Agustus 1899”, dalam Emansipasi, hal. 13.
[9] Bruce Fink, The Lacanian Subject: Between Language and Jouissance (Princeton: Princeton University Press, 1997), hal 102-103.
[10] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, 6 November 1899”, dalam Emansipasi, hal.18.
[11] Ibid., hal. 22.
[12] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nyonya M.C.E. Ovink-Soer, 1903”, dalam Emansipasi, hal. 480. Bupati Rembang yang menikahi Kartini adalah teman ayah Kartini. Sebelumnya memiliki istri yang kemudian meninggal. Sang Bupati lalu menyunting Kartini beberapa tahun setelah istrinya wafat. Almarhum istri Bupati Rembang mengagumi sosok Kartini, ingin berkenalan, namun tak pernah dapat saling bersua. Hal ini dikisahkan Kartini dalam suratnya kepada J. H. Abendanon dan istrinya, “Bukankah ajaib sekali, ajaib sekali, bahwa isteri pertama suami saya sampai hari-hari terakhir hayatnya selalu berbicara tentang saya. Dia ingin benar berkenalan dan berteman dengan saya. Cita-citanya ingin pergi ke Jepara dan membawa anak-anaknya kepada saya. Potret saya sesungguhnya tidak pernah dilepaskan dari tangannya, disimpannya bahkan sampai ranjang sakitnya yang terakhir”. Lihat R. A. Kartini, “Surat Kepada Tuan Mr. J.H. Abendanon dan Nyonya, 16 Desember 1903”, dalam Emansipasi, hal. 498.
[13] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899), dalam Emansipasi, hal. 2.
[14] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nyonya N. van Kol, Agustus 1901”, dalam Emansipasi, hal. 164.
[15] Ibid., hal. 165.
[16] Ibid.
[17] Ibid., hal. 165-166.
[18] Ibid.
[19] Ibid., hal. 168.
[20] R. A. Kartini, “Surat Kepada Tuan Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902”, dalam Emansipasi, hal. 376.
[21] Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini, hal. 136-153.
[22] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, 12 Januari 1900”, dalam Emansipasi, hal. 49.
[23] R. A. Kartini, “Surat Kepada Ny. N. van Kol, Agustus 1901”, dalam Emansipasi, hal. 165.
[24] Ibid., hal. 164.
[25] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899”, dalam Emansipasi, hal. 5.
[26] Ibid., hal. 167.
[27] Ibid., hal. 165.
[28] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nyonya M.C.E. Ovink-Soer, Awal Tahun 1900”, dalam Emansipasi, hal. 53-54.
[29] Politik Etis yang dijalankan pemerintah kolonial Belanda mencakup tiga bidang yaitu pendidikan, irigasi dan transmigrasi. Politik Etis ditujukan untuk menopang kebijakan liberalisme ekonomi di Hindia Belanda sejak 1870. Semboyan di zaman etis yang baru ini adalah “kemajuan”, dengan istilah-istilah pendukungnya seperti vooruitgang, opheffing (kemajuan), ontwikkeling (perkembangan) dan opvoeding (pendidikan) dalam kerangka bervoedering van welvaart atau “memajukan kesejahteraan”. Dalam kerangka Politik Etis, Pemerintah Belanda membuka sekolah-sekolah bagi anak-anak dari keluarga bangsawan Jawa dan Pangreh Praja (pegawai negeri). Lihat Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (Jakarta: Grafiti, 1997), hal. 35.
[30] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899”, dalam Emansipasi, hal. 3.
[31] Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini, hal. 253.
[32] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, 14 Maret 1902”, dalam Emansipasi, hal. 236.
[33] R. A. Kartini, Surat Kepada Nyonya N. van Kol, 20 Agustus 1902”, dalam Emansipasi, hal. 353.
[34] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, 11 Oktober 1901”, dalam Emansipasi, hal. 190.
[35] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899”, dalam Emansipasi, hal. 6.
[36] R. A. Kartini, “Surat Kepada Nona E. H. Zeehandelaar, 6 November 1899”, dalam Emansipasi, hal. 22.
[37] R. A. Kartini, “Surat Kepada Ny. N. van Kol, Agustus 1901”, dalam Emansipasi, hal. 165-166.
[38] Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1921 dengan judul Letters of A Javanese Princess yang diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh Agnes Louis Symmers dan diterbitkan oleh penerbit Duckworth & Co. di London.
[39] Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini, hal. 207-208.
[40] Joost Cote, Letters From Kartini: An Indonesian Feminist 1900-1904 (Clayton: Monash Asia Institute, 1992), hal. 27.
[41] Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak, hal. 79.
[42] Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dinamai sebagai Hari Kartini.

Kepustakaan Rujukan

Bandel, Katrin, “Kartini, Manusia Hibrid”. Kata Pengantar dalam R. A. Kartini, Emansipasi: Surat-surat Kepada Bangsanya 1899-1904 (Yogyakarta: Jalasutra, 2014).

Joost Cote, Letters From Kartini: An Indonesian Feminist 1900-1904 (Clayton: Monash Asia Institute, 1992).

Fink, Bruce, The Lacanian Subject: Between Language and Jouissance (Princeton: Princeton University Press, 1997).

Hayman, Ronald, Marquis de Sade: The Genius of Passion (London: Tauris Parke, 2003).

Kartini, R. A., Emansipasi: Surat-surat Kepada Bangsanya 1899-1904 (Yogyakarta: Jalasutra, 2014).

Shiraishi, Takashi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (Jakarta: Grafiti, 1997).

Soeroto, Siti Soemandari, Kartini: Sebuah Biografi (Jakarta Gunung Agung, 1977).

Ananta Toer, Pramoedya, Panggil Aku Kartini Saja (Jakarta: Hasta Mitra, 1997).

Wallerstein, Immanuel, “Marx and History: Fruitful and Unfruitful Emphases” dalam Etienne Balibar and Immanuel Wallerstein, Race, Nations and Class: Ambiguous Identities (London: Verso, 1991).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s