Phronesis

 

Phronesis adalah sebuah situs pemikiran yang dilandaskan kegelisahan namun diharapkan bisa memberikan beragam sumbangan bagi kemajuan peradaban di Indonesia… Phronesis merupakan kanvas di mana percikan-percikan pemikiran digoreskan secara acak, namun bukan bermaksud abstrak. Bisa jadi realis, atau bahkan surrealis, semua bergantung pada kewenangan pengunjung situs dan pembaca Phronesis untuk memaknainya.

Phronesis merupakan wahana bagi goresan pemikiran dalam membaca fenomena yang ada. Mozaik tanda yang berserak menjadi inspirasi bagi gagasan-gagasan yang disusun dalam Phronesis.

Sekalipun hanya merupakan situs yang berupaya merekam dan mendokumentasikan tatanan totalitas yang dihasilkan oleh kegiatan dan tindakan artikulatif, Phronesis tidak berhasrat untuk menggurui… hanya pantulan pemikiran yang boleh dimaknai secara bebas-merdeka… yang kediriannya lebih berupaya untuk memaknai apa yang terjadi dan berkembang di sekitarnya, dan mengartikulasikannya berdasarkan pemahaman atasnya.

Phronesis terinspirasi oleh puisi “Love Sonnet 89” karya sastrawan Chili peraih penghargaan Nobel Sastra tahun 1971, yang juga pernah menjadi senator dan juga anggota Partai Komunis Chili, yakni Pablo Neruda:

When I die, I want your hands on my eyes:
I want the light and the wheat of your beloved hands
to pass their freshness over me once more:
I want to feel the softness that changed my destiny.

I want you to live while I wait for you, asleep.
I want your ears still to hear the wind, I want you
to sniff the sea’s aroma that we loved together,
to continue to walk on the sand we walk on.

I want what I love to continue to live,
and you whom I love and sang above everything else
to continue to flourish, full-flowered:

so that you can reach everything my love directs you to,
so that my shadow can travel along in your hair,
so that everything can learn the reason for my song.

(Pablo Neruda, Love Sonnet 89)

 

image

Leonid Afremov – Farewell To Anger (2014)

Advertisements