Tentara dan Demokrasi

Pada masa pemerintahan Orde Baru, militer merupakan kelompok kunci dalam percaturan politik, sampai hubungan-hubungan sosial dan ekonomi. Fungsi militer diarahkan sebagai kekuatan yang menjaga “stabilitas” dan “persatuan”. Stabilitas dan persatuan bertautan erat dengan “pembangunan” dan “modernisasi” sebagai program pokok yang dicanangkan oleh Soeharto dengan Orde Baru-nya.

Diskursus Orde Baru tentang “ideologi pembangunan” atau “modernisasi” memberi alasan bagi militer untuk menjadikan stabilitas politik sebagai  syarat pembangunan. Dalam buku Harold Crouch, Army and Politics in Indonesia (1978), gagasan pembangunan ekonomi menurut militer Indonesia dirumuskan sebagai berikut: pembangunan membutuhkan “stabilitas dan persatuan” sebagai unsur dasarnya. “Stabilitas dan persatuan” berarti bahwa negara membutuhkan stabilitas ekonomi dan politik. Lebih jauh, stabilitas ekonomi dan politik dapat dicapai apabila pertumbuhan ekonomi stabil dari tahun ke tahun, dan juga pada waktu yang sama tidak terjadi pergolakan politik yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Pandangan lain seperti Jun Honna dalam artikelnya Military Ideology in Response to Democratic Pressure During the Late Suharto Era (2001), menilai bahwa kekuasaan militer Indonesia dilandaskan pada dua alasan utama: pertama, adanya kebutuhan akan infusi besar-besaran modal asing dari Barat, menguatkan gagasan bahwa stabilitas politik yang dijalankan menjadi penting dalam menarik investasi asing. Kedua, kekuatiran geopolitis bahwa infiltrasi komunis pada masa Perang Dingin dapat meningkatkan subversi dalam negeri, juga menjadi alasan para pejabat militer untuk mendesak adanya peran besar angkatan bersenjata dalam mempertahankan integritas nasional. Karena itu, hal ini hanya dapat tercapai dengan pengawasan militer di seluruh tatanan kehidupan politik, sosial dan budaya bangsa.

Kedua pandangan tersebut melihat Indonesia dalam konteks pemerintahan otoriterian. Sementara Indonesia kini sedang bergerak menuju bentuk tatanan negara-bangsa yang demokratis, di mana tujuan-tujuan untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bukan disandarkan pada kekuatan militer, melainkan pada kemampuan mengembangkan potensi-potensi seluruh sumber, baik alam maupun manusia.

Beberapa hal mulai dibenahi untuk itu, seperti penghapusan kursi “jatah tentara” di parlemen, larangan bagi pejabat militer aktif untuk masuk dalam wilayah politik yang jelas tertuang dalam TAP MPR VII/2000 mengenai larangan bagi anggota militer yang masih aktif untuk menduduki jabatan publik, dan juga institusi militer tidak diperbolehkan untuk terlibat dalam aktivitas politik praktis. Kegiatan bisnis oleh institusi militer juga tidak boleh lagi dilakukan mulai tahun 2009 sebagaimana ditetapkan dalam UU No.34/2004.

Persoalan yang masih tersisa adalah konsep fungsi teritorial yang masih menempatkan TNI untuk tetap masuk dalam ruang sosial-politik. Doktrin fungsi teritorial dilekatkan dengan fungsi pembinaan teritorial yang memungkinkan TNI untuk melakukan kontrol (membina) partisipasi publik baik dalam ruang sosial, politik dan kebudayaan. Doktrin ini menujukkan bahwa TNI belum memahami fungsinya dalam negara demokratis. Dalam sistem negara demokrasi, fungsi militer semata-mata hanyalah fungsi pertahanan. Fungsi, sebut saja “pembinaan”, adalah fungsi yang harus dilakukan seluruh masyarakat sipil sebagi ujud keaktifan warga.

Dalam situasi demokrasi yang sedang menjadi ini, kesulitan-kesulitan dan tantangannya harus mampu dihadapi dan dijawab oleh pemerintahan sipil, legislatif, lembaga yudikatif dan seluruh warga sipil. Kesulitan-kesulitan tersebut bukan dijawab dengan mengembalikan “imajinasi stabilitas” oleh tentara, melainkan oleh kemampuan nalar warga-publik lewat keaktifan mendorong tatanan demokrasi terbentuk. Kemampuan warga publik untuk menjaga, mengawal dan mendorong pemerintahan sipil menjawab tantangan-tantangan demokrasi. Mungkin harus tertatih-tatih, tapi setidaknya kasus seperti di Alas Tlogo tidak akan teurlang di masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s