Sketsa Nasionalisme, Globalisasi dan Neoliberalisme Dalam Bingkai Sepak Bola (Timbangan Buku)

Judul Buku:  Memahami Dunia Lewat Sepak Bola: Kajian Tak Lazim Tentang Sosial-Politik Globalisasi”. Penulis: Franklin Foer. Penerbit: Marjin Kiri, Jakarta (2006).

“Bila paham politik anda liberal dan selera Anda eksekutif muda kelas menengah, tidaklah mudah mencari sekelumit ruang dalam cakrawala sepak bola ini yang bisa membuat Anda merasa betah. Eropa memiliki terlampau banyak tim yang masa lalunya fasis sehingga masa kininya penuh xenophobia. Dan ini baru rintangan pertama mencari tim favorit. Anda tak akan pernah bisa menerima klub-klub yang dipayungi oleh semangat rasisme (kalau begitu coret dari daftar calon kesebelasan favorit klub-klub berikut ini: Paris-Saint Germain, Chelsea, Glasgow Rangers, Red Star Beograd, dan hampir separuh tim yang ada di Italia). Dan dengan memihak kalangan tertindas Anda tidak mungkin tunduk pada konglomerat-konglomerat multinasional seperti Manchester United dan Juventus yang tiap tahun membeli juara”

(Franklin Foer, Memahami Dunia Lewat Sepak Bola)

Pengantar

Menjelang hingar-bingar putaran final piala dunia sepakbola, sebuah buku yang membahas sepak bola dan segudang persoalan yang beririsan dengannya terbit. Penerbit Marjin Kiri cukup jeli untuk menerbitkan buku ini kurang-lebih satu bulan sebelum pertandingan pembukaan di kota Muenchen digelar. Saat demikian banyak manusia di dunia menumpahkan perhatiannya pada event empat tahun sekali, yang konon, menyedot pemirsa media cetak maupun visual paling besar jumlahnya.

Sepak bola memang memiliki kandungan unsur magis – setidaknya menurut saya yang entah kenapa sangat menggilai olahraga patriarkhal satu ini – di mana secara (i)rasional saya bisa mendukung tim-tim Jerman dan Inggris, yang bermain mewakili negara dan bangsa di mana saya bukan bagian daripadanya. Kemenangan para pemain-pemain tersebut, seperti kemenangan juga buat saya, demikian juga dalam kekalahan. Kadangkala tim-tim Asia saya anggap mewakili identitas ke-Asia-an saya, sekalipun mereka mewakili bangsa dan negara Jepang, Korea atau Iran. Atau pemain-pemain Afrika yang mewakili rasa solidaritas saya sebagai negara dunia ketiga.

Unsur magis ini bagi saya cukup menggelitik. Bagaimana tidak? Terlepas dari kekaguman terhadap individu-individu tertentu, maupun terhadap sebuah tim secara keseluruhan, membuat Faizin dan Damhuri (dua orang sahabat dekat saya kongkow-kongkow di Cak Tarno Institute, Kober Town Square, Depok), begitu terpukul saat Tim Tango Argentina harus tersingkir di perempat final. Rasa terpukul dan kesedihan yang mungkin (ini harus diverifikasi terhadap mereka berdua!) lebih dalam dibandingkan saat tim PSSI gagal menembus babak penyisihan (kualifikasi) pra-piala dunia untuk lolos ke putaran final piala dunia ini. Tipisnya batas antara irasionalitas dan rasionalitas dalam menilai kedua sikap kedua sahabat terebut, akhirnya hanya bisa saya uraikan dalam satu kata: mistik!

Di bawah naungan suasana magis dan mistis tersebut saya membaca buku karangan Franklin Foer ini. Franklin Foer dengan gaya bertutur-tulis yang menarik dan mengalir, dan tentu saja dengan terjemahan yang sangat baik, menyajikan dan membuka sejumlah ruang-ruang tertutup dalam dunia sepakbola, yang tidak hanya melulu mengenai formasi 4-4-2, kick and rush Inggris, tarian tango Argentina, goyang gemulai jogo bonito Brasil, sepakbola mekanik-sistemik ala Jerman, atau “kaki becak” Ronaldo dan Ronaldinho. Foer menelusuri jauh sampai pada soal globalisasi, neoliberalisme, holiganisme, korupsi, nasionalisme, konstruksi identitas sosial dan politik, praktik politik, sektarianisme agama, bahkan genosida!

Sebagaimana sang penulis, Franklin Foer, yang berangkat dari rasa ingin tahunya mengenai kapitalisme, globalisasi dan sepakbola yang berinteraksi begitu mengagumkan bagi dirinya. Logika kapitalisme mulai mencengkeram kuat dunia sepak bola. Bukan hanya karena di situ ada Roman Abramovich, Silvio Berlusconi, Massimo Moratti, Malcolm Glazer dan sederet pengusaha-pengusaha mahakaya yang menjadi pemilik klub-klub sepak bola besar, tetapi bagi Foer, sebagaimana ia mengutip Thomas Friedman, bahwa integrasi (atau invasi?) pasar, negara-bangsa dan teknologi sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar. Foer beranggapan bahwa inilah tata dunia baru yang juga merengkuh sepak bola masuk dalam arus pusarannya, dan Foer menikmatinya dengan sangat, seperti diuraikannya,

“Dari apa yang saya saksikan di sofa, sepak bola tampaknya jauh lebih akur dengan proses globalisasi ketimbang perekonomian mana pun di muka bumi” (hal. ix)

Namun Foer tidak puas hanya dengan duduk-duduk di sofa meng-amini globalisasi dalam sepak bola. Ia kemudian berkeliling dunia, menonton pertandingan-pertandingan, mewawancarai banyak orang, untuk mencari tahu, mendalami dan menikmati sepak bola, dan menjadikannya buku yang sedang didiskusikan ini.

Sebuah buku yang terlalu amat sangat menarik untuk dilewatkan, karena pada saat membaca dan memaknainya, selubung unsur magis dan mistis itu semakin kuat melingkupi pikiran dan perasaan saya.

Wajah Lain Sepak Bola: Rasisme, Sektarianisme, Hooliganisme, Xenophobia dan Anti-Semit

Musuh utama dalam kampanye sepak bola dalam – sekurang-kurangnya – lima tahun terakhir ini adalah bahaya rasi(ali)sme. Kampanye-kampanye di liga-liga utama Eropa mengumandangkan “kick racism out of football”, “say no to racism” dan lainnya. Eropa Barat sedang mengalami guncangan besar atas perilaku rasis para penonton, pemain bahkan pelatih.[1] Sepak bola Eropa– yang kemudian diikuti oleh FIFA – sedang mencanangkan perang besar melawan bentuk-bentuk rasisme dalam sepak bola.

Bagian pertama buku ini merupakan bagian paling menghentak saya secara pribadi saat mulai membaca buku ini. Dan mulai bagian pertama inilah yang paling kuat mendorong keinginan untuk terus membaca bagian-bagian selanjutnya. Judul bagian pertama buku ini “Perang Gangster Serbia” menguraikan informasi dan penjelasan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Bahkan bagian pertama buku ini yang kemudian ikut mempengaruhi sikap saya untuk menjadi anti terhadap tim Serbia-Montenegro yang ikut berpartisipasi dalam piala dunia 2006 ini (dan saya bersyukur karena mereka tersingkir di babak pertama).

Sepak bola Serbia digambarkan Foer sebagai titik temu dari pseudo-nasionalisme, rasisme dan xenophobia, di mana organisasi-organisasi suporter bertransformasi menjadi gangster-gangster, bahkan gerombbolan para-militer yang digunakan diktator dan penjahat perang Slobodan Milosevic, untuk menjalankan politik pembersihan etnis (ethnic cleansing) terhadap bangsa Bosnia dan juga perang terhadap Kroasia. Komunitas-komunitas suporter klub sepakbola Red Star Beograd dan Dynamo Zagreb, merupakan tulang punggung dari pembentukan para-militer di bawah pimpinan Arkan, koordiantor supporter, yang juga salah seorang tangan kanan Milosevic dalam melakukan aksi pembantaian terhadap warga Bosnia. Arkan mengunakan sepak bola sebagai ruang pembentukan jati-diri bangsa Serbia dalam pecahnya Yugoslavia. Milosevic menggunakan para pasukan hooligan ini untuk menanggapi deklarasi kemerdekaan Bosnia dan Kroasia dengan mengobarkan perang. Foer dengan lugas menggambarkan praktik pemerintahan Milosevic tersebut,

“Pemerintah lebih menginginkan gaya hooligan ini. Serbia tidak memerlukan pasukan konvensional untuk memreangi pasukan lain. Peperangan seperti itu jarang sekali terjadi di Balkan. Pemerintah lebih membutuhkan pasukan yang meneor warga sipil, membuat umat Muslim dan Kroasia kocar-kacir dari rumah-rumah mereka sehingga Serbia punya kans untuk bias menguasai wilayahnya… […] Arkan menyebut pasukannya Tigers, […] Rekrutan dari Red Star dilatih di markas kepolisian dengan biaya pemerintah di kota Erdut, wilayah Kroasia. Kabarnya mereka dipersenjatai selengkap-lengkapnya” (Hal.17)

“Pada akhir perang Bosnia dan Kroasia, berdasarkan perkiraan Sekertariat Negara, Tigers sekurangnya telah membunuh sedikitnya 2.000 pria dan wanita dengan leher digorok, dicekik, dan bentuk-bentuk eksekusi lainnya” (hal. 20)

Wajah sektarianisme juga menjadi warna dalam sepak bola Skotlandia. Dua klub  terbesar Glasgow Rangers dan Glasgow Celtic merupakan kendaraan moderen bagi pertempuran lama, yakni antara penganut agama Protestan dan Katolik-Roma. Rangers adalah klub milik kaum Protestan dan Celtic adalah klub yang secara khusus dibentuk oleh seorang pastur gereja Katolik-Roma untuk menandingi superioritas identitas Protestan dalam Rangers. Pertikaian sektarianisme agama ini bukan hanya di Skotlandia, bahkan merambah sampai Irlandia, tempat pertikaian kedua agama berlangsung sejak lama.

Sepak bola sebagai ruang lain bagi suatu komunitas masyarakat Yahudi, menjadi tempat di mana Yahudi masih merupakan sesuatu “yang lain” dalam komunitas bangsa di Eropa. Sikap Anti-Semit tidak begitu saja pupus seiring dengan runtuhnya Rezim Nazi di bawah Hitler. Sisanya masih kental terdengar dalam nyanyian-nynyian dan teriakan-terikan dari tribun stadion-stadion di Inggris, Italia dan negara-negara lainnya. Sepak bola memberi tahu sekaligus warning bagi semua orang bahwa xenophobia, rasisme dan semangat anti-Semit masih mendekam dalam peradaban yang mang-klaim dirinya paling maju sekalipun. Sikap primitif yang selalu mendapatkan lahan pembenaran, dan Foer dengan baik memberi tahu kita bahwa sepak bola merupakan salah satu lahan persemaian paling subur atas sikap-sikap primitif tersebut.

Globalisasi Neoliberal: Para “Baron” Sepak Bola, Korupsi dan Runtuhnya Batas Bangsa

Akhir-akhir ini istilah globalisasi hampir menjadi “kosa kata kunci” dalam banyak perdebatan teoritis baik dalam ranah pemikiran politik, sosial, budaya, filsafat, teknologi, ilmu-ilmu pasti, dalam percakapan sehari-hari, dan tentunya: dalam dunia sepak bola! Seringkali istilah globalisasi berkorelasi secara simetris dengan kemajuan jaman, sehingga sering terlontar kalimat “kalau tidak mengikuti arus globalisasi kita bisa ketinggalan jaman”, baik dalam percakapan keseharian, maupun dalam percakapan dalam acara-acara komedi di televisi. Discourse dominan globalisasi adalah “kemajuan ekonomi”, “kemajuan teknologi informasi”, “kemajuan ilmu pengetahuan”, “kemajuan peradaban”, di mana dimensi ruang dan waktu tidak lagi menjadi tembok besar yang menghalangi terjadinya proses komunikasi dan diseminasi informasi, serta pergerakan arus modal dalam wilayah ekonomi.

Menurut sosiolog Inggris, Anthony Giddens, globalisasi merujuk pada sebuah perubahan dalam bentuk spasial dari pengaturan dan aktivitas manusia sampai kepada pola aktivitas pada tingkat transkontinetal dan interregional. Termasuk di dalamnya perluasan dan penajaman hubungan-hubungan sosial dan institusi-institusi yang melampaui ruang dan waktu, sebagaimana, pada satu sisi terjadinya peningkatan dalam aktivitas sehari-hari yang dipengaruhi oleh event-event yang berlangsung di belahan dunia yang lain; dan pada sisi yang lain praktik-praktik maupun keputusan-keputusan kelompok-kelompok atau komunitas lokal bisa memiliki gaung yang signifikan secara global.[2]

Sementara Alex Callinicos, seorang teoritisi Marxist, mengajukan tesis bahwa globalisasi bukanlah musuh, melainkan kapitalisme global. Dalam kenyataannya, menurut Callinicos, anti-kapitalisme bukan berarti menentang tumbuhnya hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi antar masyarakat dari negara-negara yang berbeda. Namun Callinicos tetap melihat bahwa globalisasi didominasi oleh kebutuhan-kebutuhan ekonomi, yang mengambil bentuk pengintegrasian ekonomi dunia yang berbasiskan dominasi industri-industri kapitalis skala besar dan lembaga-lembaga keuangan. Dalam pandangan Callinicos core institutions dari kapitalisme global (yang sekarang memimpin arus globalisasi) adalah perusahaan-perusahaan multinasional, negara-negara kapitalis maju (leading capitalist states), dan organisasi-organisasi internasional yang merefleksikan kepentingan-kepentingan mereka.[3]

Franklin Foer menjejakkan argumennya pada dua argumen tersebut sekaligus. Di satu sisi ia melihat arus globalisasi dalam klub-klub sepak bola telah memberi suatu “warna” baru dalam wajah sepak bola. Pemain-pemain dalam sebuah klub bukan lagi dominasi para pemain berkebangsaan di mana klub tersebut berada, melainkan campur-sari banyak etnis dan kebangsaan. Bahkan klub Chelsea menjadi klub pertama di Inggris “yang menurunkan skuadron tanding tanpa orang Inggris satu pun” (Hal. 90). Foer juga menguraikan fenomena globalisasi ini dengan menuliskan,

“Bukan hanya internet dan satelit membuat dunia persepakbolaan menjadi menyusut dan lebih mudah dijangkau. Di lapangan pun Anda bisa menyaksikan globalisasi. Selama tahun ‘90-an kesebelasan Basque dipenuhi pemain-pemain Belanda dan Turki asuhan pelatih-pelatih dari Welsh. Tim Moldovia mengimpor pemain Nigeria. Ke mana pun mata memandang, batas dan identitas nasional seolah-olah disapu begitu saja ke dalam keranjang sampah sejarah sepak bola. Klub-klub terbaik kini berlaga hampir tiap minggu di turnamen-turnamen lintas negara seperti Liga Champions atau Copa Libertadores” (hal. ix)

Piala dunia 2006 ini juga memperlihatkan bagaimana pemain-pemain kelahiran negara lain, toh bermain untuk negara yang lain lagi. Kalau tempat kelahiran dan garis orangtua menjadi standar pengukuran kebangsaan seseorang maka menarik untuk melihat fenomena Deco (Brasil) di Portugal, Alex (Brasil) di Jepang, Sena (Brasil) di Spanyol, Camoranesi (Argentina) di Italia, Miroslav Klose, Lukas Podolski (Polandia) dan Asamoah (Nigeria) di Jerman, dll. Sepakbola bagi Foer gambaran menarik dalam melihat globalisasi, jauh dari kerumitan sebagaimana halnya terjadi dalam bidang ekonomi.

Namun di sisi lain Foer juga tak menampik bahwa kepentingan modal juga menggerus masuk, bahkan menjadi “pemimpin baru” dalam dunia sepakbola. Modal besar yang dibutuhkan untuk melakukan renovasi stadion, penyegaran pemain-pemain baru, merupakan pintu masuk bagi invasi modal dalam dunia sepakbola, sebagaimana diuraikan Foer,

“Untuk mendanai rekonstruksi stadion mereka, para pemilik lama yang kebanyakan pengusaha kecil mandiri terpaksa memasukkan bergepok-gepok suntikan modal. Kebanyakan berasal dari investor-investor perkotaan, yang mengerti bahwa sepakbola punya captive market yang amat besar dan banyak sumber-sumber keuntungan yang masih belum digali” (hal. 92)

Atau bagaimana deskripsi Foer mengenai para investor di dunia sepak bola ini berpikir untuk mengubah sepak bola di Brasil,

“Mereka berteori, bahwa yang dibutuhkan untuk mengubah sepakbola adalah sedikit transparansi, mujizat modern pemasaran, dan menggali peluang-peluang sinergi. Mereka hendak mengubah sepak bola menjadi tontonan yang cantik dan menguntungkan – dilengkapi dengan skybox dan kontrak lukratif dengan pihak televise. Hicks, Muse dari Dallas bahkan telah memulai Pan-America Sports Network untuk menyiarkan pertandingan-pertandingan timnya” (hal. 129)

Tokh, logika kapitalisme gagal melakukan revolusi terhadap para cartolas di Brasil. Para birokrat-bandit korup yang membungkus diri dengan identitas populisme, memaki-memaki pengaruh buruk modal dari perusahaan-perusahaan tersebut, terhadap nilai dan budaya sepak bola Brasil, setelah menghabiskan uang investasi yang masuk dari para pemodal tersebut.

Para baron baru sepak bola ini membangun oligarkhi dalam dunia sepak bola, sebagaimana berlangsung di Italia. Para industrialis dari Utara, politisi korup Kristen Demokrat, dan para Mafioso dari Selatan adalah wajah berjalannya sistem negara dan pemerintahan di Italia. Sistem ini juga merangsak masuk dalam dunia sepak bola. Baron-baron seperti keluarga Agnelli, pemilik pabrik Fiat dan puluhan industri besar lainnya, serta Berlusconi, konglomerat di bidang properti, media, periklanan dan asuransi, menjadi pengendali-pengendali berjalannya liga sepak bola di Italia.  Klub Juventus milik keluarga Agnelli, merupakan yang paling mencolok dalam hal ini, lihat saja kasus pengaturan wasit baru-baru lalu, yang menjadi skandal terbesar sepakbola Eropa dalam beberapa puluh tahun terakhir, yang membawa Juventus kecebur ke Seri B Liga Italia akibat vonis hukuman pengadilan.

Invasi modal dalam industri sepak bola bahkan mengubah kultur holiganisme. Gambaran ini diuraikan Foer dalam wawancaranya dengan Alan Garrison, seorang veteran hooligan klub Chelsea di London.  Aturan-aturan ketat yang dibuat industri sepak bola membuat tradisi tawuran antar suporter perlahan terkikis dari speutaran stadion. Seandainya perkelahian tetap dilakukan, maka dijadwalkan setelah pertandingan usai, dan ditentukan di suatu tempat, seperti Trafalgar Square di kota London misalnya. Menurut Alan Garrison, bentuk perkelahian tersebut tidak bisa lagi disebut tawuran sepak bola. “Tawuran sepak bola berlangsung di stadion, bukan dengan ditetapkan di suatu tempat” begitu kira-kira ungkapan kekesalan Garrison.

Globalisasi neoliberal datang mencari wilayah-wilayah akumulasi baru bagi kapital yang siap dilipatgandakan. Menurut filsuf Perancis Pierre Bourdieu, neo-liberalisme adalah sebuah proyek politik yang bertujuan melakukan rekonstruksi terhadap tatanan masyarakat dalam berurusan dengan tuntutan-tuntutan kapitalisme global yang tidak dapat dibendung.[4] Bagi Foer bukan hanya tatanan masyarakat, termasuk sepak bola, bagian dari kultur masyarakat, mengalami rekonstruksi. Sebagaimana Foer menggambarkan dunia sepak bola di Amerika Serikat, negara yang perhatiannya sangat minim terhadap soccer, kecuali memberlakukannya sebagai potensi mengeruk akumulasi modal. Foer menyetujui dalam hal mana globalisasi neoliberal memberikan dampak-dampak positif bagi sepak bola di negara-negara dunia ketiga, yang akhirnya tidak ia temukan, karena birokrasi korup dan para mafioso tidak juga hilang dengan rekonstruksi ala globalisasi  neo-liberal, selain tentu saja upaya untuk akumulasinya, selebihnya hanya dilihat sebagai akibat semata, baik positif atau negatif.

Lapangan Sebagai Medium Relasi Antagonistik: Konstruksi Identitas Sosial dan Politik

Damhuri Muhammad, seorang sahabat dekat saya, menulis resensi mengenai buku ini.[5] Dalam paragraph pembuka, ia menggambarkan bagaimana sepak bola masih merupakan musuh yang terlalu kuat bagi rezim para Mullah di Iran yang baru mengambil alih kekuasaan dari rezim monarkhi Syah. Rezim ini berhasil memberangus budaya pop yang dinilai sekuler, namun gagal memberangus sepak bola, sebagai sebuah produk kebudayaan yang juga dikategorikan sekuler. “Melarang sepak bola sama saja dengan menghadang gejolak terbesar rakyat Iran. Menutup stadion Azadi yang berkapasitas 120 ribu kursi itu, agaknya tidak sepadan dengan ongkos politiknya”, tulis Damhuri.

Sepak bola memang menjadi lahan semai bagi konstruksi identitas sosial dan politik, sebagaimana diuraikan dengan cukup ciamik oleh Foer. Dari para nasionalis-kanan Serbia, agamawan Skotlandia dan Irlandia serta para hooligan Inggris. Di Italia, kebencian terhadap klub-klub Juventus dan Milan yang meraih kemenangan dan scudetto dengan “membelinya” telah menumbuhkan komunitas yang mengkonstruksi diskursus anti-Milan. Komunitas ini adalah para intelektual kiri pro-Inter Milan – klub yang pernah dibubarkan di masa diktator fasis Benito Mussolini berkuasa – yang “dibesarkan dengan teori-teori kontra-hegemoni Antonio Gramsci” (Hal. 183). Dukungan para intelektual kiri terhadap Inter Milan ini memang mengundang paradoks. Inter Milan adalah milik kapitalis minyak Massimo Moratti, yang sebagai seorang kapitalis, ujung-ujungnya adalah akumulasi kapital sebesar-besarnya, yang  sangat jelas bertentangan dengan prinsip dasar Marxisme yang jadi basis pemikiran para intelektual kiri tersebut. Tapi seperti tulisan Foer, bahwa sepak bola memiliki nuansa mistis dan irasionalitasnya sendiri.

Ernest Gellner menyebutkan bahwa nasionalisme adalah “a phenomenon, not as a doctrine presented by nationalists”.[6] Argumen Gellner ini agaknya laik untuk melihat cara Franklin Foer menjelaskan fenomena klub Barcelona, klub favoritnya. Foer mendeskripsikan tradisi kerakyatan para pendukung Barcelona, dan bagaimana mereka tumbuh menjadi kolektif buruh, dengan semangat nasionalisme Catalan. Klub Barcelona merupakan klub yang memiliki tradisi panjang melawan kediktatoran militer rezim Jenderal Franco, sebagaimana digambarkan oleh Franklin Foer,

“Lebih dari itu, secara kelembagaan Barca adalah pusat perlawanan heorik melawan kediktatoran militer Franco. Hanya Stadion Cam Nou-lah yang memberi warga Katalunya tempat untuk menjerit dan berteriak-teriak mencaci maki rezim penguasa dalam bahasa asli mereka yang dilarang. Manuel Vásquez Moltalbán, salah seorang penulis terbesar Spanyol, mengarang novel tentang Barca berjudul Offside. Ia gambarkan klub ini sebagai “senjata dahsyat dari sebuah bangsa tanpa negara… kemenangan-kemenangan El Barca ibarat kemenangan warga Athena atas Sparta” (hal.189)

Para pemain sepak bola juga merasa penting untuk menjaga identitas bangsanya. Dalam menghadapi bangkitnya kekuatan Sayap Kanan dalam wujud Jean-Marie Le Pen, kandidat presiden Perancis dari National Front, Robert Pires, pesepakbola nasional Perancis yang bermain untuk klub Inggris Arsenal, menyerukan:

“As players we have a responsibility to show people that they must react to this quickly. If I can pass on a message it is simply to go and vote on Sunday and to make the right choice, which everyone knows is Jacques Chirac”.[7]

Seruan ini merupakan sikapnya terhadap identitas Perancis yang menjunjung liberté, égalité dan fraternité yang mendapatkan ancaman oleh Le Pen, dan atas dasar itu Pires mengajak rakyat Perancis untuk memilih kandidat lain, yakni Jacques Chirac.

Penutup

Tulisan ini hanya mencoba untuk mengantarkan diskusi menganai tema yang diklaim sebagai olahraga paling populer sejagad. Tidak semua bagian dalam buku tersebut dieksplorasi dengan baik oleh tulisan ini, dan dengan diskusi bersama banyak orang, maka eksplorasi yang jauh lebih kaya akan dihasilkan. Terima kasih.

Cak Tarno Institut (CTI), Kober Town Square – Depok

3 Juli 2006


[1] Kasus yang paling mutakhir  dan banyak disorot oleh media, dialami oleh pemain Barcelona asal Kamerun Samuel Eto’o di mana para penonton menirukan suara dan gaya kera pada saat Eto’o menguasai bola. Pelatih Spanyol Louis Aragones juga sempat ditengarai mengeluarkan pernyataan rasial terhadap pemain nasional Perancis Thiery Henry.

[2] Anthony Giddens, The Consequences of Modernity. Cambridge: Polity Press, 1990, hal. 64. Lihat juga Anthony Giddens, Runaway World: How Globalisation Is Reshaping Our Lives. London: Profile Books, 1999, hal. 12-13.

[3] Alex Callinicos, Against the Third Way. Cambridge: Polity Press, 2001, hal. 111.

[4] Pierre Bourdieu, “The Essence of Neoliberalism” dalam Le Monde Diplomatique, December 1998.

[5] Damhuri Muhammad, “Sisi Kelam Lapangan Bola” dalam harian Jawa Pos, 25 Juni 2006.

[6] Ernest Gellner, Nations and Nationalism. Oxford: Blackwell, 1983, hal. 125

[7] The Guardian, 3 May 2002. Selain Robert Pires, kapten tim nasional Perancis Zinedine Zidane mengancam bahwa skuad Perancis tindak akan ikut dalam Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang seandainya Jean-Marie Le Pen berhasil memenangkan pemilihan presiden pada waktu itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s